10/26/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 PART 1

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 13 Part 5
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 Part 2

Ayah mondar-mandir di depan rumah dengan khawatir, karena Hong Sim tidak juga kembali. Ia tidak bisa tinggal diam dan bermaksud mencari Hong Sim, tapi ia malah dikejutkan dengan kemunculan Putra Mahkota.


“Won Deuk?” ujarnya terkejut. Putra Mahkota diam saja. “Astaga, Yang Mulia!” Ayah bersujud. “Hukum aku sepanjang hidupku. Aku tidak tahu kau adalah Putra Mahkota.”


“Di mana dia? Orang itu… Di mana dia?” tanya Putra Mahkota. Ayah memohon agar Putra Mahkota tidak mencari Hong Sim lagi. Ia bilang Hong Sim sudah kehilangan ayahnya saat penurunan tahta, jadi ia tidak ingin Putra Mahkota menambah kesedihannya lagi. “Aku… harus menemuinya sekarang.”


Putra Mahkota akhirnya berhasil menemukan Hong Sim di jembatan dan memanggilnya dengan nama Yi Seo. “Ini aku. Si bodoh,” kata Putra Mahkota dan membuat Hong Sim terkejut. “Akulah si bodoh yang belum membaca ‘Dasar Pembelajaran’ dank au mengikat ini di lenganku..


Putra Mahkota menunjukkan pita rambut milik Yi Seo kecil. “Kenapa kau masih memilikinya?” tanya Hong Sim. Putra Mahkota bilang ia merindukan Yi Seo sepanjang hidupnya.


Hong Sim: “Kau… benar-benar bodoh.”
Putra Mahkota: “Kau benar, aku bodoh. Meskipun kau masih hidup, meskipun aku memilikimu di sisiku, aku tidak mengetahuinya. Aku tidak menyadarinya sampai hari ini.”
Hong Sim: “Ingatanmu… sudah kembali sepenuhnya?”


Putra Mahkota bilang ia hanya mengingat kenangan tentang Yi Seo saja. Ia berjalan mendekati Hong Sim, tapi ia melewatinya begitu saja.


“Hari ini, kita berpisah seperti ini saja, tapi aku akan… segera mencarimu lagi,” kata Putra Mahkota lalu berjalan pergi.


Seorang pria terus mengawasi Putra Mahkota, lalu mengikutinya.


Saat Je Yoon pulang, ayah langsung menceritakan apa ang terjadi. Je Yoon terkejut karena Putra Mahkota datang ke sana dan bilang akan segera mencari Hong Sim. Tapi tiba-tiba, Hong Sim pulang.


“Hong Sim!” kata ayah. Je Yoon bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Hong Sim tidak menjawab dan ayah mengajaknya pergi ke kamar.


Ayah bilang mereka harus berkemas dan pergi sekarang juga, lalu mencari kakak Hong SIm. Ayah bilang Putra Mahkota datang dan mereka akan terkena masalah jika dia datang lagi.


Hong Sim duduk dan berkata, “Aku tidak akan pergi! Aku akan tetap di sini sampai kita menemukan kakakku.” Ayah bertanya apa yang terjadi. “Ayah, aku sudah memberitahumu tentang Si Bodoh, kan? Berkat dia, aku dan kakakku bisa melarikan diri.” Ayah mengangguk.


“Dia adalah… Won Deuk. Dia Putra Mahkota,” lanjut Hong Sim. Ayah kehabisan kata-kata. “Dia masih menyimpan pita rambutku, bahkan aku sudah lupa tentang itu.”


Je Yoon sepertinya mendengarkan percakapan mereka. Ayah tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Hong Sim merasa mereka ditakdirkan untuk saling bertemu lagi.


Ayah khawatir jika nyawa Hong Sim terancam lagi, seperti saat masih kecil dulu. Hong Sim bilang ia akan menyimpan Putra Mahkota di hatinya. “Aku tidak akan seperti ini jika dia hanya seorang bangasawan. Tapi, dia Putra Mahkota. Ayahnya seorang Raja,” kata ayah khawatir.


 Hong Sim bilang ia lebih mengkhawatirkan kehidupan Putra Mahkota di istana.


Putra Mahkota kembali menemui Kasim bersama Kwon Hyuk. Kasim bilang Cha Eon memerintahkannya agar selalu mengawasi gerak-gerik Putra Mahkota dan melaporkannya. “Penjaga pribadi dan dayang juga?” tanya Putra Mahkota. Kasim mengiyakan.


“Mereka melayaniku, tapi mereka bukan orangku. Mereka bekerja untukku, tapi mereka memata-mataiku,” kata Putra Mahkota menyimpulkan. Kasim bilang Cha Eon hanya mengkhawatirkan keselamatan Putra Mahkota, tapi Putra Mahkota tidak percaya. 


Putra Mahkota bilang Kasim dibayar dengan pajak rakyat untuk melayani Raja dan Putra Mahkota dan apa yang dilakukan kasim itu adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Kwon Hyuk menghubunuskan pedangnya.


“Wakil Perdana Menteri Kim tak ingin ingatanmu kembali. Tak ada pilihan, karena dia mengancam keluargaku. Bunuh saja aku. Lebih baik mati di tanganmu. Jika Wakil Perdana Menteri Kim tahu aku sudah tertangkap, dia takkan membiarkan keluargaku hidup,” kata Kasim ketakutan.


Kwon Hyuk mengeratkan pedangnya dan Kasim menutup matanya. “Kau harus melakukan pekerjaanmu. Aku akan melakukan tugasku. Singkirkan pedang itu. Bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Kembalilah,” kata Putra Mahkota.


Kwon Hyuk bilang Putra Mahkota tidak bisa membiarkan Kasim itu berada di sisinya. “Aku tidak bisa membuat orang mati karenanya. Istana… adalah tempat yang sepi.”


Di padang rumput, Putri Mahkota bertanya pada Moo Yeon, “Kau ingat ketika kita datang ke sini terakhir kali? Saat itu turun salju.” Moo Yeon mengulang pertanyaannya tentang kehamilan Putri Mahkota. “Kau benar. Bisakah kau pergi denganku kalau begitu?”


Moo Yeon tidak menjawab dan Putri Mahkota terlihat sedih. “Jangan khawatir. Ini bukan bayimu,” kata Putri Mahkota lalu berjalan pergi.


Dayang merasa khawatir Cha Eon akan menghukum Putri Mahkota jika mengetahui tentang pertemuannya. Putri Mahkota bilang Cha Eon tidak akan membunuhnya, karena ia sedang hamil dan istana sebenarnya adalah penjara baginya. Dayang berjalan lebih dulu dan mengatakan bahwa tandunya cukup jauh.


Moo Yeon tiba-tiba menahan kepergian Putri Mahkota.


Tabib datang membawakan obat, tapi Kasim bilang ia yang akan melayani Putra Mahkota malam ini. Tabib mengerti dan menyerahkan obatnya pada Kasim.


Kasim bilang mulai malam ini, ia yang akan meminum obat herbal Putra Mahkota. Ia meminumnya, lalu membawa mangkuk itu pergi.


Putra Mahkota bertanya-tanya dalam hati kenapa Cha Eon tidak ingin ingatannya kembali. “Ingatan apa yang hilang?” batinnya.


Putri Mahkota lalu pergi bersama dayang dan para penjaganya. Ia mengingat apa yang dikatakan Moo Yeon sebelumnya.


“Aku tidak bisa lari bersamamu… demi kebaikanmu. Keluargamu akan hancur jika kau melarikan diri denganku. Kau masih tak menyesal memilihku?” kata Moo Yeon. Putri Mahkota diam saja. “Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. JIka kau mau, aku akan pergi ke mana saja dan kapan saja denganmu. Katakan padaku ketika sudah diputuskan.”


Moo Yeon menatap kepergian tandu Putri Mahkota. Tapi tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang.


Saat sadar dari pingsannya, Moo Yeon melihat Cha Eon dan langsung berlutut di hadapannya. “Moo Yeon… kenapa kau tidak membunuh Putra Mahkota?” tanya Cha Eon. Moo Yeon balik bertanya apa Cha Eon akan membunuhnya. Cha Eon bilang seharusnya Moo Yeon jujur mengatakan bahwa Putra Mahkota kehilangan ingatannya.


Cha Eon bilang ada satu hal lagi yang harus Moo Yeon lakukan untuk Putri Mahkota. “AKu yakin, kau sudah menebaknya. Tapi anak yang dikandungnya bukan anak Putra Mahkota. Temukan siapa ayahnya dan bunuh dia. Untuk putriku, kau bisa melakukan itu, kan?” kata Cha Eon.


Putra Mahkota terjaga dari tidurnya. Ia mengingat saat Cha Eon membunuh ayah Yi Seo dan juga perlakuan Cha Eon saat dirinya menginjakkan kaki di istana.


Comments


EmoticonEmoticon