10/26/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 13 PART 4

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 13 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 13 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 13 Part 5

Kwon Hyuk mengkhawatirkan Putra Mahkota yang pergi sendirian. Putra Mahkota bilang Utusan Wang menginginkan agar dia bergerak diam-diam, karena ada rahasia yang disembunyikan. “Rahasia itu… ada di sana,” kata Putra Mahkota ketika sampai di suatu tempat.


Putra Mahkota melihat Jinlin yang sedang membersihkan pakaiannya.


“Tuan Muda seorang wanita?” tanya Kwon Hyuk terkejut. Putra Mahkota tidak menjawab dan akan berjalan menghampiri Jinlin.


Langkah Putra Mahkota terhenti, karena melihat Hong Sim juga ada di sana. Ia sangat terkejut, karena melihat wajah Hong Sim yang terluka dan sedang memijat-mijat kakinya.


Putra Mahkota tidak jadi melanjutkan langkahnya saat melihat Je Yoon datang dan menanyakan keadaan Hong Sim. Ia juga melarang Kwon Hyuk mendekat.


Je Yoon memeriksa kaki Hong Sim yang ternyata sangat bengkak. “Aku baik-baik saja. Bawa kembali wanita itu. Kau bilang, Putra Mahkota bisa mendapat masalah,” kata Hong Sim khawatir.


Putra Mahkota terharu mendengar perhatian Hong Sim padanya.


Jinlin bilang ia tidak akan pergi sebelum bertemu Tuan Muda Young Hoo. Je Yoon menebak Young Hoo adalah kekasih Jinlin dan orang itulah alasan Jinlin melarikan diri dari penjaga. Je Yoon bilang Jinlin sudah menempatkan Putra Mahkota dalam keadaan bahaya karena perbuatannya, termasuk hubungan di antara dua Negara.


“Tidak ada yang penting bagiku! Kudengar dia sakit. Jika aku tidak melihatnya sekarang, kami tidak akan pernah bisa saling bertemu,” kata Jinlin sedih. Je Yoon bilang masalah itu tidak sepadan dengan kekacauan dua Negara.


Hong Sim berdiri dan mengajak mereka semua menemui Young Hoo. Je Yoon menolak. “Kita semua memiliki hal yang berharga yang berbeda-beda. Beberapa mendahulukan kekuasaan, ada juga yang mendahulukan keluarga, bahkan beberapa mendahulukan cinta lebih dari apapun,” kata Hong Sim.


Putra Mahkota masih memperhatikan mereka. Kwon Hyuk bertanya apakah mereka tidak akan mengantar Jinlin kembali ke istana. “Tidak. Aku yakin orang-orang itu akan membawanya kembali,” kata Putra Mahkota, lalu mengajak Kwon Hyuk pergi.


Tidak lama kemudian, Jinlin berhasil bertemu Young Hoo yang tidak menyangka Jinlin melakukan hal nekat demi dirinya. “Aku merindukanmu,” kata Jinlin, lalu mereka berperlukan. Je Yoon tersenyum senang, tapi Hong Sim malah terlihat sedih.


“Waktumu sudah habis. Kita harus pergi sekarang,” kata Je Yoon pada Jinlin. Hong Sim lalu pamit pergi lebih dulu dan meminta Je Yoon segera membawa kembali Jinlin agar Putra Mahkota idak mendapat lebih banyak masalah.


Dua Menteri di kubu Cha Eon sangat khawatir karena Cha Eon diam saja. Mereka merasa masalahnya sudah diluar kendali sekarang, jadi yang bisa mereka lakukan hanya mempercayai Putra Mahkota untuk menyelesaikannya.


Saat melihat Putra Mahkota datang, kedua menteri itu langsung menanyakan Tuan Muda. “Aku tak bisa mengatakan, menemukannya atau tidak,” kata Putra Mahkota. Menteri khawatir mereka tidak bisa melanjutkan perjamuan, tapi Putra Mahkota bilang mereka tidak bisa membatalkannya.


Putra Mahkota masuk ke ruang perjamuan dan memberi salam pada Utusan Wang. Utusan Wang marah karena Putra Mahkota tidak menepati janjinya untuk menemukan anaknya sebelum perjamuan makan malam.


“Jika Tuan Muda tidak kembali sebelum perjamuan berakhir, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan,” kata Putra Mahkota.


Semua orang terkejut, termasuk Raja yang semakin mengkhawatirkan posisi putranya. Utusan Wang tidak menolak keputusan Putra Mahkota. “Biarkan aku menuangkan minuman untukmu,” kata Putra Mahkota kemudian.


Putra Mahkota menuangkan minuman, lalu Kasim memberikannya pada Utusan Wang. Setelah Utusan Wang meminumnya, ia juga menuangkan minuman ke gelas yang sama dan Kasim membawa untuk Putra Mahkota yang kemudian meminumnya.


Mereka terus melakukannya berulang-ulang sebagai bagian dari adat. Raja terus berdiri, karena cemas dan para menteri pun merasakan hal yang sama.


Makanan mulai dihidangkan dan Utusan Wang semakin kesal, karena anaknya belum juga kembali. IA kemudian memukul meja dan berdiri. “Waktumu habis. Hidangan terakhir sudah disajikan, aku menganggap perjamuan ini selesai. Aku akan membuat keputusan. Aku… Aku senang Putra Makota sudah kembali, tapi ada yang bisa kulakukan karena kemampuannya,” ujarnya.


Tiba-tiba, pintu terbuka dan Jinlin berjalan masuk dengan terburu-buru. Raja dan Utusan Wang terkejut, tapi Putra Mahkota bersikap biasa saja.


“Maafkan aku. Aku lupa waktu di pasar saat melihat benda-benda langka,” kata Jinlin pada ayahnya. Putra Mahkota lalu mempersilakannya duduk, karena dia sudah menyiapkan irisan aprikot yang JInlin sukai.


Dengan suasana hati yang lebih baik, Utusan Wang lalu berjalan-jalan dengan Putra Mahkota yang tidak menyangka seorang utusan akan membawa putrinya pada misi diplomatik. “Kaisar akan marah jika dia tahu,” kata Putra Mahkota.


Utusan Wang bilang hatinya hancur karena melihat putrinya terus menangis setiap hari. Ia tidak menyangka itu karena cinta. “Terimalah permintaan maaf dan terima kasihku,” kata Utusan Wang.


Putra Mahkota bertanya apa itu berarti ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Utusan Wang tersenyum dan berkata, “Tentu saja. Kau adalah pria yang dapat dipercaya dan kemampuanmu sama besar dengan kepercayaanmu. Itu saja sudah cukup untuk menjadikanmu sebagai Putra Mahkota.”


Utusan Wang meminta izin untuk memberikan beberapa saran dan Putra Mahkota setuju. “Harap berhati-hati dengan ayah mertuamu dan orang-orangnya. Dua tahun lalu ketika kita berpamitan, itu bukan dari beberapa puisi. Itu tentang ayah mertuamu. Iblis seperti dia, kita penasaran apa tujuan sejatinya,” kata Utusan Wang.


Putra Mahkota terkejut. Utusan Wang kembali tersenyum dan berharap petemuan mereka berikutnya adalah di hari penobatan Putra Mahkota sebagai Raja. Utusan Wang berharap Putra Mahkota segera mendapatkan ingatannya dan membakas mereka yang mencoba membunuhnya. Ia kemudian pergi bersama pengawalnya.


Je Yoon kemudian menghampiri Putra Mahkota dan meminta maaf karena ia hampir terlambat membawa Jinlin kembali. “Apa kau hanya meminta maaf untuk itu?” tanya Putra Mahkota. Je Yoon tidak mengerti. Mereka kemudian pergi ke kediaman Putra Mahkota.


“Kenapa dia di Hanyang?” tanya Putra Mahkota. Je Yoon heran karena Putra Mahkota mengetahui tentang Hong Sim. “Kenapa kau tidak melaporkan ini padaku?” Je Yoon bilang perintah yang diberikan padanya adalah melindungi Hong Sim, dan tidak melapor adalah salah satu cara melindunginya.


Putra Mahkota: “Sudah berapa lama kau memiliki perasaan padanya?”
Je Yoon: “Mungkin lebih lama darimu.”
Putra Mahkota: “Lalu, apa yang kau rencanakan?”


Je Yoon bilang ia akan mengikuti perintah Putra Mahkota secara resmi, tapi ia akan tetap setia pada hatinya.


Sementara itu di Desa Songjoo, Bok Eun minum sampai mabuk dan bahkan berteriak. Ia merasa ia bisa segera mati, karena memperlakukan Won Deuk dengan buruk.


Gu Dol yang juga mabuk berkata ia harus pergi ke istana untuk menemui Won Deuk. “Dia bukan Won Deuk! Dia Yang Mulia. Dia Putra Mahkota,” kata bibi sambil memberi hormat. Gu Dol bilang ia akan menemui Putra Mahkota dan meminta jabatan, karena selama ini ia membantu masalah Won Deuk dengan Hong Sim.


Kkeut Nyeo menyuruh Gu Dol duduk. Ia mengambil minuman lagi, tapi Gu Dol melarangnya. Kkeut Nyeo kemudian menangis karena hanya dia yang mengkhawatirkan Hong Sim. “Hong Sim…” isak Kkeut Nyeo dan Bok Eun berteriak lagi.


Ayah memarahi Hong Sim karena kakinya terluka dan harusnya ia yang pergi belanja. Hong SIm bilang ia baik-baik saja, tapi ayah bilang itu sangat bengkak. Hong Sim bilang ia belum sempat membeli bahan makanannya. “Bukan itu masalahnya!” kata ayah kesal bercampur khawatir.


Je Yoon datang dan mengatakan ia sudah membeli tulang sumsum sapi yang baik untuk sakit pergelangan. Ayah mengambil belanjaan itu dan mengira itu pasti sangat mahal. “Bagaimana hasilnya?” tanya Hong Sim. Je Yoon bilang semuanya sudah selesai dengan baik.


Hong Sim menarik napas lega, karena Putra Mahkota baik-baik saja.
Comments


EmoticonEmoticon