1/15/2019

SINOPSIS My Strange Hero Episode 17 PART 2

SINOPSIS My Strange Hero Episode 17 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 17 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 17 Part 3

“Hei,” panggil Bok Soo. Soo Jeong tersenyum. “Hei.” Soo Jeong malah melihat ke arah lain. “Hei… Hei…”


Soo Jeong bertanya kenapa Bok Soo terus memanggilnya padahal ia ada tepat di hadapannya.


Bok Soo meremas pipi Soo Jeong dan berkata, “Kau bukan Son Soo Jeong. Son Soo Jeong tidak seburuk ini.” Bok Soo mabuk.


Soo Jeong melepaskan tangan Bok Soo dan pura-pura marah. Bok Soo bilang Soo Jeon akan sangat sibuk karena mereka harus mengejar ketertinggalan dan melanjutkan semua kencan yang mereka lewatkan selama 9 tahun.

Soo Jeong bilang ia akan membayar semua rasa sakit Bok Soo selama 9 tahun. “Aku akan melindungi Kang Bok Soo! Percaya padaku!” kata Soo Jeong lalu menyuruh Bok Soo bersandar di pundaknya. Bok Soo bilang ia belum mabuk.


Tapi Bok Soo jalan sempoyongan dan mereka hampir jatuh bersama.


Bok Soo tertidur dan Soo Jeong mencium keningnya. “Aku ingin tahu kau anaknya siapa. Kau tampan sekali,” kata Soo Jeong.


“Dia anakku,” kata ibu yang memandang mereka dengan heran. Soo Jeong terkejut setengah mati.


Di rumah, ibu berterima kasih atas apa yang Soo Jeong lakukan untuk In Ho tempo hari. Soo Jeong bilang itu tugasnya. “Ngomong-ngomong, olahraga apa yang kau mainkan?” tanya Su Jung. Ibu memukulnya. “Kenapa?!”


“Bu Guru, bisa aku panggil Bibi sekarang? Aku tidak percaya bu guru adalah bibiku,” kata In Ho. Su Jung memukul kepalanya dan bilang kalau Soo Jeong bukanlah bibinya.


“Seseorang dengan tinggi badanmu akan membuat banyak tekanan untuk kami,” kata Su Jung. Soo Jeong tidak mengerti dan bertanya apa maksudnya. “Bu Guru. Ibu tidak merasa tertekan? Aku menentangnya.” In Ho juga mengatakan hal yang sama.


Ibu menyebut mereka mengganggu, jadi menyuruh mereka tidur. Su Jung bilang masih banyak yang ingin ia tanyakan pada Soo Jeong. “Kau dan Bok Soo ada sesuatu 9 tahun yang lalu…” Kalimat Su Jung terhenti.


“Bok Soo bukan anakmu, dia anak ibu! Jangan ikut campur urusan anak ibu dan tidurlah,” usir ibu. Soo Jeong bilang sudah malam, jadi ia harus pergi. “Aigoo, ini sudah malam. Anda harus tidur. Bus sudah balik. Terlalu berbahaya untuk pulang sekarang.”


Su Jung bilang Soo Jeong bisa membunuh seekor sapi dengan tangan kosong. Ibu mendesis kesal. “Tunggu, Bu Guru,” kata In Ho mendekat.


“Ayo berfoto untuk merayakan Ibu menjadi bibiku. 1, 2…” kata In Ho. Su Jung memukul kepalanya. Ia lalu mempersilakan Soo Jeong tidur di kamarnya. Ia lalu menyeret In Ho pergi. “Aku ingin foto...” Ibu tertawa kecil dan Soo Jeong salah tingkah.


Soo Jeong sudah berada di kamar Su Jung dan mengingat pembicaraannya tadi dengan ibu.


Soo Jeong: “Anda tidak membenciku? Saat itu…”
Ibu: “Aku tahu Anda tidak nyaman. Untuk waktu yang lama, Anda pasti menderita sama seperti Bok Soo.”


Ibu bilang ia tidak membenci Soo Jeong, tetapi hanya merasa kasihan padanya. Ia yakin sejak saat tiu hidup Soo Jeong juga tidak mudah. Ia bilang itu bukan hanya kesalahan anak-anak, melainkan juga para orang dewasa yang tidak membantu mereka ke jalan yang benar.


Mata Soo Jeong berkaca-kaca. Ia merasa terharu dengan sikap hangat ibu. “Aku berjanji untuk tidak menjadi dewasa seperti itu. Aku tidak akan menjadi guru yang seperti itu,” tekad Soo Jeong.


Keesokan harinya, Bok Soo bangun dengan rambut yang berdiri. “Aku merasa… sesuatu yang baik terjadi,” ujarnya.


Bok Soo mengingat saat Soo Jeong berkata, “Aku akan melindungi Kang Bok Soo. Percayalah kepadaku!”


Bok Soo tersipu malu saat mengingat Soo Jeong berkata akan membayar atas penderitaan Bok Soo selama 9 tahun sebelumnya. “Oh iya, sekolah.” Bok Soo buru-buru turun dari kasurnya.


“In Ho, kita harus bangun dan sarapan sebelum ke sekolah!” kata Bok Soo sambil berjalan ke ruang makan.


“Hah?!” kata Bok Soo saat melihat Soo Jeong.


Ibu berusaha menutup mata Soo Jeong agar tidak melihat Bok Soo yang berantakan. In Ho tertawa geli. Bok Soo bertanya kenapa Soo Jeong ada di sana. Soo Jeong hanya tersenyum canggung dan mengangkat tangannya menyapa Bok Soo. “Apa itu gaya rambut baru? Ayo sarapan,” kata Su Jung.


“Rambutku?” kata Bok Soo sambil mengecek rambutnya.


Bok Soo makan sambil terus memandang Soo Jeong. “Bibi, makan yang banyak,” kata In Ho. Soo Jeong terkejut. “Di sekolah, aku akan memanggil Ibu Guru.”


“Noona, dia tidak perlu belajar dengan giat. Lihat betapa cerdiknya dia. Dia tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya. Menurutku, dia jenius,” kata Bok Soo. Su Jung kesal dengan sindiran itu dan ingin mencolok Bok Soo dengan sendok.


“Makanlah daging,” kata ibu. Soo Jeong sangat senang dan akan menyendokkan dagingnya. Tapi kemudian, Su Jung menukar piring daging dengan piring sayuran dan menyuruh In Ho memakan dagingnya.


Saat In Ho akan mengambil dagingnya, Bok Soo menukar piringnya lagi. Bok Soo bilang Soo Jeong suka daging. “Begitu juga anakku,” kata Su Jung.


Su Jung menukar piringnya lagi dan ibu mendesis kesal padanya. Soo Jeong tersenyum melihat tingkah mereka.


Di sekolah, Guru Song mengingatkan para guru agar mengirimkan daftar peserta kontes debat. Ia bilang nilainya akan muncul dalam catatan siswa, jadi para guru penilai harus mempersiapkan diri dengan baik. Ia mengatakan itu sambil melirik ke Guru Park, lalu pergi.


Guru Hong bilang kontes itu hanya untuk memberikan lebih banyak penghargaan pada murid Kelas Ivy. Ia jadi malas untuk mengirimkan murid-muridnya.


Guru Jang Bilang Kepala dan Wakilnya ingin mempersembahkan penghargaan kepada murid Kelas Ivy, tapi harus menjalani prosedurnya agar tidak terlalu kentara. “Seperti halnya prosedur kencan,” kata Guru Jang sambil mengedipkan sebelah matanya pada Young Joon.


Young Joon menghela napas dan bergumam, “Aku ingin tahu apa ada prosedur penolakan.” Guru Hong lalu bertanya pada Soo Jeong siapa yang akan dikirim dari Kelas Wildflower.


Soo Jeong hanya tersenyum bingung.


Soo Jeong masuk kelas dan langsung tersenyum malu pada Bok Soo. Bok Soo juga melakukan hal yang sama.


In Ho hanya tersenyum geli melihat ulah guru dan pamannya itu. Soo Jeong lalu meminta muridnya yang ingin ikut Kontes Debat agar mengangkat tangannya. Tidak ada seorang pun yang tertarik. Soo Jeong bilang jika menang, maka seluruh murid di kelasnya akan mendapat penilaian kinerja yang sempurna dan akan tertera di catatan siswa.


“Kami di Kelas Wildflower. Apa yang Ibu harapkan? Kami saja hampir tidak pernah berbincang-bincang,” kata Siswa A. Soo Jeong bilang kontes itu wajib diikuti dan ia membutuhkan 3 sukarelawan.


“Bu Guru, aku mau ikut,” kata Young Min mengangkat tangannya. Seluruh siswa bergemuruh kagum. Soo Jeong berterima kasih dan masih membutuhkan 2 orang lagi.


“Oke, Yoon Seung Woo! Ini hukumanmu karena terlambat,” kata Soo Jeong pada Seung Woo yang baru saja masuk ke kelas. Teman-temannya tertawa dan memberitahunya kalau ia akan ikut Kontes Debat. “Lalu orang terakhir…”


“Aku rekomendasikan Kang Bok Soo!” tunjuk Young Min. Bok Soo syok dan bilang ia tidak bisa debat. “Kau pandai bicara saat mengeluarkanku dari bilik kaca itu.”


“Baik. Berkat rekomendasi ini, anggota terakhir yang ikut adalah Ketua Kelas. Kita tidak bisa mengubahnya,” kata Soo Jeong.


“Bu Guru…” kata Bok Soo putus asa. Soo Jeong keluar dan seluruh murid bersorak untuk ketiga perwakilan mereka.


“Kau ini..” kata Bok Soo ingin memukul Young Min. “Ah…”

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 17 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Strange Hero Episode 17 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon