2/03/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 PART 1

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 Part 6
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 Part 2

Nasi campur menjadi salah satu saksi bisu bahwa Dan Yi selama ini makan dan tidur di rumah Eun Ho. Setelah lama diam, Dan Yi akhirnya beranjak dari kursinya. “Noona…”panggil Eun Ho.


Dan Yi ternyata hanya pergi ke lemari minuman dan mengambil 1 botol dan menuangkannya ke gelas.


“Noona..” kata Eun Ho lagi dengan khawatir. Dan Yi minum dan tersedak. “Berikan padaku.” Dan Yi melanjutkan minumnya sampai habis 1 gelas.


Eun Ho bilang minuman itu sangat keras. “Lalu apa? Kau akan mengusirku?” tanya Dan Yi. Eun Ho tidak menjawab. “Aku yakin kau tahu aku bercerai setahun lalu, dan aku bilang aku kehilangan rumah. Mereka akan membongkar rumah itu, aku tinggal di sana diam-diam tanpa air dan listrik. Aku mengusir pembantumu, lalu mandi dan makan di sini.”


Dan Yi menceritakan semuanya dengan jujur. Ia bilang saat rumah akhirnya dibongkar, ia diusir pergi dan belum sampai 10 hari ia tinggal di rumah Eun Ho.


Eun Ho heran karena Dan Yi bersikap tak acuh seperti itu. “Apa aku harus menangis? Kau mau aku menangis? Aku tidak akan diusir jika menangis?” tanya Dan Yi. Eun Ho lagi-lagi tidak menjawab. “Kau akan kesal jika aku menangis. Dan jika tahu tentang kondisiku, kau akan terus kesal.”


Eun Ho bilang walaupun begitu, Dan Yi harusnya tetap memberitahunya. Lebih baikn baginya melihat Dan Yi menangis di depannya. “Aku sudah cukup banyak menangis setahun ini. Satu hal yang diajarkan oleh air mata adalah fakta bahwa menangis tidak menyelesaikan apapun,” kata Dan Yi.


Eun Ho bertanya apakah Dan Yi mau minum lagi karena Dan Yi akan pergi sambil membawa minumannya. “Ayo, tidur saja. Kita bicara besok,” kata Dan Yi lalu naik ke lantai atas. Eun Ho mengingatkan Dan Yi agar berhenti minum karena bisa menjadi kebiasaan.


Dan Yi merasa ingin muntah karena minuman itu sangat keras. “Kenapa keras sekali? Apa yang kupikirkan?” gumamnya buru-buru menuju lantai atas.


Dan Yi lalu membuang isi minumna tadi. “Eun Ho, aku menghabiskan sebotol minuman yang keras ini. Aku sangat stress,” ujarnya lalu tersenyum licik. Ia menutup jendelanya dan berbaring dengan tenang.


“Sepertinya dia tidak akan mengusirku,” gumam Dan Yi senang. “Artinya aku tidak perlu makan diam-diam. Aku bisa tinggal 3 bulan sampai mendapat tempat baru, kan? Syukurlah aku masih punya Eun Ho.” Ia lalu memakai selimutnya dan tidur dengan nyenyak.


“Dia menghabiskannya?” gumam Eun Ho heran saat melihat botol minumannya benar-benar kosong keesokan harinya. “Bagaimana jika dia mati?”


Dan Yi bercerita pada temannya bahwa ia sudah mendapat tempat tinggal sementara. Temannya ikut senang karena Dan Yi terlalu muda untuk bekerja di sana. Tapi ia juga sedih jika tidak bisa bertemu Dan Yi lagi.


Dan Yi bilang ia akan datang 2 kali sepekan dan sudah bicara pada bosnya. Ia harus mencari uang untuk membiayai sekolah Jae Hui. Temannya menyarankan agar Jae Hui pulang saja. “Sekolah negeri di Filipina tidak mahal. Lagipula aku mengirimnya ke sana karena dia tidak tahan dibully di sini. Aku tidak bisa menyuruhnya kembali.”


Temannya bilang Dan Yi masih muda dan cantik, jadi harus berkencan. “Putriku adalah prioritas utamaku, pekerjaan kedua. Hanya 1 itu yang kupikirkan. Aku harus bekerja untuk membesarkan putriku. Jadi, sebenarnya tidak ada prioritas. Keduanya prioritasku. Mereka segalanya bagiku,” kata Dan Yi.


Eun Ho mencoba memasak, tapi rasanya tidak karuan. Ia menambahkan ini dan itu, tapi tetap tidak berhasil.


Ia lalu pergi ke lantai atas dan mengetuk pintu tempat Dan Yi menginap. “Noona, bangun. Aku membuat sup anti mabuk. Rasanya agak aneh, tapi tidak apa-apa, selama itu membuatmu sadar,” ujarnya. Karena tidak ada jawaban, ia mengetuk pintunya lagi. “Noona… Noona?”


Ia masuk ke dalam dan hanya menemukan barang-barang Dan Yi yang berantakan.


Ia menemukan buku catatan berjudul ‘Daftar Wawancara. Aku Bisa!” Eun Ho prihatin melihat begitu banyak wawancara yang Dan Yi jalani.


“Dia tidak memakai bantal,” gumamnya kesal sendiri.


Eun Ho pergi ke ruang olahraga dan mengamatinya sekeliling.


Eun Ho dan Dan Yi bertemu di depan lift. “Ah.. perutku sakit sekali. Ah, kenapa perutku sangat sakit?” keluh Dan Yi berakting. Eun Ho sama sekali tidak peduli dan masuk lebih dulu ke dalam lift saat pintu terbuka.


Dan Yi mengeluh terlalu banyak minum semalam. “Aku melihatmu berjalan saat aku berkendara kemari. Kenapa pergi pagi-pagi sekali? Jangan bilang kau ke UGD karena mabuk,” kata Eun Ho.


Dan Yi bilang Eun Ho pasti cemas karena minumannya habis. Eun Ho bilang ia tidak kaget ataupun cemas.


Eun Ho bilang ia sudah meminta penyewa apartemennya keluar. “Waktunya 3 bulan lagi dan akan pindah setelah itu. Tinggalah di sana setelah mereka pindah,” kata Eun Ho. Dan Yi bilang ia akan mencari tempat tinggal sendiri karena tidak mau mengganggu.


Eun Ho: “Kau sudah sangat mengganggu. 3 bulan aku tidak punya privasi.”
Dan Yi: “Untuk apa ada ponsel? Saat kau mau membawa wanita, kirimi aku pesan dan…”
Eun Ho: “Apa?! Kau tidur di tempat lain?”


“Tentu saja,” kata Dan Yi. Eun Ho menanyakan bagaimana dengan barang-barang Dan Yi yang ada di loteng. “Kenapa bawa wanita di loteng? Lakukan saja di kamarmu!”


Mereka sama-sama terdiam. Dan Yi lalu tertawa sambil berkata, “Bawa saja ke kamarmu dan bersenang-senang.” Eun Ho tidak berkomentar.


“Kenapa panas sekali?” keluh Eun Ho. Dan Yi bilang wajah Eun Hi pasti sangat merah.


Nona Song menyapa Eun Ho, lalu meminta Dan Yi memeriksa printer yang rusak. “Baiklah,” kata Dan Yi lalu menyimpan dulu tas dan jaket di mejanya.


Ji Hong dan Young A datang kemudian.


Eun Ho gelisah melihat Dan Yi yang sedang memeriksa printer. Ia lalu mengirimkan pesan pada Dan Yi.


‘Kita punya langganan jasa perbaikan. Mereka lebih ahli daripada Tim Support. Nomornya ada di dinding.’ Setelah membaca pesan itu, Dan Yi melihat ke dinding belakang printer.


Dan Yi lalu menghubungi nomor itu.


Staf A memanggil Dan Yi dan memintanya memesan kopi instan karena persediaan hampir habis. Eun Ho memperhatikan mereka.


“Dan Yi, siram tanaman hari ini,” kata Young A.


“Aigoo…” keluh Eun Ho.


Dan Yi memindahkan pot-pot tanaman yang cukup besar ke satu sudut yang sama, lalu menyiramnya.


Sambil berbicara dengan Park Hoon, Eun Ho sebenarnya sedang memperhatikan Dan Yi. Park Hoon bilang ia tadi menelepon untuk urusan pekerjaan. Ia sangat senang karena baru pertama kali melihat Eun Ho dari dekat. “Aku penggemarmu,” kata Park Hoon.


“Dan Yi, cari restoran China. Untuk 4 orang. Di Gangnam. Ruangan pribadi,” kata Ji Hong. Eun Ho yang mendengarnya, lalu meninggalkan Park Hoon begitu saja. 


‘Pesan tempat ini untuk rapat dengan Tuan Yun. Dia suka restoran ini. Salin alamatnya dan kirim kepada Tuan Bong,’ tulis Eun Ho. Dan Yi membalasnya agar Eun Ho tidak mengkhawatirkannya dan fokus bekerja saja.


Dan Yi mengirimkan alamat restoran itu pada Ji Hong. Ji Hong kagum karena Dan Yi melakukannya dengan cepat dan ia merasa tempatnya bagus. “Dan Yi, bereskan salinan buku gratis. Ada 200 salinan di ruang rapat,” kata staf lainnya.

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 2 Part 6
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 Part 2

Comments


EmoticonEmoticon