10/27/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 5 PART 3

SINOPSIS Witch's Love Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 5 Part 4

Sekretaris Kim kembali lagi ke kantor, karena Sung Tae masih sibuk bekerja. Sung Tae bilang ia sudah menyuruh Sekretaris Kim untuk pulang duluan.


“Bagaimana aku bisa pulang duluan saat Anda masih di sini, Direktur?” kata Sung Tae dari balik pintu. Ia bilang sejak dua hari yang lalu Sung Tae terus bekerja sampai larut malam. Sung Tae tetap menyuruh Sekretaris Kim pulang duluan, tapi Sekretaris Kim malah mendekat.


Sekretaris Kim mengatakan bahwa dia merasa tidak nyaman dengan perbuatan Sung Tae. “Haruskah Anda membawa perasaan pribadi ke dalam pekerjaan?” tanya Sekretaris Kim. Sung Tae tidak mengerti. “Jangan kaget. Aku sudah punya tunangan!”


“Selamat. Kau bisa pulang sekarang,” kata Sung Tae lalu mengambil jasnya dan pergi. Sekretaris Kim merasa bingung dengan respon atasannya itu dan mengambil kesimpulan sendiri..


“Dia patah hati. Dia benar-benar patah hati,” kata Sekretaris Kim salah paham.


Dalam perjalanan pulang, Sung Tae bertanya apakah Sekretaris Kim mencintai tunangannya. “Tentu saja! Itu sebabnya aku ingin menikahinya!” kata Sekretaris Kim. Sung Tae bertanya bagaimana Sekretaris Kim tahu apa itu cinta.


Sekretaris Kim lalu menceritakan bahwa awalnya dia tidak terlalu peduli, tapi kemudian ia terus memikirkannya. Sung Tae juga sedang sering memikirkan Cho Hong. “Direktur, kuharap Anda akan segera bertemu seseorang yang baik. Mereka bilang luka karena dicampakkan akan terobati dengan cinta yang baru,” kata Sekretaris Kim.


“Siapa dicampakkan oleh siapa?!” tanya Sung Tae tersinggung. Ia lalu menyuruh Sekretaris Kim berhenti bicara dan menyetir saja dengan benar.


Sekretaris Kim menggerutu tanpa suara, sayangnya Sung Tae melihatnya dari spion. Ia lalu meminta maaf setelah Sung Tae menegurnya.


Aeng Doo membawa anggur dan camilan ke lantai atas. Ia melewati salah satu anak tangga yang agak menganga sambungannya. Ia menginjak anak tangga itu dengan keras agar tertutup lagi, tapi tidak memikirkannya lebih jauh.


Anak tangga itu menganga lagi.


Aeng Doo menggerutu karena Sung Tae tidak juga pulang cepat beberapa hari ini, padahal ia sudah menyiapkan makan malam untuknya. Ia lalu mematikan api lilin dengan hembusan nafas dari hidungnya.


Cho Hong merasa tidak memiliki kesempatan atas Sung Tae, tapi Aeng Doo melempar kepalanya karena kesal. Aeng Doo bilang itu karena Cho Hong selalu saja cemberut kepada Sung Tae. Ia bilang Cho Hong harus memasang wajah cerah dan tersenyum di depan Sung Tae.


Mendengar ada suara mendekat, ketiga penyihir langsung menyambut Sung Tae dengan sangat ramah. Sung Tae merasa aneh dengan sikap mereka. Aeng Doo lalu mendorong Cho Hong agar lebih dekat dengan Cho Hong.


Cho Hong terus saja tersenyum dan Sung Tae samakin heran. Aeng Doo lalu membuat alasan bahwa ia lupa sedang memasak janjorim dan pergi ke dapur bersama nenek.


Sung Tae bertanya apa yang terjadi di rumah hingga Cho Hong dan nenek berwajah begitu cerah. Cho Hong bilang mereka hanya sedang sangat bahagia. Ia lalu mengajak minum anggur, tapi Sung Tae bilang ia sangat lelah dan ingin istirahat.


Cho Hong mencoba mencari bahan pembicaraan dengan menanyakan apakah Sung Tae sudah menyelesaikan masalah mendesaknya siang tadi. Sung Tae terkejut karena masalah tadi hanya alasan yang dibuat-buat, tapi kemudian ia malah melihat Cho Hong yang terus saja tersenyum.


 “Apa yang lucu?” tanya Sung Tae. Cho Hong bilang tidak ada apa-apa. Sung Tae mengatakan bahwa tidak ada yang berubah dari mereka. “Dan jjika ada sesuatu yang ingin kau katakana padaku, setidaknya semprotkan sedikit deodoran. Aku tidak tahan dengan bawang putih.”


Setelah Sung Tae pergi, Cho Hong lalu mencium tangannya yang tadi digunakan untuk mengupas bawang putih. Ia juga merasa aromanya terlalu menyengat.


Cho Hong lalu mengangkat tangannya seperti akan memukul dan mencakar kea rah kamar Sung Tae. Ketika Sung Tae mendadak membuka pintu kamar, Cho Hong langsung menyembunyikan tangannya dan tersenyum.


Sung Tae kemudian menyemprotkan pengharum kea rah Cho Hong, lalu masuk lagi ke dalam kamar.


Aeng Doo dan nenek yang sejak tadi mengintip merasa kecewa. Nenek bilang mereka harus mengambil resiko.


Keesokan harinya, Sekretaris Kim sudah sampai di depan restoran sup nasi untuk menjemput direkturnya. Sung Tae sendiri baru saja akan keluar dari kamarnya.


Saat membuka pintu, Sung Tae menemukan sebuah kartu di lantai. Ia mengambil kartu itu. Tapi sesampainya di luar, ia malah membuangnya ke tempat sampah. Ia kemudian pergi ke kantor bersama Sekretaris Kim.


Tiba-tiba kartu itu terbang dengan sendirinya.


Kartu itu lalu menabrak wajah Je Wook yang sedang menikmati udara di luar kamar atapnya, lalu jatuh ke lantai. Je Wook mengambil kartu itu dan membaca isinya yang ternyata adalah sebuah undangan.


“Selamat! Kami mengundang Anda ke pesta syukuran untuk merayakan ulang tahun ke-50 Restoran Sup Nasi,” baca Je Wook.


Sekretaris Kim juga ternyata menerima undangan yang sama. “Kami telah menyiapkan hadiah 5.000 dolar, jadi kami harap Anda menghadiri acara tersebut,” Sekretaris Kim membaca lanjutan isi undangannya dan merasa sangat tertarik. 


Sekretaris Kim yang masih terkeju, lalu menjawab telepon kantornya yang bordering. “Apa? Dia sudah datang? Suruh dia masuk.”


Sekretaris Kim membuka pintu ruangan Sung Tae dan berkata, “Penulis Hwang Je Wook sudah datang.”


Comments


EmoticonEmoticon