11/26/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 16 PART 2

SINOPSIS Your Honor Episode 16 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 16 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 16 Part 3

Sang Cheol memulai pembicaraan dengan membahas So Eun yang tidak datang ke persidangan. “Dia sakit. Dia pasti sangat tertekan. Aku menyuruhnya cuti,” kata Kang Ho.


Sang Cheol bertanya separah apa sakitnya So Eun, tapi Kang Ho langsung membahas hal lain. Kang Ho bilang ia bertanya sebagai teman, bahwa apakah Sang Cheol yang mengirim Goo Nam ke luar negeri.


Sang Cheol: “Tentu saja tidak.”
Kang Ho: “Kau menyuap atau mengancamnya?”
Sang Cheol: “Tidak keduanya. Aku juga berharap dia datang dan memberitahu kita kebenarannya.”
Kang Ho: “Memang apa kebenarannya?”


Sang Cheol bilang ia akan bertanya sebagai teman. Ia bertanya apakah Kang Ho menganggapnya sebagai teman. “Hanya kau temanku,” kata Kang Ho. Sang Cheol berkata dengan serius bahwa jika begitu, maka Kang Ho tidak boleh melewati batas. Ia bilang mereka berdua dan Goo Nam sama-sama terlibat, semenjak Park Jae Ho dihukum mati.


Kang Ho mengatakan bahwa ia tidak memahami maksudnya, tapi ia mendengarnya sebagai ancaman. “Entah apa yang Grup Hanyoung tawarkan padamu, tapi sikapi dengan bijak. Nanti kau yang terluka,” kata Sang Cheol.


Sekarang Kang Ho yakin itu memang ancaman. Sang Cheol tidak menyangkal. Mereka berdua sama-sama tersenyum.


Tiba-tiba Kang Ho tertawa dan berkata bahwa ia mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan. Sang Cheol bertanya apa maksudnya. “Ancaman lebih ampuh daripada permintaan. Dulu,  begitulah aku. Sampai jumpa,” kata Kang Ho.


Sang Cheol bilang agar Kang Ho tidak beranggapan bahwa ia akan selalu kalah. Ia menyentuh bahu Kang Ho, lalu pergi lebih dulu. “Sampai jumpa.”


Di ruang kerjanya, Kang Ho membaca dokumen Hae Na dan menghubungi nomor ponselnya. “Halo? Siapa ini?” tanya Park Hae Na.


“Aku penggemar, sekaligus hakim,” kata Kang Ho dengan riang.


Mereka berdua bertemu di sebuah kafe. Kang Ho bilang ingin bertemu secara pribadi dan berharap Hae Na tidak memberitahukannya pada siapapun. Ia mengajak Hae Na sama-sama mengeluarkan ponselnya untuk memastikan tidak satupun dari mereka merekam pembicaraan jujur yang akan mereka lakukan.


Kang Ho bilang seharusnya jika tidak tahu bahwa yang dikonsumsinya adalah narkoba, maka Hae Na adalah seorang korban. Hae Na berterima kasih karena Kang Ho berpikir seperti itu.


Kang Ho memberikan simulasi hukuman dan pekerjaan sukarela yang bisa membuat Hae Na mendapat simpati masyarakat. Ia bahkan menyarankan agar Hae Na menghadiri acara tertentu dan sedikit menangis, sehingga para penggemar akan kembali. Hae Na berterima kasih lagi.


“Tidak perlu berterima kasih, karena hal itu tidak akan terjadi,” kata Kang Ho serius dan membuat Hae Na sangat terkejut dan kehilangan senyumnya. “Kau pikir berapa tahun yang bisa kuberikan untukmu? Jika memberimu lima tahun penjara, kau akan berada di pusat penahanan sampai bandingmu diajukan. JIka dalam putusan aku mengatakan kau mengonsumsi obat penenang, dimana itu perilaku tidak pantas bagi tokoh mesyarakat, itu akan menjadi viral.”


Hae Na hampir menangis dan berkata, “Kukira… pengacaraku dan jaksa…” Kang Ho berkata biasanya jaksa menjual ketakutan dan pengacara menjual harapan.  


“Tampaknya kau membeli harapan dari keduanya. Apa aku keliru?” kata Kang Ho. Dengan mata berkaca-kaca, Hae Na berkata bahwa ia sudah bertobat dan meminta maaf. “Biar kutanya lagi. Hae Na, apa kau orang baik?”


Hae Na: “Itu…”
Kang Ho: “Aku bukan orang baik. Orang baik akan menyerah jika orang tidak mau menuruti permintaannya, tapi orang jahat memilih untuk mengancam orang itu.”
Hae Na: “Aku harus bagaimana?”


“Jadilah orang baik. JIka tidak, kau akan terus bertemu dengan orang sepertiku,” kata Kang Ho. Hae Na tidak menjawab. “Kau mengenal Ji Chang Soo, bukan?” Hae Na terkejut. “Kau tidak mengenalnya?”


Hae Na buru-buru menggeleng. Kang Ho mengatakan bahwa Chang Soo juga akan masuk penjara, sama seperti Hae Na, jadi Hae Na harus bertemu dulu dengannya.


Saat melihat Chang Soo datang, Kang Ho melambaikan tangannya dan menyuruh Chang Soo duduk bersamanya. Chang Soo terkejut melihat Hae Na, sedangkan Hae Na terlihat marah padanya. Kang Ho malah tersenyum lebar.


Chang Soo meletakkan ponselnya di atas meja. Kang Ho menyuruh mereka berdua saling menyapa. Mereka berdua terpaksa saling mengangguk seolah tidak saling mengenal.


“Yang satu pengguna narkoba dan yang satunya penyerang, tapi kebetulan pengacara dan jaksa kalian sama,” kata Kang Ho. Chang Soo bilang ia beberapa kali melihat Hae Na di persidangan. “Chang Soo kenapa aku memanggil kalian berdua hari ini, bukan?”


Chang Soo bilang ia tidak tahu, jadi Kang Ho menyuruhnya pergi. “Jangan, Pak,” kata Chang Soo. Kang Ho bilang maka dia saja yang akan pergi. “Jangan, Hakim Han. Tolong beritahu kami.” 


Kang Ho bilang mereka berdua sebaiknya berbincang, karena mereka tidak punya harapan karena berurusan dengan hakim nakal. “Kalian berdua harus saling menenangkan,” kata Kang Ho lalu pergi.


Chang Soo bertanya pada Hae Na apa yang terjadi. “Kita dalam masalah,” kata Hae Na.


Di luar restoran, Kang Ho menghela napas lega lalu melangkah menjauh.


Ma Ryong terkejut karena So Eun menemuinya saat jam kerja. Ia berharap So Eun dan keluarganya baik-baik saja. 


HONG RAN yang sedang melayani pelanggan tampak cemburu melihat Ma Ryong bicara dengan wanita lain.


So Eun bilang ia sedang cuti dan menanyakan kemajuan pencarian kakaknya. Ma Ryong mengingatkan bahwa ia sangat ahli dalam mencari. “Anda banyak bicara, tapi tidak mengabariku perkembangannya,” kata So Eun kecewa.


Ma Ryong bilang Polsek tidak bisa menemukan kakak So Eun, jadi ia menyimpulkan bahwa kakak So Eun sudah tidak ada di dunia ini lagi. “Saat orang pergi dari rumah karena diperkosa, 9 dari 10 orang…” ucapan Ma Ryong terhenti, karena So Eun tidak mau mendengar omong kosong itu. 


“Kakakku masih hidup. Dia berjanji kepadaku. Dia berjanji tidak akan bunuh diri,” kata So Eun. Ma Ryong bilang bukan itu maksudnya. Ia bilang orang yang berniat memutuskan hubungan dengan keluarganya pasti akan mengganti namanya. “Maksudnya Anda sudah bertemu dengan organisasi yang menjual identitas?”


“Kita akan segera menemukan kakakmu….” Ucapan Ma Ryong terhenti, karena HONG RAN sengaja mengelap meja dengan kasar. “Astaga, kau mengagetkan saja. Mejanya tampak baik-baik saja. Kenapa kau mengelapnya?”


HONG RAN malah mengelap mejanya semakin keras. “Ayolah. Nanti kau mengelapnya sampai lantai. Hentikan!” kata Ma Ryong. HONG RAN menatap tajam pada Ma Ryong. “Lihatlah, kami sedang membicarakan hal yang sangat penting.


HONG RAN tidak peduli dan malah mengibaskan lapnya dengan kasar. So Eun sampai kebingungan melihat sikapnya.


Di luar restoran, So Eun mendapat telepon dari Sang Cheol, tapi ia mengabaikannya. Ia lalu mengirim pesan, “Beri aku sedikit waktu dan kita akan bicara. Aku akan meneleponmu beberapa hari lagi.” Ia tampak sedih.
Comments


EmoticonEmoticon