2/04/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 PART 3

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 4

Young A bertanya kenapa Eun Ho dan Hae Rin datang, padahal sudah sengaja tidak ditelepon. “Ini Hari Minggu. Kalian anak muda harusnya berkencan,” kata Direktur Kim. Hae Rin bilang ia tidak ada kegiatan.


Eun Ho: “Aku ada kencan. Salahmu jika aku diputuskan.”
Dir. Kim: “Benarkah? Aku akan menikahimu.”


“Anak-anak, kalian mau Paman Eun Ho menjadi ayah tiri kalian?” tanya Direktur Kim.


“Mau…!” jawab kedua anak Direktur Kim sambil melambaikan tangannya. Young A bilang Direktur Kim datang dari taman bermain.


Seseorang membuka rolling door, sehingga semua orang merasa silau.


Yoo Sun?!


Masih lengkap dengan alat salonnya, Yoo Sun bekerja mengeluarkan semua lembaran penulis dari buku itu. Ia tampak kesal (hehe.. biasanya juga gitu..)


Direktur Kim memberitahu anak-anaknya bahwa buku itu terbitan baru, tapi penulisnya melakukan hal buruk, jadi bukunya tidak bisa dijual, sehingga akan dibuang. “Putriku, apa pekerjaan ayahmu?” tanya Direktur Kim.


Anak 1: “Ayah membuat buku.”
Dir. Kim: “Benar… Anakku, apa impian ayahmu?”
Anak 2: “Memastikan buku yang ayah buat dibaca semua orang di seluruh dunia.”
Dir. Kim: “Benar…”


Direktur Kim meminta maaf kepada semua orang karena merusak Hari Minggu mereka untuk hal seperti itu. Mereka bilang tidak perlu minta maaf.


Narasi Eun Ho: “Aku suka keyakinan Direktur Kim. Yakin jika kita melakukan yang terbaik, bahkan pada hal kecil, orang akan lebih banyak baca. Dan keyakinan bahwa satu buku itu bisa mengubah hidup seseorang.”


Eun Ho mengambil buku Penulis Min yang dibatalkan penerbitannya dulu.


Ji Yul bertanya kenapa tidak diobral saja seperti memberi diskon 50 persen. Eun Ho bilang ada batas diskon pada sistem harga buku. Dan Yi bilang buku itu bisa disumbangkan. “Buku yang dikembalikan dari toko tidak bisa dijual atau disumbangkan. Jika yang disumbangkan dijual di toko barang bekas, penjualan kita bisa terhambat. JIka dihancurkan begini, setidaknya kita mendapat uang untuk kertasnya,” jelas Eun Ho.


Petugas penghancur kertas datang memberikan amplop atas kertas-kertas mereka. “Tipis sekali. Ini pasti cek,” kata Ji Yul yang menerima amplop itu dengan bahagia. Tapi ia jadi murung ketika melihat isinya hanya dua lembar 50 ribu won.


Narasi Eun Ho: “Kami menghancurkan dua truk buku. Uang yang didapat dari menghancurkan ribuan buku, bahkan tidak cukup untuk membeli 30 buku.”


Dan Yi mengambil buku berjudul ‘Bahagia dan Derita Bekerja’ dari tanah, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia sedih melihat kertas buku beterbangan dan dihancurkan.


“Kita bisa!” ujar Dan Yi. Park Hoon dan Ji Yul terkejut. Eun Ho tersenyum.


Narasi Eun Ho: “Buku-buku ini tidak hilang selamanya. Setelah dihancurkan, mereka akan didaur ulang. Lalu melalui tangan kami, mereka akan menjadi buku baru.”


Sementara Ji Yul ribut ingin makan daging, Eun Ho menerima telepon dari Direktur Kim. Eun Ho memberitahunya bahwa ia baru dari percetakan dan menunjukkan proses penghancurkan kepada pegawai baru.


“Jadi kau ke sana? AKu tidak bisa ke sana karena aku akan sedih. Itu semua uang, tahu! Uang kita berubah jadi debu! Itu mengesalkan,” isak Direktur Kim lalu menutup teleponnya.


Ji Yul memanggil Eun Ho dan minta dibukakan pintunya. Tepat setelah Eun Ho membuka pintunya dengan remote, Hae Rin datang menggunakan mobil perusahaan.


“Mari pulang bersama,” ajak Hae Rin pada Eun Ho. Dan Yi melihat tas belanjaan merah yang sama dengan milik Eun Ho pagi tadi.


Dan Yi melihat isi tas belanjaan itu adalah pakaian wanita diserta bra merah.


Eun Ho baru sadar bahwa sudah jam pulang. “Ibuku memasak kimchi dan mau kau mencobanya,” kata Hae Rin. Eun Ho bertanya apakah ada yang bisa menyetir. Park Hoon mengangkat tangannya. Hae Rin memberikan kunci mobil dan meminta Park Hoon mengembalikan mobilnya ke kantor.


Ji Yul menduga kalau Hae Rin dan Eun Ho berkencan. Ia bilang Hae Rin mengendarai mobil kantor ke sana agar bisa pulang bersama Eun Ho, belum lagi keluarganya yang memberikan kimchi. “Dia biasanya dingin, tapi dia tersenyum lebar pada Kepala Editor Cha,” kata Ji Yul. Dan Yi bilang ia tidak tahu.


Dan Yi ragu jika mobil mereka berjalan pada kecepatan yang benar karena merasa mobilnya berjalan sangat lambat.


“Menyetir dengan benar!” kata pengemudi lain. Ketiga pegawai baru mulai panik. Ji Yul menyesalkan pengakuan Park Hoon bisa menyetir tadi. Dan Yi bertanya apakah Park Hoon punya SIM.


Park Hoon bilang ia baru mendapatkannya kemarin karena tuntutan pekerjaan sebagai Tim Pemasaran. Sebuah mobil truk melewati mereka dan ketiga orang itu berteriak histeris.


Hae Rin bilang tadinya ia mau membawa kimchi ke kantor besok, tapi ia ada di Pusat Logistik jadi mampir ke tempat penghancuran tadi. Eun Ho bersyukur karena ia kehabisan kimchi. Hae Rin llau bilang bahwa ia mencari tahu soal desainer Ji Seo Joon.


“Usianya 29 tahun. Sejak awal karir, dia hanya bekerja untuk Wolmyeong. Tapi tahu yang menarik? Dia jurusan Sastra Korea,” kata Hae Rin. Eun Ho menanyakan alasan Seo Joon bekerja untuk Wolmyeong. “Aku berusaha mencari tahu, tapi hanya ada satu wawancara. Sebentar.”


Hae Rin menunjukkan artikel di tabletnya. “Dia tampan, kan?” kata Hae Rin.


Eun Ho mengenali kalau pria itu adalah orang yang diajak bicara oleh Direktur Kim di toko buku tempo hari. “Astaga, kenapa harus dia?” gumam Eun Ho.


Hae Rin lalu mengirimkan nomor ponsel Seo Joon yang ia dapatkan dari Kepala Editor Wolmyeong.


Di rumahnya, Seo Joon sedang melukis Dan Yi yang sedang minum berlatar tempat di depan butik, sama seperti saat mereka bertemu dulu. Ia menatap lukisan setengah jadi itu dan tersenyum.


Hari sudah malam, tapi ketiga pegawai belum juga sampai di kantor. Dan Yi menyarankan agar Park Hoon pindah ke jalur kiri. “Tanganku tidak boleh lepas dari setir. La… lampu sein. Ji Yul, tolong nyalakan itu,” kata Park Hoon.


Ji Yul tidak mengerti dan malah menekan tombol wiper. Ia menekan tombol lain dan air keluar dari ujung wiper. Mereka bertambah panik.


Dan Yi menarik paksa tangan Park Hoon agar melepaskan setir. Ia membanting setir ke kanan dan meminta Park Hoon menginjak remnya. Mobil berhasil berhenti dengan aman.


“Unnie, apa kau punya SIM?” tanya Ji Yul. Dan Yi bilang ia punya SIM, tapi harus diperpanjang. “Bagaimana cara kita pulang?” Ji Yul mulai menangis. “Ibuku menelepon. Aku ada janji kencan buta hari ini.”


Park Hoon bilang Ji Yul baru saja putus, tapi sudah akan kencan buta. “Kau sangat ingin menikah?” tanyanya. Ji Yul bilang itu hanya minum kopi dan makan bersama. “Kencan buta itu untuk menikah.” Ji Yul bilang ia ikut kencan buta hanya agar mendapat uang dari ibunya. “Baiklah, akan kupastikan kau mendapat uang. Bersiaplah. Aku akan menyetir lagi.”


“Jangan!” larang Dan Yi dan Ji Yul. Dan Yi bilang ia akan naik bus saja. Park Hoon mengkhawatirkan dirinya jika ia ditinggal sendirian.  “Mobilnya bisa ditinggal?” tanya Dan Yi.


Beberapa saat kemudian, Park Hoon menekan tombol lampu sein dengan santai. Ia bahkan melepas satu tangannya dan bertanya apakah kedua penumpangnya ingin mendengarkan musik. “Lupakan,” kata Ji Yul malas. Park Hoon tertawa dan bilang menyetir itu mudah.


Dan Yi tersenyum geli.


“Aku bisa menyetir dengan kaki,” kata Park Hoon sambil mengangkat kakinya. “Menyetir itu mudah.” Ji Yul tampak sebal padanya.


Dan kelancaran itu disebabkan oleh mobil derek yang menarik mobil mereka.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 4

1 komentar


EmoticonEmoticon