9/24/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 4 PART 4

SINOPSIS Witch's Love Episode 4 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 4 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 4 Part 5

Sambil memakai telinga sihirnya, Cho Hong berjalan di tengah-tengah kerumunan orang. Beberapa orang memandangnya dengan aneh. Cho Hong berharap suara lonceng segera terdengar. Sampai malam tiba, Cho Hong tidak berhasil. 


“Jika kau jatuh cinta pada pria yang salah dan tersesat dalam pesonanya, tidak ada gunanya menyesal. Kau akan ditusuk dari belakang, kekuatanmu akan hilang dan kau akan hidup seperti telah kehilangan jiwamu,” terngiang kata-kata penyihir pegadaian.


Beberapa orang peserta festival memakaikan topi yang cocok dengan telinga kurcaci Cho Hong dan berusaha menghiburnya karena Cho Hong terlihat sangat murung.

“Pria yang yang ditakdirkan untukmu, tidak akan mengkhianatimu. Temukan pria itu dan tangkap hatinya.”


Sung Tae membaca draft untuk iklan produk perusahaannya dan ia merasa tidak puas. Ia menatap tajam pada Sekretaris Kim.


“Agensi iklan bilang tidak ada masalah,” kata Sekretaris Kim putus asa. Sung Tae bertanya apakah Sekretaris Kim menyalahkan agensi iklan. “Lantas, apa yang bisa kulakukan? Dia bilang takkan mengubahnya meskipun direktur atau kakeknya direktur datang. Dia bahkan tidak mengangkat teleponku. Dia benar-benar menolak sekarang.”


Sung Tae mengajak Sekretaris Kim untuk pergi ke rumah kartunis itu. Ia ingat kalau Sekretaris Kim tahu di mana rumah orang itu. “Apa?” tanya Sekretaris Kim terkejut.


Tanpa menunggu persetujuan Sekretaris Kim, Sung Tae mengambil jasnya dan pergi. Sekretaris Kim mengejarnya dengan panik. 


Jae Wook sedang minum sendirian di kedai tenda. Ia tampak murung. Bibi penjual memberikan sup untuknya.


Dalam perjalanan pulang dengan bus, Jae Wook masih saja terlihat murung.


Di halte bus, seorang nenek tampak bingung. Cho Hong juga ada di sana. Cho Hong bicara pada dirinya, “Seharusnya aku pakai sepatu kets. Saat aku masih punya kekuatan, aku bisa memakai sepatu hak tinggi 10 cm.”


Cho Hong memukul-mukul kakinya yang terasa pegal. Nenek di sampingnya bertanya bus apa yang harus ia naiki untuk pergi ke Hongeun. Cho Hong tidak menjawab. Nenek mengulangi pertanyannya.


“Nona!” panggil si nenek sambil memukul Cho Hong. “Aku tanya bus mana yang harus kunaiki untuk pergi ke Hongeun?! Kau masih muda tapi sudah tuli!”


Cho Hong melepas telinga sihirnya dan menunjuk bus yang baru datang. Cho Hong menyimpan telinga sihirnya di dalam tas, lalu masuk ke bus yang sama.


“Bibi! Kemari!” panggil Jae Wook, tapi Cho Hong pura-pura tidak melihatnya. “Ada tempat duduk di sini! Bibi!”


Jae Wook sengaja melebarkan kakinya agar tidak ada orang lain yang duduk di sampingnya. Ia terus memanggil Cho Hong dengan sebutan bibi dan menyuruhnya duduk. Orang-orang terlihat terganggu dengan suara Jae Wook.


Merasa tidak enak pada penumpang lain, akhirnya Cho Hong memutuskan untuk duduk di samping Jae Wook.


Jae Wook terus saja tersenyum lebar. Cho Hong mengeluh bahwa itu memalukan. “Sangat menarik. Bahwa aku bertemu Bibi di tempat seperti ini. Apa mereka menyebut ini takdir?” kata Jae Wook.


Cho Hong menutup hidungnya, karena mencium bau alkohol dari mulut Jae Wook. “Ngomong-ngomong, siapa bajing*n itu, Bibi?” tanyaa Jae Wook tapi Cho Hong tidak mengerti siapa yang dimaksud. Bajing*n sombong dengan bahu lebar. Yang sedikit lebih jelek dariku.” Cho Hong baru mengerti.


“Kenapa dia tinggal bersama Bibi? Apa hubungan Bibi dengannya?” lanjut Jae Wook yang merasa sangat penasaran. Cho Hong bilang ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Sung Tae. “Tidak. Dia membuatku bad mood. Usir saja dia. Tidak masuk akal bagia pria tinggal di rumah yang hanya dihuni wanita.”


“Sebenarnya…” Cho Hong ingin menjelaskan, tetapi ia melihat Jae Wook sudah tertidur. “Astaga, orang ini…”


Cho Hong memperhatikan wajah Jae Wook. “Pria macam apa yang memiliki bulu mata panjang?” gumamnya heran. “Yah, dia memang tampan.”


“Mungkinkah dia…” kata Cho Hong lalu mengeluarkan telinga sihir dari dalam tasnya.


Tapi bus bergoncang dan Jae Wook tanpa sengaja menyandarkan kepalanya ke bahu Cho Hong.


Cho Hong tidak jadi memakai telinga sihirnya. Ia membiarkan Jae Wook tetap bersandar di bahunya. Apakah ia merasakan sesuatu?!
Comments


EmoticonEmoticon