11/27/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 19 PART 2

SINOPSIS Your Honor Episode 19 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 19 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 19 Part 3

Hae Na menceritakan pada Sang Cheol bahwa Soo Ho bilang akan memberikan hukuman 5 tahun penjara. Ia merasa kecewa karena Sang Cheol bersikap santai, padahal sebelumnya sudah menjanjikan hukuman masa percobaan jika menerima semua tuduhan.


“Direktur Lee Ho Sung divonis 7 tahun, lalu bebas satu pecan kemudian. Jika kau dihukum 5 tahun, aku bisa membebaskanmu dalam 1 atau 2 pekan,” kata Sang Cheol.


Mata Hae Na berkaca-kaca dan menanyakan reputasi dan hidupnya. Sang Cheol sekalipun HAe Na mengatakan kebenarannya, maka membuat pernyataan palsu dan memakai narkoba tidak akan memperbaiki reputasinya. “Kau sudah berjanji. Kau bilang akan mengurus ini. Tapi sekarang aku tidak bisa mempercaimu atau Lee Ho Sung,” isak Hae Na.


Sang Cheol tersenyum sinis dan bertanya siapa yang akan HAe Na percayai. Ia bilang hakim tidak akan bisa membantu Hae Na syuting iklan lagi ataupun berinvestasi pada filmnya. Hae Na ingin mengkonfirmasi sendiri dengan Ho Sung. “AKu pengacaranya. Bicara saja padaku,” kata Sang Cheol.


“Tolonglah aku. Aku enggan mati seperti ini,” mohon Hae Na putus asa. Sementara itu, Chang Soo hanya diam saja.


Sang Cheol meminta Hae Na untuk terus melakukan apa yang sejauh ini ia lakukan. “Jika kau berhenti sekarang, semuanya akan hancur,” ujarnya. Hae Na bilang ia sangat ingin mati karena masalah ini, tapi di sisi lain tidak ingin riwayatnya tamat begitu saja. “Setidaknya aku akan meneleponnya. Baiklah sampai jumpa di pengadilan.”


Rupanya sejak tadi Chang Soo merekam pembicaraan Hae Na dan Sang Cheol.


“Hei, Nona Selebritis. Mereka seperti ular berbisa. Apa ular berbisa tidak makan katak hanya karena katak itu menangis? Kau salah strategi. Air mata tidak bisa menjadi senjata,” kata Chang Soo.


Keluar dari ruang sidang, So Eun memberitahu bahwa 60 persen menuliskan nama hakimnya dalam survey untuk penceramah khusus. “Astaga, kau benar-benar keras kepala. Aku janji akan menceritakan kisahku, tapi hanya kepadamu,” kata Kang Ho.


So Eun bilang Kang Ho belum bilang kapan akan menceritakannya. “Aku akan meneceritakannya. Suatu hari nanti,” kata Kang Ho. So Eun bilang kata ‘suatu hari’ sangat tidak pasti. Ia pun masuk ke ruangan lebih dulu.


“Suatu hari, aku akan memberitahumu, tapi kuharap hari itu tidak akan datang,” gumam Kang Ho. Ia lalu masuk ke dalam ruangan dan bertanya kenapa Hakim Asosiasi ada di sana.


Kepala Hakim menyodorkan selembar kertas dengan kasar dan berkata, “Sudah kubilang, kau harusnya mengundurkan diri! Bersiaplah untuk membebaskan diri!” Ia lalu pergi begitu saja. 


So Eun mengambil kertas yang jatuh ke lantai itu dan sangat terkejut setelah membacanya sekilas. Kang Ho bertanya apa itu. “Ini…” So Eun tidak bisa menjelaskan. Kang Ho merebut kertas itu.


Ternyata itu adalah surat permohonan untuk menghadiri dengar pendapat oleh komite disipliner.  “Celaka. Akhirnya terjadi juga,” gumamnya.


So Eun bilang itu adalah perlakuan yang konyol dan Kang Ho tidak perlu menghadirinya. “Melalaikan tugas. Gagal menjaga kehormatan,” kata Kang Ho sambil menunjuk suratnya. So Eun bilang ia tidak pernah melihat hakim setekun Kang Ho.


Kang Ho tidak terlalu peduli dengan surat itu. Ia bahkan menggunakan ujung kertas itu untuk membersihkan kukunya. So Eun terus membela Kang Ho. “Aku baik-baik saja. Hakim tidak akan dipecat sebesar apapun kesalahan mereka,” kata Kang Ho.


Kang Ho mengingatkan tentang kasus hakim yang menyetir sambil mabuk dan hanya diberi peringatan tertulis, memotret secara illegal di dalam mall mendapat skors 4 bulan, dan hakim yang kepergok bersama PSK mendapat pemotongan gaji selama 3 bulan.


Kang Ho bilang jika profesi lain yang terkena masalah itu, mereka akan dipecat atau dipenjara. Ia bilang ia tidak akan hadir dan hanya menyerahkan surat permohonan maaf.


So Eun bilang sebelumnya ia sudah mendengar sidang dengar pendapat itu dari teman sesama pemagang di kantor lain, tapi ia tidak percaya. Kang Ho bilang ada cerita yang lebih gila di cabang yudisial mereka. So Eun khawatir jika masa jabatan Kang Ho tidak akan diperbarui.


Kang Ho bilang dia memang berencana meninggalkan lingkungan peradilan itu setelah menyelesaikan satu persidangan penting. So Eun bilang Kang Ho tidak boleh membiarkan hal itu. Ia tidak bisa menerima Kang Ho mendapat hukuman, karena menurutnya Kang Ho adalah hakim terbaik. “Kau salah soal itu. Kita sudahi pembicaraan ini. Ayo makan,” kata Kang Ho.


So Eun mengingatkan kalau Kang Ho berjanji akan bertahan sampai pelatihan magangnya selesai. “Berjuanglah sampai akhir. Lakukan tugas Anda sebagai hakim,” katanya serius. Kang Ho bilang sia-sia melawan para hakim yang mahakuasa itu. “Tolong menangkan ini. Jika Anda dihukum, itu pun akan menjadi hukumanku. Karena hanya pegawai rendahan, aku tidak bisa membantu.” So Eun menunduk sedih.


Kang Ho terdiam. “Tolong berikan jawaban Anda,” kata So Eun. Kang Ho tersenyum lebar dan menyebutnya keras kepala.


Kang Ho: “Mau makan apa?”
So Eun: “Soju.”
Kang Ho: “Bagaimana dengan makanan?”
So Eun: “Bir.”


“Ayo! Soju dan bir adalah kombinasi terbaik,” kata Kang Ho. So Eun masih terisak. Telepon di meja Kang Ho berdering. “Halo? Sekarang?”


Comments


EmoticonEmoticon