9/11/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 9 PART 3

SINOPSIS Your Honor Episode 9 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 9 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 10 Part 1

Joo Eun baru saja mematikan monitornya dan akan pulang. “Siapa?” tanya direktur yang tiba-tiba datang. Joon Eun tidak mengerti. “Orang di belakangmu.” Joo Eun menengok ke belakang dan mencari orang yang dimaksud, tapi tidak ada seorang pun di sana.


Joo Eun: “Siapa?”
Direktur: “Wawancara Hakim Han akan disiarkan sebagai kisah utama.”


Joo Eun sangat senang sampai hampir menangis. Ia bahkan langsung pergi tanpa berpamitan.


Sang Cheol mengingatkan agar So Eun makan pelan-pelan agar tidak sakit. “Aku harus cepat makan dan kembali. Masih ada banyak pekerjaan,” kata So Eun. Sang Cheol bilang ada banyak hal yang ingin ia katakan. “Silakan.”


Sang Cheol bilang ia membuat keputusan besar dan ingin So Eun mendukungnya. So Eun bilang ia selalu mendukung Sang Cheol. “Aku memulai praktik sendiri,” kata Sang Cheol sambil tersenyum. So Eun terkejut karena Sang Cheol tidak meneruskan firma hukum ayahnya. “Begitu aku memulai praktik sendiri, datanglah padaku.”


So Eun bilang ia bahkan belum lulus dari institut pelatihan. Ia bilang ia akan mengirimkan tanmana saat Sang Cheol membuka kantornya nanti.


Sang Cheol berkata lagi, “Datanglah kepadaku, So Eun..” So Eun terdiam sejenak lalu berkata bahwa dia belum memutuskan hal apa yang ingin ia lakukan. “Hakim harus menanggung tanggung jawab emosional usai menghukum orang. Kau pura-pura tabah, tapi terlalu sensitif. Kau tidak akan bertahan. Kau tidak cocok menjadi hakim.”


“Tunggu sebentar,” kata So Eun yang melihat wawancara Kang Ho disiarkan.


Joo Eun menonton dirinya sendiri yang membahas tentang putusan Soo Ho yang bertentangan dengan pertimbangan yang diharapkan dan telah membuatnya menerima kritik.


“Gadis itu sangat cantik. Aku mau menjadikannya menantuku,” kata ibu yang juga menyaksikan berita itu.


Sementara itu di bar, Ha Yeon menunjukkan berita wawancara itu pada Soo Ho. Ha Yeon heran karena tadinya ia pikir Soo Ho akan menghindari publisitas. Soo Ho sendiri terkejut karena Kang Ho bersama Joo Eun.


“Kalian berdua pasangan serasi. Pasti akan ada beberapa aksi malam ini,” kata Ha Yeon. Tubuh Soo Ho bergetar.


Jung Soo melihat Kang Ho yang mengatakan bahwa para konglomerat menerima hukuman ringan pada sidang mereka. Jung Soo sangat marah. Ia melempar pot bunga ke arah televisi sampai pecah berantakan.


Di studio, Joo Eun juga menonton wawancaanya bersama Kang Ho.


Sang Cheol terkejut karena melihat So Eun tersenyum saat menonton Kang Ho di televisi. “Menurutku Hakim Han sangat keren. DIa juga orang yang baik,” kata So Eun. Sang Cheol sadar dari keterkejutannya. “Aku harus kembali. Aku harus lembur malam ini.” Sang Cheol masih terdiam.


“Oppa, aku tidak lemah. Aku juga kuat secara emosional. Maaf, aku harus pergi sekarang. Biar aku yang traktir kali ini,” kata So Eun lalu pergi.


Sang Cheol melangkah keluar dari restoran dengan lesu. Ia kemudian menjawab ponselnya yang berdering.


“Kau sudah menonton berita?” tanya Jung Soo sambil merapikan jasnya. Sang Cheol tidak menjawab, tapi ia malah mengatakan kalau sudah menemukan daftar orang di lapangan golf dan rekaman CCTV.  Iakana menyerahkan semua itu ke reporter.


“Kita singkirkan ayahku dengan ini dahulu. Lalu, aku akan mulai dengan Hakim Han,” kata Sang Cheol serius. Jung Soo berteriak kalau Sang Cheol harus cepat melakukan sesuatu, apapun itu.


Reakan-rekan kerja Joo Eun memuji hasil kerjanya dan bertepuk tangan untuknya. Joo Eun sangat senang.


“Aku sangat menikmati wawancara Anda,” kata So Eun sambil memberikan jus kepada Kang Ho. Kang Ho bilang ia kesana karena dipaksa. “Putusan untuk kasus menyetir sambil mabuk Bae Min Jung, aku tidak bisa menulisnya.”


Kang Ho bilang So Eun tinggal memotong vonisnya dari 3 tahun menjadi 1 tahun 6 bulan, lalu terdakwa akan bebas setelah masa percobaan tiga tahun. So Eun merasa aneh karena terdakwa menulis surat permintaan maaf dan menangis di ruang sidang, tapi pada kenyataannya tidak menyesal.


So Eun: “Masalahnya tidak ada bukti bahwa dia tidak menyesal.”
Kang Ho: “Tidak ada bukti, tidak ada kasus.”
So Eun: “Karena itulah aku tidak bisa menulisnya. Aku tahu kebenarannya, tapi hanya karena tidak ada bukti, aku harus memvonis dia lebih ringan.”


Kang Ho bilang So Eun harus mempermudah dirinya sendiri. Ia mengikuti kata-kata Kepala Hakim, bahwa seharusnya So Eun seperti air mengalir dan tidak membuat putusan yang mencolok.


Kang Ho menyuruh So Eun menuliskan kata ‘hukum’ dalam huruf Mandarin. So Eun menuliskannya dan ternyata tahu benar tentang air dan pergerakan seperti yang dikatakan Kepala Hakim pada Soo Ho.


Tapi kemudian, So Eun menulis kata ‘hukum’ dengan huruf Mandarin versi lain. “Air, haechi, dan pergerakan. Kita memakai karakter ini awalny,” jelas So Eun.


Kang Ho berada sangat dekat dengan So Eun. “Haetae adalah hewan legenda yang memutuskan benar atau salah. Saat huruf Mandarin untuk Haetae dihilangkan, orang-orang berkata hukum itu alami seperti air mengalir. Tapi menurutku, hukum harus keras untuk memutuskan benar atau salah,” lanjut So Eun.


So Eun menoleh ke arah Kang Ho dan mereka sejenak saling bertatapan.”Aku tidak tahu,” kata Kang Ho soal penjelasan itu. Ia bertepuk tangan untuk So Eun. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan saat So Eun bertanya apa interpretasinya tentang huruf ‘hukum’ itu. Ia bertanya apakah So Eun berpikir sangat banyak saat menulis putusan.


So Eun bilang hidup banyak orang tergantung pada putusan mereka. Dia tidak bisa menulis putusan karena dia hanya pemagang. Kang Ho tertawa dan menirukan ucapan orang lain tentang pekerjaan hakim.


Kang Ho bilang mereka akan tetap menerima kritik. “Aku tidak masalah dikritik orang lain. Tapi aku tidak mau mengkritik diri sendiri nantinya,” kata So Eun.


“Jadi kau tidak bisa menulisnya?” tanya Kang Ho dan So Eun mengangguk. “Meski kau hakim sungguhan?” So Eun bilang jika posisinya begitu, ia akan membuat putusannya.


Kang Ho mendapat telepon dari Joo Eun, tapi ia mengabaikannya. Kang Ho bilang entah bagaimana, ia akhirnya berada di posisi sekarang, tapi ia yakin orang seperti So Eun akan menjadi hakim sejati. So Eun tersenyum. 


“Cobalah,” kata Kang Ho sambil mengajak So Eun tos. “Kita lihat putusan apa yang akan diberikan oleh seorang hakim sejati. Semoga sukses.” So Eun berterima kasih.


Sementara itu, Soo Ho kembali ke apartemennya dan melihat Joo Eun akan masuk kesana. Ia tampak memikirkan sesuatu.


Comments


EmoticonEmoticon