2/03/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 PART 3

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 Part 4

Buku yang direkomendasikan oleh Direktur Kim itu berjudul Kisah Ilmuwan Naif yang Bertahan Hidup di Mars karya Eun Ho.


“Ada apa dengan spanduk ini? Aku bekerja siang dan malam untuk buku itu. Ini cara burukmu untuk memasarkannya?” kata Eun Ho. Direktur Kim bilang masalahnya bukanlah iklan bukunya.


“Ini. Bagaimana menurutmu?” tanya sambil meletakkan buku berjudul Malam Cerah Musim Panas. “Lihat sampul buku ini, Lebih baik dari keseluruhan buku kita. Apa gunanya membaca seluruh naskah? Kini orang-orang membeli buku karena sampulnya.”


Eun Ho bilang buku bukan aksesoris. “Mereka aksesoris!” kata Direktur Kim lalu seolah berjalan membawa buku itu. “Lihat betapa membosankannya ini?”


“Tapi, lihat ini. Aku lebih tampan?” kata Direktur Kim sambil membawa buku contoh. Eun Ho tersenyum sebal. “Begini saja. Sampul desain Ji Seo Joon. Dia desainer terbaik. Semua buku di sini didesain olehnya.”


Seo Joon mendengar itu.


“Bawa dia ke Gyeoroo,” kata Direktur Kim. Eun Ho menolak. “Ehm..” Eun Ho protes. “Ehm… koneksimu paling bagus, kau juga paling kompeten. Bawa dia.” 


Direktur Kim pergi dan menyapa orang lagi. “Kau pasti mencari buku yang menarik? Aku akan…” Ia terkejut karena itu orang yang sama dengan yang ia temui sebelumnya. “Pasti panas. Kau membuka mantelmu.”


Seo Joon tersenyum kasihan. Direktur Kim kembali menghampiri Eun Ho.


“Kita harus menjual semua buku itu. Buku yang langsung dibeli begitu diambil. Bawa Ji Seo Joon. Dia bekerja untuk Wolmyeong. Mereka akan memperbaharui kontrak bulan depan. Bawa dia ke Gyeoroo sebelum mereka menandatangani kontrak,” kata Direktur Kim.


Di kantor, Hae Rin menunjukkan daftar pesanan buku Park Ju Eun. Eun Ho melihay daftar itu sekilas, lalu meletakkannya.


“Kau tahu Ji Seo Joon? Dia mendesain ini,” kata Eun Ho sambil menunjukkan buku-buku yang sampulnya didesain oleh Seo Joon. Hae Rin bilang ia tertarik dengan desainnya. “Kenapa?” Hae Rin bilang itu karena konsepnya jelas.


“Ini mudah dibawa dan dibaca karena ringan dan sampulnya tipis. Ini bisa dibaca di bus atau di kereta,” kata Hae Rin mengambil buku pertama, lalu mengambil buku berikutnya.


“Sedangkan ini, bisa mudah dibawa saat kau bepergian.”


“Ini terlalu tebal untuk dibawa. Ini juga mahal. Ini dibuat tampak berkelas agar bisa dipadang di rak buku,” lanjut Hae Rin. Eun Ho berpendapat bahwa isinya lebih penting. “Ya, tapi desain tidak mempengaruhi isi. Lihat ini.”


Hae Rin mengambil buku berikutnya. “Ini ditujukan untuk wanita berumur 20 sampai 30-an. Cantik, seperti aksesoris.”


“Dan buku ini tentang memulihkan hidup kita. Jadi sampulnya sederhana dengan warna natural,” kata Hae Rin lagi.


“Benar. Desainnya bagus dan bersih. Desain sampulnya bagus. Uraiannya mudah dibaca. Dia membaca bukunya dahulu. Aku tahu. Dia tahu di mana harus menyuntingnya. Ini bukan pekerjaan penulis atau editor. Ini pekerjaan desainer buku,” kata Eun Ho.


Hae Rin bilang Staf Tim Desain mereka harus selangkah lebih maju karena mereka terlalu santai. “Astaga, ini melukai harga diriku. Buku tetaplah buku. Pikirmu ini tidak terlalu komersil?” kata Eun Ho.


Hae Rin ingin menyangkal, tapi Eun Ho melarangnya. “Aku tahu kau hanya ingin orang-orang membaca buku kita. Semuanya buku yang bagus. Aku juga merasa begitu,” kata Eun Ho.


Seo Joon sedang melihat draft desain sampul miliknya. “Kenapa? Kau ingin jalan-jalan?” tanyanya saat anjingnya mendekat. “Ayo.”


Dan Yi datang melihat rumah. “Ada yang pernah tinggal di sini?” tanyanya saat melihat dindingnya yang lembab. Pemiliknya mengatakan bahkan penyewa sebelumnya memasang tirai tebal karena sinar mataharinya terlalu silau.


Dan Yi tampak ragu.


Dan Yi meninggalkan rumah itu, tapi kemudian menengok lagi ke belakang. Ia mendengar suara gonggongan anjing dan melihat ke lantai atas. Dahinya mengernyit.


Dan Yi :”Oh, si Payung!”
Seo Joon: “Si Daun Bawang!”
Dan Yi: “Aku mencari kamar yang disewakan.”


“Ah.. tempat itu?” tanya Seo Joon khawatir. Dan Yi menebak Seo Joon pasti tinggal di lantai atas. “Tahu dari mana?”


Dan Yi seolah menerawang, lalu berkata, “Aku bisa merasakan energi daun bawang dari sana.” Mereka tertawa. “Aku melihatmu keluar setelah lampunya menyala.” Seo Joon bertanya apa Dan Yi mau menemui daun bawangnya.


Dan Yi menatap daun bawang kesayangannya. Seo Joon bilang daun bawah itu cepat tumbuh setelah dipotong bagian hijaunya dan sering dipakai memasak. Dan Yi senang mendengarnya.


Seo Joon bertanya apakah Dan Yi akan menyewa rumah tadi. “Entahlah. Itu hanya 3 halte dari kantorku. Dan dekat dengan rumah temanku,” kata Dan Yi. Seo Joon melarangnya meneywa tempat itu. Dan Yi tidak mengerti.


Seo Joon bilang tempat itu dulunya gudang dan tidak ada yang tinggal di sana selama 3 tahun terakhir. “Ah, pantas saja,” kata Dan Yi.


Dan Yi bilang ia ingin tinggal di lingkungan itu, tapi harga sewanya sangat mahal. Seo Joon bertanya di mana Dan Yi tinggal sekarang. “Di rumah temanku, dekat sini. Aku tinggal di sana karena tidak punya rumah. Tapi aku tidak mau mengganggunya,” kata Dan Yi,


Lampunya tiba-tiba mati.


Mereka sama-sama melambai-lambaikan tangannya dan lampunya menyala lagi. Mereka tertawa. Dan Yi bilang ia akan mengembalikan paying Seo Joon dan meletakkannya di sebelah pot di lantai bawah. Dan Yi menanyakan nama anjingnya.


“Dia belum punya nama. Aku baru membawanya saat kita bertemu,” kata Seo Joon. Dan Yi bilang ia akan memikirkan nama maskulin untuk anjing itu. Ia terkejut saat gonggongannya anjingnya karena ternyata itu betina. Seo Joon tertawa.


“Aku menemukannya,” kata Park Hoon senang saat sampai di sebuah tempat.


Ia masuk ke restoran itu dan tampak kagum. Ia bilang ia hanya sendirian dan bertanya apa pegawai kantor mendapat diskon di sini. “Ya, asal ada kartu nama,” kata pelayan. Park Hoon menunjukkan kartu namanya dan bilang ia baru saja bekerja di Penerbit Gyeoroo. “Ya. Mari kuantar ke mejamu.”


Park Hoon bertemu Ji Yul dan bertanya apa boleh duduk bersamanya. “Aku sedang menunggu pacarku,” kata Ji Yul. Park Hoon bilang ia tidak tahu kalau Ji Yul punya pacar. “Selamat makan.” Park Hoon mengatakan hal yang sama lalu duduk di meja depan Ji Yul.


Pacar Ji Yul datang dan Park Hoon berharap dikenalkan. Tapi Ji Yul langsung menyapa pacarnya saja yang datang agak terlambat itu. Pacarnya bilang jalanan macet. “Kau pasti lapar. Mau makan apa? Bagaimana kalau rose pasta?”


Park Hoon mendengar pesanan Ji Yul dan mengecek buku menunya. Ia mendengar pacar Ji Yul tidak mau makan. “Kenapa?” tanya Ji Yul.


Pacar: “Kau mungkin juga tidak akan sanggup makan.”
Ji Yul: “Kenapa?”
Pacar: “Karena aku datang untuk memutuskanmu. Aku datang untuk bilang itu. Aku benci semua hal tentangmu. Ibumu menyuruhku memberitahu itu. Aku menyukaimu apa adanya, tapi ibumu menyuruhku mengatakan itu. Aku tidak bisa bersamamu lagi karena aku muak dengan ibumu.”


JI Yul bilang ibunya hanya mencoba menjaganya. “Aku tidak peduli. Semoga hidupmu bahagia. Kita tidak usah bertemu lagi, Ji Yul,” kata pacarnya lalu pergi.


“Astaga, besar sekali. Sepertinya aku tidak sanggup menghabiskannya sendiri,” gumam Park Hoon. “Kau mau makan bersamaku?” tanyanya pada Ji Yul.


Ji Yul mengambil tasnya, lalu pergi melewati Park Hoon begitu saja. Park Hoon pasrah,


Tapi kemudian Ji Yul kembali lagi. Ia bahkan mengambil potongan pizza dari tangan Park Hoon dan langsung memakannya. “Aku makan karena kau bilang tidak sanggup menghabiskannya,” kata Ji Yul beralasan. Park Hoon berterima kasih.


Park Hoon memberikannya air minum dan bertanya sudah berapa kali Ji Yul diputuskan seperti itu. “Sudah sering,” kata Ji Yul. Park Hoon bertanya kenapa Ji Yul tidak menghadapi saja ibunya demi kehidupan cintanya.


Ji Yul: “Menurutmu berapa harga tasku? Harganya lebih dari 3 bulan jumlah gaji kita. Ibuku yang membelikannya.”
Park Hoon: “Lebih penting dari cinta?”
Ji Yul: “Entahlah. Tasnya bagus.”


Park Hoon menyodorkan sepotong pizza lagi. “Aku mau cola,” kata Ji Yul sambil menggigit potongan pizza keduanya. Park Hoon lalu memesankan cola-nya.


Park Hoon: “Lupakan saja itu. Kau pantas dapat yang lebih baik.”
Ji Yul: “Kau benar.”
Park Hoon: “Tentu saja.”
Ji Yul: “Aku jauh lebih baik.”
Park Hoon: “Ya.”
Ji Yul: “Kau punya pacar?”

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 3 Part 4

Comments


EmoticonEmoticon