2/16/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 PART 4

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 5

Dan Yi dan Eun Ho tampak sangat bahagia saat mereka menghabsikan akhir pekan bersama. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menonton pertunjukan di pusat kota.


Eun Ho melindungi Dan Yi yang hampir terjatuh karena tersenggol orang lewat.


Eun Ho bahkan menggandeng tangan Dan Yi tanpa ragu.


Mereka makan di kaki lima, bermain rolet, minum di kafe dan bermain panah.


Sampai malam tiba, mereka masih menghabiskan waktu bersama. Seorang pemain piano melambaikan tangan pada Eun Ho.


Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti untuk menonton penampilan musisi jalanan. Dan Yi menyukai penampilannya dan memberikan uangnya.


Saat melihat Dan Yi menggosok-gosok tangannya karena kedinginan, Eun Ho meraih tangan Dan Yi dan meniupkan udara, lalu memasukkan tangan Dan Yi ke kantong mantelnya agar Dan Yi merasa lebih hangat.


Dan Yi bertanya apa yang Eun Ho inginkan sebagai hadiah dari gaji pertamanya. EUn Ho bilang akan memikirkannya. “Pikirkan barang yang bagus,” kata Dan Yi. Eun Ho mengingatkan dulu Dan Yi membelikannya jaket empuk dengan gaji pertamanya. “Ya.” Eun Ho bertanya kenapa Dan Yi memberinya itu.


Dan Yi bilang saat itu musim dingin dan udaranya sangat dingin. Eun Ho bilang semua orang juga merasakan hal yang sama. Ia bertanya kenapa harus dia. Dan Yi mengatakan alasan yang sama.


Eun Ho melepaskan tangan Dan Yi dan berjalan lebih dulu. “Lupakan saja, bodoh,” kata Eun Ho. Dan Yi tidak mengerti ada apa dengan Eun Ho yang terkadang bertingkah gila. “Baiklah, aku gila. Kau senang?”


Dan Yi: “Apa kau mabuk? Apa kau tidak ke sana? Ke tempat yang kau kunjungi saat mabuk? Siapa gadis itu? Kukira dia Hae Rin.”
Eun Ho: “Lupakanlah. Kau tidak tahu siapa dia.”
Dan Yi: “Kau sungguh rumit.”


Eun Ho mengakui kalau dia rumit. Dan Yi protes karena Eun Ho mengajak bertengkar padahal hari ini sangat menyenangkan. “Kau yang merusaknya,” kata Eun Ho. Dan Yi lalu menggandeng tangan Eun Ho. “Apa ini? Kenapa Noona memegang tanganku?”


“Dari tadi memang kupegang,” kata Dan Yi sambil tersenyum. Eun Ho membenarkan ucapan Dan Yi dan membalas senyumannya.


Dan Yi melihat truk makanan dan mendekatinya. Eun Ho melarang mereka makan lagi karena ia bisa gemuk. “Kau harus agak gemuk,” rajuk Dan Yi. Eun Ho tetap mengajaknya pergi. “Kau terlalu kurus.” EUn Ho tidak peduli.


Keesokan harinya, Ji Yul memposting di media sosialnya, ‘Si landak marah lagi. Itu karena bayi kangurunya’. Ia sekarang sedang menghadap Hae Rin yang kemudian memeriksa naskanya. Hae Rin membanting dokumen itu berkali-kali. Semua orang terkejut.


Park Hoon melihat dari balik dinding.


“Ji Yul, siapa yang pakai cairan koreksi untuk menyunting naskah?” tanya Hae Rin. Eun Ho terkejut. Hae Rin bilang ia merasa lebih baik menggunakannya untuk menghapus dan menyunting kesalahannya. Hae Rin membanting dokumennya lagi. “Kau bercanda?! Apa kau tahu tugasmu?”


Eun Ho menggeleng-gelengkan kepalanya. Hae Rin melanjutkan omelannya, “Kau pikir masuk akal jika editor tidak paham aturan dasar sunting naskah?!” Ji Yul meminta maaf.


Ji Hong bilang Ji Yul memang harus menyesal. “Coba kulihat,” katanya mendekat untuk menyelamatkan Ji Yul dari amukan Hae Rin. 


“Ini… Astaga, ini… Ini bagus dan jelas,” katanya pada Eun Ho yang juga mendekat. Eun Ho memberikan buku pada Ji Yul yang bisa membantunya belajar menyunting naskah.


“Nona Oh Ji Yul…” panggil seorang pria yang membaca sofa kecil. Ji Yul mengangkat tangannya. Hae Rin syok.


Ji Yul: “Ibuku pikir aku harus memakai kursi yang nyaman karena aku selalu lembur saat menyunting naskah. Apakah tidak boleh?”
Ji Hong: “Apa ada aturan yang melarang kita membaca kursi sendiri?”
Eun Ho: “Tidak. Tidak ada.”


Di belakang mereka, Park Hoon menggerakkan tangannya menandakan perbuatan Ji Yul salah. Eun Ho mengulangi bahwa seharusnya tidak ada peraturan seperti itu. “Boleh kucoba duduk di sini?” tanya Ji Hong agar suasana lebih cair.


Hae Rin mengambil ponselnya. “Dan Yi, kita harus rapat. Di mana kau?” ujarnya.


Saat rapat, Dan Yi menunjukkan beberapa frase yang sudah ia pikirkan pada akhir pekan. “Punyamu sangat mirip denganku,” kata Hae Rin setelah membacanya. Dan Yi bilang bukunya sangat menarik dan ia berharap bukunya akan laris. “Ada pendapat lagi?”


“Kurasa kita harus mengeluarkan ‘Deklarasi Putih’ dari daftar cerita pendek,” kata Dan Yi. Hae Rin juga berpikiran sama, tapi penulis tetap mau mempertahankannya. “Itu sangat berbeda dari cerita yang lain. Jadi, kurasa akan lebih baik untuk memperluas jalan ceritanya dan membuatnya menjadi cerita singkat.”


Hae Rin bilang itu ide yang bagus. Ia bilang waktunya tidak banyak lagi hingga penerbitan, jadi mereka harus segera meyakinkan penulisnya. Dan Yi setuju.


Yoo Sun melewati ruangan tempat Hae Rind an Dan Yi sedang rapat sambil tertawa akrab. Ia tidak suka melihatnya.


Dan Yi dipanggil ke ruangan Yoo Sun. Yoo Sun bertanya apa Dan Yi sudah selesai rapat. “Sudah. Banyak tambahan yang harus kami teliti lagi,” kata Dan Yi. Yoo Sun mengingatkan bahwa Dan Yi harus fokus pada tugas utamanya.


“Ini ke binatu,” kata Yoo Sun sambil mengeluarkan tas belanja. “Ini ke Kantor Pos.” Dan Yi mengerti dan mengambil kedua ta situ.


Dan Yi mengirimkan paket ke Kantor Pos. “Ya, Nona Go?” kata Dan Yi menjawab ponselnya.


Dan Yi membawa dus kertas yang berat dan mengisi kertasnya ke mesin fotokopi, lalu mulai memfotokopi.


Ia juga membuat minuman (entah kopi atau teh) untuk Yoo Sun, padahal sudah ada 2 gelas lain di atas meja. Yoo Sun mencoba minumannya. “Lagi,” ujarnya. Dan Yi menganggukkan kepalanya dan pergi.


Dan Yi mengambil baju Yoo Sun dari binatu. Ia berhenti berlari saat ponselnya berdering. “Ya, Nona Go. Aku sedang di jalan,” katanya lalu berlari lagi.


Dan Yi  membawa dus berisi buku, lalu menyimpannya di rak di perpustakaan.


Dan Yi mendapat pesan. “Huft… Dan Yi, kau bukan lagi pengacau. Kau intelektual. Jangan menyakiti orang. Tidak boleh. Tidak boleh. Tahan amarahmu ,” katanya di dalam hati. Ia gemas. “Intelektual apanya. Dasar…”


Ia mengecek ponselnya dan ternyata pesan itu dari Hae Rin, bukan dari Yoo Sun. ‘Aku harus keluar kantor. Materi tambahan kukirim lewat email. Bacalah dan akan kita diskusikan besok,’ tulis Hae Rin. Dan Yi tersenyum.


‘Baik. Akan kubaca dengan seksama, Nona Song,’ balas Dan Yi. Ia lalu mendapat telepon dari Yoo Sun, tapi ia sudah mengendalikan kekesalannya. “Ya, Nona Go.”


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 5 Part 5

Comments


EmoticonEmoticon