2/27/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 10 PART 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

“Hei, Cha Eun Ho!” panggil Dan Yi saat masuk ke rumah. Ia menjatuhkan tasnya dan mantelnya. “Kurasa kau lupa pukulanku sangat kuat.” Ia langsung masuk ke kamar Eun Ho.


“Dia tidur. Bagaimana bisa dia tidur setelah membuatku sangat cemas?” omel Dan Yi.


Ia lalu merapikan pakaian Eun Ho yang tergeletak di lantai. “Apa dia sudah makan malam?” gumamnya. Eun Ho menggeliat dan tampak pucat.


“Hei, ada apa?” tanya Dan Yi saat mengetahui tubuh Eun Ho panas. “Kau kenapa?”


Eun Ho meraih tangan Dan Yi. “Noona…” panggilnya lemah. “Aku baik-baik saja.” Dan Yi bilang Eun Ho sakit dan badannya panas. Dan Yi bergegas pergi untuk mencari obat.


Dan Yi membuka sebuah lemari. “Mana pereda demam? Ini dia.”


Eun Ho sudah duduk dan Dan Yi memasangkan termometer padanya. Dan Yi sangat terkejut karena suhu tubuh Eun Ho 39 derajat.  “Kau harus ke rumah sakit. Sejak kapan kau sakit? Kau dari mana saat sakit begini? Sulit kupercaya kau menyetir selagi demam,” tanya Dan Yi khawatir.


Dan Yi meminumkannya obat. Ia bertanya dari mana Eun Ho, tidur di mana dan kenapa tidak pulang. “Kau merindukanku?” tanya Eun Ho. Dan Yi menatapnya sinis. Eun Ho tersenyum.


Eun Ho berbaring lagi. Dan Yi bilang setidaknya Eun Ho mengirimkan pesan. Ia merasa cemas, apalagi Eun Ho mematikan ponselnya.


Eun Ho menggenggam tangan Dan Yi lagi. Dan Yi ingin melepaskannya, tapi tidak bisa. “Kau menungguku, kan?” tanya Eun Ho. Dan Yi bilang Eun Ho tidak pulang. “Apa yang ingin kau katakan?”


Dan Yi bilang banyak yang ingin ia katakan, tapi tidak sekarang karena Eun Ho sedang sakit. “Syukurlah aku sakit. Aku takut kau akan heboh saat melihat kalungnya,” kata Eun Ho. Dan Yi bilang ia akan membuat sup, tapi Eun Ho tidak mau melepaskan tangan Dan Yi. “Tetaplah di sini sebentar, sampai aku tidur lagi.”


Eun Ho memegang erat tangan Dan Yi, lalu memejamkan matanya. Dan Yi membiarkannya.


Setelah Eun Ho tidur, Dan Yi pergi ke dapur untuk memasa supnya.


Tidak lama kemudian, Eun Ho bangun lagi. Ia mengambil kompres yang ada di kepalanya dan perlahan bangun, lalu keluar dari kamarnya.


“Cuci tangan sebelum makan. Kau harus minum pereda panas lagi,” kata Dan Yi. Eun Ho mengangguk.


Eun Ho memakan supnya. Dan Yi menemaninya.


Eun Ho bertanya apakah Dan Yi sudah mencoba kalungnya.


Dan Yi: “Apa kau… menyukaiku?’


Eun Ho: “Jawabanku tidak. Sekarang beres?”


Dan Yi: “Kau bilang tidak menyukaiku.”
Eun Ho: “Sudah kuduga lebih baik kau tidak tahu.”
Dan Yi: “Kapan kau mulai menyukaiku?”


“Entahlah. Kenapa kau tidak menebaknya? Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu. Musim semi sampai musim panas. Musim panas sampai musim gugur. Musim gugur sampai musim dingin. Kau tahu kapan musim berganti? Tahu tepatnya kapan musim dingin berakhi dan musim semi dimulai? Aku tidak tahu kapan perasaanku mulai tumbuh.” kata Eun Ho.


Dan Yi: “Eun Ho..”
Eun Ho: “Lihat? Inilah kenapa aku tidak mau bilang.”
Dan Yi: “Kalau begitu, seharusnya kau tetap merahasiakannya.”


“Bagaimana bisa merahasiakannya jika kau terus bertanya? Pikirmu aku orang macam apa? Aku terdesak, tidak bisa terus berbohong,” kata Eun Ho. Mata Dan Yi berkaca-kaca. “Tapi aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku hanya akan memberikan kalung itu. Itu yang selalu kulakukan. Saat melihat hal bagus, aku ingin memberikannya kepadamu. Aku selalu memberi hadiah dan kau selalu menerimanya. Jadi terimalah kalung itu.”


Dan Yi bilang itu karena dulu ia tidak tahu perasaan Eun Ho padanya. “Tunggu dulu, Noona. Aku sakit. Kau sendiri yang memeriksa demamnya. Jadi, dengarkan aku hari ini. Ya. Aku menyukaimu. Tapi aku tidak berniat memaksakan perasaanku padamu. Jadi, lakukan apapun maumu seperti biasanya. Kencani Seo Jun jika kau mau. Kau tidak perlu berubah,” kata Eun Ho.


Dan Yi bertanya apa yang akan Eun Ho lakukan. Eun Ho bilang ia tidak akan pernah menderita karena Dan Yi. Ia juga meminta Dan Yi tidak perlu memikirkannya terlalu serius.


“Aku lelah. Aku butuh tidur. Tolong bereskan ini,” kata Eun Ho menyodorkan bekas makannya. Ia lalu masuk ke kamarnya.


Dan Yi menghapus air matanya. “Dari semua wanita yang bisa dia suka, kenapa aku?” gumamnya.


Di kamar, Eun Ho meminum obatnya lagi. Ia lalu mengambil ponselnya yang berdering di dalam mantel. “Hei, Song Hae Rin,” jawab Eun Ho yang awalnya ragu untuk menjawabnya.


Hae Rin yang sudah mabuk tidak percaya Eun Ho menjawab teleponnya. “Dasar bedebah. Hahaha…” umpatnya. “Kurasa kau menjawab teleponku karena kau telah mencampakkanku dan meenegaskan bahwa aku hanya rekan kerja. Hmmm… Aku sangat bodoh”


Seo Jun yang sedang berjalan-jalan bersama Geum Bi melihat Hae Rin sedang berada di Restoran Camellia sendirian. “Tunggu, Geum Bi.” Ia berhenti.


Hae Rin bilang Eun Ho tidak pernah menjawab teleponnya atau membalas pesan yang ia kirim setelah kerja. “Dasar bedebah… Kini kau menjawab teleponku. Astaga, aku tercengang. Sungguh,” kata Hae Rin kadang sambil tertawa dan juga menangis.


Eun Ho bilang ia memang seorang bedebah dan menanyakan ada di mana Hae Rin sekarang. Hae Rin bilang ia tidak akan memberitahu keberadaannya, karena jika Eun Ho datang untuk menghiburnya, maka ia akan membunuh Eun Ho dan berakhir di penjara. “Kau minum?” tanya Eun Ho. Hae Rin diam saja. “Kau ditemani? Kuharap begitu.”


Hae Rin bilang dulu ada pria yang selalu menemaninya saat ia diputuskan. “Kini kau harus cari pria lain. Aku tidak bisa menghiburmu lagi karena telah mengecewakanmu. Aku mencemaskanmu, tapi beberapa hari ini kau pasti tidak apa-apa saat aku tidak masuk kantor. Dan kau pasti bekerja dengan baik di kantor,” kata Eun Ho.


Hae Rin menutupi wajahnya saat melihat Seo Jun sedang menatapnya dari luar restoran.


Hae Rin bilang ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, sehingga tidak ada yang tahu kalau ia baru dicampakkan. “Aku wanita sehebat itu! Sunbae akan menyesal telah menolakku! Sampai jumpa!” ujarnya.


Seo Jun tertawa melihat Hae Rin. Ia lalu meneleponnya. “Kau bisa melihatku?” tanyanya. Hae Rin bilang tentu saja ia bisa melihat Seo Jun.


“Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa ke dalam karena aku membawa anjingku. Kau butuh teman? Jika butuh, aku bawa pulang anjingku dan kembali,” kata Seo Jun.


Hae Rin bilang itu tidak perlu. Ia mengingatkan kalau besok mereka ada rapat. “Ya, tentu saja. Tapi kenapa di sini? Kenapa menangis di lingkunganku?” tanya Seo Jun.


Hae Rin: “Apa orang tidak boleh menangis di lingkungan ini jika tidak tinggal di sini? Apa kau pemilik seluruh lingkungan ini?”
Seo Jun: “Tidak juga.”
Hae Rin: “Sudah. Sampai jumpa di rapat besok.”


Seo Jun melihat Hae Rin yang meminum sup langsung dari mangkoknya.


Hae Rin mendapat pesan dari Seo Jun. ‘Aku tidak tahu ada apa, tapi jangan menangis. Telepon aku jika ingin mengobrol.’


Comments


EmoticonEmoticon