10/06/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 13 PART 1

SINOPSIS Your Honor Episode 13 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 12 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 13 Part 2

“Seberapa jauh lagi perjalanan kita?” tanya So Eun. Kang Ho bilang perjalanan mereka masih panjang. So Eun hampir menangis mendengarnya.


“Pengacara Oh, mereka hampir turun,” kata Bok Soo. Sang Cheol terkejut dan langsung menuju jalur evakuasi.


Saat kaki So Eun menyentuh tanah, Bok Soo langsung bertepuk tangan untuknya.


Kang Ho membuka penutup matanya dan So Eun langsung berjongkok lemas. Bok Soo tampak terharu. Kang Ho berterima kasih karena telah membimbing mereka turun dengan selamat. “Hasil demonstrasi hari ini akan dipertimbangkan dalam memberikan keputusan,” kata Kang Ho.


“Sedangkan untukmu, kau hebat,” kata Kang Ho lalu mengambil foto mereka berdua. Sang Cheol memalingkan wajahnya lagi.


“Hahaha… Lihatlah dirimu. Hahaha… Ini bukti. Senyumlah sedikit,” kata Kang Ho menertawakan wajah So Eun yang masih terkejut dan pucat. So EUn ikut menertawakannya. “Foto sekali lagi.” Dan sekarang So Eun sudah bisa tersenyum.


Kang Ho lalu berbisik pada petugas evakuasi, “HArus bayar berapa untuk menyewa taman hiburan? Termasuk kembang api dan semuanya?”


Sang Cheol menghampiri So Eun dan berkata, “So Eun, kau pasti ketakutan. Tapi kau hebat.” So Eun berterima kasih. “Kau hebat, tapi jangan melakukannya lagi. Kau menakutiku.” So Eun bilang sekarnag ia bisa menulis putusan dengan percaya diri, walaupun Kang Ho yang akan membuat putusan resminya. “Lihat? Sudah kubilang kau tidak cocok menjadi hakim. Mandilah dengan air hangat. Badanmu akan nyeri nanti.”


So Eun mengangguk dan berpesan agar Sang Cheol menyetir dengan hati-hati. Ia lalu bergabung bersama Kang Ho dan Bok Soo.


Di restoran, Kang Ho memperhatikan So Eun yang menghabiskan satu botol minuman sekaligus. So EUn bilang karena matanya tertutup maka angin terdengar lebih kencang dan tanhanya seperti bergerak.


So Eun menceritakan ketakutannya dengan dramatis. So Eun bilang ia tahu petugas evakuasi dan juga Kang Ho terus berkata padanya, tapi karena pikirannya kacau, ia seperti tidak mendengar apa-apa. Kang Ho menikmati ceritanya.


“Saat Anda bilang kita harus bergandengan tangan, aku hampir tidak bisa menenangkan diri. Tapi jika aku harus mengulanginya lagi, auh…”


So Eun membuka satu botol lagi. “Aku tidak akan bisa.” Ia minum lagi. “Tapi, bagaimana rasanya kalau aku buta? Betapa takutnya aku. Betapa marahnya aku.”


Kang Ho meminta So Eun jangan terus-terusan memikirkan situasi orang lain, karena situasinya sendiri saja sudah sulit. Kang Ho bilang ia naik ke sana bukan hanya untuk kasus. “Jika bukan karena sidang, aku tidak akan bisa menyewa taman hiburan. Aku berusaha menggunakan kekuasaan selagi memilikinya,” kata Kang Ho.


So Eun bertanya kenapa Kang Ho selalu berbuat begitu. “Aku tahu Anda tidak bermaksud, tapi Anda suka pura-pura kesal, tidak ramah, dan menganggap uang adalah segalanya,” kata So Eun.


Kang Ho tidak bisa menjawab dan memilih minum. So Eun lalu meminta maaf karena sudah membantah. Ia bilang menurut Bok Soo, hakim magang tidak seharusnya membantah, tapi ia malah terlalu sering membantah.


Kang Ho bilang ia tidak tahu itu, karena So Eun adalah hakim magang pertamanya. So Eun bilang ia dengar Kang Ho punya beberapa hakim magang sebelum dirinya. “Maksudku belum pernah punya hakim magang sepertimu,” ralat Kang Ho.


So Eun: “Aku hakim magang seperti apa?”
Kang Ho: “Kau cantik.”


Mereka berdua terdiam. Kang Ho lalu bertanya kenapa So Eun ingin menjadi hakim atau jaksa. “Sebenarnya, aku mau menjadi pembunuh,” kata So Eun. Kang Ho tertawa kecil. “Tapi untuk menjadi pembunuh, aku harus pandai berkelahi, dan menangani bahan kimia yang bisa mematikan. Di mana aku bisa mempelajarinya.”


So Eun bilang akhirnya belajar menjadi hakim atau jaksa inilah hal termudah yang bisa ia lakukan. “Aku paling benci mendengar kata belajar. Mana mungkin belajar itu mudah,” kata Kang Ho.


So Eun bilang ia pernah mendapat peringkat 1 di sekolah, tapi tidak pernah mendapat peringkat 1 nasional seperti Kang Ho. Ia bertanya bagaimana Kang Ho bisa melakukannya. Ia juga meminta tips rahasia untuk belajar.


“Jika ada waktu, daripada belajar, akan kuajarkan cara menjadi pembunuh,” kata Kang Ho. So Eun mengatakan setuju, tapi sambil tertawa. “Aku tidak bercanda.”


“Jika kau harus menyingkirkan pria ini. Tataplah dia. Bangunlah dulu,” kata Kang Ho.


Kang Ho berdiri dan duduk di samping So Eun untuk mempraktekkan apa yang harus So Eun lakukan. “Pada saat itu, pukul tenggorokannya!” kata Kang Ho hingga So Eun terkejut. “Mudah, bukan?” So Eun tidak sependapat. “Pukul aku.”


So Eun terkejut. “Maaf? Pukul Anda?” katanya ragu. Kang Ho bilang So Eun tenang saja, karena ada ara menangkisnya. “Tapi tetap saja Anda hakimku…”


So Eun langsung memukul leher Kang Ho tanpa peringatan. Kang Ho terbatuk kesakitan. “Anda tidak apa-apa, Hakin Han? Maafkan aku,” kata So Eun khawatir.


Dalam perjalanan pulang, Kang Ho bilang ia tidak menyangka So Eun akan bergerak secepat itu. So Eun meminta maaf lagi.


“Menurutku, kau lebih cocok menjadi pembunuh daripada hakim,” kata Kang Ho. So Eun berterima kasih. “Astaga, saat kau memukulku aku hendak menangis dan membalas.”


Kang Ho lalu mempraktekkan gerakan-gerakan bertarung. “Kita sudah sampai,” kata So Eun. Kang Ho berhenti. “Aku mempelajari banyak hal hari ini. Ah, terutama ini.” So Eun mempraktekkan gerakan menyerang leher.


Mereka berdua tertawa. Kang Ho lalu mengajaknya tos. Ia mengenggam tangan So Eun dan berkata, “Maaf. Aku membawamu ke tempat berbahaya.” So Eun berterima kasih karena Kang Ho telah menggandengnya dengan aman. Mereka saling tersenyum, lalu berpisah.


Comments


EmoticonEmoticon