12/10/2018

SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 4 PART 1

SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 4 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 3 Part 5
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 4 Part 2

Su Jin terbangun dan suaminya masih belum pulang. Jam di ponselnya menunjukkan waktu jam 4 pagi.


Su Jin kemudian mengecek ruang tamu, tapi Hyeong Seok juga tidak ada di sana.


Su Jin pergi ke balkon dan melihat di jalan, tapi Hyeong Seok belum juga kelihatan. Ia semakin khawatir.


Asisten bilang Hyeong Seok belum menelepon ataupun menjawab teleponnya. Ia menduga Hyeong Seok tidak mendengarnya karena bar berisik. Su Jin bilang bar harusnya sudah tutup jam. Ia merasakan firasat yang tidak enak. Su Kyung juga terbangun. Su Jin bertanya dengan siapa Hyeong Seok bertemu “Maaf. Seharusnya aku periksa. Aku akan terus memeriksa. Tolong jangan cemas. Sebaiknya kau tidur,” kata asistennya lalu pamit pergi


Su Kyung yang masih mengantuk bilang kalau ia mengira Hyeong Seok sudah tidur, tapi ternyata belum pulang.


Su Jin mengingat semalam Hyeong Seok menanyakan pertemuannya dengan Jin Woo. Ia juga ingat saat di stasiun Jin Woo mengatakan kalau perceraian pertamanya lah yang paling berat.


Su Jin juga mengingat saat dulu Hyeong Seok pernah marah dan melemparkan gelas berisi anggur ke dinding.


“Aku tidak akan kembali!” kata Hyeong Seok pada seorang pria. “Jelas? Aku tidak akan kembali. Siapa yang menyangka kau sebenarnya ayahku? Hanya saat Jin Woo meninggal…”


Su Jin juga ada di sana saat Hyeong Seok marah kepada ayahnya.


Suatu ketika, Jin Woo pernah berdiri di bawah hujan dan bertanya, “Kenapa menangis? Bukankah aku yang seharusnya menangis?”


“Su Jin.. aku tidak marah kepadamu,” kata Hyeong Seok. Ia memeluk Su Jin dan menangis. “Kau harus memahamiku, ya? Dari semua orang di dunia, hanya kau yang mendukungku.”


Mengingat itu semua membuat Su Jin merasa sesak. Su Kyung bilang sudah jam 5, tapi Hyeong Seok belum pulang juga. Ia menduga kakak iparnya itu mabuk dan tertidur di jalan.


Su Kyung: “Apa aku harus mencarinya juga?”
Su Jin: “Su Kyung, kau masih punya nomornya, kan?”
Su Kyung: “Nomornya? Siapa? Oh, maksudmu iparku Jin Woo.”


“Kenapa kau terus menyebutnya ipar? Dia bukan suamiku lagi!” kata Su Jin marah. Su Kyung meralat panggilannya menjadi Pak Yoo Jin Woo. Ia bertanya kenapa Su Jin meminta nomornya. “Kurasa dia pergi menemui Jin Woo.”


Su Kyung bilang Jin Woo dan Hyeong Seok sudah tidak akrab untuk bertemu atau minum bersama. “Beri aku nomornya untuk berjaga-jaga,” kata Su Jin. Su Kyung mengambil ponselnya dan bertanya apa Su Jin tidak punya nomor Jin Woo. “Aku sudah menghapusnya.”


Seorang pria yang sedang jogging di taman mendekati Hyeong Seok dan menanyakan keadaannya yang terlihat aneh. Ia menyentuh bahu Hyeong Seok.


Tubuh Hyeong Seok langsung terjatuh.


Pria itu sangat terkejut sampai jatuh ke tanah. Ia mundur ketakutan, “Hei! Ada orang?! Siapa saja! Hei, ada orang mati!”


Sementara itu, nenek buru-buru membangunkan Hee Joo dan menyuruhnya memeriksa buku tabungannya untuk memastikan uangnya masih ada. Nenek bermimpi semua uangnya sudah ditarik. Hee Joo yakin uangnya masih ada.


“Bangun dan periksa saja. Dalam mimpi nenek, saldonya menjadi nol. Astaga, bagaimana jika kita tertipu,” kata nenek. Hee Joo bilang Jin Woo orang terkenal, jadi tidak bisa menipu. “Semua penipu meyakinkan! Jika tidak, mana bisa menipu.”


Hee Joo terkejut dan langsung bangun. Ia mengambil ponselnya dan memeriksa saldonya. Ia diam saja.


Nenek menangis karena merasa saldonya pasti tidak ada. Hee Joo tersenyum dan berkata, “Masih ada. 10 milyar wonnya masih ada.” Nenek sangat lega dan minta melihat saldonya. Ia sangat senang dan merasa itu hanya mimpi.


Nenek bilang Hee Joo sudah bekerja keras dan tahu hidupnya pasti berat. Ia memeluk cucu tertuanya itu. Hee Joo menangis terharu.


Hee Joo pergi ke dapur. “Kalian memasak ramen? Ada daging sirloin di kulkas. Makanlah gratis,” katanya pada dua tamu pria.


“Serius?” tanya mereka tidak percaya. Hee Joo bilang ia serius. Ia juga mengeluarkan beberapa camilan dari lemari dan bilang mereka juga boleh minum minuman yang ada di kulkas secara gratis. “Sungguh?” Hee Joo bilang perasaannya sedang baik hari ini. “Daebak! Terima kasih, Hee Joo.”


Dalam perjalanan mengantar Min Joo ke sekolah, Hee Joo menerima telepon dan mengatakan bahwa bulan depan ia tidak menerima tamu lagi, karena hostelnya sudah dijual dan akan tutup akhir bulan ini. Hee Joo bertanya apa Min Joo mau beli mobil baru dan menunjuk mobil yang ada di luar.


Min Joo bilang mobil itu mahal. Hee Joo bilang itu tidak seberapa, jadi mereka bisa membelinya. “Setuju,” kata Min Joo yang sedang sibuk mengedit profil di ponselnya.


“Aku akan pergi ke dealer saat See Joo pulang,” gumam Hee Joo senang. Ia lalu menyalakan music dengan volume cukup keras.


“Belajar yang rajin,” pesan Hee Joo saat Min Joo sampai di depan sekolah.


Hee Joo berjalan dengan bahagia sambil menyapa beberapa kenalannya.


Ia juga mampie ke toko bunga dan membeli beberapa jenis bunga. Pemilik toko bertanya apakah ini hari istimewa, karena Hee Joo membeli banyak bunga. “Tidak, aku hanya membelinya karena mereka sangat indah. Kini aku bisa sedikit boros,” kata Hee Joo.


Sambil membawa bunga, Hee Joo pergi ke Toko Gitar Bellido, tempatnya bekerja. Ia mengambil vas bunga dan mengisinya dengan air. Kemudian ia menata bunga-bunga itu ke dalam vas. 


Hee Joo lalu meletakkan bunga-bunga itu di beberapa tempat. Ia sungguh bahagia.


Hee Joo kemudian memetik sebuah gitar yang hampir jadi dan mengingat pesan Jin Woo agar dia terus bermain gitar klasik.


“Di mana dia pernah mendengarku bermain?” gumamnya heran.


Ia lalu mencari informasi tentang Jin Woo di internet. Ia kemudian mendengar suara pintu terbuka, “Oppa Sang Beom?” panggilnya tapi tidak ada jawaban. “Halo, selamat…”


Hee Joo terkejut karena yang datang adalah Jin Woo, orang yang seharusnya sudah kembali ke Korea. “Oh, kau tahu aku di sini?” tanya Hee Joo.
Comments


EmoticonEmoticon