12/29/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 9 PART 1

SINOPSIS Witch's Love Episode 9 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: OPPA SINOPSIS
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 8 Part 5
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 9 Part 2

Ketiga penyihir berkonsentrasi membuat kaldu sup dengan kekuatan mereka.


Tanpa mereka ketahui, Sung Tae bisa membuka pintu samping yang sudah diberi mantra. Sung Tae masuk ke dalam rumah.


Konsentrasi para penyihir buyar ketika mendengar suara selot pintu.


Sung Tae yang tadinya akan langsung naik ke lantai atas berhenti karena melihat cahaya dari dapur. Ia pergi untuk mengeceknya.


Nenek memasukkan cahaya itu ke dalam panci lalu menutupnya. Mereka lalu saling menjauh dan bersikap biasa saja. Cho Hong lebih dulu melihat kedatangan Sung Tae dan mencegatnya.


“Kau sudah gila? Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Cepat keluar,” kata Cho Hong. Sung Tae bilang ia mendengar suara dan melihat cahaya aneh. Ia melongok masuk dan bertanya apa yang terjadi. “Entahlah. Keluar, kataku.”


Nenek dan Aeng Doo bersikap waspada dan melihat Cho Hong mendorong Sung Tae menjauhi dapur.


Di kamar Sung Tae, Cho Hong bertanya kenapa Sung Tae datang tanpa menelepon lebih dulu. “Ini rumahku. Aku datang ke rumahku sendiri tapi harus menelepon dulu?” protes Sung Tae. Cho Hong bilang Sung Tae harus menghormati privasi penyewa, khususnya dapur dan gudang.


Sung Tae malah semakin penasaran tentang apa yang mereka lakukan karena Cho Hong terdengar sangat marah. “Apa ada rahasia yang tidak boleh kuketahui?” tanyanya. Cho Hong bilang mereka hanya memasak di dapur. “Jangan perlakukan aku seperti orang bodoh. AKu yakin melihat cahaya dan mendengar suara aneh.”


Cho Hong bilang Sung Tae hanya salah lihat dan dengar. Ia bilang restorannya bukan restoran sup nasi biasa, melainkan restoran yang sudah mempertahankan tradisi selama 50 tahun dan diakui oleh para ahli makanan di Korea sebagai salah satu yang terbaik.


Ia juga bilang bahwa banyak orang yang mencoba mencari tahu rahasia mereka, bahkan memasang kamera tersembunyi. “Restoran ini mungkin terlihat kumuh bagimu, tapi resep rahasia lebih berharga daripada nyawa kami. Dan keamanan kami lebih penting dari apapun. Dan kau mencoba menerobos hari ini!” kata Cho Hong.


Sung Tae tersinggung karena ia disamakan dengan orang lain. Cho Hong bilang kalau saja Sung Tae mengabarkan kepulangannya, maka tidak akan ada masalah. “Pekerjaanku selesai lebih awal hari ini. Aku merindukanmu dan ingin memberikanmu kejutan. Jadi meskipun aku lelah, aku membeli tiket untuk penerbangan malam dan pulang lebih awal. Aku tidak tahu kalau itu tindakan yang tidak pantas,” kata Sung Tae.


Cho Hong meminta maaf dan bertanya apa Sung Tae sangat marah. Sung Tae membuka jasnya dan tidak menjawab. Cho Hong bilang ia sangat terkejut. “Haruskah aku keluar saja?” tanya Cho Hong. Sung Tae menghela napas dan tetap diam.


Cho Hong memeluknya sambil meminta maaf. Sung Tae masih tidak menjawab. “Kau baik-baik saja sekarang, bahkan ketika aku memelukmu dari belakang,” kata Cho Hong.


“Tidak bisakah kau tersenyum sedikit untukku?” bujuk Cho Hong. “Aku merasa kecanggungan ini akan membunuhku.”


Sung Tae akhirnya mengeluarkan tangannya dari kantong celana dan menyentuh tangan Cho Hong, kemudian melepaskannya.


Sung Tae berbalik dan mengusap kepala Cho Hong dengan lembut. Ia bilang tadinya ia mereka sudah mengenal keluarga Cho Hong, tapi ternyata ia tidak tahu apa-apa tentang mereka. Cho Hong bertanya apa maksudnya.


“Itu berarti aku ingin tahu segalanya tentang kalian. Apa aku serakah?” tanya Sung Tae.


Episode 9 – Cinta dalam Kesepian


Di dapur, nenek bertanya apakah Aeng Doo tadi sudah memasang mantra penghalangnya. “Aku yakin, Hyungnim!” kata Aeng Doo. Nenek bertanya bagaimana seorang manusia bisa melewatinya begitu saja. “Apa seperti Pak Yang dulu? Cho Hong keluar lalu masuk lagi?”


Nenek yakin tidak ada yang keluar setelah pintu dikunci. Aeng Doo bertambah bingung karena manusia biasa tidak akan bisa menembus mantra penghalangnya.


“Tapi akan lain cerita jika dia punya darah penyihir di dalam dirinya,” kata Aeng Doo. Nenek terkejut. “Tapi yang penting adalah Direktur Ma melihat keributan ini atau tidak.”


Nenek: “Apa dia melihatnya?”
Aeng Doo: “Kurasa dia melihat samar-samar…”
Cho Hong: “Dia tidak melihatnya!”


Aeng Doo bertanya bagaimana Cho Hong bisa tahu. Cho Hong bilang ia bertanya pada Sung Tae tadi dan mengajak mereka membersihkan dapur lalu tidur. “Bagaimana aku bisa percaya saat kau klepek-klepek padanya?” tanya Aeng Doo curiga. Cho Hong melotot.


Nenek tidak mengerti apa maksudnya. Aeng Doo meralat ucapannya, “Maksudku… bagaimana aku bisa mempercayai kata-kata manusia?”


Aeng Doo bilang mereka harus memastikannya. Nenek setuju, sedangkan Cho Hong tampak khawatir.


Aeng Doo mengambil botol berdebu dari dalam lemari. Ia yakin itu akan sempurna. “Benar. Itu lebih dari 65%, bukan?” tanya nenek.


Aeng Doo bilang seberapa kuatpun Sung Tae, ramuan itu akan membuat Sung Tae berkata jujur. “Apa lagi ini? Apa yang nenek lakukan?” tanya Cho Hong. Nenek menyuruhnya diam.


Tidak lama kemudian, Sung Tae sudah ada di meja makan. Ia heran karena diajak minum pada larut malam. Nenek bilang ketika orang lelah, hanya minuman yang bisa memulihkan tenaganya. Sung Tae bilang ia harus berangkat bekerja besok pagi.


Aeng Doo menyuruh Sung Tae minum segelas saja bersama daging bebek yang sudah dipanggang sempurna yang sudah tersedia di atas meja.


“Tapi minuman ini... Bukankah ini Wuxing Maotai Liquor? 1958,” kata Sung Tae. Aeng Doo bolang saat ia masih jadi jagoan nomor 1 di Cheongwongak, seorang pelanggan yang tidak ingin ia temui terus menerus datang dan membawakan beberapa botol untuknya. Cho Hong menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku tidak menyukainya, jadi aku menaruh ini di pojokan. Ternyata aku masih menyimpannya. Tapi, ada apa dengan botol itu?” kata Aeng Doo.


“Minuman Maotai ini langka dan harganya sangat mahal,” kata Sung Tae. Aeng Doo bilang minuman tetaplah minuman biasa. Ia bilang mereka akan memberikan apapun untuk Sung Tae. Nenek setuju.


Sung Tae setuju untuk minum. Aeng Doo bilang Sung Tae tampan jadi ia akan menuangkan minuman itu untuknya. Nenek bilang Aeng Doo harus mengisi penuh cangkirnya untuk menunjukkan kasih sayangnya.


Sung Tae tersenyum senang dan berkata, “Harganya 200 juta won tahun lalu.” Ketiga penyihir itu terkejut mendengar harga yang sangat mahal. “Tidak, harganya mungkin lebih dari 200 juta won sekarang. Minuman semacam ini harganya semakin tinggi setiap tahunnya.” Nenek hampir kehabisan napas.


Aeng Doo: “200 juta won?”
Sung Tae: Baiklah.”
Nenek + Aeng Doo: “Tunggu sebentar!”
Aeng Doo: “Pelan-pelan.”


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 8 Part 5
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 9 Part 2

Comments


EmoticonEmoticon