11/25/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 14 PART 2

SINOPSIS Your Honor Episode 14 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 14 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 14 Part 3

Kang Ho mengomel karena Cho Won mengkhianatinya. “Aku menghukum ibunya, karena dia yang memintanya, tapi dia malah membentakku,” kata Kang Ho pura-pura kecewa.


So Eun bilang ia merasa bahagia dengan akhir kisah ini dan yakin ibu Cho Won tidak akan terkena masalah lagi. Kang Ho bilang manusia tidak berubah secepat itu. So Eun bilang saat membicarakan ‘ibu’, membuat ia merindukannya.


Kang Ho bilang ada orang yang hanya berpura-pura bersikap menjadi ibu dan So Eu setuju. Ia bertanya apa So EUn baru saja bertengkar dengan ibunya. “Kami bahkan tidak bisa bertengkar. Dia terlalu jauh,” kata So Eun tersenyum miris.


So Eun lalu pamit kembali bekerja dan memuji kursinya yang didudukinya itu sangat nyaman. Kang Ho senang mendengarnya.


“Kini, semua ini milikmu?” tanya Jung Soo saat masuk ke ruang kerja Dae Yang. Sang Cheol bilang itu masih milik ayahnya. Ia lalu menanyakan keadaan ayahnya. “Dia veteran. Dia tidak pernah lupa makan dan mengjindari kami meski kami membawa barang bukti. Aku ditekan banyak pihak. Kau tahu koneksinya sangat kuat.”


Sang Cheol bilang orang-orang itu sebentar lagi akan pensiun. Ia lalu mempersilakan Jung Soo duduk. Ia memberikan buku keuangan firma yang dibuat secara rahasia dan catatan tempat ayahnya bisa membelanjakan uangnya.


Jung Soo mengingatkan bahwa jangkauan Dae Yang cukup luas. Sang Cheol bilang ia tahu itu, tapi orang yang ia kenal hanya Jung Soo.


Sementara itu, Kang Ho sedang mencari informasi tentang Lee Ho Sung, lalu dilanjutkan tentang Park Hae Na. Ia berusaha mencari bukti hubungan di antara mereka berdua.


Kang Ho lalu menemukan sebuah pesan dari So Eun di atas tumpukan berkas lainnya. “Ini ada di meja. Akan kutaruh di meja Anda. Song So Eun,” tulis So Eun.


Kang Ho membuka kertas yang ternyata adalah selinan kartu keluarga, dimana hanya ada nama ibunya dan Soo Ho. Ia menghela napas berat, lalu pergi.


Kang Ho ternyata pergi menemui ibunya dan minta disiapkan makanan. “Kau membuat masalah lagi ya?!” tanya ibu. Kang Ho bilang ia tidak membuat masalah dan hanya kebetulan lewat. “Tunggu. Setelanmu rapi sekali. Kamu tidak menipu orang, kan?”


Kang Ho tidak menjawab. Ia mengibaskan tangan ibunya dan masuk ke dalam rumah. Ibu mengikutinya.


Saat makan, Kang Ho bertanya apakah ibunya tidak punya daging. “Bisa-bisanya kau meminta daging padahal hanya membuat masalah. Kau harusnya menelepon dulu agar ibu bisa berbelanja,” protes ibu.


Kang Ho bilang ibu biasanya punya daging. “Ibu kurang uang?” tanyanya. Ibu bertanya apa Kang Ho mau dibuatkan telur. “Tidak usah. Nanti ibu mengungkitnya terus.”


 Ibu lalu bertanya apa Soo Ho terkena masalah, karena tidak juga menelepon, padahal biasanya selalu memberi kabar setiap akhir pekan. Kang Ho menyarankan agar ibu saja yang menelepon. Ibu tidak mau karena takut mengganggu.


Kang Ho bertanya apakah ibu merasa segan, karena punya salah pada Soo Ho. Ibu bilang keluarganya tidak memiliki koneksi bagus untuk mendukung karir Soo Ho dan ia merasa bersalah untuk itu. “Soo Hidup dengan sukses. Dia juga punya rumah bagus. JIka ibu mau, bantulah aku,” kata Kang Ho.


Ibu bertanya apa yang bisa ia bantu dan berapa kali lagi ia harus membantu agar Kang Ho sadar. Ia bahkan reka menjual diri, demi membantu Kang Ho.


Kang Ho terlihat sedih dan berkata, “Kenapa ibu melakukan ini di saat makan malam?” IBu meletakkan sendoknya ke meja dengan keras dan berdiri. “Ibu mau kemana?”


Ibu: “Ibu akan membuat telur untukmu!”
Kang Ho: “Kubilang tidak usah…. Buatkan yang banyak sekalian!”


Ibu bertanya apakah Kang Ho akan menginap. “Aku sibuk. Aku harus pergi.” kata Kang Ho. Tapi ibu menyuruhnya menginap. Kang Ho senang. 


Setelah mandi, Kang Ho melihat ada dua kasur lipat di kamar ibunya. Ia bertanya apa ibunya punya pacar. Ibu memukulnya dan berkata, “Ini untukmu.”


Kang Ho: “Aku akan tidur di kamarku. Di sini tidak nyaman.”
Ibu: “Tutupi tatomu. Ibu membencinya.”
Kang Ho: “Semua pada diriku jelek bagi ibu.”


Kang Ho dengan riang, lalu masuk ke balik selimut yang sudah disiapkan ibu.


Ibu lalu bercerita saat mengantar kedua putranya ke sekolah sambil bergandengan tangan dan itu sangat menyenangkan. Kang Ho bilang ibunya menggendong Soo Ho, tapi ia harus berjalan. Ibu bilang saat kelas 6 dulu, Kang Ho memukul Soo Ho hingga tulangnya patah dan ibu harus menggendong Soo Ho sampai sebulan.


Kang Ho tertawa. Ibu bilang ia sampai hernia dan masih terasa sampai sekarang. “Semuanya kesalahanku,” kata Kang Ho. Ibu bilang sejak kejadian itu, ibu tidak sempat berjalan bergandengan dengan mereka lagi. “Tidurlah.” Ibu bertanya apa Kang Ho tahu apa keinginannya.


Kang Ho: “Menjadi kaya?”
Ibu: “Suatu saat.. bergandengan denganmu dan Soo Ho, lalu berjalan-jalan. Itulah keinginan ibu.”


“Saat menengok ke kiri, ibu akan melihat Soo Ho. Dan saat menengok ke kanan, ibu akan melihatmu, Kang Ho,” kata ibu sambil membayangkannya. “Itu akan membuat ibu sangat bahagia.”


Ibu bilang walau tidak berjalan-jalan, ibu sudah sangat senang saat kedua putranya menjenguknya sebulan sekali. “Putra sulung ibu akan berbaring di sebelah kiri. Putra bungsu ibu akan berbaring di sebelah kanan. Sepanjang malam ibu akan menengok ke kanan kiri, dan tidak tidur sedikitpun.”


Ibu: “Kang Ho.. Jangan masuk penjara lagi. Ya?”
Kang Ho: “Aku mengantuk. Jangan ajak aku bicara.”
Ibu: “Menghadap ibu dulu, baru tidur. Kau di rumah saat ini.”


“Astaga. Aku nyaris tertidur. Ibu terus mengajakku bicara,” kata Kang Ho yang tidak mau ibunya tahu kalau dia bersedih. Ibu menyebutnya pemarah dan berharap Kang Ho mencari pekerjaan apa saja walaupun penghasilannya sedikit. Ia juga menyarankan agar Kang Ho mencari pacar dan menikah. Kang Ho tidak menjawab.
Comments


EmoticonEmoticon