2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 10 PART 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dan Yi menyapa Ji Hong dan bertanya di mana surat penggemar Penulis Kang disimpan. Ia bilang sudah banyak surat menumpuk di tempatnya.


“Kau belum tahu, ya? Di ruang rapat kedua. Ada kotak untuk itu,” kata Ji Hong. Dan Yi berterima kasih. “Santai saja.”


Dan Yi pergi ke ruang rapat dan mengecek kotak-kotak yang ada di sana. Ia berhasil menemukan kotak yang dimaksud dan mengangkatnya ke meja rapat.


“Banyak pembaca yang menunggu buku Penulis Kang selanjutnya,” gumam Dan Yi saat melihat tumpukan surat di dalam kotak itu. Ia lalu memasukkan surat-surat yang baru dan meletakkan kotaknya ke tempat semula.


 “Apa ini? Kepala Editor Cha tidak masuk? Aku membutuhkannya. Kami akan ke konferensi bersama sore nanti,” kata Ji Hong saat melihat layar jadwal harian. Dan Yi bertanya apa Eun Ho tidak menelepon. “Tidak.” Dan Yi bertanya siapa yang menulis jadwal itu.


“Direktur Kim pagi tadi. Dia datang untuk menulis ini, lalu pergi,” kata Staf C. Ji Hong bingung dengan ulah keduanya.


Tertera di layar ‘Kepala Editor Cha ada urusan pribadi’.


Direktur Kim sudah berada di Kapyong. Ia berkata, “Saat istriku sakit, dia bilang begini saat bangun pada suatu hari. “Aku bisa istirahat dan tidur dengan damai karena tahu kau di sampingku.” Mungkin dia juga merasa begitu. Karena kau di sampingnya, ia tidak cemas dan bisa tidur dengan tenang.”


Eun Ho mengangguk. Ia menggenggam tangan Penulsi Kang dengan sedih. Dan Yi mengirim pesan lagi.


‘Kenapa tidak masuk kerja hari ini?’
‘’Urusan pribadi’ apa yang aku tidak tahu?’


Pak Bae Gwang Soo (selanjutnya aku sebut Gwang Soo ya…)mengomel kalau Direktur Kim terlalu mentoleransi Eun Ho. Staf C yang ternyata bernama Lee Seung Jin bilang itu karena sebagian besar penjualan mereka berasal dari buku-buku Eun Ho. Dan Yi memperhatikan pembicaraan mereka.


Young A bilang rapat akan dimulai 5 menit lagi. Seung Jin memberitahu kalau Park Hoon belum datang. Song Yi bilang Ji Yul juga belum datang.


“Dia memang harus berhenti,” kata Hae Rin sinis. Seung Jin bilang Park Hoon membantu Ji Yul menempelkan stiker semalam.


Ji Hong: “Maka sudah jelas. Ini berdasarkan pengalamanku. Setelah menempelkan stiker, mereka pasti naik bus pertama.”
Young A: “Maka mereka pasti ke sauna dekat sini untuk tidur sebelum kemari.”


Ji Hong: “Pasti mereka tidak bisa datang tepat waktu.”
Young A: “Dulu kita juga…”


Song Yi bilang mereka pasti punya pengalaman yang sama. Young A berdecih lalu pergi ke ruang rapat. Song Yi lalu bertanya pada Hae Rin apakah perlu menghubungi mereka. “Biarkan mereka tidur. Kita akan terlambat rapat. Aku akan panggil Nona Go,” kata Hae Rin.


Dan Yi juga bersiap untuk rapat.


“Hah! Ini lebih cerdas dariada tidur di sauna,” kata Ji Hong saat masuk ruang rapat. Young A tertawa dan bilang setidaknya tahu mereka ada di sana. Song Yi bilang itu berarti mereka tidak bisa dianggap terlambat.


Dan Yi datang dan bertanya apa mereka harus menggunakan ruang rapat di lantai bawah. Yoo Sun keburu datang.


Mereka semua sedang melihat Ji Yul dan Park Hoon yang tidur di atas meja rapat.


“Itu tidak perlu,” kata Yoo Sun lalu masuk ke ruang rapat. Yang lain mengikutinya smabil menahan tawa.


Yoo Sun menanyakan naskah Penulis Yu yang sudah Hae Rin cek dari Eun Ho. Hae Rin menyerahkan naskah itu pada Yoo Sun dan bilang ia merasa takjub pada Eun Ho. Ia sudah membacanya tiga kali dan tidak menemukan satu pun salah ketik di naskah itu.


Ji Hong menyebut dirinya ahli menyunting dan menawarkan diri untuk mengeceknya. Yoo Sun bilang itu tidak perlu karena Eun Ho dan Hae Rin pasti melakukannya dengan baik. Ji Hong bilang ia lebih berpengalaman. “Matamu akan sakit dan bisa menunda perilisan,” kata Young A dan barulah Ji Hong berhenti bicara.


Yoo Sun bertanya pada Hae Rin tentang Seo Jun. Hae Rin bilang ia berhasil membuat Seo Jun meneken kontrak untuk 5 buku. Yoo Sun tersenyum senang. Yang lain bertepuk tangan untuk Hae Rin


Mereka sengaja bertepuk tangan dengan keras, tapi Ji Yul dan Park Hoon hanya menggeliat saja, tidak terbangun. “Ji Seo Jun akan mendesain sampul buku Penulis Yu. Luar biasa!” kata Ji Hong lalu membanting dokumen ke meja.


Young A juga membanting-banting dokumennya ke meja dan membahas pembacaan umum. Ji Hong heran mereka tidak juga bangun. “Kita adakan pembacaan umum pada peluncurkan buku Penulis Yu?” tanya Yoo Sun.


Young A mengiyakan dan bilang bahwa Tim Pemasaran berencana mengundang 50 tamu. Yoo Sun setuju dengan rencana itu. Sejenak, ia menatap kedua staf yang sedang tidur itu, lalu pergi. 


Gwang Soo berbisik pada Park Hoon menyuruhnya bangun. Ia memberitahu kalau Yoo Sun sudah keluar ruangan. “Aku tahu kau sudah bangun, Ji Yul,” bisik Song Yi.


Mereka bangun dan Ji Yul meminta maaf pada semuanya. Dan Yi mengambilkan sepatu mereka. Park Hoon bilang ia hampir pingsan karena jantungnya berdebar keras. Ji Hong memukul pundak Park Hoon dengan buku dan berkata, “Semoga beruntung.”


Ji Yul: “Haha.. Kau sangat jelek.”
Park Hoon: “Haha… Rambutmu berantakan sekali.”


Dan Yi menyusul Young A dan menyarankan mengundang gitaris akustik untuk acara pembacaan umum. Young A merasa itu ide yang bagus dan meminta Dan Yi mencari gitarisnya.


Dan Yi: “Baik. Aku akan mencarinya, kawan.”
Young A: “Kawan, bisa bantu aku membuat acaranya? Ya? Hebat.”


Yoo Sun memperhatikan mereka, lalu pergi ke ruangannya. Ia merasa terlalu mudah berteman hanya karena kongkow sekali. Ia tidak sengaja menekan tombol pencarian di ponselnya.


Ponsel: “Apa kau tidak punya teman?”
Yoo Sun: “Benar. Aku tidak punya. Tidak ada teman, pacar, dan keluarga.”
Ponsel: “Perlu kontak informasi untuk Pusat Keluarga yang Terpisah?”


Yoo Sun: “Tidak, aku tidak butuh itu. Itu…”
Ponsel: “Aku mendengarkan.”
Yoo Sun: “Aku harus makan siang apa?”
Ponsel: “Mencari restoran tempat kau bisa makan sendirian?”
Yoo Sun: “Ya, sendirian. Sendirian!”


Malam harinya di villa, Eun Ho membacakan buku berjudul ‘Hatiku Terpikat Kepadamu’ untuk Penulis Kang.


‘Kau tidak kerja lagi?’
‘Kenapa tidak menjawab? Aku cemas.’
‘Ada masalah?’


“Sudah 3 hari Eun Ho tidak pulang,” gumam Dan Yi. “Apa kau punya teman Polisi? Aku harus membuat laporan orang hilang.”


Dan Yi ternyata sedang bersama Seo Jun yang sedang menangis. Ia melihat buku yang dibaca Seo Jun dan penasaran bagian mana yang membuatnya menangis. “Astaga, aku tidak menangis,” elak Seo Jun.


Dan Yi bilang bukunya basah. Seo Jun tidak bisa mengelak lagi kalau ia memang menangis. “Benar. Bagian ini juga membuatku sedih. Meski begitu, aku tidak percaya pria sepertimu menangis,” kata Dan Yi.


Seo Jun: “Apa pria tidak boleh menangis?”
Dan Yi: “Maka sebentar lagi kau akan menangis tersedu-sedu. Ini makin sedih.”
Seo Jun: “Aku tidak akan menangis lagi.”


Setelah mengembalikan bukunya, Dan Yi melamun lagi. ia sepertinya memikirkan Eun Ho.


Eun Ho memotong kuku Penulis Kang yang sepertinya belum juga sadar sejak kejadian jatuh 3 hari lalu.


‘Kau akan begini kepadaku? Kenapa kau mengabaikan semua pesanku?! Sulitkah membalas pesanku? Begitu kau pulang, aku akan menghajarmu!’ Dan Yi mengirim pesan lagi untuk Eun Ho.


‘Hei, Cha Eun Ho!’
‘Eun Ho...’
‘Eun Ho…...’


‘Eun Ho.. kirimkan tanda seru jika kau masih hidup. Aku mohon,’ kirim Dan Yi. Ia lalu sangat senang karena mendapat balasan tanda seru dari Eun Ho.


‘Aku masih hidup. Kurasa kau sangat merindukanku. Aku akan pulang jika kau bilang merindukanku,’ balas Eun Ho. “Astaga, berandal ini!” umpat Dan Yi dengan gembira.  Ia lalu sadar kalau banyak orang di sana.


Dan Yi turun dari bus dan berlari.


‘Aku sudah pulang sejam lalu.’


‘Jangan berlari pulang meskipun kau rindu. Pelan-pelan saja.’


Dan Yi baru berhenti berlari saat sampai di depan rumah. Ia menendang ban mobil Eun Ho. “Aku akan memberimu pelajaran!” ujarnya. Ia lalu berlari masuk ke rumah dengan bahagia.


Comments


EmoticonEmoticon