1/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 1 PART 2

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 1 Part 3

Narasi Dan Yi: “Hari itu… jika aku memilih untuk tidak kembali ke pernikahanku…. Hari itu, jika aku pergi ke negeri jauh seperti yang Eun Ho sarankan… Aku akan memiliki kehidupan yang sangat berbeda sekarang.”


Dan Yi tampak mempromosikan sebuah minuman berenergi. Ia berakting berlari dan mengusap keringatnya. “Setelah sepanjang hari bekerja keras, aku berdiri di depan kompor dan memasak. Tapi melihat anakku memakan makanan yang kubuat sudah cukup untuk menghilangkan lelahku. Aku yakin aku seorang ibu,” ujarnya.


Seorang pewawancara bilang ia tahu iklan itu tentang seorang ibu yang bertanya siapa orang favorit anaknya di dunia.


“Kuncinya adalah anak itu menyebutkan nama kekasihnya. ‘Anak-anak tidak berguna. Jika kau ingin  benar-benar memilih, pergilah ke toko obat terdekat.’ Aku mendapatkan ide itu berdasarkan pengalamanku sebagai seorang ibu,” kata Dan Yi.


Para pewawancara tampak tertarik. Dan Yi menambahkan bahwa ia meraih Penghargaan Iklan Korea pada tahun 2012. Ia bilang iklan itu menjadi sangat sensasional di seluruh Korea saat itu. Ia lalu mulai memperagakannya dengan nada bernyanyi.



“Pelari Korea! Cepat… cepat… cepat… Taekwondo Korea! Cepat… cepat… cepat…”


“Ini nada yang familiar. Kalian semua pasti pernah mendengar lagu ini, bukan? Tebaklah siapa yang menciptakannya? ” tanya Dan Yi. “Benar. Itu ideku. Cepat… cepat… cepat…”


“Tapi, itu 7 tahun lalu,” kata seorang pewawancara. Dan Yi membenarkan ucapannya. Pewawancara lain mengatakan bahwa Dan Yi sudah bermalas-malasan karena sudah meninggalkan pekerjaan terakhirnya 7 tahun lalu.


Dan Yi meminta mereka tidak salah paham. Ia bilang ia tidak bermalas-malasan, tapi ia harus mengurus anaknya yang akan menjadi masa depan negaranya, mengurus keluarganya dan menjadi sukarelawan.


“Ya, ya baiklah,” kata seorang pewawancara dengan nada malas. Yang lain juga tampak tidak tertarik lagi.


Dan Yi menunduk kecewa dan berimajinasi ada beberapa penari muncul di belakangnya.


Sementara mereka menari, Dan Yi berjalan meninggalkan ruang wawancara.


Dan Yi sepertinya mengikuti seminar. Instrukturnya mengajak mereka bertepuk tangan dengan bersemangat agar mereka percaya diri. Tapi Dan Yi malah terlihat lesu.


Dan Yi mencari lowongan pekerjaan di internet.


Dan Yi menjalani beberapa pekerjaan paruh waktu. Ia membersihkan tempat sauna, menjadi kasir di supermarket, dan tidak ketinggalaan menjalani wawancara untuk sebuah pekerjaan tetap.


Dan Yi selalu melihat orang-orang menari di sekitarnya.


Dan Yi bahkan membayangkan para pewawancaranya muncul di warnet. “Kenapa kau meninggalkan pekerjaan terakhirmu?!” tanya pewawancara wanita.


“Aku ingin bertahan, tapi ibuku yang merawat anakku, jatuh sakit, jadi aku tidak punya pilihan,” kata Dan Yi. Para pewawancara itu pergi.


Dalam benak Dan Yi, pewawancara itu juga muncul di tempat sauna. “Semua seniormu akan lebih muda darimu. Apa kau baik-baik saja dengan itu?” tanya pewawancara yang paling muda.


Pria berkacamata: “Bagaimana jika kau mendapat tugas sepele seperti membuat kopi dan memfotokopi?”
Pria muda: “Bagaimana jika kau harus bekerja sampai larut malam, bekerja di akhir pekan, atau bepergian?”


Pewawancara wanita muncul lagi di tempat sauna dan bertanya apa pekerjaan suami Dan Yi sampai selama 7 tahun belakangan Dan Yi tidak bekerja. Ia menduga suaminya bangkrut karena Dan Yi ingin bekerja sekarang. “Kami bercerai setahun lalu,” kata Dan Yi yang kemudian ikut menari bersama.


“Kita bisa melakukannya!”
“Kuatlah!”
“Percaya diri!”


Kaki Dan Yi terluka karena menggunakan sepatu hak. Ia bertanya kepada sesame pelamar apakah memiliki plester. “Tidak, aku tidak punya,” katanya.


“Nomor 57, Kang Dan Yi. Nomor 58, Seo Jeong In,” seorang staf memanggil mereka berdua.


Seorang pewawancara bilang menjadi seorang ibu yang hanya tinggal di rumah pasti membuat Dan Yi stress, apalagi tadinya memiliki karir yang bagus. “Aku yakin pengalamanku akan berkontribusi kepada kesuksesan perusahaan,” kata Dan Yi.


Jeong In, saingannya, tampak gelisah karena jawaban Dan Yi yang memuaskan.


Pewawancara yang bertanya tadi juga tersenyum dengan jawaban itu. Dan Yi membalas senyumannya.


Di toilet, Jeong In memberikannya plester, padahal sebelumnya ia bilang tidak punya. Dan Yi berterima kasih.


“Pekerjaan pemasaran cukup ketat di antara orang yang berusia 20-an, tapi ada juga beberapa seusia ahjumma. Itu sangat menyebalkan,” keluh Jeong In lalu pergi. Dan Yi tidak bisa mengatakan apa-apa.


“Huft… aku menjadi sangat baik. Kalau hal seperti ini terjadi dulu…” gumam Dan Yi lalu memasang plester di kakinya.


Pewawancara perempuan tadi masuk ke toilet. Ia bilang ia menemui banyak wanita yang ingin kembali berkarir dan itu pasti membuat stress. Dan Yi mengambilkan tisu untuk wanita itu dan bilang itu memang tidak mudah.


“Jawaban terakhirmu cukup mengesankan. Pengalaman 11 tahunmu sebagai ibu rumah tangga akan membantu perusahaan? Bagaimana kau akan melakukannya?” tanya wanita itu. Dan Yi mengungkit resume-nya. “Tidak, aku menanyakan tentang dirimu saat ini.” Dan Yi terkejut.


Wanita itu bilang industri itu sudah banyak berubah. Ia melemparkan tisu bekas pakainya ke atas wastafel dan berkata, “Jangan bicara sombong tentang kembali bekerja setelah berhenti lama. Kembali ke tempat kerja tidak seperti piknik.”


Wanita itu bilang ia tersinggung karena Dan Yi ingin kembali bekerja, padahal ia sendiri berusaha keras mempertahankan pekerjaannya selama bertahun-tahun. Ia lalu pergi.


Sementara itu, Eun Ho menutup kuliahnya tentang Fiksi Gothic dan Romantis di akhir abad 19. Para mahasiwa sudah bersiap pergi, tapi ia mengingatkan bahwa ia selalu memberi hadiah di akhir bab. Mereka kecewa.


“Pikirkan apa yang kalian pelajari di bab ini. Buatlah kelompok dan pilih sebuah literature, analisa dan diskusikan,” kata Eun Ho. Para mahasiswa mulai beranjak. Eun Ho mengetuk mimbarnya dan berkata, “Kalian akan sedih jika aku tidak memberi tugas individu.”


Mahasiswa: “Ah.. tidak, kami tidak akan sedih.”
Eun Ho: “Aku yang akan sedih. Buatlah essay tentang perbedaan antara sastra bergenre dan sastra murni.”


Mahasiwa: “Ah…”
Eun Ho: “Dan di pertemuan berikutnya akan ada kuis, jadi bersiaplah.”
Mahasiwa: “Ayolah.. itu terlalu berlebihan…”


“Apa? Aku terlalu tampan? Aku tahu…” canda Eun Ho tidak mempedulikan protes para mahasiswanya.


Para mahasiswa perempuan mengejarnya dan memberinya hadiah. Seorang lagi datang dan memintanya membaca novel yang ditulisnya. Eun Ho bilang perusahaannya akan mengadakan kontesnya dan menyarankannya ikut serta. “Profesor, kau punya pacar?” tanyanya.


“Ya, aku akan bertemu keluarganya besok. Kami akan segera menikah,” kata Eun Ho lalu pergi.


Para mahasiswa kecewa. Salah satunya bahkan menjatuhkan tas yang dipegangnya. “Tidak mungkin,” ujarnya.


Dan Yi terlihat membersihkan rumah. Ia mengepel, menata meja, membersihkan lemari dan sebagainya.


Ia melihat sebuah buku karya Eun Ho.Ia tersenyum dan meletakkan buku itu lagi di rak.


Ia juga mengelap sebuah foto anak perempuan dan laki-laki.


Ia mengeluarkan pakaian dari mesin cuci, lalu menjemurnya. Ia melihat sebuah bra berwarna merah.


“Ukurannya berbeda dengan yang sebelumnya. Augh… dia berkencan dengan yang lain lagi sekarang,” gumamnya.


Eun Ho mendapat pesan dari Dan Yi. ‘Pembantumu bilang kau terus membawa wanita berbeda ke rumahmu. Menikahlah jika kau sudah menemukan wanita yang layak. Berhentilah berurusan dengan wanita semacam itu.’


“Astaga, yang benar saja,” kata Eun Ho lalu menelepon Dan Yi.

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 1 Part 3
Comments


EmoticonEmoticon