2/05/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 PART 5

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 BAGIAN 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 6


Seo Joon memasakkan ramyeon untuk Dan Yi dan mempersilakannya makan. “Ah, terlihat lezat,” kata Dan Yi senang.


Eun Ho pulan ke rumah dan langsung memanggil Dan Yi. Ia mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban. Ia masuk ke kamar dan Dan Yi tidak ada di sana.


Eun Ho melihat catatan yang ada di kalender meja rias. ‘Gaji pertama hadiah untuk Jae Hui dan Eun Ho.’


Ia mengeluh saat melihat tempat sample kosmetik yang Dan Yi pakai, padahal ia sudah membelikan barang baru. Ia membuka laci dan menemukan kotak perhiasan.



Ia membukanya dan melihat cincin pernikahan Dan Yi. Ia menyimpan kembali kotak perhiasan itu.


Ia mengambil buku tabungan Dan Yi yang juga ada di laci yang sama. Ia memotret nomor rekeningnya dan mengirimkannya pada Dong Min.


Dan Yi melihat-lihat lukisan Seo Joon dan terlihat kagum.


Ia tertawa saat melihat lukisan dirinya ada di sana. Seo Joon bilang ia belum menyelesaikannya. “Boleh untukku jika sudah selesai?” tanya Dan Yi.


“Tentu saja,” kata Seo Joon yang kemudian mengajaknya minum teh.


Dan Yi melihat pintu dengan jenis kunci yang berbeda. Satu dengan kunci manual, sedangkan satunya kunci otomatis. “Kau pasti menganggapnya aneh,” kata Seo Joon. Dan Yi bilang pasti ada alasannya karena ia tahu semua hal pasti ada alasannya.


“Tapi orang lain menganggap itu aneh. Kau menyenangkan, Nona Daun Bawang. Ya… kau bahkan belum tanya namaku. Bukankah orang biasanya bertanya itu? Umur, nama, pekerjaan,” kata Seo Joon. Dan Yi bilang jika ia bertanya, maka ia juga harus menjawab hal yang sama. “Umur, nama, pekerjaanmu?”


Dan Yi bilang semua hal itu terlarang. Seo Joon tertawa. Dan Yi bilang setelah 3 pertanyaan itu terjawab, maka orang ingin tahu lebih banyak lagi. “Kisah hidupku tidak sesederhana itu,” kata Dan Yi.


Menurut Seo Joon malah hidup Dan Yi sederhana, karena hanya berjalan tanpa alas kaki, makan daun bawang, tanpa paying, dan minum soju di hari pertama mereka bertemu. “Nona Daun Bawang. Tuan Payung. Bagus, kan? Kita seperti tetangga yang berteman,” kata Dan Yi.


Seo Joon menyukai hal itu. Ia juga setuju saat Dan Yi bilang mereka bisa bermain badminton bersama saat akhir pekan. Ia bahkan menambahkan jadwal makan ramyeon saat hujan, tapi Dan Yi bilang mereka harusnya makan pancake daun bawang. Seo Joon tertawa.


Dan Yi juga bersedia mengurus Geum Bi jika Seo Joon bepergian. “Sungguh? Kau yakin?” tanya Seo Joon senang. Dan Yi mengangguk. “Baguslah..”


“Eun Ho… aku pulang,” kata Dan Yi. Eun Ho yang baru saja keluar kamar mandi bertanya dari mana saja Dan Yi. “Lampu…”


Eun Ho mematikan lampunya. “Sandal…” kata Dan Yi lagi. Eun Ho berbalik dan mengeluarkan sandalnya. “Kau pasti tidak mematikan pengering rambutnya.” Eun Ho tersenyum.


Dan Yi sudah membuka kimchi dari Ibu Hae Rin dan mencobanya. Ia bilang rasanya lezat dan menyuapi Eun Ho. Ia bertanya apa Eun Ho sering ke sana. “Ya, orang tua Hae Rin mengagumiku,” kata Eun Ho. Dan Yi bilang mereka harus melihat betapa malasnya Eun Ho di rumah.


“Noona dari mana? Sudah makan malam?” tanya Eun Ho. Dan Yi bilang ia sudah makan bersama teman tetangga. “Apa pekerjaannya?” Dan Yi mengedikkan bahunya. “Kau makan malam dengan orang yang tak kau kenal?”


Dan Yi bilang ia tidak tahu namanya karena hanya memanggilnya Tuan Payung, dan dia sendiri adalah Nona Daun Bawang dan mereka makan ramyeon. Eun Ho bilang itu kekanakkan dan ia sangat terkejut saat tahu orang itu adalah pria. “Kenapa? Tidak boleh?” tanya Dan Yi heran.


“Noona, kau tidak tahu arti makan ramyeon? Yoo Ji Tae bilang kepada Lee Young Ae di film One Fine Spring Day. Dia tanya, “Mau tinggal untuk makan ramyeon?” Lalu setelah itu, apa yang terjadi?” kata Eun Ho panik.


“Mereka tidur bersama,” kata Dan Yi. Eun Ho bilang makan ramyeon adalah tawaran berbahaya. “Aku kesal jadinya. Aku tidak percaya kami baru saja makan ramyeon. Eun Ho, apa aku tidak menarik?” Eun Ho malah kesal mendapat respon seperti itu.


Eun Ho bilang Dan Yi setidaknya harus mencari tahu nama dan pekerjaan pria itu, jangan asal berteman. Ia bilang dunia itu berbahaya. Dan Yi bilang ia hanya perlu mencari orang yang cocok dengannya. “Seseorang yang mengenalku dan kukenal baik juga. Hanya itu,” kata Dan Yi.


Dan Yi mengingatkan Eun Ho untuk menyikat giginya, lalu pergi ke kamarnya. Eun Ho termenung dan beberapa saat kemudian masuk ke kamar Dan Yi.


Eun Ho: “Noona, orang itu aku, kan? Seseorang yang sangat mengenalmu.”
Dan Yi: “Siapa lagi?”


Eun Ho merasa tenang mendengarnya dan keluar dari kamar Dan Yi.


Ia lalu tersenyum bahagia. “Hingga akhir… Itulah aku… Itulah aku.” Ia bernyanyi dan menari dengan bahagia.


Keesokan harinya, Dan Yi datang ke kantor, tapi tidak ada orang.


Ia mulai membersihkan ruangan dan meja-meja sebelum penghuninya datang.


Ia memakai kacamatanya dan mulai memilih beberapa buku di perpustaakaan. “Kau datang pagi,” sapa Young A. Dan Yi memberikan salam. “Kau tertarik pada pemasaran. Itu isi bukunya. Young A melihat buku yang sedang dibaca Dan Yi.


“Ya, di agensi periklanan…” Dan Yi menghentikan ucapannya. Ia mengingat pernah menjadi penulis naskah iklan dari April 2006 hingga Mei 2012.


Dan Yi sudah menyobek lembar pengalaman kerjanya.


Dan Yi bilang ia pernah bekerja paruh waktu saat ia masih muda. “Waktu cepat berlalu. Harus banyak belajar. Jadi, aku memulai dari awal,” kata Dan Yi. Young A tampak senang melihat tekad Dan Yi.


Young A bilang buku terbitan tahun 2003 hanya membahas strategi yang sudah kuno. Buku lain yang ada di meja Dan Yi juga hanya ditulis setengah hati oleh penulisnya, jadi Young A melarang Dan Yi membacanya.


Young A memilihkan satu buku dari rak dan memberikannya pada Dan Yi. “Media social sedang mendominasi. Kau harus tahu pemasaran online,” kata Young A. Dan Yi berterima kasih. “Baca ini dan temui aku lagi nanti. Akan kurekomendasikan yang lain.” Dan Yi melanjutkan membaca, lalu membawa buku itu ke mejanya.


Young A bertanya apakah Eun Ho bekerja di luar hari ini. “Dia bertemu Tuan Ji Seo Joon,” kata Hae Rin. Young A terlihat senang. Ji Hong bilang Direktur Kim ikut bersama Eun Ho. Young A menyayangkannya karena kesempatan Eun Ho lebih bagus jika pergi sendiri.


Dan Yi mendengar percakapan mereka. Ia tidak tahu kalau Ji Seo Joon yang mereka bicarakan adalah teman barunya, Tuan Payung.


Direktur Kim bilang ia ikut rapat agar Seo Joon menganggap dirinya penting karena seorang direktur sampai ikut menemuinya. Eun Ho bilang semuanya akan berhasil jika DIrektur Kim diam saja. “Terakhir kali kau bertemu Penulis Kang, kau berjanji akan memberinya keuntungan besar. Jangan bilang itu lagi,” kata Eun Ho.


Direktur Kim bilang Penulis Kang setuju dengan mereka karena tergugah dengan kata-katanya. “Jangan bilang begitu hari ini, kau akan malu,” kata Eun Ho. Direktur Kim menantang Eun Ho mempertaruhkan gaji bulanannya. “Baiklah. Gajimu juga.” Mereka sepakat.


“Pemandangan yang bagus,” kata Direktur Kim saat melihat punggung Seo Joon. “Seorang pria harus membaca saat berada di kafe.”


Seo Joon mengecek jam tangannya, lalu memasukkan bukunya ke dalam tas.


Eun Ho sangat senang melihat wajah terkejut Direktur Kim saat melihat siapa orang yang akan mereka temui.


Direktur Kim ingat orang itu adalah pria di toko buku. “Kau akan kalah taruhan dalam lima detik. Ayo,” ajak Eun Ho. Direktur Kim ingin menangis.

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 6

Comments


EmoticonEmoticon