9/11/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 10 PART 3

SINOPSIS Your Honor Episode 10 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 10 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 11 Part 1

Ibu sedang menyiram tanaman, dan Kang Ho baru saja sampai di luar rumah. Kang Ho mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya. Tertulis di layar ponsel ibu ‘Putra Sulungku’. 


Dengan ceria ibu bertanya kenapa Soo Ho menghubunginya, padahal sedang sibuk. Ia bertanya apakah orang yang ia kira Soo Ho itu sudah makan. Kang Ho mengucapkan selamat ulang tahun dan meminta maaf karena tidak bisa datang. Ibu mengerti dan bertanya kenapa Soo Ho memberinya banyak uang, padahal belum melunasi hipoteknya.


“Ibu sedang apa?” tanya Kang Ho yang merindukan ibunya. Ibu bilang baru saja menyiram tanaman. “Lakukanlah di siang hari. Kenapa menyiramnya malam-malam?” Ibu bilang daunnya akan terbakar, jika disiram siang hari.


Kang Ho sudah akan menutup ponselnya, tapi ibu bilang ia tidak bisa menghubungi Kang Ho dan tampak khawatir. “Aku bicara dengannya di telepon beberapa hari lalu. Dia baik-baik saja, jangan cemaskan dia,” kata Kang Ho. Ibu bertanya apakah Kang Ho meminta uang lagi dan mengganggu Soo Ho. 


“Dia tidak selalu menggangguku,” kata Kang Ho. Ibu bilang ia selalu membuat Soo Ho khawatir karena masalah Kang Ho, lalu meminta maaf. “Ibu tidak meminta maaf kepada Kang Ho?”


Ibu berkata, “Untuk apa meminta maaf padanya? Ibu seharusnya hanya melahirkan kamu. Kau mau lauk lagi? Ibu akan membuatkannya dan membawakannya kepadamu.”


Kang Ho bilang ia sibuk dan akan menutup teleponnya. “Baiklah, ibu tahu kau sibuk. Ibu menyaksikannya di berita. Kau terlihat sangat tampan di televisi. Baiklah,” kata ibu.


Mendengar perkataan ibunya, membuat Kang Ho sangat sedih. Ia berusaha keras untuk menahan air matanya.


So Eun terkejut karena Kang Ho menghubunginya jam setengah empat pagi. “Tunggu, sekarang?” tanya So Eun.


So Eun datang ke taman dan melihat Kang Ho sedang bermain jungkat-jungkit. So Eun berlari dan memanggilnya. “Oh, ini dia pemagangku yang ceras, Hakim Pemagang Song. Kau hakim yang luar biasa! Pakar huruf Mandarin,” sapa Kang Ho yang mabuk.


So Eun membantu Kang Ho yang hampir terjatuh. Ia bertanya apakah Kang Ho juga kecewa dengan putusan sidang siang tadi.


“Dia selalu dibanggakan. Keluarga… tidak lebih baik daripada orang asing. Kau tahu betapa konyolnya memiliki keluarga? Meski kita tidak melihat mereka, mereka tetap menyiksa kita,” kata Kang Ho yang sedih karena merasa ibunya pilih kasih.


So Eun bilang setelah memperhatikan Kang Ho, ia merasa tidak pantas menjadi hakim. Menurutnya, pekerjaan hakim sangat melelahkan.


Kang Ho mulai meracau lagi, hingga hampir terjatuh ke belakang. Ia bilang ia akan pulang dan mengucapkan selamat berjuang untuk besok. Tapi ia malah terjatuh dan pingsan di pangkuan So Eun. “Hakim Han, bangunlah.. Anda harus pulang,” kata So Eun.


Kang Ho mengigau bahwa dia tidak punya keluarga tempat mencurahkan segala hal. So Eun menatapnya prihatin.


Keesokan harinya, Kang Ho terbangun di kamar So Eun. Ia terkejut dan langsung berdiri.


Dia melihat catatan bertuliskan ‘Aku tidur di tempat lain. Aku ke kantor sekarang. Song So Eun’ tertempel di jasnya.


Ia melihat sekitar dan menyadari kebodohannya.


Dengan pakaian berantakan, Soo Ho sampai di luar gedung pengadilan. Ia melihat suami korbn tabrakan masih melakukan aksi protesnya. Ia berbalik menjauh.


Tidak lama kemudian, Kang Ho kembali lagi sambil membawa payung. Ia bertanya pada suami korban tentang siapa Talmud. “Aku tidak berdiri di sini agar Anda bisa mengejekku,” jawabnya. Kang Ho bilang menggelar demo satu orang tidak akan mengubah pikiran hakim. “Aku baik-baik saja. Aku berniat membawa ini ke Mahkamah Agung. Setelah sidang ketigaku, aku akan memulai geraka bahwa berkemudi mabuk adalah pembunuhan.”


Kang Ho bilang itu masih lama. Ia bilang Kejaksaan akan menyetujui banding, jadi suami korban harus menyiapkan banding untuk kasusnya dulu. “Untuk sidang keduamu, hakim sungguhan akan bertugas. Mereka bukanlah hakim yang badung seperti aku.”


Kang Ho juga bilang bahwa jika di sidang kedua terbukti bahwa permohonan maaf terdakwa bohong, maka terdakwa akan menerima hukuman yang lebih besar.


“Kau yang menyebabkan kekacauan ini,” kata suami korban. Kang Ho bilang barang bukti itu tidak bisa diterima.


“Sebagai gantinya, aku akan memberimu hal lainnya,” kata Kang Ho.


So Eun sampai di luar gedung pengadilan dan melihat mereka berdua.


“Aku mengecek ini kemarin. Tulisan tangan pada surat permohonan maaf terdakwa dan pernyataannya dari Kepolisian berbeda. Aku yakin seorang agensi yang menuliskan surat itu. Tiap surat bernilai 50 dolar. Menuliskan surat permohonan maaf orang lain tidak melanggar hukum. Tapi saat aku mengecek transkip dari sidang pertama, Bae Min Jung membuat pernyataan bahwa dia yang menulisnya sendiri,” kata Kang Ho.


Suami korban terus menyimak. Kang Ho berkata lagi, “Dia bersumpah di pengadilan. Ini akan menjadi bukti yang sangat krusial pada bandingmu.” Suami korban bertanya kenapa Kang Ho membantunya sesuai persidangan.


“Maafkan aku, karena orang seperti dia yang menerima kasusmu,” kata Kang Ho sambil menunduk menyesali perbuatan kakaknya.


“Minumlah. Nanti kau pingsan,” kata Kang Ho sambil menyodorkan sebotol air mineral. Suami korban menerimanya.


“Ambil payung ini, nanti kau terbakar sinar matahari,” kata Kang Ho. Suami korban tampak ragu untuk menerimanya.


So Eun yang masih berdiri tidak jauh dari sana tampak cemas. Apalagi ketika suami korban menurunkan kembali tangannya, menolak untuk menerima payung itu.


“Hukum tidak punya hak apapun di hadapan rakyat,” kata Kang Ho sambil meneteskan air mata dan barulah suami korban mengambil payung itu.


Kang Ho kemudian membungkukkan tubuhnya kepada suami korban. Suami korban menangis.


Dengan mata berkaca-kaca, So Eun tersenyum lega lalu berjalan masuk ke gedung pengadilan terlebih dulu.


1 komentar


EmoticonEmoticon