12/22/2018

SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 6 PART 2

SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 6 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 6 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 6 Part 3

Dibawah kilatan petir, Hyeong Seok menatap Jin Woo dengan dingin. Jin Woo mengunci pintunya.


Hee Joo datang, tapi Jin Woo tidak menjawab panggilannya. Ia ingin membuka pintu mobil, tapi terkunci. Ia mengetuk jendelanya dan melihat Jin Woo menatap lurus ke depan.


Jin Woo mengangkat tangannya meminta Hee Joo menunggu. Hee Joo melihat ke arah pandangan Jin Woo, tapi tidak melihat apapun yang mencurigakan.


Waktu menunggu habis dan duel pun dibatalkan. Setelah memastikan Hyeong Seok menghilang, barulah Jin Woo membuka jendela dan mengambil lensa kontak yang dibawakan Hee Joo.


Jin Woo berterima kasih. Hee Joo mengingatkannya agar memakai jaket, tapi Jin Woo malah menutup jendelanya. Jin Woo memakai lensa kontaknya dan mengaktifkan game-nya.


Terlihat peta desa yang menunjukkan alun-alun, Kafe Alcazaba dan Toko Senjata. Ia bersiap pergi, tapi Hee Joo mengetuk jendelanya lagi. Ia membuka jendelanya. Hee Joo bertanya kemana Jin Woo akan pergi dan dia akan mengantarnya.


“Aku baik-baik saja,” kata Jin Woo lalu menutup jendelanya lagi. Hee Joo menahan jendelanya dan menyuruhnya keluar karena dia yang akan menyetir dan Jin Woo tidak tahu jalan. “Aku tahu. Selamat malam.”


“Bagaimana aku bisa tidur?! Kau bercanda?! Kau jelas mengusikku. AKu tidak bisa tidur jika begini. Aku akan cemas. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku? Harus kukatakan, aku kasihan pada Pak Seo. Pekerjaannya yang paling sulit. Kuharap dia dibayar dengan pantas. Bekerja dengan bos sepertimu akan membuatnya gila! Kau bilang akan menyetir padahal kakimu patah! Aku tidak bisa tidur karena mengetahuinya!” oceh Hee Joo.


Hee Joo khawatir efek obat bius masih terasa dan membuat Jin Woo kecelakaan nantinya. Ia bertanya apa Jin Woo sadar akan hal itu. “Tidak. Sudah kubilang aku gila. Kau juga sakit, kan? Kau hanya bisa mengoceh saat marah. Kau bisa jadi rapper,” kata Jin Woo santai.


Hee Joo bilang ia sangat serius sekarang. “Dan juga, aku ingin batalkan kontrak penjualan propertinya. Aku tidak butuh uang itu, jadi ambil saja. Kenapa tiba-tiba muncul dalam hidupk dan membuatku kacau?” kata Hee Joo.


Hee Joo bilang uang 10 milyar dari Jin Woo hanya memberikannya kesenangan dalam satu hari. “Tapi sekarang kau jatuh terluka di hostelku. Bagaimana kalau kau menyetir lalu mati karena kecelakaan? AKu tidak bisa hidup jika begitu. Kenapa kau menyiksaku seperti ini?!” kata Hee Joo.


Hee Joo bilang ia baik-baik saja tanpa uang dan keluarganya bisa hidup nyaman hanya dengan sepersepuluh uang yang dibayarkan Jin Woo.”Jadi kumohon batalkan perjanjian dan keluarkan beban ini dari dadaku,” pinta Hee Joo.


Jin Woo bilang itu urusan perusahaan, jadi ia tidak bisa melakukan apa-apa. “Kalau begitu buka pintunya!” kata Hee Joo. Jin Woo lalu membuka kunci mobilnya.


“Aku akan senang jika kau ikut. Aku taku pergi sendiri,” kata Jin Woo. Hee Joo bilang ia yang akan menyetir. “Duduk saja di kursi penumpang. Itu lebih dari cukup.”


Dalam perjalanan, Hee Joo bertanya kemana mereka akan pergi. Jin Woo bilang ia tahu jalannya. “Caranya? Kau tidak punya GPS,” kata Hee Joo. Jin Woo tidak menjawab.


Informasi menunjukkan jaraknya 1,8 km lagi menuju tempat tujuan. Tidak lama kemudian, Jin Woo menghentikan mobilnya. “Di sini?” tanya Hee Joo. Jin Woo tidak menjawab dan langsung turun dari mobil.


Jin Woo membuka pintu salah satu toko, tapi Hee Joo bilang sudah tutup sejak pukul 7 malam. Ia bertanya apa Hee Joo mengenal pemiliknya. “Ya. Semua saling kenal di sini,” kata Hee Joo. Jin Woo bertanya apakah Hee Joo bisa menghubungi pemiliknya. “Mau beli barang antik?”


Pemilik toko tidak menjawab telepon Hee Joo. Hee Joo menduga itu karena pemilik toko sedang di bar dan tidak mendengar dering ponselnya. Jin Woo tidak bisa menunggu, jadi ia memecahkan kaca pintunya.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya Hee Joo terkejut.Jin Woo membuka kuncinya dari dalam. “Ini bisa dianggap membobol.” Jin Woo meminta Hee Joo menjelaskan kepada pemilik karena tidak ada waktu. Ia lalu masuk ke dalam toko.


Toko yang gelap mendadak terang dan seorang karakter muncul. “Hei, kau dikejar seseorang bukan?” tanya seorang karakter dalam Bahasa Spanyol. Jin Woo mendekat.


“Selamat datang ke Armas, toko senjata terbaik di Granada. Kurasa aku bisa memberikan yang kau butuhkan. Kau mau membeli senjata?” ucap karakter itu lalu menggerakkan tangannya.


Seketika ruangan itu berubah menampilkan aneka jenis senjata untuk game. Jin Woo mendekat untuk melihat-lihat senjata itu.


Tombak Troubadour yang pertama Jin Woo sentuh tidak bisa dimiliki, karena level Jin Woo terlalu rendah, jadi Jin Woo harus naik level dulu atau menyelesaikan misi untuk mendapatkan koin emas. Ia mencoba tombak pahlawan, tapi sama saja. “Hei, tahu dirilah. Kau harus pilih yang lebih murah,” kata karakter penjaga toko.


“Sialan,” umpat Jin Woo tersinggung.


Hee Joo akhirnya berhasil menghubungi pemilik toko barang antik. Ia bilang salah satu tamu hostelnya tidak sengaja merusak pintu tokonya.


Jin Woo berhasil membeli belati angin. Penjaga toko bilang itu pilihan yang bagus dan akan berguna untuk pemula seperti Jin Woo. Jin Woo mencari senjata lainnya. Ia tidak mampu membeli busur pemanah.


Jin Woo kemudian berhasil membeli bintang ninja peri dengan 10 koin emas. Ia dipersilakan untuk berlatih dengan melempar bintang ninja ke arah target.


Target tiba-tiba muncul. Jin Woo melakukan lemparan pertama dan gagal. Penjaga toko menggeleng-gelengkan kepalanya. Lemparan kedua dan ketiga masih gagal.


“Baiklah. Aku akan menunggu di sini,” kata Hee Joo dan menutup ponselnya. Ia lalu masuk ke dalam toko. Di dalam, ia melihat Jin Woo sedang melakukan gerakan melempar, tapi tidak bisa melhat apa yang dilemparnya ataupun papan targetnya.


“Direktur, apa yang kau lakukan?” tanya Hee Joo. Jin Woo bilang ia sedang latihan. “Latihan apa?” Jin Woo bilang ia melempar bintang ninja, tapi ia belum mahir. Hee Joo semakin cemas dan keluar untuk menggunakan ponselnya lagi.


“Pak Seo, ini aku,” kata Hee Joo.


Jin Woo sangat senang, ketika lemparan bintang ninjanya tepat sasaran. Papan target menghilang dan tiba-tiba suasana berubah. Petir terdengar lagi.


Jin Woo melihat ke arah pintu masuk dan Hyeong Seok sudah berdiri di sana. Mode latihan selesai dan berubah menjadi duel. Hyeong Seok masuk menembus pintu kaca yang sudah pecah.  


Lemparan bintang nina berhasil mengenai lengan Hyeong Seok dan mengurangi 5 poin. Lemparan kedua berhasil mengenainya lagi dan mengurangi 30 poin. Ia ingin melempar lagi, tapi bintang ninjanya habis dan senjata beralih ke pedang pembunuh.


Jin Woo melangkah mundur. Ia melihat sebuah pintu.


Hee Joo bilang Jung Hoon harus segera datang dan akan mengirimkan lokasinya. “Hee Joo!” panggil pemilik toko barang antic. Hee Joo lega melihatnya datang. “Ada apa?”


Duel ditunda karena Jin Woo menggunakan pintu ruangan tadi sebagai rintangan. Setelah siap, ia membuka pintu dan menggantinya pedangnya dengan belati angin. Hyeong Seok perlahan masuk ke ruangan itu.


Jin Woo berhasil menusukkan belatinya ke punggung Hyeong Seok. Hyeong Seok mengalami serangan kritis dengan pengurangan 140 poin, tapi ia kemudian berdiri lagi.


Hyeong Seok menatap Jin Woo dan bersiap menyerang. Jin Woo menusukkan pedangnya ke perut Hyeong Seok yang akhirnya mati. Jin Woo berhasil naik ke level 5. Ia melihat darah bercucuran dari tubuh Hyeong Seok.


“Aku membunuh… Cha Hyeong Seok lagi. Ini pembunuhan kedua,” batin Jin Woo.

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 6 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Memories of the Alhambra Episode 6 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon