9/15/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 3 PART 4

SINOPSIS Witch's Love Episode 3 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 3 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 3 Part 5

Cho Hong bingung bagaimana membawa banyak nampan di atas kepalanya, karena seakrang kekuatan sihirnya menghilang. Dengan hati-hati, dia hanya mengangkat dua nampan saja.


“Apa yang kau lakukan saat sibuk makan siang? Apa kau bercanda?” protes Aeng Doo. Cho Hong beralasan bahwa dia harus berhati-hati dengan kekuatannya karena banyak yang mengawasi.


Aeng Doo merasa senang karena mengira Cho Hong sudah mengambil pelarajan. Nenek tidk menyahut ucapan Aeng Doo.


Nenek ternyata sedang menatap kartu nama Sung Tae sambil melamun kebingungan. “Aku tidak tahu lagi,” katanya lalu pergi meninggalkan dapur. Aeng Doo bertanya-tanya apakah nenek sudah menemukan solusi untuk pembayaran sewa gedung mereka.


Di kamar atapnya, Je Wook sedang menggambar Cho Hong dan nampannya. Kemudian ponselnya berdering.


Je Wook terdengar kesal karena harus terus mengganti cerita yang ia buat sendiri. “Jangankan Direktur S & P Foodville, kakeknya direktur sekalipun yang datang, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan melakukannya!” katanya lalu menutup ponselnya. “Orang-orang itu… mereka memberiku gaji yang sedikit. Apa mereka pikir aku bodoh?”


Je Wook menggaruk-garuk kepalanya. “Ah, ini menjengkelkan. Sebelumnya berjalan dengan baik… Ah, mari makan.” Tidak lama kemudian, Je Wook sudah membawa kresek berisi makanan.


Je Wook lalu melihat Cho Hong berjalan di depannya, dan merasa ada yang aneh. “Bibi, apa kau sakit?” panggil Je Wook. Cho Hong mengacuhkannya.


Cho Hong bertanya kenapa Je Wook mengira kalau dia sakit. “Lalu, kenapa Bibi tidak lari hari ini? Bibi kan pandai melompat dengan nampan,” kata Je Wook heran. Cho Hong pura-pura tidak mengerti. “Ada masalah, bukan?” Cho Hong bilang tidak ada masalah apa-apa.


Je Wook tetap yakin kalau ada masalah karena ratu pengantar makanan tidak mengantarkan pesanna untuknya lagi dan restoran memperpanjang jam buka. “Yang paling aneh… restoran sup nasi itu menaikkan harga sampai 2000 won,” lanjutnya.


Cho Hong menyeringai kesal. “Aku hanya pergi sebentar ke Myanmar, bagaimana dunia bisa berubah begitu cepat,” kata Je Wook yang mengeluhkan harga sup nasi yang naik sampai 30%.


“Kalau begitu, pesan di restoran lain saja,” kata Cho Hong. Je Wook menunjukkan kresek makanan yang ia beli tadi. “Baguslah. Aku bosan mengantarkan pesanan ke kamar atapmu.”


Je Wook bilang bukan berarti ia tidak akan makan sup nasi lagi. Cho Hong tidak peduli dan mempercepat langkahnya. “Ah, Bibi! Bibi!” panggil Je Wook.


Cho Hong sudah selesai mengantarkan pesanan dan Je Wook ternyata masih mengikutinya. Cho Hong bertanya kenapa Je Wook belum pergi. “Jika orang lain mendengar, mereka akan berpikir kalau aku menunggu Bibi,” kata Je Wook.


Je Wook mengikuti Cho Hong lagi dan berpesan agar Cho Hong jangan makan ramyeon buatan S & P Foodville. Ia bilang perusahaan itu pebisnis kejam yang menggunakan modal kotor sebagai umpan untuk memakan jiwa seorang seniman miskin. “Si Direktur Ma atau apalah itu…” kata Je Wook membuat Cho Hong berhenti berjalan.


“Lalu, kenapa kau membeli produk mereka?” tanya Cho Hong. Je Wook bilang itu karena produk mereka yang paling enak. Cho Hong menatapnya kasihan. Je Wook bilang sup nasi Cho Hong tetap saja enak.


“Hei, jangan marah,” kata Je Wook pada Cho Hong yang berlari kecil menghindarinya.


“Ya, aku mengerti,” kata staf syuting berkaos kuning. Ia kemudian memberitahu rekannya bahwa dokter menyuruh Amy beristirahat dan tidak bisa syuting sekarnag. “Ah, yang benar saja! Song Ha Kyung!” teriak sutradara kesal sambil melemparkan topinya.


Tepat saat itu, Ha Kyung sampai di lokasi. Ia mendengar sutradara menyalahkannya. Ha Kyung sangat sedih mendengarnya.


Staf Ha Kyung terlihat bingung, apalagi saat mendengar sutradara menyuruh semua staf berkemas dan membatalkan syutingnya.


Sekretaris Kim datang menemui Sung Tae dan mengatakan bahwa dokumen untuk tinjauan hukum sudah selesai. “Kalau begitu, ayo pergi,” ajak Sung Tae.


Sung Tae sampai di depan restoran bersamaan dengan Cho Hong dan Je Wook. Cho Hong memalingkah wajahnya dari Sung Tae dan Je Wook menyadari itu.


Je Wook merangkul Cho Hong dan bertanya, ”Siapa dia?” Cho Hong melepaskan tangan Je Wook dan menyuruhnya pergi.


“Apa dia yang membuatmu jadi gila tadi malam? Pria ini?” tanya Sung Tae. Je Wook melangkah maju dan bertanya siapa Sung Tae.


Sung Tae memperhatikan penampilan Je Wook. Ia bilang Cho Hong membuatnya tidak bisa tidur di kasurnya sendiri semalam. Ia lalu masuk lebih dulu ke dalam restoran dan Cho Hong akan mengikutinya.


Je Wook menahan tangan Cho Hong dan bertanya apa maksud perkataan Sung Tae tadi. “Di tempat tidurnya? Semalam?” tanyanya cemas. Cho Hong tidak menjawab dan hanya menyuruhnya pergi.


Cho Hong dan Aeng Doo menatap Sung Tae dengan penasaran. Nenek menghampirinya dan bertanya kenapa mereka datang ke bisnis orang lain, tapi tidak memesan makanan. Sung Tae bilang ia tidak akan memesan dan meminta nenek menyerahkan restorannya.


“Aku akan makan sup nasi secara terpisah,” kata Sekretaris Kim yang tidak memahami situasi. Nenek menyuruhnya bergeser, lalu duduk di sampingnya.


“Bukannya masih ada waktu?” tanya nenek. Sung Tae bilang ia tidak perlu menunggu dua minggu lalu. Melihat jam buka restoran diperpanjang, ia yakin kalau nenek tidak ingin menutup restorannya. “Tentu saja tida!”


Aeng Doo dan Cho Hong ikut bergabung bersama mereka.


Sung Tae yakin kalau mereka tidak memiliki uang untuk deposit. Nenek tidak bisa mengelak dan bertanya apa yang ingin Sung Tae bicarakan. Sekretaris Kim lalu mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. “Aku datang untuk berkompromi,” kata Sung Tae.


Aeng Doo sangat penasaran dan menyerobot untuk membaca dokumennya.


“Uang sewa sudah diubah menjadi 10 juta untuk kalian bertiga,” kata Sung Tae dan membuat mereka lega. “Tapi, aku punya syarat.” Mereka tidak mengerti. “Cucu Anda tahu kalau aku tinggal di hotel.”


Cho Hong menghindari tatapan kedua neneknya dan pura-pura tidak mengerti. Sekretaris Kim juga terkejut. Sung Tae bilang ia tidak bisa tinggal di hotel selamanya dan dia jga tidak bisa mempercayakan gedungnya pada mereka.


Sung Tae: “Aku akan pindah ke sini.”
Nenek: “Pindah?!”
Aeng Doo: “Kemana?”
Cho Hong: “Tidak mungkin…”


“Pindah kesini? Kenapa?!” tanya mereka bertiga dan mengangkat tangannya seperti ingin menerkam Sung Tae. Para pelanggan terkejut dan melihat ke arah mereka. Sung Tae mengangkat tangannya menahan mereka, dan mengambil ponselnya.


“Ya, baiklah. Aaku mengerti,” kata Sung Tae lalu menutup ponselnya. Ia berkata lagi kepada para penyihir itu, “Ada satu syarat lagi.”


“Apa?” tanya nenek penasaran.


Sebelum naik ke mobilnya, Sung Tae bilang ada syarat khusus di bagian belakang kontrak. Ia meminta mereka membacanya, lalu menghubunginya lagi.


“Masa bodoh. Kami tidak setuju. Kami tidak akan membaca apapun,” kata nenek. Aeng Doo bilang tempat mereka bukan panti asuhan. Mereka bilang tidak akan pindah, walaupun harus mati. Cho Hong menyuruh Sung Tae membawa kembali dokumennya.


“Asal kalian tahu. Entah kalian menerima atau menolak kompromi ini, aku akan tetap pindah ke sini apapun yang terjadi. Tiga hari lagi,” kata Sung Tae tidak peduli.


“Kami tidak setuju! Ini tidak resmi! Kami tidak akan pernah membiarkanmu pindah ke sini!” teriak ketiga penyihir, tapi Sung Tae tidak peduli dan meninggalkan mereka yang masih terus mengomel. “Tidak mungkin…!”
Comments


EmoticonEmoticon