11/30/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 21 PART 2

SINOPSIS Your Honor Episode 21 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 21 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 21 Part 3

Sang Cheol bertanya bagaimana interogasi ayahnya di Kejaksaan. Dae Yang bilang ada orang dalam yang mencoba mencekiknya. “Sulit bagi Jaksa Agung dan Jaksa Hong untuk memperlakukan aku sesuka mereka,” ujarnya.


Sang Cheol bilang ayahnya selama ini selalu memberikan keuntungan. Ia menduga kasunya akan menghilang dalam beberapa hari.


“Sang Cheol, kau harus mencari tahu siapa yang berusaha mencekikku. Aku harus tahu siapa lawanku untuk memikirkan sebuah rencana,” “kata Dae Yang yang belum tahu kalau putranya sendiri yang melakukannya. “Jika dia cukup kuat, maka aku rela memberikan kepalaku.


Sang Cheol melarang ayahnya melakukan itu, karena firma hukum mereka adalah yang terbesar di Korea. Dae Yang bilang Kantor Pengadilan ada di timur dan Kantor Kejaksaan ada di barat dan mereka adalah pusat negara.


“Sekalipun kau presiden negara ini, akan berbahaya jika meremehkan  kekuatan hakim dan jaksa,” kata Dae Yang.


Dewan Komite Disipliner sudah berkumpul kembali. Jung Soo bilang mereka sedang menangani kasus Dae Yang dan tuduhan penyuapan yang disampaikan Kang Ho tadi terbukti benar, jadi beritanya akan segera muncul di media. “Kita harus menghukumnya lebih berat daripada sekedar diskors,” kata Jung Soo.


“Aku setuju dengan Jaksa Hong,” kata seorang anggota Komite. Hakim Asosiasi khawatir.


So Eun berterima kasih karena Kang Ho tidak berhenti dan kembali ke timnya. Ia berjanji akan melakukan yang terbaik juga.


So Eun mengajaknya tos dan kali ini So Eun yang menangkap tangan Kang Ho. Mereka berdua saling bertatapan dan perlahan melepaskan tangannya. So Eun lalu pergi lebih dulu, sedangkan Kang Ho masih menatap tangannya.


Di ruangan, Bok Soo bertanya bagaimana sidang disiplinnya. Kang Ho yakin ia akan berhasil. “Ayo makan!” ajak Kang Ho. Bok Soo mengingatkan bahwa Kang Ho ada jadwal sidang. Kang Ho meringis.


So Eun masuk ke ruangan sidang Lee Soon Chul, seorang petugas layanan darurat. Terdakwa hanya menunduk di samping pengacaranya.


Hwang Tae Yong, yang mengajukan diri menjadi saksi di kasus Soon Chul, masih sibuk menangani korban di dalam ambulans. Ia bertanya pada temannya berapa lama lagi waktunya. “10 ment,” ujar temannya.


Jaksa bertanya pada Soon Chul bagaimana kondisi Cho Jung Man, korban, saat ia tiba di lokasi kejadian. “Dia mabuk dan minta diantar ke rumah sakit,” kata Soon Chul. Jaksa bertanya apakah Soon Chul berusaha mengikat Jung Man di tandu. “Ya.”


“Saat dia terus menolak, apa Anda memakai kekerasan?” tanya jaksa. Soon Chul mengiyakan. “Anda yang memberikan luka gores di wajahnya, rusuk yang patah dan luka-luka di sekujur tangan dan kakinya?”


Soon Chul: “Ya.”
Jaksa: “Apa benar Anda merusak jangan tangan senilai 5000 dolar milik korban?”
Soon Chul: “Ya.”
Jaksa: “Anda sudah berdamai dengan korban.”
Soon Chul: “Saya tidak bisa.”


Jaksa sudah selesai, jadi Kang Ho mempersilakan pengacara untuk menanyai kliennya. “Saat Anda tiba, Cho Jung Man mengeluh sakit parah, bukan?” tanya pengacara. Soon Chul mengiyakan. “Jika pasien menolak diperiksa tekanan darahnya, Anda bisa melewatkannya?” Soon Chul bilang tugas mereka adalah melakukan yang terbaik.


Pengacara memastikan bahwa Soon Chul bukan bersikap kasar, melainkan hanya berusaha menenangkan pasien. Soon Chul semakin menunduk.


Jung Man menolak diperiksa. Ia mendorong dan menendang Soon Chul. Ia lalu oleng karena ambulans mengerem mendadak. “Aku harus mengikat Anda demi keselamatan,” kata Soon Chul. Jung Man malah meludahi dan memukuli kepalanya.


Jung Man ternyata merusak jam tangannya sendiri. Soon Chul mulai berusaha megikatnya, “Tolong jangan bergerak!”


Tapi Jung Man meludahinya lagi dan terus meronta.


Soon Chul akhirnya mengangkat wajahnya dan berkata, “Saya… memakai kekerasan untuk menahannya. Saya diberi tahu bahwa itu penyerangan.” Pengacara bertanya kenapa Soon Chul tidak berdamai dengan korban. “Dia tidak mau menjawab telepon saya.”


Pengacara lalu menirukan ucapan korban, “Kau bedebah kasar dan pantas dipecat. Aku tidak akan berdamai, bedebah.” Pengacara bilang itu pesan terakhir dan tidak mau lagi menjawab telepon atau pesan.


Soon Chul kembali ke kursinya dan terus saja menunduk. Kang Ho memperhatikannya. “Kita akan mendengarkan saksi lain. Hwang Tae Yong di sini?” tanya Kang Ho. Sakah satu petugas mengatakan bahwa Tae Yong tidak hadir. Kang Ho melihat ke arah So Eun.


So Eun melihat sekeliling, lalu menggeleng pelan pada Kang Ho.


Tae Yong baru saja turun dari taksi tanpa mempedulikan uang kembaliannya. Ia berlari sampai hampir menabrak seorang wanita. Ia membungkuk meminta maaf, lalu berlari lagi sambil mengecek jam tangannya.


Kang Ho bertanya apa saran vonis dari jaksa. “Tolong vonis dia satu tahun penjara,” kata jaksa. Soon Chul masih menunduk. Kang Ho meminta pengacara menyampaikan argumen penutupnya.


Pengacara bilang Soon Chul sudah melakukan yang terbaik dan luka-luka itu tidak disengaja. “Ia sangat menyesal. Mohon pertimbangan semua pekerjaan sukarela yang pernah dilakukannya. Kami memohon penilaian yang baik,” lanjutnya.


“Itu saja?” tanya Kang Ho memastikan. Pengacara mengiyakan. “Kenapa sederhana sekali? Anda harus melakukan yang terbaik untuk membelanya. Anda pengacaranya.” Pengacara bilang terdakwa sudah mengakui kesalahannya dan meminta Kang Ho memberikan penilaian yang baik.


“Jam tangan itu sungguh seharga 5.000 dolar? Dia menerimanya?” tanya Kang Ho. Pengacara bilang ia menerima sertifikat keaslian. “Saya pribadi mengenal seseorang yang memalsukan sertifikat keaslian setiap tahunnya. Bawakan nota pembelian.”


Pengacara mengangguk. “Selain itu, saya minta tolong. Bela klien Anda. Hanya karena dia menyesal, Anda ingin penilaian yang baik? Itu bukanlah segalanya.” Pengacara mengerti. “Berikan pernyataan terakhir Anda.”


Soon Chul berdiri. “Maaf, tidak ada lagi yang ingin saya katakan,” ujarnya masih sambil menunduk.
Comments


EmoticonEmoticon