1/28/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 PART 3

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 Part 4

Malam itu, Dan Yi tidur di tempat sauna.


Keesokan harinya di Gyeoroo, Nona Song melaporkan permintaan sumbangan buku. Nona Song bilang Profesor Jeong Gil Su dari Universitas Hanguk sedang memikirkan beberapa buku dalam kurikulumnya. Direktur Kim menanyakan pendapat Eun Ho.


“Kita harus memberitahu mereka agar membeli bukunya,” kata Eun Ho. Direktur Kim sangat setuju. Nona Song bilang ada perpustakaan anak-anak yang akan dibangun di Jongno-gu dan mereka ingin Gyeoroo menyumbang.


“Bagaimana dengan uang pemerintah yang diberikan pada mereka? Mengapa menuntut buku gratis?” protes Direktur Kim. Nona Song bertanya apa ia harus menyampaikan hal itu kepada mereka. “Astaga.”


Nona Song mengangguk mengerti saat Eun Ho berkata, “Beritahu mereka bahwa kita kehabisan stok dan minta maaf kepada mereka.”



Seorang staf bilang bahwa mereka sedang menentukan siapa yang akan memanggil karyawan baru. “Yang menyampaikan berita luar biasa ke karyawan baru bagaikan malaikat,” kata staf itu. Nona Song memberitahu Pak Kim bahwa itu adalah berita gembira.


“Keputusan sudah dibuat?” tanya Eun Ho terkejut. Nona Song bilang merkea harus mengumumkannya hari ini.


“Aku! Haha… itu aku…” kata Ji Hong yang memenangkan permainan sambil mengambil daftar karyawan baru. Yoo Sun bilang ia sangat iri.


Direktur Kim merebut daftar karyawna baru itu. “Karena aku adlaah Direktur perusahaan ini, aku harus mengurus tugas yang melelahkan ini,” ujarnya lalu pergi dengan gembira. Yeong A sangat kesal.


“Pelamar yang terhormat, kami senang menawarkanmu posisi di Gyeoroo,” kata Ji Hong yang batal menyampaikan berita gembira itu kepada karyawan baru. Yeong A kemudian bersorak bahagia menirukan orang yang diterima bekerja.


“Direktur Kim harus melakukan semuanya dengan baik,” kata Yoo Sun.


Eun Ho menyusul Direktur Kim dan mengambil resume Dan Yi dan menanyakannya. “Untuk Tim Dukungan Tugas? Aku bersikeras mempekerjakannya. Kami minta para pelamar mengisi kuesioner. Lihatlah apa yang ia tulis. Sangat menyentuh,” kata Direktur Kim.


Eun Ho membuka lembaran kuesioner Dan Yi.


Sebelumnya, para pelamar dibagikan lembar kuesioner dan diminta untuk menjawab pertanyaan dengan jujur. Ji Hong bilang beberapa pertanyaan mungkin kenak-kanakan, tapi mereka hanya perlu mengisinya saja.


Seorang pelamar bernama Park Hoon menggerutu. Ji Hong mendekat dan bertanya apa yang ia katakan. Park Hoon tesenyum dan menggeleng.


“Kau tampan,” kata Ji Hong. Park Hoon tersenyum terpaksa.


Seorang pelamar wanita tampak berpikir, lalu menjawab kuesionernya dengan yakin.


‘Tulis apa yang ingin kau katakan pada dirimu sendiri,’ baca Dan Yi di lembar kuesionernya.


Dan Yi mulai menulis. ‘Kang Dan Yi yang terhormat… Kita sudah menghabiskan 37 tahun bersama. Walau begitu, aku masih belum mengenalmu dengan baik, jadi aku berencana untuk tahu lebih banyak tentang mulai sekarang.’


‘Aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik, Dan Yi.’


Dan Yi memakan potongan buah yang dijatuhkan Jae Hui ke atas meja. Ia bilang buah itu mahal jadi mereka harus berhati-hati. Dong Min memberikan Dan Yi bagiannya. “Tidak, aku punya ini,” kata Dan Yi.


‘Maaf aku tidak cukup menilaimu.’


‘Maaf aku telah memperlakukanmu dengan buruk. Dan…’


Jae Hui melemparkan gelas karena merajuk meminta coklat. Dan Yi meminta maaf kepada pra pengunjung restoran lainnya atas perbuatan Jae Hui.


‘Maaf aku membuatmu merasa kecil.’


Dan Yi menepuk-nepuk punggung Dong Min yang muntah karena mabuk berat, lalu tertidur di lantai. Dan Yi sampai harus menggotongnya. Ia juga harus membersihkan toiletnya.


‘Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu bekerja keras. Pasti sulit bagimu. Kau pasti ingin menangis.’


Saat menjadi kasir, Dan Yi memberitahu pelanggan bahwa barang yang dibeli adalah 1 gratis 1, jadi pelanggan harus mengambil 1 lagi.


“Apa aku harus mengambilnya sendiri?” tanya pelanggan itu tersinggung. Dan Yi bilang ia tidak bisa meninggalkan meja kasir tanpa pengawasan. “Lupakan. Batalkan saja. Aku tidak akan membelinya. Sungguh merepotkan.” Dan Yi akhirnya terpaksa mengambilkan barangnya.


‘Tapi kau bertahan dengan senyuman. Terima kasih karena tetap kuat, Dan Yi.’


‘Dan itu sebabnya, aku ingin kau bahagia mulai sekarang. Lupakan kemarin dan hiduplah untuk hari ini. Apa yang ingin kau lakukan? Dan apa yang kau suka? Temukan jawabannya lagi.’


‘Jadilah pemenang. Kau bisa melakukannya. Tetap kuat sampai akhir. Fighting.’


Direktur Kim bilang orang yang sudah melalui masa sulit seperti itu biasanya adalah pekerja yang baik. Eun Ho menyerahkan kembali kertasnya. “Ada apa dengan wajahmu? Bukankah itu menyentuh?” tanya Direktur Kim.


Eun Ho bilang tata bahasanya benar, tidak ada kesalahan spasi dan juga tidak ada kesalahan ketik. “Aigoo… dia tidak punya hati,” gerutu Direktur Kim.


Direktur Kim lalu bersiap memberikan kabar bahagia kepada karyawan barunya. “Dengan siapa aku harus memulai?” gumamnya.


“Oh Ji Yul…”


Ji Yul sedang sibuk akan dicium seorang pria di klub. Ia mengabaikan telepon dari ibunya. Akhirnya ibunya mengiriminya pesan, ‘Di mana kau? Ibu ada di depan akademi.’ Akhirnya Ji Yul yang menarik pira itu dan menciumnya.


Ponsel Ji Yul berdering lagi, tapi kini bukan dari ibunya. Ia meminta teman-temannya tidak berisik. “Halo?”


Direktur Kim mengabarkan bahwa Ji Yul lolos wawancara terakhir di Gyeoroo. “Oh.. perusahaan penerbitan,” kata Ji Yul malas.


“Apa? Kenapa dia tidak berteriak gembira?” gumam Direktur Kim heran. Ji Yul bertanya kapan ia mulai bekerja karena besok ia akan melakukan perjalanan ke Cebu bersama ibunya. Ia bertanya apakah bisa mulai bekerja setelah kembali. “Nona Oh Ji Yul… Kau harus bekerja mulai besok.”


“Aku harap ini normal,” gumam Direktur Kim saat melihat data karyawan berikutnya.


Park Hoon tampak menandatangani petisi masyarakat, lalu berjalan lagi dengan terburu-buru sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari amplop yang dibawanya.


Karena tidak melihat jalan, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanitanya dan kertasnya beterbangan. Ia buru-buru mengumpulkan kertas itu kembali. “Oh, Eun Jeong..” sapa Park Hoon pada wanita yang ditabraknya itu.


“Kau masih belum mendapatkan pekerjaan?” tanya Eun Jeong yang sekilas membaca isi kertas itu. Park Hoon bilang ia sudah bekerja. “Di mana kau bekerja?”


Park Hoon melihat bus lewat dan bilang kalau ia bekerja di perusahaan publik karena ia ingin bekerja untuk negara dan warga. “Kau masih sangat aneh. Bagaimanapun, aku ikut senang. Sejujurnya, aku selalu ingin tahu tentang apa yang kau lakukan setelah kita putus seperti itu,” kata Eun Jeong.


“Oh, benarkah? Kau masih memiliki nomorku, bukan?” tanya Park Hoon.


Park Hoon tampak sibuk berganti pakaian.


Park Hoon yang sudah memakai kemeja. celemek dan bondu pink, lalu pergi ke depan meja kasir. Ia membuat tanda hati dengan jarinya dan menggoyangkan tangannya untuk menyapa para pelanggan. Tapi tiba-tiba Eun Jeong muncul.


“Perusahaan publik?” tanya Eun Jeong kecewa. Park Hoon tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menghitung belanjaan Eun Jeong.


Ia lalu mendapat telepon dan menjawabnya tanpa semangat, “Ya, ini Park Hoon.”

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 Part 4

2 komentar


EmoticonEmoticon