9/22/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 29 PART 3

SINOPSIS Still 17 Episode 29 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 29 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 30 Part 1

Sembari menikmati minuman hangat.. mereka duduk berbincang dihalaman. Chan tak meminta Woo-jin untuk memberikan penjelasan, karena dia sudah yakin bahwa mulai dari sekarang.. Woo-jin tak akan pernah menghilang secara mendadak lagi.

“Paman sangat merepotkan. Paman membuatku bertambah tua. Aku akan tampak setua Deok Su...” keluh Chan


“Sepertinya baru kemarin kamu minta paman belikan corndog. Sejak kapan kamu bertambah besar?” ujar Woo-jin

“Aku sudah lebih besar dari Paman saat masih SMP...” sahut Chan yg kemudian pamit masuk kedalam rumah, karena ingin tidur duluan


Masuk kedaam kamar, Chan sempat termenung melihat poster motto hidupnya: ‘Don’t Think! Feel!’


Woo-jin tidur sangat nyenyak.. hingga dia terbangun pukul 11 siang esok harinya. Meski demikian, badannya terasa begitu bugar dan dia pun lansgung pergi ke kamar mandi untuk bersiap..


Dengan semangat, Woo-jin hendak menemui Seo-ri.. teapi Jennifer memberitahukan bahwa sejak pagi tadi Seo-ri berangkat dengan Chan.

“Benar, dia memberitahuku kemarin. Seharusnya aku bangun lebih cepat untuk menemuinya...” ujar Woo-jin

Maka dengan mengutip kalimat dari  Voltaire, Jennifer berkata: ‘Tuhan memberi kita kemampuan untuk berharap dan tidur untuk menebus segala kecemasan di dunia ini...’


Selanjutnya, Jennifer hendak membuang sampah.. tetapi tiba-tiba, Woo-jin bertnaya apakah dia boleh menggunakkan kardusnya? Yg kemudian dia bawa ke dalam gudang..


Karena kala itu Seo-ri belum menepati janji untuk jalan seharian dengannya, maka sekarang Chan mengajaknya berkunjung di lokasi latihannya.. 

Seo-ri agak heran dan bertanya, mengapa Chan membawanya ketempat yg hampir setiap hari dia datangi? Namun Chan enggan menjawabnya pertenyaan itu sekarang..


Chan membawanya makan bareng, sambil menikmati pemandangan danau.. lalu sempat mengajaknya mencoba alat olahraga rutinnya dan tak disangka, ternyata Seo-ri begitu bersemangat menggunakannya.


Berikutnya.. Chan mengajak Seo-ri naik ‘mobil sepeda(?)’.. dan Seo-ri sangat amat kegirangan akan hal itu, dia teriak sambil berkata: “Saat bermain violin, aku tidak bisa naik sepeda karena takut melukai tanganku. Ini kali pertamaku naik sepeda! Catch!!!”


Sementara di gudang, Jennifer melihat Woo-jin yg sedang beres-beres. Maka mengeutip kalimat Julie Morgenstern dia berkata: "Jika tahu apa yang kamu miliki, kamu tahu apa yang akan dibuang."

Lanjutnya, dia bilang: “Mister Gong.. Aku sangat bangga pada Anda...”

“Aku baru sadar sudah saatnya membuang ini...”

“Omong-omong, ada sesuatu di bawah hidung Anda (cemong)”

Woo-jin mencoba membersikhkannya, tetapi masih ada dan itu membuat Jennifer agak nyegir menahan tawanya. Lantas Woo-jin mengeluh: “Astaga. Masih ada, bukan?”


Beralih topik, Jennifer menyerahkan kartu nama Bu Gook yg ia temukan dalam kamaarnya Chan, “Aku bertanya-tanya apakah dia  bibinya Seo Ri?”

Belum sempat menjawabnya.. Woo-jin malah menerima telpon dari Dokter yg mengajaknya untuk bertemu saat ini juga.


Dokter menjelaskan niatannya untuk membuat mini konser, persembahan pasien terpai musik di kliniknya. Dan dengan senang hati, Woo-jin setuju untuk mendesain panggung untuk acara tersebut, “Anda banyak membantuku. Jadi, aku senang bisa membantu Anda...” ungkapnya

“Rasanya bukan hanya aku yang membantumu. Dia pasti sangat istimewa. Kamu tidak tahu dia orang yang sama, tapi akhirnya kamu menyukai dia lagi...”

“Kurasa begitu. Bahkan saat aku makan sesuatu yang kurang lezat,  rasanya masih lezat saat aku makan bersamanya. Bahkan saat cuaca tidak cerah, langit tampak lebih cerah saat aku bersamanya. Aku mentertawakan hal paling remeh saat aku bersamanya. Dia membuat segala hal tampak sangat istimewa, dan kurasa karena itulah dia istimewa...”


Berikutnya.. Woo-jin pergi ke toko buku, tapi mendadak ada telpon masuk dari Hyung-tae yg mengajaknya bertemu, karena ada hal yg ingin dia sampaikan...


Setelah puas berkeliling.. Chan mengajak Seo-ri berjalan santai, “Tadi Bibi bertanya kepadaku kenapa aku mengajak Bibi ke tempat yang kita datangi tiap hari. Alih-alih melakukan hal aneh yang tidak cocok untukku seperti mengendarai skuter dan mengajak Bibi ke restoran mewah, aku ingin mengajak Bibi ke tempat yang kurasa paling nyaman saat aku di sana. Hanya itu cara agar aku bisa mengatakannya dengan segenap hati. Maka aku mengajak Bibi kemari...” paparnya

Seo-ri kebingungan, “Apa maksudmu?” tanyanya

“Aku sangat menyukai Bibi...” ungkap Chan, yg seketika berhasil membuat Seo-ri tertegun kaget
Comments


EmoticonEmoticon