10/31/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 15 PART 3

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 15 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 15 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 15 Part 4

Di halaman rumah keluarga Kim, Putra Mahkota dan Cha Eon saling berhadapan dengan pedang di tangan mereka. Putra Mahkota meminta Cha Eon tidak bersikap lunak padanya, karena ia juga tidak akan melakukannya.


Mereka menarik pedang dari sarungnya dan mulai memasang kuda-kuda. Putra Mahkota menyerang lebih dulu. Soo Ji dan beberapa penjaga dari kedua pihak ikut menyaksikan pertarungan itu.


Mereka bertarung dengan serius, hingga Cha Eon sempat menjatuhkan Putra Mahkota. Mereka bertarung lagi.


Mereka berdua saling menyerang, lalu berhenti. “Aku dengar kau lebih terampil daripada penjaga pribadi ayahku. Itu pasti benar,” kata Putra Mahkota.


“Kau sangat rendah hati,” kata Cha Eon lalu memberi kode pada pelayan agar mengambil pedangnya. Sedangkan, Soo Ji mengambil pedang Putra Mahkota.


Cha Eon mengatakan bahwa ada seorang pria muda bernama Dong Joo yang merupakan pengawal pribadi sekaligus teman lama Putra Mahkota. “Kau mungkin mengasah pedangmu dengannya. Karena dia sudah meninggal, kita akan menemukan pendekar pedang lain untuk berlatih bersama,” lanjutnya.


Putra Mahkota bilang itu tidak perlu. Ia bilang ia sekarang haus dan melangkah pergi.


Tiba-tiba, sebuah panah menghadang Putra Mahkota. Semua penjaga yang ada bersiaga.


Beberapa pria yang menutupi wajahnya datang sambil membawa panah dan menghunuskan pedangnya. “Kawal Yang Mulia ke dalam!” perintah Cha Eon.


Soo Ji membawa Putra Mahkota ke ruangan yang ia yakin aman. “Aku baik-baik saja, pergilah keluar dan bantu ayahmu,” kata Putra Mahkota. Soo Ji panik dan beralasan ia tidak bisa meninggalkan Putra Mahkota sendirian dan ilmu pedangnya tidak akan banyak membantu. “Tetap saja kau harus melindungi ayahmu. Itu adalah tugas seorang anak.”


Soo Ji terpaksa menurut dan pergi keluar. Putra Mahkota mengambil pedang yang ada di ruangan itu, lalu pergi ke ruangan lain.


Dengan hati-hati, ia mulai membuka laci-laci lemari, tapi ia tidak menemukan apapun.


Ia lalu pergi keluar dan membuka tempat penyimpanan jerami. Ia mengecek tumpukan jerami itu. Ia terkejut saat melihat banyak anak panah hitam yang dikenalnya di sana.


Cha Eon dan para penjaga sibuk bertarung, tapi Soo Ji malah mengintip dengan ketakutan. 


Pertarungan berlangsung dengan sengit, hingga akhirnya Cha Eon berhasil melukai lengan seorang penyerang.


Hong Sim mengintip ke arah gerbang utama kediaman Cha Eon, tanpa tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Ia meminta teman-temannya untuk membuat keributan di halaman depan, sedangkan ia sendiri akan menyelinap ke belakang dan menemukan kakaknya.


Kkeut Nyeo meminta Hong Sim tidak khawatir dan mengingatkan akting mereka yang sangat baik saat ulang tahun Won Deuk.


“Sejujurnya, jantungku berdebar-debar sekarang. Apa mereka akan tertipu dengan dandanan lusuh ini?” kata Gu Dol.


Bok Eun bilang Gu Sol memang terlihat seperti terlahir sebagai pengemis, jadi tidak perlu khawatir dengan perannya. “Ayo kita mulai,” kata Hong Sim.


Mereka bertiga baru saja mulai bernyanyi, tapi kembali lagi karena melihat banyak orang keluar dari rumah Cha Eon.


Gu Dol ketakutan dan tidak mau melanjutkan misinya. Kkeut Nyeo juga khawatir sekarang. “Jangan hari ini. Pulang saja ke rumah,” kata Hong Sim. Gu Dol dan Bok Eun langsung buru-buru pergi. Kkeut Nyeo bertanya bagaimana dengan Hong Sim.


Hong Sim bilang ia harus mencarinya. Kkeut Nyeo melarang dan menyuruhnya pulang karena keadaan terlihat sangat berbahaya. “Aku, Hong Sim, tak mudah merasa takut. Sekarang pulanglah,” kata Hong Sim. Kkeut Nyeo berpesan agar Hong Sim berhati-hati, lalu pergi.


Putra Mahkota pergi ke ruangan lain dan menemukan ruangan yang digembok.


Di dalam ruangan terkunci itu ternyata ada Moo Yeon yang berusaha melepaskan ikatan tangannya dengan batu tajam sampai tangannya berdarah.


Sebelumnya, Cha Eon mencekik Moo Yeon karena ia merasa kekacauan itu dibuat oleh Moo Yeon yang telah menghamili Putri Mahkota. Ia bilang ia akan menepati janjinya, lalu melepaskan cekikannya.


“Silakan potong tenggorokanku,” kata Moo Yeon. Cha Eon bilang ia sangat ingin melakukannya, tapi ia tidak akan melakukannya.


“Demi So Hye, kau harus hidup. Dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkanmu. So Hye takkan pergi denganmu, jadi menyerahlah pada impian kosongmu. Dia akan melahirkan bayi Putra Mahkota di istana. Dia akan menjadi Ratu. Aku akan memutuskan cara untuk membunuhmu. Itulah harga yang harus kau bayar untuk mencintai putriku,” kata Cha Eon.


Moo Yeon akhirnya berhasil melepaskan ikatan tangannya. Di waktu yang bersamaan, Putra Mahkota menghancurkan gembok dengan pedangnya. Moo Yeon terkejut mendengar suara itu.


Putra Mahkota masuk ke ruangan itu. Moo Yeon perlahan menunjukkan dirinya. “Kau adalah pembunuh yang dikirim oleh Wakil Perdana Menteri seperti yang diduga,” kata Putra Mahkota.


Moo Yeon melarikan diri dan Putra Mahkota mengejarnya. Tapi tiba-tiba, Hong Sim muncul di hadapan mereka. “Kakak!” kata Hong Sim. Putra Mahkota sangat terkejut. “Apa yang terjadi? Kau tahu betapa khawatirnya aku?”


Moo Yeon melirik ke belakang. “Kenapa Yang Mulia ada di sini?” tanya Hong SIm heran. Putra Mahkota bertanya apakah pria itu benar kakak Hong Sim. “Ya. Apa yang terjadi? Urusan apa yang kau miliki dengan kakakku?”


Putra Mahkota bilang ia sepertinya sudah salah orang. Ia pun berbalik pergi. 


Melihat Moo Yeon tidak ada di tempatnya dikurung, Cha Eon menduga bahwa penyerangan tadi adalah rencana Putra Mahkota. Ia masih ragu, tapi ia merasa Putra Mahkota sudah menemukan ingatannya kembali.


Putra Mahkota berdiri sendirian di kediamannya dan mengingat kejadian buruk 16 tahun lalu. Ia mengingat saat Seok Ha, kakak Yi Seo, berusaha membawa pergi adiknya agar tidak ikut terbunuh.


Kwon Hyuk melapor bahwa semua anggotanya berhasil lolos dan tidak ada yang terluka. Ia bertanya apa Putra Mahkota menemukans sesuatu di rumah Cha Eon.


“Prajurit yang mencoba membunuhku… adalah kakak dari wanita yang kucintai,” kata Putra Mahkota. Kwon Hyuk terkejut. “Aku tidak tahu cara untuk membalaskan dendamku lagi.”


Moo Yeon mulai bercerita pada Hong Sim tentang kejadian sebenarnya. Hong Sim sangat terluka saat tahu kakaknya bekerja sebagai prajurit untuk orang yang membunuh ayah mereka. Ia tahu benar bahwa perintah Cha Eon adalah sesuatu yang mengerikan.


“Itu untuk menyelamatkanmu,” kata Moo Yeon dan membuat Hong Sim terkejut. “Pada malam kita berpisah, aku pergi untuk membunuh Kim Cha Eon. Aku gegabah. Aku tidak bisa membunuhnya. Aku berlutut dan memohon padanya untuk membunuhku dan berhenti mengejar adikku. Untuk menyelamatkan adikku, aku akan melakukan apapun yang dia perintahkan kepadaku. Aku membunuh orang. Kau tahu bagaimana rasanya melakukan hal itu.”


Moo Yeon sangat sedih, begitu pula dengan Hong Sim. Hong SIm akhirnya menyadari bahwa tadi Putra Mahkota sedang mengejar kakaknya. “Jangan-jangan, kakak yang mencoba membunuhnya?” tanya Hong Sim.


Dengan mata berkaca-kaca, Moo Yeon mengakui perbuatannya. Hong Sim hampir jatuh karena syok. Ia bertanya kenapa kakaknya melakuka hal menyeramkan itu. “Itu perintah Cha Eon. Dia berjanji aku bisa pergi selamanya setelah membunuh Putra Mahkota,” kata Moo Yeon.


Hong Sim tidak percaya Cha Eon melakukan itu kepadanya menantunya sendiri. “Karena Putri Mahkota tidak mengandung bayi Putra Mahkota. Dia pasti tidak bisa mengingatnya, karena kehilangan ingatannya,” kata Moo Yeon. Hong SIm bertanya kenapa Moo Yeon kembali ke Hanyang, tapi Moo Yeon tidak menjawab.


“Jangan-jangan kakak ke sini untuk membunuh Putra Mahkota seandainya ingatannya kembali lag,” duga Hong Sim.


Terlalu syok dengan apa yang terjadi, Hong SIm akhirnya pingsan. Ayah dan Je Yoon yang baru kembali dari Desa Songjoo menemukan Hong Sim dan berusaha membangunkannya. Je Yoon memeriksa nadinya dan menduga kalau Hong Sim pingsan dan akan membawanya ke tabib. .


Sekembalinya dari tabib, Hong Sim ditidurkan di kamar. Kkeut Nyeo menyesal karena membiarkan Hong SIm pergi ke rumah Cha Eon sendirian. “Apa maksudmu?” tanya Je Yoon. Kkeut Nyeo bilang Hong SIm pergi ke sana untuk mencari kakaknya.


“Kenapa kau melewatkan bagian riasan kita?” protes Bok Eun tidak tahu kondisi. Gu Dol bertanya apakah Hong Sim akan baik-baik saja. Je Yoon minta diambilkan air dingin dan menyuruh mereka semua keluar dan tidak berisik.


Je Yoon lalu mengompres Hong SIm yang masih belum sadar. Ia menghela napas panjang. Perlahan, Hong SIm membuka matanya. “Kau siuman?” sapa Je Yoon.


Hong SIm bertanya apa yang terjadi. “Kami menemukanmu tidak sadar di depan rumah. Apa yang terjadi padamu? Kau tidak perlu mengatakannya jika tidak mau. Tapi akan lebih baik jika kau mendiskusikannya dengan pria yang dapat dipercaya seperti diriku. Kenapa kau selalu menanggung beban sendirian?” kata Je Yoon.


Hong SIm bertanya apakah Putra Mahkota pergi ke Desa Songjoo karena ingatannya sudah kembali. Je Yoon mengiyakan. “Kalau begitu, dia pasti sudah tahu siapa yang mencoba membunuhnya dan alasannya,” kata Hong Sim.


Je Yoon mengiyakan lagi dan bertanya kenapa Hong SIm ingin tahu. “Tolong aku. Aku harus pergi ke istana,” kata Hong Sim.


Comments


EmoticonEmoticon