2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 10 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Seo Jun membiarkan Dan Yi berjalan di depannya. Ia hanya tersenyum.


“Perasaanku…sudah berubah?” kata Dan Yi di dalam hati. Ia mengingat pendapat Seo Jun sebelumnya. “Bagaimana bisa berubah?”


Dan Yi penasaran apakah Hae Rin sudah pulang atau belum. “Sepertinya dia sudah pergi,” kata Seo Jun.


Dan Yi berbalik dan terkejut. Ia benar-benar lupa kalau sedang bersama Seo Jun. Ia meminta maaf dan bilang ia sedang memikirkan hal lain tadi. “Kurasa aku tidak terlihat, sejak dari restoran sampai sini,” kata Seo Jun.


Seo Jun bilang mobil Eun Ho tidak ada, jadi mungkin Eun Ho dan Hae Rin sudah pergi, tapi ia tidka tahu apakah mereka pergi bersama atau masing-masing.


Dan Yi berterima kasih karena sudah diantar pulang. “Kita tidak jalan bersama. Senang juga berjalan di belakangmu dan aku suka cerita soal buku lamamu,” kata Seo Jun.


Seo Jun bilang mereka akan sering bertemu karena ia meneken kontrak dengan Gyeoroo. Ia mengajak Dan Yi untuk tos. Dan Yi setuju dan memukulkan telapak tangannya. Tapi Seo Jun ternyata menangkap tangan Dan Yi.


“Akhirnya aku menggenggam tanganmu,” kata Seo Jun, lalu melepaskannya. “Sampai jumpa besok pagi di halte bus.” Dan Yi mengangguk. Seo Jun melambaikan tangannya dan pergi.


Dan Yi mengetuk kamar Eun Ho, tapi tidak ada jawaban. Ia masuk dan menyalakan lampunya, tapi ternyata Eun Ho tidak ada. Ia lalu meletakkan baju yang dibelinya untuk Eun Ho tadi di atas sofa kasur.


“Noona, kau ingat pernah membelikanku jaket empuk dengan gaji pertamamu? Kenapa kau membelikan itu?” tanya Eun Ho sehabis mereka berjalan-jalan. Dan Yi bilang karena saat itu musim dingin. “Semua orang merasa dingin saat musim dingin. Kenapa aku?”


Dan Yi merasa membelikan baju itu adalah ide yang buruk karena Eun Ho pasti menanyakan hal yang sama lagi. Ia mengambil bajunya lagi.


Ayah dan ibu Hae Rin saling berterima kasih atas kerja keras mereka hari ini. “Mari makan!” ajak ayah.


Hae Rin melihat pangsit lembek di atas meja. Ayah bertanya kenapa Hae Rin tidak makan. “Dia tidak makan karena pangsitnya lembek,” kata ibu lalu tertawa bersama ayah.


Hae Rin yang sejak tadi murung, lalu memukul mejanya. “Kenapa?! Kenapa?!” ujarnya. Ayah dan ibu terkejut. “Kenapa harus makan pangsit lembek?! Kenapa kalian hanya berikan pangsit lembek?” isak Hae Rin.


Ayah dan ibu kebingungan. “Aku putri tunggal kalian. Kenapa selalu memberiku pangsit lembek sisa? Ini sebabnya, aku selalu ditolak oleh para pria. Itu karena ayah dan ibu hanya memberiku pangsit lembek,” isak Hae Rin lagi.


“Si Kepala Editor menolakmu?!” tanya ayah. Ibu bertanya apa masalahnya dan kenapa Eun Ho tidak menyukai putrinya. Ayah membanting sumpitnya dengan kesal.


Hae Rin: “Aku… aku sangat benci pangsit lembek.”
Ibu: “Dia merasa dirinya lebih baik?!”
Ayah: “Dia hanya tinggi.”
Ibu: “Hae Rin juga tinggi!”


Ayah: “Tampan saja tidak berguna.”
Ibu: “Hae Rin-ku juga cantik!”
Ayah: “Astaga.”
Ibu: “Aku harus memberinya pelajaran! Kita memberi dia banyak kimchi.”


Ibu membuka celemeknya dan melemparnya dengan kesal. “Beraninya dia menolak putriku yang berharga?! Song Hae Rin, jangan menangis! Ibu janji akan membalas perbuatannya!” 


Ibu: “Sayang, kau harus bantu.”
Ayah: “Tamat riwayatnya!”
Ibu: “Dan jangan berikan lagi pangsit lembek padanya! Hanya berikan yang matang sempurna!”


Hae RIn terkejut dengan respon orang tuanya. Ia memakan pangsit lembek itu. “Tidak apa-apa. Rasanya masih enak,” ujarnya. Ia menangis lagi. Ayah dan ibu juga ikut menangis.


Dan Yi menyimpan baju tadi di lemarinya sendiri. Ia tidak jadi memberikannya pada Eun Ho. Ia lalu melihat meja riasnya.


Ia mengambil kotak perhiasan dari dalam tas belanja yang berisi kalung pilihannya sore tadi. Ia menghela napas.


Ia mengingat saat Eun Ho memakaikan kalung itu tadi.


“Cha Eun Ho, apa yang merasukimu?” gumamnya bingung. “Apa yang kau pikirkan?”


Eun Ho sedang membersihkan tubuh ayahnya di villa di Kapyong, lalu mengoleskan salep di lukanya.


‘Hei, ada apa? Kenapa ponselmu mati? Ini jam 2 lewat. Kenapa belum pulang? Apa maksud dari kalung dan bunga ini? Kau akan terus membuatku bingung?’ tulis Dan Yi di pesannya. Eun Ho tidak membalas.


‘Pulang sekarang dan jelaskan.’
‘Aku belum menyentuhnya. Masih di kamarku, di tempat kau meninggalkannya.’


Dan Yi bingung karena tidak ada satu pun pesannya yang dibalas.


Ji Yul dan Park Hoon sudah menyelesaikan pekerjaannya dan berada di halte. Ji Yul yang kedinginan bilang seharusnya mereka naik taksi. Park Hoon mengingatkan bahwa Ji Yul tidak punya uang. Ji Yul yakin kalau Park Hoon pasti punya uang tunai.


“Ya, aku punya uang tunai. Tapi bukan berarti bisa kugunakan. Gajian berikutnya masih lama,” kata Park Hoon lalu mengecek jam tangannya. “Bus pertama akan tiba sebentar lagi. Kau harus rasakan betapa hebatnya naik bus pertama.”


Ji Yul berencana menelepon ibunya dan bilang kalau ia bersedia melakukan kencan buta. “Tidak! Kau tidak boleh menyerah!” larang Park Hoon. “Apa moto perusahaan kita?”


“Gyeoroo… cepat dan terus maju,” kata mereka bersama-sama. Ji Yul menyimpan lagi ponselnya dan mengeluh dingin. Ia lalu memukul-mukul Park Hoon karena senang busnya datang.


Ji Yul langsung mencari tempat duduk, sedangkan Park Hoon membayar ongkos busnya. Park Hoon lalu duduk di sebelah Ji Yul. Ji Yul bilang di dalam bus rasanya lebih hangat.


Ji Yul bertanya apakah bus selalu penuh pada jam dini hari seperti itu. “Menghasilkan uang itu sulit,” kata Park Hoon.


Paginya, Dan Yi meletakkan surat-surat kepada pemiliknya. Ia melihat kursi Eun Ho yang kosong. “Semalam, Eun Ho tidak pulang,” katanya dalam hati.


Dokter datang untuk memeriksa keadaan Penulis Kang. Ia bilang memarnya tidak serius dan tidak ada tulang yang patah. Ia juga bilang kalau ini bukan pertama kalinya terjadi.


“Temanku ini akan bangga karena sudah mengajarimu dengan baik,” kata dokter itu menepuk pundak Eun Ho. “Kau lebih baik daripada putranya sendiri.” Ia lalu pergi. (Jadi Eun Ho bukan anak kandung? Putranya yang dimaksud dokter itu siapa? Seo Jun-kah?)


Eun Ho menatap ayah (angkat?) nya. Ia mendapat pesan dari Dan Yi, ‘Kau tidak masuk kerja?’


Comments


EmoticonEmoticon