9/26/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 4 PART 5

SINOPSIS Witch's Love Episode 4 BAGIAN 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 4 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 5 Preview

Cho Hong menggendong Jae Wook yang masih tertidur.


Ia bahkan membawanya naik ke kamar atap, lalu menjatuhkannya di bale-bale. Ia mengambil air minum dari dalam tasnya dan salah satu telinga sihir ikut terbawa keluar.


Cho Hong membersihkan ujung botol dengan bajunya, lalu meletakkannya di samping Jae Wook. “Ketika kau bangun, minumlah ini. Aku pergi sekarang,” kata Cho Hong.


“Bibi,” panggil Jae Wook. “Kenapa hidup begitu rumit?” Cho Hong bilang hidupnya malah sudah rumit sejak awal.


Cho Hong berhenti bicara karena kesal ternyata Jae Wook sudah sadar sejak tadi. Ia mengeluh bahwa sangat sulit untuk membawa Jae Wook dari halte bus hingga ke rumah atap. “Bibi, apa mimpimu? Apa bisnis keluarga?” tanya Jae Wook masih dengan mata tertutup.


Mendengar nada bicara Jae Wook yang sedih, Cho Hong bertanya apakah telah terjadi sesuatu. Jae Wook bangun dan meminum airnya. Ia menghela napasnya dan berkata, “Mimpiku awalnya adalah terbang di langit. Seperti penyihir naik sapu mereka.”


Mendengar kata penyihir membuat Cho Hong sangat terkejut. Ia bertanya penyihir macam apa yang masih mengendarai sapu saat ini dimana udara tidak bagus dan ada banyak CCTV. Ia juga bilang kalau naik pesawat jauh lebih cepat dan nyaman.


Jae Wook tertawa dan bertanya, “Apa itu sebabnya penyihir menghilang?” Cho Hong terkejut lagi. “Itulah kenapa aku menyerah pada mimpi itu dan aku memutuskan untuk menggambar sepuas hatiku. Tapi sepertinya aku harus menyerah juga.” Cho Hong bilang Jae Wook tidak boleh menyerah.


“Bibi.. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Jae Wook lalu mengambil telinga sihir yang terjatuh dari tas tadi. “Apa ini? Apa cumi kering?” Ia akan memakannya.


Cho Hong akan mengambilnya, tapi Jae Wook malah menjauhkannya. Jae Wook bertanya benda apa itu. “Kau tidak perlu tahu! Kembalikan!” kata Cho Hong, tapi Jae Wook tidak mau melakukannya.


Sebuah tas terjatuh dari tangan seorang pria, karena melihat perbuatan Cho Hong dan Jae Wook. Mereka semua diam terpaku.


“Ah… maaf sudah mengganggu. Aku akan kembali nanti,” kata Sung Tae gugup lalu pergi.


Sekretaris Kim sampai di rumah atap, tapi Sung Tae malah turun lagi. “Direktur, Anda mau kemana?” tanya Sekretaris Kim bingung. Sementara itu, Cho Hong dan Jae Wook masih diam terpaku.


Sung Tae menghela napasnya kesal, lalu Cho Hong menghampirinya. Cho Hong bertanya apakah Sung Tae dan Jae Wook saling kenal. Sung Tae tidak menjawab. “Kau bisa masuk ke dalam, meskipun dia sedikit mabuk,” kata Cho Hong.


Sung Tae meminta maaf lagi karena sudah menganggu. Cho Hong tidak mengerti. “Sepertinya kau cepat move on,” sindir Sung Tae yang sepertinya cemburu. Cho Hong bertanya apa maksudnya. “Seminggu berlalu setelah kau putus dari Min Soo. Kau mudah patah hati, karena kau mudah menerima siapa saja.”


Cho Hong: “Kau menyukaiku, bukan?”
Sung Tae: “Apa? Aku?!”
Cho Hong: “Itu sebabnya kau marah. Wanita yang kau sukai dicampakkan oleh pria brengsek dan kau tidak mendapat kesempatan untuk mengungkapkan perasaanmu, karena aku lebih dekat dengan pria yang lebih muda dan lebih tampan.”


Sung Tae bilang itu sangat konyol. Cho Hong bilang Sung Tae bukanlah tipenya. Ia mendorong bahu Sung Tae dengan jarinya, “Jangan menyukaiku.” Sung Tae sampai melongo mendengarnya. Cho Hong pergi dengan ekspresi penuh kemenangan.


“Hei, berhenti!” kata Sung Tae. Cho Hong terus berjalan. “Tidak! Aku bilang tidak! Kau bukan tipeku.”


Dari lantai atas, Sekretaris Kim dan Jae Wook menyaksikan pertengkaran mereka. Jae Wook bertanya siapa yang bukan tipe Sung Tae. “Tipe? Dia bilang Cho Hong bukan tipenya,” kata Sekretaris Kim.


Sung Tae sampai mengompres kepalanya karena stres disangka menyukai Cho Hong. “Itu gila..” kata Sung Tae.


Sung Tae tidak bisa tidur dan terus menyala-matikan lampur kamarnya.


Keesokan harinya, nenek terlihat murung, dan Aeng Doo sedang menangis sambil merapikan pakaian Cho Hong yang tercecer dimana-mana. “Apa yang harus kita lakukan dengan Cho Hong?” isaknya. Nenek menyuruhnya berhenti menangis.


“Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan Cho Hong berakhir seperti ibunya,” kata nenek. Aeng Doo menangis semakin keras.


Jae Wook pergi ke toko buku dan mengambil buku berjudul ‘Siapa Penyihir Itu?’


Sekretaris Kim meminta Sung Tae hadir di rapat manajer, karena itu perintah khusus  Ketua. Sung Tae tidak tertarik untuk menghadiri rapat itu.


Kasir: “38 dolar untuk 4 buku.”
Jae Wook: “38 dolar? Apa tidak ada diskon?”


“Ah, itu nona pemilik restoran sup nasi,” kata Sekretaris Kim saat lampu merah dan melihat Cho Hong menyeberang. Sung Tae terkejut. “Takdir itu sangat aneh, bukan? Dulu dia hanya slaah satu dari banyak pejalan kaki. Tapi kini, dia menonjol di antara kerumunan. Aku tiba-tiba ingin sup nasi setelah melihatnya. Direktur, Anda bisa makan sup nasi terlezat sepuasnya.”


Sung Tae terus memperhatikan Cho Hong. “Aku tidak makan sup nasi!” kata Sung Tae. Sekretaris Kim terkejut dan mengingatkan kalau Sung Tae menyukai sup nasi. “Apa maksudmu? Aku tidak suka siapapun!” Sekretaris Kim bingung. “Kubilang aku membencinya! Aku bahkan benci melihatnya! Aku paling benci sup nasi di dunia ini!”


Cho Hong pergi ke kerumunan orang. Merasa itu adalah tempat yang tepat, Cho Hong lalu memakai telinga sihirnya.


Jae Wook juga berada tidak jauh dari sana. Ia tersenyum senang saat melihat Cho Hong.


Comments


EmoticonEmoticon