2/15/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 PART 2

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 3

Keesokan harinya, Dan Yi menyiapkan keperluan rapat. Ia juga memasang kerta pengumuman bahwa rapat strategi pemasaran buku baru akan dimulai jam 11 siang.


Dan Yi mendapat pesan dari Eun Ho bahwa rapat pemasaran biasanya dipimpin oleh Young A sebagai Kepala Pemasaran.


‘Namun, karena Nona Go berawal dari pemasaran, sering terjadi pertengkaran di antara mereka,’ tulis Eun Ho.


‘Kali terakhir, uraian Nona Go yang dipilih, jadi Nona Seo tidak akan mau kalah kali ini.’


‘Saat perang ide ini menjadi pertengkaran emosional yang membuat semuanya lelah, itulah kesempatanmu.’


Ji Hong bertanya apa Dan Yi sudah menyiapkan rapatnya. Ia mengeluh karena tidak ada yang membantu Dan Yi. Ia masuk lebih dulu ke ruang rapat, setelah itu menyusul Eun Ho, dan beberapa staf lainnya.


“Nona Go, boleh aku ikut rapat?” tanya Dan Yi. Yoo Sun bertanya kenapa Dan Yi ingin ikut rapat. “Mengetahui detail kemajuan mungkin akan membantuku menemukan lebih banyak hal untuk kukerjakan.”


Direktur Kim datang dan melihat mereka. Yoo Sun berterima kasih karena Dan Yi ingin membantu, tapi itu bukanlah timnya. “Kau boleh ikut,” kata Direktur Kim ikut bicara. “Kau juga membantu Departemen Pengembangan Konten. Jadi, tahu detail bisa membuatmu lebih banyak membantu. Masuklah.”


Dan Yi berterima kasih dan terbentur pintu saking senangnya. Ia lalu masuk ke ruang rapat dan Yoo Sun menyusul tepat di belakangnya.


Dan Yi dan Eun Ho saling tersenyum tipis. Direktur Kim memulai rapatnya. Ji Hong menanyakan tentang desainer Ji Seo Jun, sebelum memutuskan berapa eksemplar buku yang akan dicetak. Young A yakin berjalan dengan baik karena Direktur Kim juga ikut.


Yang terjadi malah kebalikannya. Seo Jun menuduh Gyeoroo mengambil hak cipta Penulis Kang dan menyembunyikannya.


Eun Ho bilang Seo Jun tidak mau bekerja bersama mereka. “Itu karena ulahmu! Semua ini salahmu! Kenapa kau mengikutinya? Sekarang bagaimana?” kata Ji Hong pada Direktur Kim.


Seo Jun ada di toko buku. Ia mengambil 3 buah buku yang sampulnya sudah kusut.


Kasir memberitahunya bahwa bukunya sudah agak using, jadi akan mengambillkannya yang baru. “Tidak apa-apa. Jika tidak kubeli, akan dikembalikan ke penerbit dan dihancurkan. Ini masih bisa dibaca. Kubeli yang ini,” kata Seo Jun.


Saat akan pergi, Seo Jun mendengar dua orang membicarakan bahwa 2 dari 5 buku dari Gyeoroo selalu stabil penjualannya. “Karena itu karya Kang Byeong Jun. Semuanya mahakarya. Oh ya, Revolusi karya Kang Byeong Jun, itu hak terbit eksklusif firmamu, kan?” kata salah satunya.


“Ada lagi. Bisikan Langit, Tangisan Pulau, dan Ibu. Gyeoroo mengambil semuanya. Gyeoroo membuatku jengkel,” kata temannya.


Young A kecewa karena sebelumnya Direktur Kim sangat yakin akan mendapatkan Seo Jun dan mereka akan mencetak 10.000 eksemplar edisi pertama. “Cetak 7000 eksemplar. Desainer andal tidak menjamin penjualan besar,” kata Direktur Kim. Young A heran karena sebelumnya karena perkataan Direktur Kim berbeda dari sebelumnya,


Ji Hong ragu ada yang mau membeli 7000 buku karya penulis pemula. “Kenapa membuat buku yang tidak laku dijual?” kata Direktur Kim. Ji Hong bilang mereka mengadakan rapat itu untuk mengetahui cara menjualnya.


“Industri juga sedang goyang, bagaimana jika 5000 saja agar aman?” usul Eun Ho. Hae Rin bilang itu terlalu banyak karena biasanya untuk edisi pertama hanya 2000 atau 3000 eksemplar.


Direktur Kim bilang mereka sudah meneken kontrak tiga tahun lalu dengan penulisnya dan banyak rencana gagal. “Hei, setelah setahun mengedit, 3000 salinan… Keuntungannya bahkan tidak sepadan dengan traktiranku padanya,” lanjutnya kesal.


Eun Ho mengingatkan agar Direktur Kim bicara yang sopan saat rapat. Direktur Kim bilang Ji Hong duluan yang bicara santai. “Benarkah?” tanya Ji Hong. Eun Ho bilang mereka akan mulai dengan 500 eksemplar dan akan berusaha untuk memasarkannya dengan baik serta menyebarluaskannya, lalu mereka bisa mencetak lagi.


“Permisi… Apakah eksemplar itu maksudnya adalah jumlah buku?” tanya Ji Yul dengan polos. Direktur Kim syok dengan pertanyaan sepele seperti itu. Ji Hong menahan tawanya.


Park Hoon memberi kode agar Ji Yul berhenti bicara, tapi Ji Yul tidak menyadarinya.


Dir. Kim: “Siapa yang menerima dia?”
Eun Ho: “Kau, karena latar belakang pendidikannya kuat.”
Dir. Kim: “Kini kau bisa mendengarku? Kau punya kekuatan super? Kau bisa baca pikiran orang?”


Eun Ho hanya tersenyum. Ia lalu mengatakan agar lebih aman mereka akan mencetak 5000 eksemplar. “Sudah punya tema pemasaran?” tanya Eun Ho.


Park Hoon bilang timnya sudah menyiapkan presentasi. Ia lalu membagikan kertas materinya pada semua orang. 


Mereka melihat materi sampul buku itu. Yoo Sun bilang penulisnya benar-benar pemula. Young A bilang cerita yang bagus akan menjadi fokus utama strategi pemasaran mereka.


Staf B bilang ringkasan plotnya akan berbentuk web toon, sehingga akan menarik pembaca. “Kenapa ide itu hebat?” tanya Yoo Sun dingin. Semua orang langsung bersikap waspada. Orang berkacamata tadi bilang ia tidak tahu banyak tentang pemasaran.


Yoo Sun bilang itu akan terlalu lama karena mereka harus mencari seniman web toon dan membuat ringkasan plotnya. Young A bertanya apa idenya. “Tetapkan target pembeli,” kata Yoo Sun. Young A bilang ia sudah menargetkan pembaca usia 20-an dan 30-an. “Tidak banyak orang suka web toon.”


Direktur Kim memperhatikan pertengkaran yang baru saja dimulai itu.


Young A bilang ia akan mencari seniman web toon paling popular. “Itu lebih mahal daripada biaya penulis,” kata Yoo Sun memotong ucapan Young A. Young A bilang mereka punya anggaran pemasaran yang cukup. “Fokus pemasaran online. Kita targetkan komunitas penggemar genre fiksi.”


Eun Ho bilang itu ide yang bagus. Direktur Kim bertanya apa ada ide lain. “Kenapa harus online? Sementara kita menunggu pemberitaan online, kita kehilangan penjualan langsung,” kata Young A.


“Permisi,” kata Dan Yi sambil mengangkat tangannya. Eun Ho menganggukkan kepalanya mendukung Dan Yi diam-diam. “Aku juga punya ide.” Yoo Sun tidak mempedulikannya dan meminta Young A menghapus ide web toon, karena mengungkap cerita tidak akan berguna dan cerita akan bocor. Dan Yi kecewa dan menurunkan tangannya. Direktur Kim bertanya apa ada hal lain yang bisa disorot.


Eun Ho memberi kode agar Dan Yi menyampaikan idenya. Dan Yi mengerti dan mengangkat tangannya lagi.


“Bagaimana jika tidak usah disampul?” usul Dan Yi.


“Huft... kenapa dia terus menyela?” gerutu Yoo Sun. Eun Ho menyarankan agar mereka mendengarkan ide Dan Yi karena tidak ada yang punya ide lagi. Direktur Kim dan Young A setuju. Ji Hong lalu mempersilakan Dan Yi menjelaskan idenya. Yoo Sun kelihatan tidak suka.


Ji Hong heran kenapa Dan Yi memakai infocus karena itu sangat kuno. Young A tertawa. Park Hoon membantu dan Yi menampillkan presentasinya yang berjudul ‘Proyek Buku Tak Tergantikan’.


Dan Yi bilang semakin cepat merilis buku baru, pembaca akan cepat bosan juga, tapi jika tidak dipasarkan, mereka akan lupa. Tapi, ia bilang ada yang unik dengan buku itu. Ia ingin tahu apa yang bisa membangkitkan rasa penasaran mereka, jadi ia akan fokus pada fakta bahwa penulis adalah pemula.


“Bagaimana jika rahasiakan saja penulis atau bukunya? Jangan tunjukkan apa-apa,” kata Dan Yi. Ia lalu menampilkan di layar bahwa tidak ada yang akan melihat nama penulis, sinopsis, atau judul buku itu.


“Seperti sebuah hadiah,” kata Dan Yi. Ji Hong tersenyum mendengarnya. “Pembaca akan merasakan kegembiraan merobek kertas pembungkus. Meskipun kubeli dengan uang sendiri, aku tidak tahu apa isinya. Hadiah… untuk diriku sendiri.”


Song Yi menyebut ide itu menarik, apalagi penulisnya belum terkenal. Young An dan Hae Rin juga kelihatannya menyukai ide itu. “Proyek ini adalah soal buku tidak tergantikan. Dipilih olehmu, hanya dirimu sendiri. Hadiah special untuk dirimu,” lanjut Dan Yi.


Yoo Sun ragu orang akan membeli buku yang sepenuhnya tertutup itu, bahkan komik saja ada sampulnya. “Itu sebuah buku karena dijual di toko buku,” kata Eun Ho. Dan Yi bilang saat membuka hadiah, biasanya mereka tidak tahu apa isinya.


Direktur Kim bilang butuh kepercayaan diri untuk membuka buku tanpa tahu isi bukunya. Eun Ho menyarankan agar mereka menulsikan kutipan kunci dari buku itu di pembungkusnya.


“Kepala Editor Cha, kau membaca pikiranku,” kata Dan Yi senang. “Apapun yang kita mau, bisa dicetak di pembungkus. Itu juga memberitahu pembaca genre buku itu.”


“Bagaimana jika kita mencobanya?,” kata Staf C. Ji Hong setuju karena lagipula mereka sudah kehilangan Ji Seo Jun. Ia yakin pembungkus yang berfungsi sebagai sampul itu akan membuat banyak orang penasaran. Young A bilang jika kali ini sukses, mereka bisa aplikasikan ke terbitan berikutnya.


“Baiklah. Nona Song, kau yang edit ini dan kerjakan proyek ini dengan Dan Yi,” kata Direktur Kim. Hae Rin setuju. “Jika tidak laku, kita bisa lepas kertas pembungkusnya. Kita tidak akan rugi”


Park Hoon ikut merasa senang atas keberhasilan Dan Yi dan ikut bertepuk tangan bersama yang lainnya. (kecuali Yoo Sun pastinya, haha..)


Saat berjalan keluar ruang rapat, beberapa staf tos dengan Dan Yi, Young A bahkan memueluknya dan bilang ia tahu kalau Dan Yi paham soal pemasaran. Eun Ho juga tersenyum padanya, hanya Yoo Sun yang masih tidak peduli padanya.


Dan Yi lalu merapikan bekas rapatnya dengan ceria.


Sementara itui ruangannya, Yoo Sun meletakkan tablet dan kacamatanya dengan hati-hati. Tapi kemudian ia membanting draft buku baru itu dengan keras ke atas meja. Ia sangat kesal, lalu berusaha menenangkan dirinya.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon