12/09/2018

SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 3 PART 4

SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 3 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 3 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 3 Part 5

Hee Joo memasukkan kontraknya dengan buru-buru ke dalam amplop. Ia lalu menjawab telepon dari nenek, “Halo, nenek?”


Nenek khawatir karena Hee Joo mematikan ponselnya, padahal baru ssaja meneleponnya. Hee Joo bilang ia akan memberitahu sesuatu. “Kenapa? Ada masalah?” tanya nenek. Hee Joo meminta nenek menunggu, karena ia mendapat pesan di ponselnya.


Uang 10 milyar Won dari J One sudah masuk ke rekeningnya. “Halo? Hee Joo! Kau di sana?” panggil nenek.


Hee Joo berlari dan perawat melarangnya pergi karena dokter akan datang untuk memeriksanya. “Aku akan kembali,” kata Hee Joo dan tetap pergi.


“Nenek, aku dalam perjalanan pulang. Akan kutunjukkan saat sampai. Nenek tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi,” kata Hee Joo bahagia.


“Ada apa? Apa? Ada apa?” tanya nenek semakin khawatir.


Hee Joo menangis bahagia dan memberitahu neneknya bahwa mereka kaya sekarang, bahkan sangat kaya, Ia bilang mereka tidak perlu khawatir tentang uang lagi. “Kita sungguh kaya!” Ia berlalu lagi.


“Sejak pindah ke Granada 12 tahun lalu, tidak ada hal baik yang terjadi pada Hee Joo.”


“Akhirnya untuk pertama kali, hidupnya tersentuh keajaiban.”


“Dan…”


Jin Woo terpana melihat Emma, gadis pemain gitar dengan kerudung merah.


Walaupun Emma tersenyum, hanya pemain level 5 yang bisa bicara dengannya.


Hee Joo tersenyum melihat Jin Woo yang sedang berada di Kafe Alcazaba. Sementara itu, perlahan Emma menghilang dan Hee Joo datang.


Hee Joo menyapa Jin Woo dan bilang ia kebetulan melihatnya saat lewat tadi. Ia bertanya kenapa Jin Woo ada di sana.


Jin Woo yang tadinya terdiam karena masih tidak percaya melihat 2 orang yang sama, kemudian sadar dan menanyakan keadaan Hee Joo. “Aku baik-baik saja. Tidak sakit sama sekali. Aku juga sudah menerima uangnya,” kata Hee Joo.


Jin Woo memberi selamat kepadanya. Hee Joo sangat berterima kasih, padahal awalnya ia mengira Jin Woo hanya bercanda. Jin Woo bilang tadi Hee Joo menyebutnya pelit. “Aku bilang begitu karena putus asa,” kata Hee Joo.


Jin Woo bilang Hee Joo tidak perlu berterima kasih, karena ia hanya membayar harga yang pantas. “Bisni2 tidak pernah membuang uang untuk kemurahan hati,” lanjutnya. Hee Joo bilang itu lebih dari sekedar kemurahan hati.


“Ngomong-ngomong, kau bisa main gitar, Nona Jung?” tanya Jin Woo. Hee Joo terkejut. “Bukankah kau mahir bermain gitar klasik?” Hee Joo bertanya bagaimana Jin Woo tahu, padahal ia sudah berhenti bermain sejak lama. “Kenapa berhenti? Kau berbakat.”


Hee Joo bertanya apa Jin Woo pernah mendengarnya bermain gitar dan di mana tempatnya.


Jin Woo melihat seorang prajurit berjalan melewati kafe. Jin Woo berkata, “Sudah kuberitahu, kan? Kota ini terkenal sebagai kota sihir. Kau punya uang sekarang? Kenapa tidak bermain lagi? Jujur saja, kau lebih menarik saat memainkan gitar.” Ia lalu pamit pergi.


Hee Joo memanggilnya, “Aku ingin mentraktirmu makan malam. Aku tidak menerima penolakan. Kau punya waktu?” Jin Woo mengecek jam tangannya dan bilang ia akan menghubungi Hee Joo jika urusannya lebih cepat selesai. Ia bilang ada orang yang harus ia kalahkan hari ini.


Hee Joo: “Apa? Mengalahkan seseorang?”
Jin Woo: “Akan kuhubungi setelah mengalahkannya.”


Jin Woo sudah mengeluarkan pedangnya saat keluar dari kafe. Ia mencari prajurit yang lewat tadi.


Hee Joo melihat Jin Woo mengangkat tangannya, padahal tidak membawa apa-apa. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya.


“Uang bukan satu-satunya keajaiban yang Hee Joo alami hari itu.”


Malam harinya, Su Jin berdiri di balkon sendirian dan terlihat sedih. Ia kemudian masuk ke kamarnya.


Karena tidak menemukan suaminya di sana, ia kemudian pergi ke ruang tamu dan bertanya apakah suaminya belum mau tidur. Ia juga bertanya apakah ada masalah karena suaminya menjadi pendiam.


“Tidak ada. Aku hanya menunggu telepon. Aku menunggu kabar,” kata Hyeong Seok. Su Jin bertanya apa itu tentang pekerjaan.Hyeong Seok tersenyum dan bertanya kenapa Su Jin tidak tidur lebih awal, karena perjalanan keretanya pasti melelahkan.


Su Jin menyandarkan kepalanya di bahu Hyeong Seok dan bilang ia memang kurang tidur. Hyeong Seok mencium keningnya dan menyuruhnya istirahat. Su Jin tersenyum dan berkata, “Aku tidur duluan.”


Hyeong Seok lalu bertanya apa benar Su Jin bertemu dengan Jin Woo. Su Jin bilang mereka bertemu di stasiun dan saling menyapa. Hyeong Seok terus bertanya apa Jin Woo mengatakan hal lain pada Su Jin.


Su Jin marah. Ia bilang mereka hanya saling menyapa dan tidak ada apa-apa lagi. Hyeong Seok menghampirinya sambil tersenyum dan meraih tangannya.


“Su Jin… kurasa kau salah paham. Bukan itu maksudku. Hanya saja aku akan berhadapan dengn J One lagi. Itu sebabnya,” kata Hyeong Seok. Su Jin menjadi lebih rileks.”Apa ada orang lain bersamanya?”


“Tidak ada,” kata Su Jin. Hyeong Seok bertanya apa Su Jin tahu kenapa Jin Woo ada di sana. “Aku tidak menanyakannya. Ponsel Hyeong Seok bordering, jadi dia menyuruh Su Jin istirahat.


“Halo? Ya, silakan,” kata Hyeong Seok kepada seseorang bernama Kim Yong Jin.


Yong Jin bilang ia ada di rumah See Joo, tapi See Joo sudah cukup lama tidak pulang dan ponselnya mati. Ia menduga ada yang berkhianat.


“Perjelas, brengsek,” umat Hyeong Seok pelan agar Su Jin tidak mendengarnya. “Siapa yang kau maksud? Siapa yang dikhianati? Kita atau Marco?”


Yong Jin bilang mereka hanya berurusan dengan Marco dan tidak ada informasi soal orang lain. “Apa ada yang kau ketahui?” tanya Hyeong Seok yang kemudian ponselnya mendapat telepon dari Jin Woo. “Hubungi aku jika mendapat sesuatu.”


Hyeong Seok menghubungi balik dan bertanya apa yang Jin Woo inginkan.


“Apa kau sibuk? Ayo duel sekarang. Aku siap. Kau memintaku menghubungimu” kata Jin Woo sambil berjalan menuju suatu tempat.


Su Jin yang memang belum tidur nyenyak terbangun dan melihay piyama suaminya ada di depan meja rias. Ia menelepon Hyeong Seok dan bertanya akan pergi kemana selarut ini.


Hyeong Seok: “Jangan tunggu aku. Aku akan bertemu seseorang.”
Su Jin: “Siapa?”
Hyeong Seok: “Kau tidak perlu tahu.”


Su Jin kebingungan karena Hyeong Seok memutus teleponnya begitu saja. Hyeong Seok melihat kea rah balkon dan melambaikan tangan padanya, lalu berjalan pergi. Su Jin terlihat khawatir.


Tidak lama kemudian, Hyeong Seok mengeluarkan pedangnya. Ia terus berjalan melewati banyak orang dan sampai di depan sebuah rumah kaca.


‘Musuh terlihat’


Hyeong Seok melihat Jin Woo sedang memukul-mukul kakinya. “Kau datang,” sapa Jin Woo.


Jin Woo melihat mereka sama-sama berada di level 4, tapi senjata Jin Woo adalah pedang pembunuh, sedangkan senjata Hyeong Seok adalah pedang biarawan. “Aku hampir mati karena mencoba naik dua level dalam sehari,” kata Jin Woo.


Jin Woo berdiri dan mengeluarkan pedangnya. Ia bilang untuk mendapatkan pedang barunya itu, ia harus jatuh ke air mancur berkali-kali. Jin Woo bilang ia hanya bisa bermain malam ini, karena harus kembali ke Seoul besok pagi.


Hyeong Seok menebak kalau semuanya berjalan lancar, sampai Jin Woo sudah akan pulang. Jin Woo bicara panjang lebar, tapi Hyeong Seok tidak terlalu mempedulikannya. Tapi Hyeong Seok langsung menyerang saat Jin Woo menyebut istrinya.


Comments


EmoticonEmoticon