1/11/2019

SINOPSIS My Strange Hero Episode 16 PART 2

SINOPSIS My Strange Hero Episode 16 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 16 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 16 Part 3

“Hei, Kang In Ho!” kata Bok Soo saat masuk ke Kantor Agen Jasa dan melihat In Ho di sana. Gyeong Heon bilang keponakan Bok Soo itu punya masa depan yang cerah.


“Dia bisa merencanakan, bertindak, dan bahkan memalsukan dokumen. Dia punya 3 keahlian. Aku bisa melihat dia akan jadi apa nantinya,” kata Gyeong Heon.


Soo Jeong mendekati In Ho. Min Ji bertanya kenapa Soo Jeong juga datang. Soo Jeong bilang ia adalah wali kelas In Ho. Bok Soo lalu menyuruh In Ho pulang dan minta maaf pada ibunya.


In Ho bilang ia tidak bisa pulang, apalagi ibunya menyuruhnya agar mati saja, jadi ia akan mati di sana saja. Soo Jeong memukul kepala In Ho dengan keras. “Omong kosong apa yang kau bicarakan?! Berdiri. Ayo berdiri!” kata Soo Jeong.


Semua terkejut dengan kelakuan Soo Jeong.


Soo Jeong lalu mendorong In Ho pergi.


Soo Jeong mendorong In Ho masuk ke rumah, tepat saat Su Jung sedang minum. “Kita mati saja. Kita mati bersama saja,” kata Su Jung lalu memukuli dada In Ho.


Soo Jeong menahan tangan Su Jung. “Kau siapa? Kau bukan guru? Olahraga apa yang kau mainkan? Apa kau berlatih judo?!” tanya Su Jung karena Soo Jeong mampu menahannya. Soo Jeong meminta Su Jung mendengarkan In Ho dulu karena tidak semua kebohongan dimulai dengan niat buruk.


Ibu datang dan melepaskan tangan mereka. Su Jung bilang semua kebohongan buruk. Ia bertanya kenapa In Ho berbohong padanya.


“Karena… ibu tersenyum,” kata In Ho dengan mata berkaca-kaca. Su Jung tidak mengerti.


Suatu hari ketika berada di warnet, In Ho tidak sengaja melihat siswa dari sekolah lain sedang mengedit nilai dan peringkatnya.


Setelah itu, In Ho pulang dengan membawa selembar kertas di tangannya. Su Jung sedang meregangkan bahunya karena lelah menyapu. “i…ibu,” panggil In Ho. Su Jung menawarkannya makan malam. In Ho memberikan kertas itu.


Su Jung membaca laporan belajar In Ho. “Anakku! Astaga, kau rengking 1,” kata Su Jung lalu memeluk In Ho dengan sangat bahagia.


In Ho juga sangat bahagia saat ibunya melihat menari saking senangnya atas prestasi In Ho.


In Ho bilang ia hanya ingin menjadi anak baik yang bisa membuat ibunya tersenyum. “Aku sudah berusaha keras, tapi nilaiku tidak selalu baik. Jadi aku memalsukan kartu laporanku dan penghargaan. Aku ingin membuat ibu bahagia meski aku berbohong,” isak In Ho.


Su Jung menangis. In Ho juga bilang kalau nilainya sangat buruk dan bahkan tidak memiliki impian. “Aku hanyalah sampah. Maafkan aku, Ibu,” kata In Ho lalu naik ke kamarnya.


Su Jung menghapus air matanya dan pergi dari rumah. Ibu mengejarnya. 


Saat mengantar Soo Jeong pulang, Bok Soo bertanya bagaimana Soo Jeong bisa begitu kuat. Ia bilang kakaknya sering memukulinya, tapi Soo Jeong bisa menahan serangannya. Ia yakin Soo Jeong bisa memenangkan medali emas jika menjadi atlet. Soo Jeong tertawa, lalu menanyakan bagaimna In Ho nantinya.


“Dia anggota keluarga Kang dan kami semua tahu bagaimana menjadi kuat. DIa bisa mengatasinya,” kata Bok Soo. Soo Jeong bilang In Ho mengingatkannya akan dirinya sendiri yang senang dipuji orang lain, jadi merahasiakan hal lainnya yang dianggap tidak perlu. “Terus rahasiakanlah, sehingga aku akan menjadi satu-satunya yang tahu bahwa kau orang yang baik.”


“Aku?” tanya Soo Jeong. Bok Soo tersenyum.


Keesokan harinya, In Ho bersiap berangkat sekolah. Su Jung keluar dari kamarnya dan menyuruhnya minum tonik. “Ti… tidak usah. Aku tidak layak minum itu lagi,” kata In Ho. Su Jung tetap membuka toniknya dan memberikannya pada In Ho.


“Kau akan butuh energi untuk bertahan dari guru yang memarahimu dan teman sekalasmu yang akan membicarakan tentang hal itu. Minumlah,” kata Su Jung. In Ho lalu meminumnya sampai habis. “Kau bukan sampah. Sejak ibu hamil dirimu, kau adalah seluruh dunia ibu. Ibu mempertaruhkan seluruh hidup ibu untuk melindungimu. Ibu tidak peduli apa kata orang. Kau masih anak ibu yang berharga, jadi bertahanlah.”


“Ibu…” kata In Ho terharu. Mereka sudah bisa tersenyum bersama sekarang. Bok Soo datang meminta bagian toniknya.


Su Jung lebih dulu mengamankan toniknya dan berkata, “Minta pada ibumu! Ini untuk anakku.” Bok Soo mencibirnya. Su Jung lalu mengantar In Ho keluar.


Bok Soo sangat senang karena kakak dan keponakannya sudah akur kembali.


Bok Soo dan In Ho sampai di sekolah bersama-sama. Bok Soo bilang ia sebelumnya sangat frustasi karena ia tidak bisa menyebut In Ho sebagai keponakannya dan juga tidak bisa memberitahu kakaknya tentang In Ho yang ada di Kelas Wildflower.


“Kenapa kau tidak bisa memberitahu semua orang bahwa aku pamanmu?!” protes Bok Soo. In Ho khawatir dan akan pulang lagi. Bok Soo mendorongnya masuk ke area sekolah. “Hei, Kang In Ho. Sekolah persis di mana kau berada. Percayalah padaku. Aku memberitahumu sebagai seseorang yang pernah di dalam sana.”


In Ho menatap sekolahnya dan memilih untuk percaya pada pamannya.


Paman dan keponakannya masuk ke dalam kelas bersama-sama. Semua murid melihat mereka. Mereka lalu duduk di kursinya masing-masing.


“Kau tidak apa-apa? Ibumu melayangkan pukulan yang sangat kuat,” kata Siswa A. In Ho bilang ia baik-baik saja. Si On bertanya apakah ibu In Ho seorang atlit.


“Ya, ibuku peraih medali emas,” kata In Ho. Semua temannya terkejut dan ikut merasa bangga. Siswa A bertanya apakah ibunya bermain di Olimpiade dan apa cabang olahraganya. “Tidak, dia bermain di Asian Games. Sepak Takraw.”


Siswa A: “Apa? Sepak…”
Si On: “Hei, kau tidak tahu apa itu Central Park?”
Siswa A: “Hei, kau menyombongkan diri?”


Seung Woo dan Bok Soo tersenyum melihat mereka semua.


In Ho juga sudah merasa lega karena ia tidak dikucilkan sama sekali.


Masih di area sekolah, Se Ho berpapasan dengan Soo Jeong dan mengajaknya bicara karena ada yang ingin ia sampaikan. Mereka lalu pergi ke sebuah restoran.


“Soo Jeong, apa kau ingat pernah bertanya padaku kenapa aku terus menatapmu?” tanya Se Ho.


Soo Jeong ingat sat dulu ia menegur Se Ho, “Hei, kenapa kau terus menatapku.”


Se Ho: “Son Soo Jeong, aku bisa merasakan kesepian yang kau alami. Seluruh hidupmu menjadi sangat defensif. Aku tahu seperti apa rasanya. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku akan berusaha untuk…”
Soo Jeong: “Oh Se Ho. AKu bukanlah dirimu. Jangan cerminkan dirimu pada diriku. Aku tidak butuh bantuanmu. Dan juga…”


Soo Jeong menatap cincin yang ada di jarinya. “Aku tidak merasa kesepian,” lanjut Soo Jeong. Se Ho terkejut. “Aku menolakmu. Aku bukan orang yang bisa mengisi kesepianmu.”


“Alasan penolakanmu itu… karena Kang Bok Soo?” tanya Se Ho. Soo Jeong mengiyakan. “Aku tidak paham. Apa bagusnya cincin lusuh itu dan Kang Bok Soo? Kenapa kau pilih dia daripada aku?!”


Soo Jeong bilang dulu Se Ho juga menyukai Bok Soo sama seperti dirinya. “Aku tidak tahu. Aku tidak ingat. Pilhan yang sudah kau tentukan, kau akan menyesalinya. Semuanya akan lebih sulit lagi,” kata Se Ho.


“Jangan main-main dengan Kang Bok Soo. Dia sudah cukup menderita karena kau dan aku! Ini cara terbaik yang bisa kau lakukan?” kata Soo Jeong. Se Ho bilang jika tidak melakukan itu, maka Soo Jeong hanya akan mengingatnya sebagai teman sekelas dan Ketua Dewan, atau malah bukan siapa-siapa.


Se Ho bilang Soo Jeong bisa memberitahu jika mengubah pilihannya. “Aku selalu terbuka untukmu,” katanya lalu perg.


Se Ho berjalan dengan hati yang hancur lagi.


Ia pulang ke rumah dan meminum air langsung dari botolnya. Namun, ia terkejut saat melihat ibunya.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 16 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 16 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon