12/01/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 15 PART 2

SINOPSIS A Poem A Day Episode 15 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: OPPA SINOPSIS

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 15 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 15 Part 3

Setelah keluar dari ruangan Myung Cheol, Bo Young terdiam sedih. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak sampai menangis.


Yoon Joo kembali menemui Myung Cheol dan mengatakan bahwa ia merasa sangat berhasil dan tidak mau menggantikan posisi Bo Young. Ia menyarankan agar Shi Won saja penggantinya. Ia yakin Shi Won akan menerimanya dengan gembira.


Myung Cheol bilang Shi Won tidak punya waktu untuk melakukannya sekarang, apalagi dia sedang cuti. Yoon Joo bertanya apa alasannya. “Kau tahu istrinya dipecat, bukan? Kelihatannya istrinya sekarang di rumah, jadi dia pergi mengantarkan ibunya pulang ke desa karena tidak perlu membantu mengurus si kembar lagi,” kata Myung Cheol.


Yoon Joo heran kenapa ibu Shi Won tidak tinggal bersama saja. Myung Cheol bilang Shi Won merasa bersalah karena tidak bisa memberikan uang bulanan pada ibunya lagi dan istrinya tidak mau ibu mertuanya tetap di sana karena tidak rukun. Yoon Joo merasa prihatin.


Dalam perjalanan ke desa, Shi Won meminta maaf karena sebelumnya ia meminta ibunya menjaga si kembar sampai SD. Ia tahu ibunya pasti sedih.


Ibunya bilang ia bersedia menjaga si kembar karena mereka adalah cucunya. Ia bilang ia merasa lega karena mengurus mereka cukup berat.


Shi Won bertanya apa yang akan ibu lakukan di desa karena ladangnya sudah dijual dan dia juga tidak bisa mengirimkan uang bulanan lagi. “Aigoo, jangan khawatir. Ibu bisa mendatangi bibimu dan membantunya,” jawab ibu.


Ibu bilang selama di Seoul ia tidak menghabiskan banyak uang, jadi masih bisa menghidupi dirinya sendiri. Ibu bilang rumahnya tidak dijual, jadi masih punya tempat untuk tidur. “Jangan mengkhawatirkan ibu,” lanjutnya.


Shi Won menghela napas dan ibu memperhatikannya. Mereka berdua sama-sama bersedih, tapi tidak mau saling memberitahu.


Setelah mengantar pasien keluar, Yoon Joo bertanya siapa yang sedang diterapi oleh Jae Wook yang datang dengan sekretaris. Myung Cheol melihat ke arah yang Yoon Joo maksud.


“Kau tidak mengenalnya? Itu anggota dewan Han Sung Chul,” kata Myung Cheol. Yoon Joo takjub, karena Dewan Han sering muncul di berita. “Benar. Sebelum menjadi anggota dewan, dia adalah seorang atlet.” Yoon Joo menyebut Jae Wook mengagumkan karena mendapat pasien penting.


Bo Young yang juga sedang memperhatikan Jae Wook bicara pada dirinya sendiri. Ia sedih karena kekasihnya sangat kompeten, tapi ia sendiri kehilangan kesempatan besar karena berstatus pegawai kontrak.


Bo Young bingung harus melakukan apa. Tapi senyumnya langsung mengembang saat Jae Wook melihat ke arahnya dan tersenyum.


Dae Bang datang ke kamar rawat dan menegur pasien yang belum memakan makan siangnya. Ia khawatir pasien akan pingsan. Pasien bilang ia tidak selera makan. Dae Bang biilang pasien perlu makan untuk memulihkan energi


“Bagaimanapun besok harus makan, janji?” bujuk Dae Bang sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Pasien itu mengangguk lemah. “Karena sudah berjanji, kita akan melakukan pemeriksaan.”


Dengan hati-hati, Daebang membantu pasien bergerak agar Joo Young bisa meletakkan alat pemeriksaannya dengan baik. Setelah selesai, Dae Bang kembali mengingatkan pasien itu agar makan.


Dae Bang bilang ia mengkhawatirkan pasien itu karena terus tidak mau makan, sehingga berat badannya menurun drastis. Joo Yong bilang berat badannya juga menurun.”Benar. joo Yong, Joo Yong, kau jadi sangat kurus. Apa ada yang membebanimu, Joo Yong, Joo Yong?” kata Dae Bang.


Joo Yong bilang ia belajar sangat keras untuk program pasca sarjana, sehingga tidak sempat makan. Dae Bang bilang selama belajar, orang tetap butuh makan. Ia bilang ia mentraktirnya makan samgyeopsal. “Atakaukah samgyetang? Samgyetang saja. Samgyeopsal? Samgyetang?” kata Dae Bang.


Joo Yong bilang ia malas makan dan hanya ingin makan masakan ibunya. Ia lalu baru ingat kalau ibunya belum mengirimkan beberapa waktu belakangan, padahal biasanya selalu mengirim setiap pekan.


“Oh, Bu. Aku mau capjae, kedelai rebus, dan ddakgalbi buatan ibu. Bisa tidak ibu mengirimiku hari ini?” tanya Joo Yong saat menelepon ibunya. Ibu minta maaf karena ibu akan pergi ke taman bunga bersama teman-temannya, jadi tidak bisa mengirim.


Joo Yong: “Kalau begitu besok, ya?”
Ibu: “Besok ibu juga ada acara, jadi tidak bisa.”
Joo Yong: “Kalau lusa? Ada janji? Apa ini? Aku belajar keras untuk program pasca sarjana, sedangkan ibu tidak bisa membuatkanku lauk karena sibuk bersenang-senang? Sudahlah. Kututup.”


Bo Young memberitahu Jae Wook bahwa ia tidak bisa ikut program TV itu karena merasa terbebani. Jae Wook bilang ia akan berada tepat di samping Bo Young, jadi Bo Young tidak perlu merasa terbebani.


Jae Wook merasa heran karena sebelumnya Bo Young tampak sangat antusias untuk tampil di TV. Bo Young bilang awalnya begitu, tapi kemudian ia merasa sesak. Ia meminta maaf dan meminta Jae Wook mengerti keputusannya. Jae Wook setuju.


“Terima kasih,” kata Bo Young sambil tersenyum. Jae Wook lalu menyuruhnya makan. “Ya.”


Shi Won sudah sampai di desa dan menyuruh ibunya masuk, tapi ibu bilang ingin melihat Shi Won pergi. Ibu membukakan pintu mobilnya untuknya dan melambaikan tangannya.


“Astaga,” kata Shi Won sambil melihat ibunya dari spion. “Aku harap ibu segera masuk.”Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke mini market untuk membeli minuman.


“Apa ini?” gumam Shi Won saat melihat ada barang di kursi belakang mobil. “Oh tidak, Ibu...”


Shi Won kembali ke rumah ibunya. Ia melihat ibunya sedang menonton video si kembar di ponsel. “Aigoo, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa melupakan mereka,” kata ibu pada diri sendiri sambil menangis.


Shi Won memperhatikan ibunya dengan sedih.


“Untuk murid yang datang setiap pagi dan bernyanyi sebelum kau pergi.”


“Setelah aku pergi, kembalilah dan hibur orang tuaku.”


“Siapa yang akan menjaga orang tuaku yang telah uzu setelah aku pergi?”


“Mengapa perjalananku menuju Seoul begitu panjang?”


“Kim Min Ki – Perjalanan ke Seoul”


Bo Young mendapat telepon dari Departemen Urusan Internal Rumah Sakit Shinsun yang mengingatkannya bahwa kontraknya akan berakhir dalam dua bulan dan dalam kurun waktu tersebut harus meninggalkan asrama. “Ya, aku mengerti,” kata Bo Young lalu menutup ponselnya.


Jae Wook yang baru saja membeli minuman, sepertinya menyadari kegundahan Bo Young. Ia mengingat kembali saat Bo Young berjanji akan bekerja keras untuk program TV-nya, tapi kemudian membatalkannya.


Jae Wook bertanya apa terjadi sesuatu. “Tidak ada. Kopinya enak sekali,” kata Bo Young. Jae Wook tersenyum dan tidak membahasnya lagi.


Min Ho pergi ke atap asrama dan menatap matahari yang akan tenggelam. Ia mengingat saat Bo Young marah padanya saat kerja lapangan.


“Aku pasti salah menganggapmu teman untuk sesaat, karena kita tidak pernah akan cocok! Semestinya saat kau muncul lagi di depanku, aku pura-pura tidak mengenalmu! Tahu kau,bajingan?” kata Bo Young saat itu.


Min Ho menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia sudah mempunyai solusi untuk masalahnya.
Comments


EmoticonEmoticon