9/09/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 6 PART 1

SINOPSIS Your Honor Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 6 Part 2

“Jika kuterima uang itu dan kabur, berarti 100.000 dollar. Jika bertahan sebulan, aku bisa mendapat satu juta dollar,” gumam Kang Ho yang sudah berbaring nyaman di kasur Soo Ho.


Ia memperhatikan tas berisi uang yang baru saja ia dapatkan dari Choi Jin Young dari Grup Hanyoung. “Arrgh…” kata Kang Ho bingung. Ia lalu pergi ke dapur dan mengambil minuman.


Di lantai, ia menemukan brosur perjalanan dengan judul ‘Camino de Santiago’, sepertinya itu adalah tempat liburan yang ingin Soo Ho tuju. “Dasar gila. DIa tidak mensyukuri pekerjaannya. Dia ingin berlibur setelah berhenti kerja? Hidupnya pasti bahagia,” kata Kang Ho.


“Santiago.. Satu setengah bulan. Aish… artinya dia tidak kembali,” baca Kang Ho di brosur itu.


Sementara itu di bar, Ha Yeon memberi tahu Sang Cheol kalau sebelumnya Dae Yang dan Jung Soo datang kesana untuk minum dan tampaknya keadaan tidak baik. “Bagaimana jika Hakim Han Soo Ho tidak dipekerjakan untuk periode nantinya?” tanyanya.


Sang Cheol bilang Soo Ho sepertinya akan mengundurkan diri. “Kau tahu semuanya, bukan?” tanya Sang Cheol. Ha Yeon tersenyum dan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apakah Sang Cheol tidak ingin menikah, karena ia punya calonnya. “Kau sudah menjodohkan ayahku. Sekarang aku?” Ia tersenyum, lalu bertanya lagi, “Han Soo Ho. Kenapa dia mengundurkan diri?”


Ha Yeon bilang Sang Cheol dan Soo Ho lulus dari institut yang sama, jadi harusnya tidak bertanya tentang itu padanya. “Bukankah kau memperkenalkan dia ke orang-orang GRup Hanyoung?” tanya Sang Cheol. Ha Yeon tertawa dan bilang kalau semua orang tahu Soo Ho dekat dengan Grup Osung, jadi dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.


Sang Cheol menjentikkan jarinya dan menunjuk Ha Yeon. “Kau benar,” kata Ha Yeon sambil tersenyum. “Mungkin hanya aku yang bisa melakukan hal seperti itu. Mereka hanya minum bersama.” Sang CHeol bertanya apa itu karena kasus Park Jae Na dan Ji Chang Soo. “Berapa harga minumanmu? Itu mungkin diluar kemampuanmu.”


Chang Soo yang bertemu diam-diam dengan Jae Na menunjukkan artikel tentang Soo Ho yang memenjarakan Lee Ho Sung. Ia bertanya-tanya apakah Soo Ho menunda semua persidangan demi mengulang persidangan mereka. Jae Na bilang Soo Ho bukan hakim biasa.


Chang Soo bertanya, “Bukankah kita seharusnya jujur saja?” Jae Na membuka maskernya dan berkata bahwa dia masih peduli dengan hidupnya. Ia terlihat sedih.


Jae Na: “Aku akan mulai akting, bernyanyi dan syuting iklan lagi. Mereka menjanjikanku itu jika aku menuruti mereka.”
Chang Soo: “Apa mereka akan menepati janji? Mereka lebih mengerikan daripada hukuman.”
Jae Na: “Aku tahu. Itu sebabnya aku menuruti mereka. Jangan menghubungiku lagi.”


Jae Na memakai maskernya lagi dan pergi meninggalkan Chang Soo. Chang SOo kemudian memperhatikan ponselnya yang ternyata merekam pembicaraan mereka tadi.


Keesokan harinya, So Eun bertanya apakah Soo Ho tidak masuk kerja, karena kemarin dia mendengar kalau Soo Ho akan mengundurkan diri. Bok Soo bilang itu berarti Soo Ho mungkin tidak akan datang, karena dia bukan orang yang mudah berubah pikiran.


Bok Soo bilang di lembaga pemerintahan menjadi terkenal bisa menyebabkan banyak kerugian. Ia berpesan agar So Eun menjadi karyawan yang patuh, karena walaupun tekun tapi berpendirian keras maka atasan akan memandangnya rendah.


“Apa tidak sependapat itu artinya berpendirian keras? Aku tidak begitu,” kata So Eun. Bok Soo mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengecek pekerjaan bawahannya.


“Hei! Baca file-nya secara terpisah. Hakim Han tidak suka jika tumpukannya berantakan!” kata Bok Soo. Kedua orang itu langsung merapikan dokumen-dokumen yang ada di atas meja.


So Eun bertanya lagi pada Bok So, “Kerugiaan apa yang akan dihadapi oleh hakim terkenal?”


Kang Ho masuk ke gedung pengadilan dan puluhan reporter langsung berlari menghampirinya dan membuatnya bingung. Mereka bilang masyarakat menaruh perhatian terhadap kasus itu dan menanyakan perasaanya soal vonis yang dia berikan, kenapa memberikan hukuman penjara, kenapa tidak mepertimbangkan jasa Ho Sung pada perkembangan ekonomi dan lainnya.


Tidak jauh dari sana, Kepala Hakim dan rekan-rekannya melihat kejadian itu.


Kang Ho panik dan menarik napas dalam-dalam.


Dengan gaya jalan cueknya, Kang Ho akhirnya berhasil masuk ke ruang kerjanya. “Aku di sini untuk mencari nafkah. Mari lakukan yang terbaik! Hei, lakukan yang terbaik. Kita pasti bisa,” ujarnya sambil mengajak semua orang tos.


“Bintang baru telah lahir,” sindir Kepala Hakim yang tiba-tiba datang. “Beri aku tos juga.” Kang Ho senang dan mengangkat tangannya, tapi Kepala Hakim malah menghindarinya. “Kenapa kau tidak menyerahkan surat pengunduran dirimu?”


Kang Ho membungkukkan tubuhnya dan berkata kalau dia akan bekerja keras. “Kita tidak akan bertemu lagi. Tidak perlu bersikap formal,” sindir Kepala Hakim menirukan ucapan Kang Ho kemarin. Kang Ho bilang ia akan memenuhi kewajibannya sesuai hukum dan hati nuraninya.


“Jika masih punya hati, mengundurkan diri saja. Tahukah kau dampak keputusan pengadilan terhadap kita? Kau tidak malu berbuat begini di hadapan seorang pemagang? Apa yang akan dia pelajari darimu?” tanya Kepala Hakim.


So Eun tersenyum saat Kang Ho bilang kalau mungkin ia akan belajar banyak darinya. Kepala Hakim bilang Kang Ho sudah mengabaikan peraturan vonis yang bahkan tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemagang. “Kau bicaralah. Kau setuju, bukan?” tanya Kepala Hakim pada So Eun.


“Aku tidak setuju,” jawab So Eun yang membuat semua orang terkejut. “Hakim Han memberikan keputusannya berdasarkan hukum dan nuraninya. Aku yakin yang bertanggung jawab bukan hanya dia, tapi juga seluruh masyarakat. JIka masyarakat mengikuti keputusan, maka keputusan itu adil. Jika tidak, maka beban kejahatannya tidak ditentukan dengan benar.”


Bok Soo terkejut mendengar jawaban So Eun, sedangkan Kang Ho tersenyum senang dan Kepala Hakim tampak kesal.


Kep. Hakim: “Kau mau menjalani persidangan sesuai sentimen publik?”
So Eun: “Tidak. Hukum harus mencerminkan akal sehat dari masyarakat. Aku yakin keputusan itu diambil dari pemikiran ini.”


Kepala Hakim bertanya siapa dia dan So Eun langsung memperkenalkan dirinya. Kepala Hakim kemudian menanyakan hal yang sama pada Kang Ho. “Dia hakim magang, Song So Eun. Aku akan mengajarinya dengan baik,” kata Kang Ho yang menyuruh So Eun ikut membungkukkan badannya.


“Apa-apaan ini? Kalian semua memang cocok,” sindir Kepala Hakim. “Semua, keluar!”


Kepala Hakim yang sudah berdua saja dengan Kang Ho mengatakan bahwa mereka sama-sama hakim dan tidak bisa saling mencampuri sidang masing-masing. Kang Ho mengangguk sambil cengengesan. “Kau tahu siapa yang paling gembira dengan keputusanmu kemarin?” tanya Kepala Hakim.


Kang Ho: “Masyarakat?”
Kep. Hakim: “Parlemen. Mereka mengungkit usulan untuk mencegah pengadilan membuat keputusan sendiri. Kita harus menjalani persidangan berdasarkan hukum dan hati nurani, tidak dalam batas-batas yang ditetapkan legislatif.”


Kang Ho membenarkan dan mengatakan bahwa anggota parlemen selalu menjadi masalah. “Ini akan menjadi perang antara anggota legislatif dengan cabang yudisial. Tapi evaluasimu kurang dari sebulan. Menteri Hukum mungkin akan menyalahkanmu demi keamanan mereka,” kata Kepala Hakim.


Kepala Hakim juga mengatakan bahwa ada komplain karena Soo Ho menerima suap. “Uang suap?” tanya Kang Ho terkejut. “Aku kira aku hakim yang baik,” kata Kang Ho yang dimaksudkan untuk Soo Ho. Kepala Hakim bilang jika Soo Ho dipecat maka dia akan menerima bantuan bahkan jika ingin membuka firma hukum sendiri, jadi dia menyarankan agar Soo Ho mengundurkan diri.


Kang Ho berkata, “Aku akan bekerja satu bulan lagi, lalu baru memutuskan.” Kepala Hakim setuju dan mengatakan bahwa menurutnya keputusan kemarin itu menunjukkan Soo Ho sudah bekerja dengan baik.


“Aku adalah seniormu, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku malu dan bangga kepadamu. AKu serius. Aku juga serius saat menyuruhmu mengundurkan diri,” kata Kepala Hakim dan membuat Kang Ho tersenyum. “Kau banyak menderita karena ibumu.”


Kang Ho terkejut mendengar ucaoan terakhir Kepala Hakim itu.


Sang Cheol mengatakan bahwa semuanya tidak relevan, karena setelah mengundurkan diri, rencananya Soo Ho akan mengikuti pelatihan di Grup Osung, tapi dia ditolak, jadi dia pergi ke Grup Hanyoung. Ia bilang Hanyoung memanfaatkan Soo Ho agar meraih posisi menguntungkan pada penawaran bisnis pemerintah yang akan datang dan memberikan vonis tidak adil kepada Lee Ho Sung.


Dae Yang menyuruhnya duduk dan bertanya apa yang relevan menurut Sang Cheol. “Citra. Kita harus mengubah citra Lee Ho Sung dari penjahat menjadi korban karena vonis yang tidak adil,” kata Sang Cheol.


Dae Yang bilang semua orang bisa punya rencana seperti itu, tapi apakah Sang Cheol bisa menggerakkan media. Ia mengajukan diri untuk menemui beberapa reporter dan meminta Sang Cheol untuk membuat rencana berikutnya.


Sang Cheol bilang ia sudah membuat janji temu dengan beberapa reporter dan melakukan segala usaha agar mendapat pengakuan dari ayahnya.


Dae Yang tertawa sinis dan mengambil kopinya. “Itu masalahmu. JIka ular berbisa menunjukkan taringnya, manusia harus menjauhinya jika tidak ingin digigit ular itu. Percuma saja,” katanya.


Dae Yang meletakkan berkas dari Sang Cheol dengan keras dan berkata, “Pokoknya, masalah hakim harus lebih siap. Semakin tinggi dia, jatuhnya akan semakin keras.”
Comments


EmoticonEmoticon