12/23/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 8 PART 4

SINOPSIS Witch's Love Episode 8 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 8 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 8 Part 5

Tidak lama kemudian, dua mangkok sup nasi tersedia di meja.


Kedua pria itu mulai makan dengan sesekali saling melihat dengan sinis.


Aeng Doo menyebut Je Wook sangat romantis, karena membuat komik Penyihir Sup Nasik arena setiap hari merindukan Cho Hong. Ia tidak percaya bisa menemukan pria tulus seperti itu.


“Hati yang tulus apanya? Bukankah itu komik anak-anak?” kata Sung Tae. Je Wook bilang itu adalah komik komedi romantis. “Kurasa itu komik menjijikan yang tidak popular!” Aeng Doo tidak terima dengan perkataan Sung Tae.


Nenek: “Ini menggambarkan dunia kami yang sebenarnya melalui karya seni ini. Manusia-manusia itu tidak tahu karya seni dan…”
Aeng Doo: “Hyungnim.”


“Maksudku… imajinasi Penulis Hwang sangat luar biasa,” kata nenek meralat ucapannya tadi. Je Wook tersenyum. “Semuanya hanya imajinasimu kan, Penulis Hwang?” Je Wook bilang itu memang imajinasinya sebagai penulis. “Tentu saja.”


“Selain itu, Cho Hong memang penyihir,” kata Je Wook dan membuat semua orang terkejut. Sung Tae bertanya omong kosong macam apa itu. “Menggemaskan, cantik, dan baik.” Nenek terlihat agak lega. “Misterius dan ada sesuatu tentang dirinya yang menarik orang lain.”


Cho Hong menyuruhnya makan dan jangan bicara terus. Je Wook tersenyum. Aeng Doo bertanya kenapa Cho Hong bersikap seperti itu. Ia bilang ia menyukai tangan dan kaki penulis yang terasa kasar.


“Itu karena dia pemalu. Aku menyatakan perasaanku kalau aku menyukainya,” kata Je Wook polos. Semua orang terkejut.


Sung Tae marah dan meletakkan sendoknya dengan kasar. Je Wook menyadari itu. Aeng Doo bertanya apa jawaban Cho Hong. Sung Tae juga menunggu jawaban Cho Hong. “Apa lagi? Aku memintanya untuk memikirkannya, karena aku takut dia akan langsung menolakku. Luangkan waktumu dan pikirkanlah,” kata Je Wook.


Cho Hong bilang ia akan menjawabnya sekarang. Semua orang menunggu. “Terima kasih, tapi aku akan menolak,” kata Cho Hong. Sung Tae agak lega mendengarnya. “Aku tidak akan berkencan seumur hidupku. Pria hanya membuat sakit hati dan lelah.” Itu berarti Cho Hong juga menolak Sung Tae.


Cho Hong bilang para pria bersikap lembut di depan tapi mencari tahu di belakang. “Palsu. Bermuka dua. Bajingan,” ujarnya. Ia heran kenapa semua manusia seperti itu. Ia lalu meninggalkan meja makan.


Nenek sangat senang mendengarnya, tapi Aeng Doo merasa curiga dan memperhatikan Sung Tae.


Je Wook juga memperhatikan Sung Tae, tapi ia menjauhkan semua dugaan dari pikirannya.


Sambil bersiap tidur, Aeng Doo membahas persaingan Sung Tae dan Je Wook tadi. Aeng Doo bilang kekuatan Cho Hong yang sudah kembali membuatnya mempesona. “Direktur Ma tampan, tapi hari ini aku melihat Pemuda Sup bukanlah orang mudah menyerah,” kata Aeng Doo. Nenek tidak membantah.


Direktur Ma seperti Brad Piit. Pemuda Sup itu seperti George Clooney? Hyungnim, kau suka Brad atau George? Aku suka Brad,” kata Aeng Doo.


“George atau Brad, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Delon Oppa-ku,” kata nenek. Aeng Doo bertanya oppa siapa yang dimaksud. “Alain Delon Oppa. Maksudku, Alain Delon. Alis mata dan hidungnya.”


Aeng Doo bilang itu hanya kakek kurus seperti anyaman yang bau. Nenek marah dan memukulinya dengan bantal. “Apa wanita tua ini sudah pikun sekarang?” kata Aeng Doo yang membuat nenek semakin kesal. Mereka berkelahi.


Sementara itu, Sung Tae sudah menyiapkan kopernya untuk berangkat ke Cina. Ia mengirim pesan pada Cho Hong agar datang ke kemarnya, tapi tidak ada balasan. Ia bertanya apa ia saja yang pergi ke kamar Cho Hong. Tetap tidak ada balasan.


Sung Tae memberitahu bahwa ia harus bernagkat ke Cina besok pagi, jadi ia ingin bertemu sebentar dan bicara secara langsung. Ia bertanya apakah ucapan Cho Hong yang tidak mau berkencan seumur hidup adalah karena sedang marah.


Sung Tae membuka pintu dan melihat Cho Hong sudah ada di sana. “Keluar. Ada yang perlu kukatakan,” kata Cho Hong dan langsung pergi.


Di taman, Cho Hong mempersilakan Sung Tae untuk menjelaskan, tapi tidak boleh berbohong. “Saat kecil, aku pernah diculik. Aku pulang tiga hari kemudian dan penjahatnya tidak tertangkap. Ahjusshi yang menjagaku tertabrak mobil dan koma selama 25 tahun. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padaku selama tiga hari itu,” kata Sung Tae dengan jujur.


“Malam itu sedang hujan. Pisau itu menusuk jantungku,” cerita Sung Tae.


“Seseorang yang mengenakan jas hujan.”


“Dan juga gedung beratap runcing.”


“Hanya itu yang bisa kuingat. Dan kupikir restoran sup nasi-mu adalah gedung itu,” kata Sung Tae. Cho Hong bilang itu mustahil. “Jadi itulah sebabnya aku membeli gedung itu dan aku memang melakukan penyelidikan.”


Cho Hong: “Itu mustahil.”
Sung Tae: “Mustahil? Orang-orang menyangkal ingatanku dengan mudah.”
Cho Hong: “Lalu, apa yang kau cari di rak?”


Sung Tae menduga kalau itu adalah bola baseball yang dibawanya saat diculik dulu. Cho Hong bertanya apa Sung Tae masih berpikir bahwa restoran sup nasi ada hubungan dengan kecelakaannya. Sung Tae menghela napas. “Apa kau mencurigai kami?” tanya Cho Hong. Sung Tae bilang ia tidak tahu,


Cho Hong mengingat perkataan Hwa Ja bahwa Cho Hong tidak bisa menjalani hidupnya dengan menyembunyikan identitasnya sebagai penyihir, karena banyak godaan di dunia yang akan membuat pria itu goyah. Dan jika itu terjadi, maka kekuatan Cho Hong akan menghilang lagi dan hal buruk akan terjadi.


Cho Hong menatap Sung Tae. “Aku berharap kau tidak menatapku seperti itu. Wajah kecewa dan tidak percaya,” kata Sung Tae. Cho Hong bilang Sung Tae tidak memiliki rasa sopan atau hormat dan hanya percaya dengan data, laporan dan dokumen.


“Kau tidak pernah menunjukkan sisi lemah, rapuh atau kelemahanmu kepada orang lain. Bersembunyi dalam kesepian dan gemetar ketakutan. Jadi kau menjalani hidupmu seperti itu? Kau bahkan tidak bisa memeluk orang lain,” kata Cho Hong. Sung Tae tidak mengatakan apa-apa.


Cho Hong mendekat dan memeluk Sung Tae.


“Kupikir aku sangat menyukaimu. Aku kecewa dan tidak bisa mempercayaimu. Tapi hatiku yang sakit harus didahulukan,” kata Cho Hong.


Sung Tae membalas pelukan Cho Hong.


Cho Hong menangis. Ia melepaskan pelukannya dan menyebut dirinya gila karena tidak seharusnya dia seperti itu.


Sung Tae menatap Cho Hong dalam-dalam, lalu menciumnya.

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 8 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 8 Part 5

Comments


EmoticonEmoticon