11/26/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 17 PART 3

SINOPSIS Your Honor Episode 17 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 17 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 18 Part 1

Kang Ho merasa ia berjodoh dengan Ma Ryong, karena Ma Ryong melamar bekerja di restoran langganannya. Ma Ryong mempersilakan Kang Ho menikmati makanannya, lalu menyuruhnya pergi.


“Kau tahu apa ini, bukan?” tanya Kang Ho sambil menunjukkan tabung gas tidur yang ia temukan di AC mobilnya. “Dulu kau menggunakan ini untuk menangkap debitur yang melarikan diri, bukan?”


Ma Ryong tidak menyangkal. Kang Ho menawarkan uang 5000 dolar, jika Ma Ryong berhasl menelusuri dari mana asal tabung itu.


Kang Ho menunjukkan uangnya. Ma Ryong bertanya darimana Kang Ho mendapatkan tabung itu. “Seseorang menaruhnya di mobilku,” kata Kang Ho dengan nada kesal.


Ma Ryong tertawa dan mengingatkan kalau Kang Ho tidak punya mobil. “Aku punya,” kata Kang Ho. Ma Ryong menebak Kang Ho mencuri. “Aku bekerja keras belakangan ini. Aku bahkan lembur.”


Ma Ryong bertanya di mana Kang Ho memarkir mobilnya. Kang Ho bilang ada di luar. “Ambil STNK-mu. Jika di sana tertulis milikmu, aku akan membantumu,” kata Ma Ryong.


Kang Ho bilang ia tidak meminta bantuan, tapi ia yang akan memberikan bantuan dengan memberikan uang itu kepada Ma Ryong. Dia bahkan setuju untuk membayar di awal. Ma Ryong menolak dan menyuruhnya pergi setelah makan.


Ma Ryong melihat seorang pengunjung datang dan menyapanya. Pria itu bersikap sangat angkuh. “Panggilkan pemiliknya,” kata pria itu. Ma Ryong bilang pemilik restoran sedang sibuk memasak kaldu. “Kau pelayan yang cerewet. Sampaikan kepadanya aku datang.” Ma Ryong menanyakan nama pria itu.


Pria itu mendorong pipi Ma Ryong dan berteriak, “Hong Ran… suamimu datang. Hong Ran… Hei!” Ma Ryong memintanya memelankan suaranya, karena ada pengunjung lain yang sedang makan.


Hong Ran terkejut dan buru-buru keluar dari dapur. Pria itu mendorong Ma Ryong lagi.


Kang Ho yang masih ada di sana terkejut melihat kejadian itu. Apalagi Ma Ryong tenang saja dan tidak membalas sedikit pun. Hong Ran menarik Ma Ryong menjauh.


“Astaga.. istriku,” kata pria itu sambil berusaha memeluk Hong Ran. Hong Ran menjauhkan pria itu. Kang Ho tersenyum geli melihat Ma Ryong tidak melakukan apa-apa. Hong Ran bertanya bagaimana pria itu bisa datang dan menemukannya. “Kenapa aku tidak boleh datang? Kita pernah menikah.”


Ma Ryong terkejut setelah mendengar bahwa pria itu adalah mantan suami Hong Ran. Pria itu memuji Hong Ran sudah sukses. “Aku membuka ini dengan uangku sendiri. Tidak menggunakan uangmu sepeser pun,” kata Hong Ran.


Pria itu kesal dan ingin memukul Hong Ran, tapi Ma Ryong menghadangnya. Ma Ryong dengan sopan menyuruhnya pria itu duduk dan akan mencatat pesanannya. Ma Ryong lalu mengajak pria itu bicara sebentar.


Hong Ran melarang Ma Ryong bicara dengan mantan suaminya. Pria itu lalu mengajak Ma Ryong bicara di luar. Kang Ho penasaran dengan apa yang akan Ma Ryong lakukan selanjutnya. “Jangan keluar, kumohon,” kata Ma Ryong pada Hong Ran. “Nikmati makananmu, Kang Ho,” sambil mendorong kepalanya.


Pria itu bertanya siapa Ma Ryong. “Aku pekerja paruh waktu di restoran ini,” kata Ma Ryong. Pria itu memukul wajahnya dan  bertanya apa hubungan Ma Ryong dengan Hong Ran. “Kami berasal dari kampong halaman yang sama. Ketika aku tidak punya tujuan, dia memberiku pekerjaan di restoran ini.” Pria itu memukulnya lagi.


Pria itu menyebut Ma Ryong tidak tahu diri. Ma Ryong bertanya apa yang diinginkan pria itu dan dia akan berusaha memenuhinya. “Kelihatannya kau ingin memenangkan hati Hong Ran. Dia terus meminta cerai dariku. Aku merasa dia menipuku, jadi aku datang untuk meminta tunjangan. Aku rasa aku butuh 3000 dolar,” kata pria itu.


Ma Ryong tersenyum dan bilang akan memberikan uang 3000 dolar yang ada di rekeningnya. Pria itu memberikan nomor rekeningnya, dan meminta Ma Ryong mentransfer uangnya hari itu juga


Hong Ran menangis terharu melihat kejadian itu.


“Kau tidak memberi hormat?” tanya pria itu. Ma Ryong membungkukkan badannya dan memberi salam. Pria itu bahkan berbuat tidak sopan dengan menyentuh kepala Ma Ryong.


“Oppa..” kata Hong Ran. Ma Ryong mengomel  sambil tertawa kenapa Hong Ran keluar, padahal sudah dilarang. “Apa yang kau katakan hingga dia pergi?” Ma Ryong bilang ia hanya meminta agar pria itu membiarkan mereka kali ini saja.


Hong Ran: “Kau seharusnya meninjunya.”
Ma Ryong: “Apa? Kini aku tidak lagi menggunakan kekerasan.”


Hong Ran memberikan uang dan menyuruh Ma Ryong pergi ke sauna. Ma Ryong menolak, karena ia harus melayani pesanan makan siang. Hong Ran menangis. Ma Ryong bilang dia baik-baik saja. “Pergilah!” kata Hong Ran sambil memberikan uang itu ke tangan Ma Ryong. “Aku tidak ingin melihatmu!” Hong Ran berlari masuk ke restoran sambil menangis.


“Apalagi yang ingin kau lihat?! Keluarlah!” kata Ma Ryong yang tahu kalau sejak tadi Kang Ho mengintip. Kang Ho kecewa karena mengira akan melihat aksi keren Ma Ryong. “Kau sudah membayar pesananmu?” Kang Ho bilang harga makanannya tidak seberapa. “Bayar makananmu.”


Kang Ho menyerahkan segepok uang. “Kirimkan 3000 dolar kepadanya dan dengan sisa 2000 dolar, belilah minuman maka hari ini akan membaik,” katanya. Ma Ryong ragu. “Ayolah, siapa pembuat ini?” tanya Kang Ho sambil menunjukkan tabung gasnya.


Ma Ryong: “Kang Ho… pernahkah kau mencintai seseorang dengan setulus hati?”
Kang Ho: “Bagaimana bisa?”
Ma Ryong: “Benar. Tidak pernah. Kita para berandal tidak berhak mencintai seseorang.”


Ma Ryong mengembalikan uang Kang Ho dan hanya mengambil selembar saja. “Semangkuk sup tidak sampai 50 dolar. Bagaimana kembaliannya?” protes Kang Ho. Ma Ryong menyuruhnya kembali lain kali dan makan lima kali lagi.


“Berikan kembaliannya!” kata Kang Ho. Ia sangat sedih mendengar perkataan bahwa berandal sepertinya tidak berhak mencintai seseorang.


So Eun sedang sibuk bekerja saat mendapat telepon dari Kang Ho. “Ya, Hakim Han?” jawabnya dengan ceria. Kang Ho bertanya apa yang sedang So Eun lakukan. “Tentu saja bekerja. Aku menaruh berkas kelanjutan kasus di meja Anda.” 


“Berhenti bekerja dan pulanglah,” kata Kang Ho. So Eun heran karena masih jam 6. “Ayo makan denganku. Keluarlah.” Kang Ho menutup teleponnya.


So Eun bingung ia harus keluar ke mana. Kang Ho menghubunginya lagi dan bertanya, “Kau ingin makan apa?”


Ternyata So Eun ingin minum, karena beberapa hari terakhir hanya makan bubur. Kang Ho protes karena So Eun masih sakit. Ia berharap bisa membelikan makanan bergizi atau semacamnya. “Kedai kopi macam apa yang menjual bir?” gerutunya. So Eun mengingatkan bahwa ia sakit bukan karena pekerjaan.


Kang Ho bertanya apa So Eun menghabiskan obatnya. Tapi So Eun malah bilang ada hal menyedihkan yang terjadi kepadanya.


So Eun: “Sahabatku sejak SMA… seseorang yang kusayangi setelah keluargaku pergi.”
Kang Ho: “Dia seorang pria?”


So Eun tersenyum. Kang Ho berkata, “Jika dia temanmu sejak SMA, dia bukan benar-benar sahabatmu. JIka dia teman sekolah yang sudah seperti keluarga bagimu, dia bukan benar-benar keluarga.”


“Benar. Dia seorang pria. Dia seperti kakak bagiku,” kata So Eun. Kang Ho bertanya apakah pria itu pergi jauh. “Ya. Sangat jauh. Setelah itu, aku merasa sangat kesepian. Aku merasa tidak memiliki siapapun.”


Kang Ho bilang So Eun memilikinya. So Eun terkejut. “Maksudku… kau punya Pak Jo juga. Kau punya Dong Soo dan Eun Jung juga. Semua orang di kantor menyukaimu,” kata Kang Ho.


Kang Ho mengangkat botol minuman. “Cerialah,” ujarnya. Tapi So Eun tidak mau tos. Ia bertanya kenapa Kang Ho ingin memindahkannya kepada hakim lain. “Aku tidak mau merusak masa depanmu.”


So Eun: “Aku masih punya satu bulan lagi. Aku akan bekerja dengan Anda hingga akhir.”
Kang Ho: “Sudah kubilang, aku akan keluar sebelum itu.”
So Eun: “BIsakah Anda tetap tinggal hingga aku selesai?”


Kang Ho tidak menjawab. “Anda sudah memutuskan?” tanya So Eun. Kang Ho memilih meminum minumannya.


“Ini terlalu hambar. Ingin minum soju?” ajak Kang Ho.


Comments


EmoticonEmoticon