9/12/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 25 PART 1

SINOPSIS Still 17 Episode 25 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 25 Part 2

Woo-jin tersipu malu, usai menyadari kelakuan genitnya yg salah mengartikan permintaan Seo-ri...


Mereka sama-sama tertwa, tetapi Woo-jin terlalu malu maka dia buru-buru berjalan pergi. Seo-ri yg masih terkekeh, lantas mengejarnya sambil berteriak:  “Ajusshii!!!! Mister Gong!!!! Ajusshi bodoh!!!!”


Esok harinya.. Seo-ri mengucapkan terimakash kepada selutuh staff kantor, karena sesuai kontrak kerja.. tugasnya disini rampung berbarengan dengan berakhirnya festival musik..


Tapi kemudian.. Hee-su mengumumkan kabar gembira. Berkat acara kemarin, begitu banyak permintaan dekorasi panggung untuk acara musik klasik. Maka secara khsusus, dia meminta Seo-ri untuk menjadi pekerja tetap di kantornya..

“Serius? Aku ingin sekali menjadi karyawan tetap. Aku akan bekerja keras!!!!” ujar Seo-ri dengan begitu antusias

Sebagai pertanda awal yg baru, Hee-su bahkan memberinya sebuah ponsel, “Kamu akan membutuhkannya. Perusahaan akan membayarkan tagihan telepon, jadi, jangan cemas...”

“Terimakasih..” ucap Seo-ri yg bergitu gembira, ditambah lagi  karena mendapatkan sambutan dan dukungan yg sangat hangat dari Woo-jin dan Hyun.


Berjalan pulang.. Seo-ri bergandengan dengan Woo-jin sambil terus mengutarakan rasa bahagianya, “Ponsel kantor.... Karyawan tetap. Astaga... Semua orang akan berpikir usiaku 30 tahun, bukan?”


Tak sengaja.. mereka bertemu dengan si nenek yg sering menonton Seo-ri berlatih violin. Maka Seo-ri menghampirinya dan menyapanya..

“Hai. Sepertinya kamu tidak membawa instrumen yang cantik hari ini..” sahut si Nenek

“Senarnya putus. Aku tidak bisa memainkannya sampai itu diganti...” jawab Seo-ri, lantas kemudian Si Nenek berkata: “Begitu, ya. Omong-omong.. Suamimu sangat tampan...”

Seo-ri terperanjat kaget, dia ingin menyangkalnya.. tetapi lebih dulu Woo-jin dengan semangat mengatakan: “Terima kasih untuk pujiannya. Hati-hati, Nek!”


“Tapi kamu bukan suamiku...” ujar Seo-ri, maka Woo-jin berkata: “Dia akan malu jika kita mengoreksinya...”

Dan dengan suara pelan, Woo-jin pun berujar: “Toh, aku akan menjadi suamimu...”


Mereka melewati lokasi tempat spanduk-spanduk besar terpasang.. Woo-jin menghentikkan langkahnya, namun Seo-ri malah tertunduk lesu..

“Kenapa? Bagaimana kalau mencoba semua yang kamu bisa?” tanya Woo-jin, yg lanjut menjelaskan:  “Meski paman dan bibimu tidak melihat, orang yang kenal mereka bisa menghubungimu. Jangan menyimpulkan dan cobalah ini. Seseorang mengatakan kepadaku, "Kamu tidak pernah tahu masa depan." Dia bilang mencoba segalanya itu bagus...”


Sesaat kemudian, mereka telah berada di tempat percetakan. Ajusshi pemiliknya memberi saran, supaya mereka menyebar poster saja.. terlebih pihaknya juga menyediakan jasa tukang penyebar selebaran... mereka setuju lalu melanjutkan perjalanan pulang.


Woo-jin bertanya langsung pada Seo-ri, “Kenapa kamu dirawat sangat lama di rumah sakit?”


“Aku mengalami kecelakaan mobil. Mereka bilang bukan kecelakaan besar. Kurasa hanya aku yang tidak beruntung...” jawab Seo-ri,, yg kemudian menceritakan kejadian aneh terkait pamannya, “Aku melihat pamanku dekat tempat tinggalku di hari kecelakaan. Aku ingat dia memberitahuku dan Bibi dia pergi untuk perjalanan bisnis. Kukira kebohongannya mungkin berhubungan dengan hilangnya paman dan bibiku. Hal itu terus mengusikku....”


Sesampainya di rumah.. Woo-jin lasngung memeriksa info terkait perusahan yg dulunya dimiliki oleh paman Seo-ri dan disana tertulis dengan jelas, bahwa perusahaan tersebut teah bangkrut.. Woo-jin lantas menelpon ayahnya, untuk meminta bantuan~~~


Malam ini.. Seo-ri sangat menikmati permainan violinnya sendiri, membuat si nenek ikutan tersenyum melihatnya..


Setelah permainannya usai, Seo-ri duduk disamping si nenek yg lansgung memberikan sekantong jagung, “Terimalah ini. Makanlah bersama suamimu...” ucapnya

“Dia bukan suamiku...” jawab Seo-ri yg tersipu malu, “Terimakasih.... Anda tidak usah keluar dan menungguku. Keluarlah saat Anda mendengar violin. Aku akan bermain sangat keras agar Anda bisa mendengarku...” jelasnya


Jennifer hendak pergi menuju tempat laundry.. tapi saat berpapasan dengan Woo-jin, tak sengaja dia menjatuhkan selembar fotonya yg tengah tersenyum lebar...


Sedikit flashback, ternyata foto itu diberikan oleh si wanita yg memanggil Jennfer dengan sebutan ‘eonni’. Kala itu dia berkata: “Terimalah ini... Aku yakin, oppa sangat ingin melihatmu tersenyum seperti ini lagi...”


Kembali ke realita, Woo-jin mengembalikan foto tersebut sambil berkata: “Kukira dia adalah orang lain. Aku tidak pernah melihatmu tersenyum lebar...”

“Tersenyum saat bahagia. Menangis saat sedih. Aku yakin ada orang yang berhak menunjukkan emosi itu dan ada yang tidak. Dan aku... tidak berhak untuk itu...” ucap Jennifer


Tapi kemudian, Woo-ji berteriak menagtakan padanya: “Awalnya aku pikir juga begitu. Hingga belum lama ini, kukira aku tidak akan tertawa lagi seperti dahulu. Entah apa yang terjadi, tapi hari itu akan datang. Hari saat kamu bisa tersenyum seperti itu lagi...”
Comments


EmoticonEmoticon