11/27/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 20 PART 1

SINOPSIS Your Honor Episode 20 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 19 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 20 Part 2

So Eun mengetik surat kepada Komite Disipliner. Ia memperkenalkan diri sebagai pemagang di kantor Soo Ho. Menurutnya, Kang Ho (yang ia kira Soo Ho) adalah hakim paling ramah yang pernah ia temui.


“Hakim Han bekerja melampaui kewajibannya. Dia mencobati mengobati perasaan orang yang terlibat dalam sidang dan membuat mereka merasa damai,” tulis So Eun.


“Hakim Han adalah hakim yang teliti. Ia mengecek fakta mutlak soal tuduhan, dia melepas jubahnya dan berlari ke lapangan untuk diinspeksi.”


“Hakim yang saya observasi adalah hakim paling rendah hati yang pernah saya temui.”


“Setelah pengadilan, ia membungkuk kepada hadirin. Meski tempatnya di pengadilan, ia menunjukkan dengan memberikan contoh bahwa hukum tidak memerintah rakyat.”


Kang Ho mencium cek kosong tadi dengan bahagia dan menyimpannya bersama tumpukan uang miliknya.


“Lalu hakim yang saya observasi….” So Eun tersenyum sendiri. “… adalah orang yang baik.”


Kang Ho menatap cek dan uangnya. “Baiklah. Aku akan pergi sekarang,” ujarnya. Ia memasukkan benda kesayangannya itu ke dalam tas. Ia lalu memakai jasnya dan memilih jam tangannya.


Ia bersiap pergi. “Jaga dirimu, Han Soo Ho bedebah. Aku pergi.” Tapi kemudian, ia dikejutkan dengan suara bel pintu.


“Aish.. kenapa ibu datang,” gerutu Kang Ho setelah melihat intercom. Ia terpaksa membuka pintunya.


“Soo Ho..” sapa ibu, tapi kemudian terkejut. “Kenapa kau di rumah kakakmu? Di mana Soo Ho?” Ibu masuk ke dalam. “Soo Ho! Soo Ho!”


Kang Ho bilang Soo Ho sedang pergi dinas selama beberapa hari. Ibu bertanya kemana. “Mana aku tahu! Kenapa ibu mendadak di Seoul?” tanya Kang Ho. Ibu bilang sekarang upacara peringatan mendiang kakek, jadi ibu baru saja mengunjugi keluar ipar di Bangbae-dong.


Ibu bilang ia tidak bisa menghubungi ponsel Soo Ho, jadi ia datang karena khawatir. Kang Ho bilang Soo Ho mungkin mengganti nomor ponselnya. Ia yakin Soo Ho akan segera menghubungi ibu. “Kau sedang apa di rumah Soo Ho?” tanya ibu.


Kang Ho bilang ia berniat menginap di sana, tapi karena Soo Ho tidak ada jadi, jadi dia mau pergi lagi. Ibu bertanya tas apa yang dibawa Kang Ho dan memastikan ia tidak mencuri barang Soo Ho. “Tidak,” sanggah Kang Ho.


Ibu memaksa melihat isi tasnya, tapi Kang Ho menolak. Ibu bertanya lagi kenapa Kang Ho memakai jas kakaknya. “Masuklah dan menginaplah di sini. Aku akan menjenguk ibu beberapa hari lagi,” kata Kang Ho. Ibu bertanya kemana Kang Ho akan pergi.


Kang Ho: “Ibu… Huft… Andai aku bisa membuka restoran bagus, maukah ibu mengelolanya bersamaku? Aku bisa memasak dan ibu bisa mengelola restorannya. Gaji ibu akan besar.”
Ibu: “Kau berulah lagi.”
Kang Ho: “Kirimkan resume dan surat lamaran, termasuk berapa gaji yang ibu mau.”


“Kau mau kemana selarut ini? Ibu datang. Tidurlah di sini bersama ibu,” kata ibu, tapi Kang Ho tetap pergi. “Hei, Han Kang Ho!”


Kang Ho mampir ke kantor dan tersenyum menatap ruangan yang selama ini menjadi tempatnya bekerja. Ia menemukan sebuah catatan menempel di mejanya.


“Aku tidak punya nomor baru Anda, jadi tidak bisa menelepon sebelum pulang. Song So Eun,” bacanya. Kang Ho mengeluarkan ponsel miliknya dan juga milik Soo Ho.


Ia tersenyum melihat fotonya bersama So Eun yang diambil setelah berhasil selamat dari simulasi penyelamatan di wahana bermain.


Keesokan harinya, Joo Eun mendapat telepon dari nomor baru. Ia menjawabnya, “Halo?... Oppa?”


“Bukankah kau sibuk?” sapa Joo Eun saat menemui Soo Ho di sebuah restoran. “Kenapa mengajak bertemu di jam kerja? Tidak ada sidang hari ini?” Soo Ho bilang tidak ada. “Kau mau mengundurkan diri?”


Soo Ho mengangguk. “Benarkah?” tanya Joo Eun. Soo Ho mengangguk lagi. “Berapa banyak yang kau dapatkan?” Soo Ho terkejut. “Kau sungguh menerimanya.” Soo Ho bilang ia akan mengembalikannya. “Itu alasan yang mengecewakan dari seorang hakim. Itu dalih politikus.”


Joo Eun bilang pra politikus suka berdalih bahwa uang mereka terima bukanlah suap, melainkan pinjaman, dan akan mengembalikannya. Soo Ho bilang memang seperti itu kenyataan yang terjadi padanya. Joo Eun bilang insiden bola golf akan berubah menjadi skandal suap dalam cabang yudisial. Ia bilang nama Soo Ho ada di daftar Dae Yang. Ia juga harus menyebut nama Soo Ho jika meliput berita itu.


Joo Eun bilang dulu karena statusnya seperti ini, ia berpikir sebaiknya memacari hakim. “Tapi saat berpacaran, kau sering melukai harga diriku. Pintunya terlalu rapat. Kau enggan membukanya, meski kubilang aku mau masuk. Aku penasaran sehebat apa dirimu. Saat berhasil masuk, aku tidak menemukan apapun. Kau bagaikan tempurung kosong. Aku harusnya pergi, tapi aku tidak bisa. Aku ingin mengisi ruang itu,” ucapnya.


Soo Ho bilang ia tahu itu. Joo Eun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak. Oppa tidak tahu. Oppa tidak tahu bagaimana mengisi perasaan seseorang atau makna menjadi spesial bagi seseorang. JIka Oppa merasakan hal yang sama, kembalikan uang itu.” Soo Ho bilang ia pasti melakukan itu,


“Kembalikan dan tanya aku lagi. Tanyakan apa Oppa pantas menjadi pacarku atau hakim. Maka aku akan menjawabnya. Aku harus kembali ke dalam, ada rapat segmen. Meski aku menyebut namamu di televisi, jangan kecewa,” kata Joo Eun.


Soo Ho memejamkan matanya dan berusaha menenangkan kegundahan hatinya.


Kang Ho sepertinya tidak jadi pergi. Ia akan menuliskan sesuatu di cek pemberian dari Ho Sung. Ia menghela napas.


Ia lalu melihat ke arah So Eun, yang ternyata bersiap masuk ke ruangannya. Ia menyembunyikan cek itu di kantong celananya. So Eun menyerahkan rangkuman ide pokok untuk persidangan Opsir Lee. So Eun bilang ia merasa itu tidak adil,


Kang Ho meminta maaf, karena kemarin tidak jadi makan bersama So Eun dan pasti membuatnya menunggu lama. “Tidak. Lagipula, aku bekerja lembur kemarin. Ngomong-ngomong, Anda tidak punya ponsel?” kata So Eun.


Kang Ho bilang ia punya beberapa ponsel. So Eun meminta nomornya. “Nanti. Ayo makan bersama nanti malam. Bukan soju dan bir. Ayo makan makanan enak,” kata Kang Ho mengalihkan pembicaraan. So Eun bertanya apakah nanti Kang Ho akan kabur lagi. “Tidak perlu begitu lagi. Semua sudah berakhir.”


So Eun bertanya apanya yang berakhir, tapi Soo Ho bilang ia bukan apa-apa. Ia lalu mendapat telepon, “Ya, Pak Sa? Apa? Sebentar… Ya, aku sedang mencatatnya. Tunggu sebentar. Ya. Kim… Ya terima kasih. So Eun tampak panik dan meminta izin pulang lebih awal.


Kang Ho: “Ada masalah apa?”
So Eun: “Begini, aku… Tidak ada masalah, tapi… Aku…”


So Eun mulai menangis dan membuat Kang Ho khawatir. “Tolong izinkan aku pulang lebih awal,” kata So Eun lalu langsung pergi. Kang Ho bingung.


Sambil menunggu pintu lift terbuka, So Eun mengingat kembali percakapannya bersama Ma Ryong tadi. Ma Ryong bilang ia akhirnya mendapatkan kabar dari orang yang menjual identitas kepada seseorang yang ciri-cirinya mirip dengan Ji Yeon, kakak So Eun.


“Di Gimpo, ada sebuah klub bernama Hwanggung Missy Club. Nama julukannya Stroberi. Dia terdaftar sebagai orang asing asal Harbin,” kata Ma Ryong.


Kang Ho masih memikirkan sikap So Eun yang panik tadi. Ia melihat post-it yang digunakan So Eun untuk mencatat tadi dan mengarsirnya dengan pensil.


Muncul tulisan, “Gimpo, Hwanggang Missy Club, Stroberi’.


Comments


EmoticonEmoticon