10/26/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 PART 3

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 14 Part 4

“Dia bisa membuka matanya, tapi pikirannya tidak sepenuhnya bersama kita. DIa juga tidak bisa bicara,” kata Tabib Kang tentang Kasim Yang yang ternyata masih hidup. Je Yoon bertanya apakah Putra Mahkota tidak mengingat orang yang melayaninya selama lebih dari 10 tahun.


“Dia Kasim Yang,” kata Putra Mahkota. Kasim Yang perlahan membuka matanya dan melihat Putra Mahkota ada di depannya.


Kasim Yang buru-buru bangun dan meringkuk ketakutan. “Dia baru bisa melihat setelah 2 bulan,” kata Tabib Kang. Dengan perlahan, Putra Mahkota mendekati Kasim Yang dan bertanya apa yang terjadi. Je Yoon bilang dulu Kasim Yang tidak ikut ke ritual hujan, lalu dipenjara.


“Dia merasa bersalah sampai menggorok lehernya sendiri,” kata Je Yoon.


Putra Mahkota meraih tangan Kasim Yang dan berkata, “Ini semua salahku. Ini karenaku dan jabatanku.” Kasim Yang mulai bisa menguasai dirinya. Putra Mahkota memejamkan matanya.


Kasim Yang menangis dan berusaha mengatakan sesuatu. “Ada yang ingin kau katakana padaku?” tanya Putra Mahkota dan Kasim Yang mengangguk.


Kasim Yang mulai menulis, “Aku benar-benar senang melihatmu hidup sehat. Aku dapat beristirahat dengan damai sekarang.” Ia lalu menulis lagi.


“Aku tidak mencoba bunuh diri. Pria yang menggorok leherku adalah Wakil Perdana Menteri Kim,” tulis Kasim Yang. Putra Mahkota terkejut dan bertanya kenapa Cha Eon mencoba membunuh Kasim Yang.


“Aku bilang padanya bahwa mayat itu tidak tampak sepertimu,” tulis Kasim Yang lagi. Je Yoon bertanya apakah Cha Eon berusaha menutupi kematian Putra Mahkota. Putra Mahkota bertanya apa yang terjadi sebelum ia pergi untuk ritual hujan.


“Temukan jurnalmu,” tulis Kasim Yang. Putra Mahkota tidak ingat jurnal apa yang dimaksud.


Malam harinya, Hong Sim mengintip kea rah jembatan dari balik pohon. Ia berharap bisa segera bertemu dengan kakaknya. Moo Yeon ternyata muncul di belakangnya.


“Kenapa kau tidak mendengarkanku?” tanya Moo Yeon yang sangat mengkhawatirkan adiknya. Hong Sim protes karena Moo Yeon pergi ke Hanyang tanpa mengatakan apa-apa. “AKu punya rumah di Gunung Danhoe. Aku punya peta, kesanalah duluan. Aku pasti akan menyusulmu.”


Hong SIm tidak percaya, karena sebelumnya juga Moo Yeon mengatakan akan menemuinya di Jembatan Mojeong, tapi Moo Yeon tidak pernah muncul. Moo Yeon bilang ia tidak muncul untuk melindungi Hong Sim.  


Hong Sim akhirnya setuju untuk mendengarkan kakaknya. Moo Yeon meraih tangan Hong Sim dan berkata, “Jaga dirimu.“ Hong Sim mengangguk.


Putra Mahkota sangat tersiksa karena tidak bisa memulihkan ingatannya. Je Yoon bilang sekarang Putra Mahkota hanya perlu menemukan jurnalnya. “Aku tidak ingat dimana menyimpannya ataupun menulisnya,” kata Putra Mahkota.


 Je Yoon menduga teka-teki itu adalah jawaban dimana jurnal itu tersimpan. Putra Mahkota merasa takut akan kenyataan yang terjadi dulu.


Putra Mahkota mengingat saat nenek dukun berkata, “Dia memegang pedang di tangannya. PEdang yang menakutkan dengan darah yang menetes.”


Putra Mahkota menatap tangan kanannya.


Hong Sim ternyata mengikuti kakaknya, tapi tiba-tiba seorang pria malah mencegatnya dan bertanya kenapa Hong Sim mengikuti Moo Yeon. Hong SIm tidak menjawab. Tanpa sengaja, Putra Mahkota dan Je Yoon juga melewati jalan yang sama. Hong Sim pura-pura tidak mengerti dan bilang ia hanya dalam perjalanan pulang.


Pria itu mencekik Hong Sim dan mengulangi pertanyaannya. Putra Mahkota ingin menolongnya, tapi Je Yoon melarangnya karena sebaiknya Putra Mahkota tidak terlibat. Je Yoon melangkah mendekati Hong Sim dan bertanya, “Apa yang kau lakukan pada wanita itu?”


Pria itu mendorong Hong Sim hingga terjatuh dan bilang kalau cendekiawan seperti Je Yoon seharusnya mengabaikan masalah ini.


Tanpa basa-basi, Putra Mahkota merebut pedang pria itu dan menyerangnya. “Aku lebih tidak sabra dan ganas daripada cendekiawan ini,” ujarnya. Je Yoon menambahkan bahwa temannya itu sangat terampil dalam seni bela diri.


Putra Mahkota menghunuskan pedang dan pria itu melarikan diri. Ia lalu menjatuhkan pedang itu dan menghampiri Hong Sim,


“Kau baik-baik saja?” tanya Putra Mahkota. Hong Sim mengiyakan. Putra Mahkota bilang ia akan pulang ke istana sendirian, sedangkan Je Yoon pulang. Je Yoon menolak karena mengkhawatirkan keselamatan Putra Mahkota. “Akulah yang memberi perintah. Kau lupa siapa aku?”


Putra Mahkota membantu Hong Sim berdiri dan mengajaknya pergi. Je Yoon tidak bisa melakukan apa-apa.


Hong Sim bilang tadi ia pergi untuk menemukan kakaknya. Putra Mahkota bilang ia yang akan menemukannya. Hong Sim bilang tidak seharusnya Putra Mahkota menggunakan kekuatan jabatannya untuk urusan pribadi. Ia bilang Putra Mahkota sudah menyalahgunakan kekuasaannya saat menyuruh semua wanita lajang menikah.


“Oho! Beraninya kau bicara dengan suamimu seperti itu!” kata Putra Mahkota. Mereka berdua terdiam dan saling menatap.


Hong Sim: “Lepaskan tanganku sekarang.”
Putra Mahkota: “Apa kau tidak suka memegang tanganku.”
Hong Sim: “Ya.”


Hong Sim bilang ia tidak bisa melihat wajah Putra Mahkota jika terus berpegangan tangan. Putra Mahkota tersenyum lega. Ia memperbolehkan Hong Sim melakukan apapun yang ia inginkan.


“Pasti banyak makanan enak di istana, tapi kau terlihat lebih lesu daripada ketika di Desa Songjoo,” kata Hong Sim. Putra Mahkota bilang itu karena Hong Sim tidak ada di sana.


Je Yoon pulang ke rumahnya sendirian dengan tidak bersemangat. Ayah bertanya kenapa Je Yoon pulang sangat terlambat. Je Yoon mengatakan agar ayah tidak mengkhawatirkan Hong Sim, karena Putra Mahkota sangat bisa diandalkan. “Bukan itu.. Yah..” kata ayah lalu melihat ke arah lain.


Wol Ae ternyata sudah ada di sana dan berkata, “Aku kecewa. Kenapa kau tidak menghubungiku padahal kau kembali ke Hanyang?” Je Yoon tersenyum padanya.


Wol Ae bilang sangat menyedihkan saat cinta tidak terbalas dan seperti itulah perasannya karena ditolak Je Yoon. Ia merasa pertemuan Putra Mahkota dan Hong Sim adalah takdir. Je Yoon bilang melawan takdir adalah sesuatu yang menarik.


“Tuan, apa kau akan merusak segalanya karena perasaanmu padanya?” tanya Wol Ae cemas. Je Yoon bilang ia belum tahu apakah ia akan memilih cinta atau loyalitas.


Hong Sim bilang ia sudah puas melihat suaminya dan akan membiarkannya pulang ke istana. “Tidak mau,” kata Putra Mahkota. Hong Sim bilang ia akan mengantar Putra Mahkota sampai ke gerbang istana, jadi mereka bisa bersama selama satu jam lagi.


Hong Sim melepaskan tangannya dan berjalan lebih dulu, tapi Putra Mahkota berbalik. Putra Mahkota bilang ia akan berjalan mundur, sehingga bisa bertatapan lebih lama dengan Hong Sim.


Hong SIm tersenyum, tapi kemudian ekspresinya berubah dan berkata bahwa mereka harus mengambil jalan lain. Putra Mahkota menoleh dan melihat sebuah gapura tua.


“Aku mendengar tentang itu. Pasangan yang melewati gapura itu bersama takkan pernah berpisah selamanya. Apa itu sebabnya kita tidak boleh melewatinya bersama?” kata Putra Mahkota. Hong SIm mengiyakan.


Putra Mahkota malah menggandeng tangan Hong SIm dan membawanya melewati gerbang itu.


“Aku menyukaimu… sejak pertama kali melihatmu. Aku mencintaimu… ketika kau berusia 20 tahun, meskipun aku tak melihatmu saat itu. Dan mulai sekarang, aku akan mencintaimu selama sisa harimu,” kata Putra Mahkota setelah melewati gapura.


Hong SIm meminta Putra Mahkota menyimpan semua kenangan indah itu dalam hatinya, karena dia juga akan melakukan hal yang sama. “Yang Mulia,” sebut Hong Sim.

“Pria yang berdiri di depanmu bukanlah Putra Mahkota. Aku Won Deuk,” kata Putra Mahkota lalu mencium Hong Sim.


Comments


EmoticonEmoticon