11/25/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 6 PART 5

SINOPSIS Witch's Love Episode 6 BAGIAN 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 6 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 7 Preview

Dengan langkah ragu, Cho Hong kembali ke ruang makan. Ia kemudian menyerahkan ponsel Sung Tae. Sung Tae berterima kasih dan langsung mengecek ponselnya.


Ia menerima pesan dari Sekretaris Kim yang khawatir dan bertanya kenapa ia tidak menjawab ponselnya. Ia tidak membalas pesan itu dan melanjutkan makannya.


Nenek bertanya kenapa Sung Tae memutuskan untuk membeli bangunan itu, padahal ada banyak gedung di dunia ini. Sung Tae bilang saat sedang mencari gedung untuk bisnis, ia direkomendasikan beberapa bangunan, dan tertarik pada yang satu itu.


“Pada awalnya, kupikir aku pernah melihat bangunan ini di suatu tempat dan ternyata dulu aku pernah ke sini bersama ayahku,” kata Sung Tae. Cho Hong terus memperhatikan Sung Tae. “Saat itu aku berusia 7 tahun, jadi sudah 25 tahun lalu. Saat itu musim hujan. Struktur bangunannya sama dan kurasa aku juga ingat kalian berdua.”


Cho Hong bertanya apa Sung Tae ingat sesuatu yang terjadi 25 tahun lalu. Sung Tae bilang ia ingat sup nasi di sana sangat lezat, jadi ia ingin datang lagi, tapi ternyata tutup padahal bukan akhir pecan dan menangis karenanya.


Aeng Doo terkejut, karena restoran mereka tidak pernah tutup kecuali di akhir pekan. “Kami tidak pernah tutup di akhir pekan. Kecuali…” ucapan Aeng Doo terhenti, lalu menatap nenek.


Nenek bilang mereka banyak melihat pengunjung datang dan pergi, jadi dia tidak bisa mengingat Sung Tae. Aeng Doo mengangguk setuju.


Sung Tae bilang bangunan tersebut snagat unik, jadi ia mengingatnya. Nenek bertanya apakah ayah Sung Tae sudah meninggal. “Tidak, dia masih hidup,” jawab Sung Tae. Nenek bertanya lagi apakah ayah Sung Tae tinggal di luar negeri. “Tidak, dia di Korea sekarang.”


Mendengar jawaban itu, nenek menyimpulkan bahwa yang dimaksud Sung Tae bukanlah restoran mereka. Nenek bilang pengunjung restoran sup nasi mereka, tidak mungkin hanya datang satu kali. “Mereka pasti kembali lagi, kecuali sudah meninggal atau bermigrdasi ke nagara lain. Itulah sebabnya orang menyebutnya ‘Sup Nasi Narkoba’,” lanjut nenek.


Nenek kemudian mengatakan bahwa ia baru ingat jika restoran pernah tutup di hari kerja, yaitu saat ada banjir besar di lingkungan itu yang terjadi sekitar 20 tahun lalu.


Sung Tae mengangguk curiga dan Cho Hong masih terus memperhatikannya.


Saat akan tidur, Aeng Doo berkata, “Sepertinya itu terjadi saat itu. Karena hujan begitu deras dan toko ditutup.” Nenek mendekat dan tidak suka membicarakan itu.


Aeng Doo: “Kalau saja aku tidak melakukan itu.”
Nenek: “Dasar kau…!”


 Nenek lalu ingat saat Sekretaris Kim melompat ke arah Sung Tae yang sakit untuk dan menutupi foto-foto yang berserakan di atas kasur, dan juga saat Sung Tae jatuh dari tangga.


Cho Hong tidak bisa tidur. “Dia mencari tahu tentang bangunan ini, karena akan membelinya dengan harga mahal,” kata Cho Hong menenangkan dirinya. Ia berbaring, tapi kemudian terbangun lagi. “Tapi kenapa dia pindah ke sini?”


Cho Hong bertambah heran, karena Sung Tae juga memberikan syarat khusus. “Tapi ini adalah tempat kenangannya bersama ayahnya. Ya, itu bisa dimengerti,” gumam Cho Hong lalu berbaring.


Ia kemudian bangun lagi dan berkata, “Apa hubungannya dengan kecelakaan mobil? Ah, entahlah. AKu hanya perlu menciumnya. Lalu aku tidak perlu menemuinya lagi.”


“Barang tidak berguna. Buang dia setelah menggunakannya,” kata Cho Hong yang kemudian mendengar suara derit pintu.


Sementara itu, Sung Tae diam-diam keluar dari kamarnya. Cho Hong keluar dari kamarnya dan mengikuti Sung Tae.


Sung Tae melihat bola baseball masih ada di tempat ia melihatnya terakhir kali. Ia mengambil kursi kayu dan menaikinya untuk mengambil bola itu.


“Sedang apa kau?” tanya Cho Hong setelah Sung Tae berhasil mendapatkan bola itu. Sung Tae bilang ia sedang mencari sesuatu. “Apa itu?” Sung Tae bilang itu sesuatu yang sangat penting. “Membeli rumah ini dan pindah ke sini. Apa itu belum cukup?” Sung Tae menjawab mungkin saja begitu. “Apa itu?”


“Barang yang dapat membuktikan apakah aku gila atau tidak. Bahwa yang kulihat itu benar… atau mimpi seperti yang orang lain katakana,” kata Sung Tae. Cho Hong bertanya apakah Sung Tae berhasil menemukannya.


“Mungkin,” kata Sung Tae sambil menggenggam bola itu. Cho Hong bertanya apakah itu membuktikan Sung Tae gila atau tidak. Sung Tae memperhatikan bola itu lagi, lalu berkata, “Ini membuktikan kalau aku gila.”


Cho Hong akan pergi, tapi Sung Tae menahannya. Sung Tae meminta maaf karena sudah membohongi Cho Hong, tapi itu benar-benar barang yang penting untuknya. Mereka lalu mendengar langkah kaki.


Cho Hong mendorong Sung Tae masuk ke dapur dan menyuruhnya diam. Bersamaan dengan itu, nenek turun dari tangga.


Nenek mengecek   sekitar, tapi tidak melihat siapapun. Ia kemudian melihat sekilas ke dapur, tapi tidak menemukan apa-apa. Sung Tae dan Cho Hong harus berdiri berdekatan agar nenek tidak melihat mereka.


Nenek kemudian memindahkan kursi kayu ke tempatnya semula, lalu naik ke lantai 2.


Menyadari mereka terlalu dekat, Sung Tae lalu menjauhkan dirinya. Cho Hong menyarankan agar mereka menunggu di sana sebentar lagi, karena butuh sedikit waktu sebelum nenek tertidur. Cho Hong akan pergi, tapi Sung Tae menahannya.


Sung Tae lalu mencium bibir Cho Hong, lalu berkata, “Mungkinkah ini awal percintaan?”


Cho Hong tidak menjawab. Lalu, Sung Tae menciumnya lagi.


Sementara itu, awan gelap menyelimuti bangunan pegadaian.


Penyihir pegadaian tiba-tiba dikejutkan dengan suara pecahan kaca. Ia masuk ke dalam untuk mengecek.


Penyihir pegadaian sangat terkejut saat melihat botol ramuan berwarna biru jatuh dengan sendirinya.


1 komentar


EmoticonEmoticon