2/10/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 PART 1

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 6
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 2

Dan Yi menempel sebuah poster di pintu ruang rapat.


Ji Yul mendekat dan terlihat tulisan di poster ‘Pemasaran dalam Keseharian’. ‘Kurasa aku akan mulai awasi ini juga. Mustahil. Orang-orang kantor dan ibuku tidak mungkin ada di sini,’ ketik Ji Yul di media sosialnya.


‘Kirimkan Tiga Kali Sehari!’ kata bagian lain poster itu.


Eun Ho melihat media sosial Dan Yi yang memposting buku yang ia ambil dari tempat penghancuran. Menurutnya, buku itu adalah buah dari semangat dan dedikasi.


Caption Dan Yi: ‘Ketika melihat buku dihancurkan, aku teringat ucapan pujangga Amy Lowell. Katanya buku adalah intisari hidup kita. Aku ingin berbagi intisari berharga ini dengan semua orang, agar tidak malu menemui pepohonan. Aku pasti bisa.’


Eun Ho tersenyum membaca caption itu. Ia melihat Dan Yi sedang memasang poster di dinding. ‘Semua Pegawai Gyeoroo adalah Pemasar,’ tulis poster itu.


Eun Ho masih tersenyum. Ia mengingat perbincangannya dengan Dan Yi semalam.


“Bulannya sangat indah,” kata Eun Ho dan Dan Yi setuju. “Bulannya indah, kan?”


‘Alih-alih bilang “Aku Mencintaimu’, Soseki Natsume bilang, “Bulannya indah.” Itu malam yang mengingatkanku padanya. Maka buku hari ini adalah…’ tulis Eun Ho di media sosialnya.


 Sedangkan di media sosial Hae Rin, isinya adalah koreksi penggunaan kata. Misalnya: ‘Cuci piring’, bukan ‘mencuci’ atau Yang benar “Menolak pesanan”, bukan “ pesanan ditolak”.


Mereka bertiga tiba-tiba diikuti oleh seseorang yang menggunakan ID: Luckyboy


Ternyata Luckyboy adalah Direktur Kim. Ia mendeksripsikan dirinya sebagai industrialis budaya, perawat ilmu dan budaya. Ia sibuk mengambil foto wajahnya dari berbagai sudut. Di postingan pertamanya, ia menceritakan tentang temannya pemilik penerbitan kecil yang mengeluh bukunya tidak laku dan perusahaannya akan bangkrut. Ia bilang temannya itu bersemagat dan kompeten.


Dan Yi membaca postingan Direktur Kim yang juga menuliskan bahwa ia penasaran apakah masyarakat sudah tidak acuh pada buku fisik.


Eun Ho juga membacanya. ‘Dibandingkan dia aku diberkati. Aku anak yang beruntung. Buku-buku Gyeoroo masih disukai para pembaca,’ tulis Direktur Kim.


Hae Rin tersenyum membaca postingan itu. ‘Ya, jangan pernah melambat. Maju terus,’ tulis Direktur Kim lagi.


Eun Ho, Hae Rin, dan bahkan Dan Yi memblokir luckyboy. (hahaha…)


Dan Yi melihat Yoo Sun berjalan menuju ruangannya.


ID media sosialnya adalah Yu Seon. Ia menuliskan dirinya sebagai Direktur Penerbut Gyeoroo, lajang elegan.


‘Kuterjemahkan esai Profesor K University ke Bahasa Inggris, hanya untuk mengisi waktu dan hobi,’ tulis Yoo Sun di salah satu postingannya.


Yoo Sun juga sibuk memfoto dirinya ataupun bukunya.


Padahal apartemennya snagat berantakan.


Sambil menunggu kopinya jadi, Yoo Sun menuliskan bahwa Direktur Kim adalah pemimpin paling teladan di Gyeoroo.


Ji Hong berusaha menjelaskan bahwa puisi adalah sumber inspirasi artistik yang luar biasa. “Buat apa menulis puisi bagus? Tidak ada yang membacanya,” kata seorang penulis yang Ji Hong temui di kedai.


Penulis itu bilang bahwa puisinya gratis karena tersebar di internet. “Ada bedebah yang mengunggah seluruh buku puisiku. Aku akan kaya jika mendapat 100 won per puisi,” kata penulis itu.


“Lukcyboy?” gumam Ji Hong keran saat mendapat notifikasi bahwa ID luckyboy mulai mengikutinya. “Anak? Sampai usia berapa kau dianggap anak? Kau memang bos, lalu kenapa? Blokir!”


Direktur Kim masuk ke ruang staf. “Kenapa kalian jahat kepadaku?! Kenapa kalian memblokirku? Luckyboy. Kalian membenciku?” katanya sedih. Mereka menoleh karena terkejut, tapi kemudian kembali bekerja seperti biasa. “Eun Ho, jawab. Kenapa kau memblokirku?”


Eun Ho bilang ia tidak tahu kalau itu adalah Direktur Kim. Direktur Kim bilang tidak mungkin tidak tahu, karena ia menuliskan statusnya sebagai Direktur Penerbit Gyeoroo. “Oh, begitu. Kukira ada yang berpura-pura jadi kau,” kata Eun Ho santai.


 “Ah… a…” Direktur Kim kehilangan kata-kata. Ia melihat Dan Yi.


“Aku juga tidak tahu,” kata Dan Yi.


“Ada apa ini? Apa aku buangan di media sosial?” gumam Direktur Kim sedih. Ia lalu menghampiri Hae Rin yang baru saja memposting bahwa ia tidak mau melihat wiraniaga narsis di dunia maya. “Nona Song, ikuti aku, ya?” Hae Rin terpaka setuju.


“Song I,” panggil Direktur Kim pada Staf A. “Ikuti aku. Mari berteman.” Song I mengangguk. Hae Rin tersenyum geli.


Ji Yul memperhatikan mereka semua. “Dia sangat manis,” kata Eun Ho setelah Direktur Kim pergi.


Yoo Sun mendapat pesan balasan dari Direktur Kim yang menyebutnya sebagai bank ide di Gyeoroo. Ia juga menyebut Yoo Sun adalah mentor yang sangat dikagumi semua pegawati.


Dan Yi meletakkan kopi instan baru di kafetaria. Saat akan pergi, ia melihat jadwal mingguan di layar informasi.


Ia melihat jadwal rapat mingguan dan rapat eksekutif. Tapi yang menarik perhatiannya adalah rapat pemasaran buku baru Park Jeong Sik.


Eun Ho memberikan draft buku baru Penulis Park kepada Dan Yi. “Kau yakin mau mencoba lagi? Setelah apa yang Direktur Go lakukan padamu?” tanya Eun Ho khawatir. Dan Yi bilang ia baik-baik saja.


Dan Yi memesan dua ekstra sayuran dan saus, tapi Eun Ho meralat bahwa hanya satu yang ekstra saus. “Penyihir besar tidak menakutiku,” kata Dan Yi. Eun Ho tersenyum.


Penyihir yang dbicarakan Dan Yi sedang berkumpul bersama teman-temannya.


Ada yang bangga karena anaknya masuk sekolah internasional, ada juga yang bangga karena suaminya menjadi direktur, dan yang satunya lagi mendapat setengah asset dari mertuanya. Mereka lalu berhenti tertawa dan meminta maaf pada Yoo Sun. “Untuk apa?” tanya Yoo Sun.


Teman 1: “Dia lajang dan tidak punya anak. Kita harus pengertian.”
Yoo Sun: “Kenapa? Aku punya 3 rumah. Aku juga direktur. Belum lama, aku mendapat gelar doktor.”


Yoo Sun bilang ia tidak merasa iri dan tidak pernah tersinggung dengan pertemuan semacam itu. Teman-temannya merasa canggung. “Hari ini aku yang traktir minum,” kata Yoo Sun yang juga bilang bahwa ia harus pulang dan membaca materi untuk pekerjaannya.


Setelah Yoo Sun pergi, ketiga temannya menyebutnya sombong. (wkkk padahal mereka yang sombong duluan). Mereka bilang tidak mau lagi berkumpul bersama Yoo Sun.


Dan Yi bilang ia tidak akan membiarkan Yoo Sun mencuri idenya lagi. Eun Ho setuju. Dan Yi menatap Eun Ho dan meminta petunjuk. “Petunjuk?” tanya Eun Ho.


“Boleh kubilang, tips pemasaran?” pinta Dan Yi. Eun Ho menatapnya. “Petunjuk. Satu saja.” Eun Ho lalu mengetuk dahi Dan Yi dan melarangnya berbuat curang. Ia bilang Dan Yi harus memikirkannya sendiri. “Kau jahat sekali. Lihat saja. Ini akan luar biasa.” Eun Ho lalu menyuapi Dan Yi.


Eun Ho: “Gadis baik. Enak?”
Dan Yi: “Ya. Beri aku petunjuk.”
Eun Ho: “Hahaha…”

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 4 Part 6
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 2

Comments


EmoticonEmoticon