9/22/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 29 PART 2

SINOPSIS Still 17 Episode 29 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 29 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 29 Part 3

Seo-ri makin penasaran akan sosok Woo-jin, dia pun sangat berharap bisa bertemu dengannya sebelum ia berangkat ke Jerman...


Dan harapannya terkabul... saat mereka naik bis yg sama. Seo-ri sangat gugup, merangkai kata untuk diucapkannya dihadapan Woo-jin, “Bagaimana aku akan memberikan ini kepadanya? Benar. Aku harus berterima kasih...”


Tapi ketika berhadpan lansgung, Seo-ri malah bertanya tentang halte bis.. tanpa sempat berteimakasih, karena terlalu canggung.


Kembali ke tempat duduknya.. Seo-ri mengeluhkan sikapnya barusan, “Aku bicara omong kosong karena terlalu gugup. Haruskah aku menemuinya lagi? Haruskah? Ya. Lebih baik aku melakukannya.”


Seorang penumpang ain menekan bel..Woo-jin megira itu Seo-ri, maka dia lansgung berdiri menghampirinya dan memberitahukan halte tempat dia harusnya turun..

“Baiklah. Terima kasih...” sahut Seo-ri dengan gugup, lalu Woo-jin berkata: “Aku sebenarnya tahu kamu...”

Seketika Seo-ri terperanjat kaget, maka dengan gelagapan Woo-jin mencoba untuk menjelaskan: “Aku bukan pria yang aneh. Sebenarnya ada yang ingin kuberikan kepadamu...”


Tepat pada saat Woo-jin hendak mengambil lukisannya, Sumi naik kedalam bis.. merasa makin gugup, Woo-jin malah berlari kabur.. meski demikian, Seo-ri sangat gembira, mengetahui bahwa si ‘Cressendo’ ternyata mengenalnya...

Dengan antusias, dia hendak bercerita pada Su-mi.. tapi terjadilah kecelakaan hebat itu...


Namun Woo-jin tetap merasa bersalah: “Itu tidak mengubah apa pun. Jika aku tidak mencegahmu...”

Seo-ri lantas menegaskan: “Dari semua orang di bus, menurutmu kenapa aku memilihmu untuk menanyakan arah? Aku tahu jalan ke ruang latihan bahkan dengan mata tertutup. Menurutmu kenapa aku menanyaimu?”

“Tidak, aku yakin kamu menekan bel untuk turun...”

“Tidak. Aku tidak pernah menekannya. Itu bukan aku. Toh, aku biasanya selalu turun di halte berikutnya...”


“Aku selalu turun di Simpang Cheongan, lalu menyeberangi jalan. Setelah menyeberang, aku berjalan di kiri. Ada tempat bermain dengan bunga-bunga yang cantik. Di bulan Juni, ada bunga mawar. Bulan Agustus, ada bunga matahari. Jika aku mengikuti jalan itu, gedung abu-abu akan tampak. Itulah Balai Kesenian Cheongan. Di sanalah aku berlatih tiap hari. Ruang terakhir sebelah kiri di lantai dua. Itulah ruang latihan untuk orkestra. Aku sering sekali ke sana hingga bisa ke sana dengan mata tertutup...” jelas Seo-ri


Kembali ke realita, Seo-ri mengungkapkan perasaannya yg sangat taut Jika Woo-jin pergi tanpa sempat mendengar seluruh cerita ini, “Kukira kamu akan terus salah paham dan memblokir segala hal dari hidupmu. Itu bukan salahmu. Aku tahu dirimu lebih dahulu, jantungku mulai berdebar lebih dahulu, dan aku menyukaimu lebih dahulu. Gong Woo Jin. Namamu adalah Gong Woo Jin. Bukan hanya aku. Selama 13 tahun, kamu juga terjebak di usia 17 tahun....”

Maka tanpa perlu berkata apa pun, Woo-jin lasngung menarik Seo-ri kedalam pelukannya dan menciumnya...


Sesaat kemudian, mereka berjalan pulang dalam suasana hati yg begitu ceria.. dimana Woo-jin terus menatapnya sempat sambil berulangkali menyebut namanya: ‘Woo Seo Ri... Woo Seo Ri... Woo Seo Ri...’

“Hentikan...” sahut Soe-ri yg tersipu malu


Seo-ri menyerahkan gantungan kunci itu, “Akhirnya aku bisa memberikan ini sekarang...” ucapnya lega

“Jika aku dapat ini darimu 13 tahun lalu... Jika kita bertemu 13 tahun lalu, itu akan lebih baik...” ujawa Woo-jin

Tetapi Seo-ri berkata: “Setelah aku siuman, aku merasa aneh dan sulit. Karena itu aku berpikir andaikan aku tidak pernah siuman. Tetap koma mungkin lebih baik. Atau aku berharap tidak pernah mengalami kecelakaan. Aku marah berkali-kali saat mengingatnya. Tapi yang terjadi di masa lalu tidak bisa berubah. Jika mengingat lagi dan menyesali, aku akan terjebak sendirian. Tapi kita bisa mengubah segalanya sekarang. Kita bisa mengubah apa pun, jadi, aku enggan melihat masa lalu dan menyia-nyiakan waktu...”


“Aku jatuh cinta padamu lagi. Aku juga tidak akan terjebak. Kita selesaikan intermiten ini bersama...” ucap Woo-jin yg kemudian memeluknya erat


Sampai di rumah, Fang langsung menghampirinya... sesaat kemudian, Jennifer juga muncul dan Woo-jin lasngung meminta maaf karena telah membuatnya merasa cemas.


Kemudian.. Chan berjalan menuruni tangga dengan mata yg masih memerah. Woo-jin meminta maaf, “Aku paman bodoh yang hanya membuatmu cemas...”

Namun Chan langsung memeluknya, sambil berkata: “Aku lega Paman kembali. Aku tidak apa-apa. Hanya itu yang kubutuhkan...”
Comments


EmoticonEmoticon