12/11/2018

SINOPSIS My Strange Hero Episode 1 PART 3

SINOPSIS My Strange Hero Episode 1 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 1 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 2 Part 1

“Paman…! Nenek memanggilmu dan menyuruhmu makan…” panggil suara anak kecil pada Bok Soo.


Anak itu masuk dan memperhatikan Bok Soo. Ia buru-buru keluar lagi sambil berteriak, “Nenek! Ibu! Paman terlihat aneh. Dia belajar!”


Bok Soo mengingat umpatan Soo Jeong dan mereka sangat dekat tadi. Ia menepuk-nepuk dadanya karena merasa ada yang aneh.


“Ya, benar. Keluarga kami punya bawaan aritmia (detak jantung tidak normal).” Bok Soo mencoba menenangkan dirinya. Ibu masuk dengan tergesa-gesa dan bertanya apa Bok Soo sakit.


“Kenapa kau bertingkah tidak seperti biasa?” tanya ibu yang juga heran karena melihat anaknya sedang belajar.


“Hei, Bok Soo datang,” bisik seorang siswi. Bok Soo masuk kelas sambil tersenyum dan perhatiannya tertuju pada Soo Jeong yang sedang belajar. Senyumnya menghilang.


Bok Soo melemparkan buku soal Sastra Koreanya ke meja Soo Jeong. “Ini. Kau senang sekarang?” tanyanya.


Soo Jeong menoleh dan Bok Soo sepertinya terpesona padanya. Bok Soo menghela napasnya dan kembali ke kursinya.


Gyeong Heon bertanya apa yang Soo Jeong katakana sampai Bok Soo bernapas berat seperti itu. Bok Soo bilang Soo Jeong tidak mengatakan apa-apa. “Dia menekan hanya dengan menggunakan matanya? Dia luar biasa. Dia bahkan terlihat lebih cantik dari belakang. Seharusnya aku menjadi rengking terakhir. Kenapa aku sangat pintar?” kata Gyeong Heon.


“Dia… ah, lupakan saja. Dengar.. dia bermuka dua. Dia sangat pandai mengumpat,” kata Bok Soo. Gyeong Heon tertawa tidak percaya.


Di atap, Soo Jeong memeriksa hasil pekerjaan Bok Soo. “Langit bersikap adil. Mereka memberi Bok Soo wajah yang tampan, tapi tidak memberinya otak yang bagus,” katanya sinis.


Ia heran Bok Soo membaca quotes tentang semangat belajar, padahal Bok Soo tidak pernah belajar. Ia kemudian mendengar suara dari bawah.


Seorang siswa di-bully karena tidak membelikan makanan untuk yang lainnya. Wajah siswa itu terus ditampar, hingga akhirnya ia berusaha melawan. Tapi ia malah dikeroyok oleh 3 siswa lainnya.


Bok Soo pergi untuk membuang sampah dan merasa kesal, karena ada yang salah memasukkan sampah plastik ke tempat sampah umum. Ia mendengar suara orang yang merintih kesakitan. “Apa kalian tidak tahu cara mendaur ulang sampah?!” kata Bok Soo.


Bok Soo melemparkan sampah berisi potongan kertas itu ke arah mereka dan berlari mendekat. Ia langsung menghajar mereka satu per satu.


Bok Soo menendang sambil melompat sampai kakinya terkilir. Ia mencoba menahan rasa sakitnya.


Soo Jeong melihat kejadian itu dari atap.


Ketiga siswa yang berhasil dikalahkan tadi langsung berlutut tanpa disuruh. Sambil menahan sakit, Bok Soo berkata bahwa ia sebenarnya tidak menyukai tindak kekerasan. “Abraham Lincoln mengatakan ini… Kalian tahu siapa dia, bukan? Dia orang Indian.”


Ketiga siswa merasa ucapan Bok Soo salah, tapi mereka tidak protes. “Orang lemah tidak bisa memaafkan orang lain. Aku memaafkan kalian, kalian boleh pergi,” lanjut Bok Soo. Mereka bertiga langsung pergi.


“Aah… ah…” Bok Soo mengangkat kakinya yang terkilir tadi.


Guru Park datang bersama siswa yang dibully tadi. Ia memukuli Bok Soo dan mengingatkan bahwa Bok Soo tidak boleh berkelahi. “Bok Soo, maafkan aku. Kau baik-baik saja?” tanya siswa bernama Ma Young Joon itu.


Bok Soo bilang ia baik-baik saja dan bilang ia tidak berkelahi dengan siapapun. “Dan kenapa Anda selalu muncul setelah perkelahiannya selesai?! Anda seharusnya datang lebih awal,” protes Bok Soo pada Guru Park. Guru Park bertanya apa kaki Bok Soo terluka.


“Siapa? Aku? Pak Guru… Aku Kang Bok Soo,” kata Bok Soo bangga. Young Joon tersenyum senang, tapi Guru Park malah memukuli Bok Soo lagi dan membawanya pergi.


“Ah.. dia sangat buruk dalam meyakinkan orang. Dia hanya tahu berkelahi saja,” kata Soo Jeong yang maish memperhatikan Bok Soo dari atap.


Saat pelajaran olahraga, guru mengatakan bahwa mereka akan balapan tiga kaki dan siswa akan berrpasangan dengan rekan belajarnya. Bok Soo dan Soo Jeong sama sekali tidak menyukainya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Soo Jeong yang tahu kalau kaki Bok Soo terkilir. Bok Soo bertanya apa maksudnya. “Bukan apa-apa. Kaki mana yang mau diikat?” Bok Soo bilang kaki mana saja tidak masalah dan menyodorkan kaki kirinya.


Bok Soo berteriak karena Soo Jeong mengikat kakinya dengan sangat kencang. “Sebaiknya kau melakukan ini dengan benar. Aku akan membunuhmu jika kau membuatku kehilangan poin,” ancam Soo Jeong. Bok Soo menyebutnya bermuka dua. “Diamlah.”


Pertandingan dimulai. Bok Soo melangkah dengan merintih kesakitan. Hingga akhirnya ia terjatuh dan membawa Soo Jeong ikut serta.


Min Ji, Gyeong Heon, dan semua siswa lain terkejut melihatnya. “Astaga, kakiku,” erang Bok Soo. Soo Jeong bangkit dan melepaskan ikatan di kaki mereka.


Guru tidak jadi meniup peluitnya untuk menghentikan pertandingan.


Soo Jeong menggendong Bok Soo di punggungnya dan mulai berlari. Gyeong Heon menyebut Bok Soo lemah. “Beraninya… beraninya dia menggendong Bok Soo?” kata Min Ji.


“Astaga… astaga…” batin Bok Soo yang merasa pandangannya tidak menentu.


Setelah sampai di garis finish, Soo Jeong langsung menjatuhkan Bok Soo ke tanah. Guru menghampiri mereka dan menanyakan keadaan Soo Jeong. “Apa kami juara pertama?” tanya Soo Jeong sambil terengah. Guru mengiyakan, karena peserta lain tidak melanjutkan pertandingan karena sudah kebruu takjub dengan tingkah Soo Jeong.


“Bok Soo… kau baik-baik saja?” tanya Pak Guru.


Soo Jeong menggendong Bok Soo lagi dan membawanya ke klinik. Bok Soo yang dilemparkan ke kasur bangun dan mengomel, “Apa kau sudah gila?! Apa… apa yang kau lakukan padaku?”


Soo Jeong bilang ia memberikan Bok Soo juara pertama, suatu hal yang tidak pernah Bok Soo raih sebelumnya. “Astaga! Bukan itu yang penting sekarang! Astaga, ini sangat memalukan! Hei, kau… kau baru saja membuatku benar-benar terlihat bodoh!” kata Bok Soo.


“Kau memang bodoh,” kata Soo Jeong lalu menepuk-nepuk bahu Bok Soo. Bok Soo mengira Soo Jeong akan memukulnya dengan keras. Bok Soo memanggilnya dengan sebutan ‘muka dua’, tapi kakinya kesakitan lagi sehingga tidak bisa mengejar Soo Jeong.


“Dan dengarkan aku, bodoh. Orang India yang kau bicarakan bukan Abraham Lincoln. Itu Gandhi,” kata Soo Jeong.


Bok Soo ingat ia mengucapkan itu saat berkelahi sebelumnya. “Itu.. terserahlah. Yang penting mereka berdua orang asing,” kata Bok Soo membela diri.


“Aku tidak tahu kau sungguh-sungguh penasehat anti kekerasan atau bukan, tapi kau terlihat mengesankan saat itu,” kata Soo Jeong.


Bok Soo terpana.


Tidak lama kemudian, Min Ji dan Gyeong Heon datang dengan khawatir. “Hei, Bok Soo. Bagaimana inii.. kepalanya pasti terluka,” kata Min Ji saat melihat Bok Soo duduk terdiam. “Gendong dia.” Gyeong Heon bilang ia akan membawa Bok Soo ke rumah sakit.


Bok Soo menggeleng. Gyeong Heon bertanya apakah tulangnya ada yang patah. “Hatiku… patah,” kata Bok Soo.


Dengan kaki terpincang, Bok Soo berjalan mendekati jendela.


Ia melihat Soo Jeon yang sedang bermain tangkap bola di lapangan.


Bok Soo semakin terpesona.


Bok Soo menunggu Soo Jeong pulang sekolah dan memanggilnya. Soo Jeong bilang kaki Bok Soo suda membaik. “Oh ya, ini karena cinta…” Bok Soo memukul mulutnya sendiri. “Ketua kelas. Maksudku.. Son Soo Jeong… ayo.. berkencan.”


“Aku tidak berkencan dengan orang bodoh,” kata Soo Jeong sambil tertawa dan pergi. Bok Soo bilang ia akan belajar dengan keras dan tidak akan mengecewakan Soo Jeong. “Aku tidak bisa kecewa, karena aku tidak berharap apa-apa terhadap nilaimu.”


“Kalau begitu… cobalah dapat nilai yang lebih baik untuk Sastra Korea. Aku akan mempertimbangkannya, Kang Bok Soo,” kata Soo Jeong.


Bok Soo tersenyum gembira.


Malam harinya, Bok Soo mulai belajar. Ia bahkan menonton video pembelajaran.


Ia bahkan berjalan sambil membaca, dan tidak mempedulikan sapaan Min Ji dan Gyeong Heon.


Saat istirahat di kelas pun dia terus belajar.


Tapi usahanya belum berhasil., karena Soo Jeong menyalahkan semua jawaban Bok Soo.


Bok Soo pura-pura tidak melihat, karena merasa malu.


Lembar berikutnya pun jawbannya salah semua. Soo Jeong putus asa.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 1 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 2 Part 1

1 komentar

  1. aku baca sinopsisnya ajah ngakak.. makasih udah bikin sinopsis ini😘😘

    BalasHapus


EmoticonEmoticon