9/24/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 4 PART 2

SINOPSIS Witch's Love Episode 4 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 4 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 4 Part 3

Cho Hong sangat senang, karena merasa masalahnya akan terselesaikan. Ia tidak sabar menunggu penyihir pegadaian mengeluarkan apa isi kotaknya.


“Apa ini?” tanya Cho Hong heran saat si penyihir membuka kotaknya. Penyihir itu bilang itu yang akan membantu Cho Hong menemukan pria yang ditakdirkan untuknya. “Mustahil… ini…”


Cho Hong lalu memakai telinga sihir itu dan bercermin. “Ketika pria itu muncul. Kau akan mendengar suara lonceng dari telinga ini. Lalu, tangkap dia…,” kata si penyihir.


“Tunggu!” kata Cho Hong panik. “A…apa kau menyuruhku memakai ini?”


Dalam perjalanan pulang, Cho Hong mengingat perkataan penyihir pegadaian bahwa waktunya tinggal 3 minggu lagi untuk menemukan pria yang ditakdirkan itu dan menciumnya, maka dengan cara itu pola mawar akan bisa bertahan.


“Pola….” gumam Cho Hong sambil mengeluarkan telinga dari dalam tas. “Aku semakin tua dan jelek, tapi harus berciuman dalam tiga minggu?” Cho Hong hampir putus asa dan akan memasukkan kembali telinganya ke dalam tas. 


Tapi ia melihat sekelompok pria keren berjalan tidak jauh di depannya. Cho Hong kembali bersemangat dan memakai telinga sihirnya. Ia menunggu para pria itu berjalan ke arahnya.


Cho Hong mendengar suara lonceng dan itu membuatnya sangat senang.


Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang bibi pedagang yang membunyikan lonceng. Ia kecewa.


Di kamar atapnya, Jae Wook mulai menggambar lagi. Di dinding kamarnya tertempel beberapa tulisan. ‘Gulingkan S & P Foodville!’ ‘Sampai Penyihir dengan Sendok menjadi nomor 1!’ ‘Posisi ke=100. Ayo!’ Di dinding juga tertempel foto bangunan restoran sup nasi.


Walaupun sedang menggambar, Jae Wook tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Sung Tae bahwa Cho Hong tidur di kasurnya. “Apa hubungan mereka? Kenapa dia pindah ke rumah Bibi?!” gumamnya cemas. Kemudian terdengar suara sapaan di luar rumah. “Hah? Ayah?!”


Jae Wook panik dan langsung menutup layar komputernya. Di luar ayahnya bertanya apakah Jae Wook ada di dalam. Jae Wook menutup hidungnya agar mengubah suaranya, “Tidak. Dia tidak tinggal di sini.” Di luar sudah tidak terdengar suara lagi.


Jae Wook mendekat ke pintu dan tiba-tiba ayahnya masuk. “Ayah… Bagaimana ayah bisa menemukan tempat ini?” tanya Jae Wook. Ayah bilang ia pergi ke kosan lama Jae Wook, tapi tetangga bilang Jae Wook sudah pindah 2 tahun lalu. “Ah, Cha Sik… Bagaimana dia akan menjadi pejabat pemerintah jika terlalu jujur?


Ayah memperhatikan sekeliling kamar. Jae Wook perlahan memundurkan badannya agar ayah tidak melihat ke komputernya. “Apa ayah sudah makan? Ada restoran sup nasi lezat di dekat sini,” kata Jae Wook. Ayah tidak menjawab. Ia melihat remasan kertas di lantai dan pakaian kotor di atas kasur.


Ayah menyadari ada yang Jae Wook sembunyikan. Ia kemudian membuka penutup layar dan melihat gambar Jae Wook. “Kau…” kata ayah marah. “Ayah harus menghancurkan komputer ini!” Ayah akan membanting layarnya.


Jae Wook melarang ayahnya merusak komputernya. Ia memperbolehkan ayah memukulinya sampai mati asal tidak merusak kmputernya. Ia bilang ia harus membuat webtoon. “Aku menghabiskan 5.000 dollar untuk ini!” kata Jae Wook membuat ayah berhenti.


Ayah yang sudah tenang bertanya apakah Jae Wook sudah tidak ingin menjadi PNS lagi. Jae Wook bilang jika menjadi PNS, maka ia harus membuang bakat seninya. Ayah menggetok kepalanya. “Kau sangat berbakat, tapi kau membohongi orang tuamu selama 2 tahun terakhir dan hidup seperti ini? Apa kau bisa makan dengan ini?” kata ayah,


“Manusia bisa makan makanan lain selain nasi,” kata Jae Wook yang membuat ayah menggetok kepalanya lagi. Ayahnya bertanya apa Jae Wook akan makan kotoran. “Ada ramen dan kue beras pedas! Ada banyak makanan lezat di dunia. Kenapa ayah bersikeras makan nasi?!”


Ayah akan memukuli lagi, tapi tidak jadi. Ia berkata bahwa ibu tiri Jae Wook pergi ke kuil untuk berdoa agar Jae Wook lulus PNS, sehingga bisa hidup dengan baik. Ia meminta Jae Wook segera pulang ke rumah, karena ayah semakin tua sekarang.


Ayah membawa alat perkakasnya dan pergi. Jae Wook terlihat sangat sedih dan merasa bersalah.


Malam harinya saat keluar kamar, Jae Wook menemukan sebuah amplop berisi uang di atas lemari. Ia berteriak dan menangis.


Sekretaris Kim terkejut mendengar suara teriakan itu, tapi Sung Tae tidak terlalu peduli. “Aku akan memberitahu mereka di Seokbukdong. Jadi untuk saat ini, katakan kalau aku tinggal di hotel,” kata Sung Tae.


Sekretaris Kim bertanya apa Sung Tae akan baik-baik saja. Ia mengingatkan kalau Sung Tae sering tidak bisa tidur, karena bermimpi buruk. Ia bilang gedung restoran itu tidak akan senyaman hotel.


“Aku datang ke sini bukan untuk beristirahat,” kata Sung Tae. Sekretaris Kim mengerti dan memintanya segera menghubunginya jika terjadi sesuatu. Sung Tae mengangguk, lalu Sekretaris Kim pamit pergi.


Sung Tae memperhatikan kepergian Sekretaris Kim, lalu melihat Cho Hong berjalan dengan lesu dari arah berlawanan. Tiba-tiba, Cho Hong terlihat terkejut dan bersembunyi di belakang mobil yang sedang diparkir.


Sung Tae merasa heran dengan tingkah Cho Hong. Ia lalu melihat seorang pria mendekati mobil yang sama dan melongok-longok.


Mobil yang diparkir itu tiba-tiba berjalan. Pria yang ternyata adalah Min Soo itu berhasil menemukan Cho Hong. “Mari bicara,” ajak Min Soo. Tapi Cho Hong diam saja dan tidak mau mengikutinya. “Ayo!” Cho Hong terpaksa mengikuti Min Soo dan Sung Tae masih memperhatikan mereka,


Sung Tae membalikkan badannya dan berusaha tidak peduli. Ia tampak ragu apakah akan masuk atau mengikuti Cho Hong.


Di taman, Min Soo bilang ia bingung karena Cho Hong mengabaikan telepon dan SMS-nya. Ia bilang seharusnya Cho Hong tidak bersikap begitu walaupun sudah putus. Cho Hong bertanya kenapa Min Soo datang ke rumahnya.


Min Soo bilang ada beberapa hal yang kurang dalam formulir pendaftaran asuransi dan Cho Hong harus menandatanganinya. Cho Hong bilang ia sudah tidak membutuhkannya dan menyuruh Min Soo membuang saja dokumen itu. “Mem… membuangnya? Hei! Ka..kau… A.. apa kau balas dendam karena aku tidak meminjamkan 100.000 dolar padamu?” tanya Min Soo. Min Soo bilang banknya bukan bisnis gratis yang bisa memberikan pinjaman tanpa jaminan. Ia bahkan marah karena merasa Cho Hong sudah menipunya.


“Aku suka saat kita bersama. Berkat Oppa, aku tahu apa itu cinta. Dan meskipun singkat, aku benar-benar bahagia,” kata Cho Hong dengan mata berkaca-kaca. “Sudah berapa lama Oppa berhubungan dengan ahjumma pemilik restoran kaki babi?”


Dengan gugup Min Soo berkata bahwa dia tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. “Kuharap kau benar-benar akan mencintainya,” kata Cho Hong lalu pergi.  Min Soo memanggil Cho Hong dan memegang tangannya.


Min Soo: “Kau tidak bisa pergi seperti ini. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi.”
Cho Hong: “Oppa…”
Min Soo: “Kau harus menandatanganinya sebelum pergi.”
Cho Hong: “Oppa, jangan seperti ini. Lepaskan aku. Jangan sepeti ini. Sakit!”


Min Soo tidak mau melepaskan tangan Cho Hong. Ia meminta Cho Hong menandatanganinya, jika memang mencintainya. Cho Hong berusaha melepaskan tangannya.


Sung Tae datang dan langsung menghajar Min Soo hingga terjatuh. “Min Soo Oppa..” kata Cho Hong khawatir dan akan menghampirinya. Sung Tae melarangnya.


Sung Tae lalu menggandeng tangan Cho Hong dan membawanya pergi.


“Cho Hong… Tanda tangan….!” Kata Min Soo yang belum bisa bangun setelah dihajar tadi.
Comments


EmoticonEmoticon