2/18/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 6 PART 2

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 6 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 6 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 6 Part 3

“Aku cerita tentang teman tetanggaku tempo hari,” kata Dan Yi. Seo Jun tersenyum mendengarnya.


“Astaga, ramyeon dan udon. Pria itu pasti sangat suka mie. Aku juga suka mie,” kata Eun Ho.


Dan Yi bertanya pada Seo Jun apakah adiknya boleh bergabung bersama mereka. Seo Jun setuju. Dan Yi kemudian bertanya pada Eun Ho aakah mau datang ke sana.


Eun Ho bilang ia dalam perjalanan ke sana karena ia juga ingin makan udon. “Kenapa aku butuh izin untuk ke restoran udon itu? Dia pemiliknya? Dan kenapa Noona sering kongkow dengannya? Sudah kularang. Kenapa terus menemui pria yang tidak kau kenal?” cerocos Eun Ho.


Eun Ho sangat terkejut saat melihat siapa teman Dan Yi.


Eun Ho masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Seo Jun yang tidak menyenangkan.


“Temannya adalah Ji Seo Jun?” gumam Eun Ho.


“Penulis Cha Eun Ho adalah adikmu?” tanya Seo Jun tidak kalah terkejut. Dan Yi bertanya apa Seo Jun mengenal Eun Ho. “Ya, semacam itu.” Dan Yi bertanya apa Seo Jun adalah penggemar Eun Ho.


Eun Ho merasa sebal karena ia sebenarnya tidak mau bertemu dengan Seo Jun lagi.


Seo Jun bilang bisa dibilang ia penggemar Eun Ho dan banyak yang ingin ia tanyakan. Ia lalu tersenyum manis pada Eun Ho. “Astaga, si gila itu,” gerutu Eun Ho. Dan Yi melambaikan tangannya menyuruh Eun Ho masuk ke dalam restoran.


“Kita bertemu lagi, Penulis Cha,” sapa Seo Jun. Eun Ho bilang ia tidak tahu kalau mereka bertetangga. Dan Yi memesan satu udon lagi dan Seo Jun meminta tambahan gelas.


Eun Ho melihat sebotol sake, lalu menatap sebal pada Seo Jun.


Ji Yul yang sedang berada di sebuah kafe, menolak telepon dari ibunya.


Di luar, Park Hoon datang sambil memakai payung dan terlihat kedinginan. Ia lalu melambaikan tangannya dengan ramah pada Ji Yul dan bertanya kenapa datang ke lingkungannya semalam itu.


Ji Yul bilang ia sudah membelikan JJ (Jus Jeruk). Park Hoon sangat senang, lalu meminumnya. “Kencan buta lagi?” tanyanya. Ji Yul mengangguk.


“Dengan gorilla,” kata Ji Yul. Park Hoon yakin pria itu punya kelebihan. Ia bilang harus berpikir sederhana tentang cinta. Ia juga bilang tidak ada pria yang tampan, cerdas, bertubuh bagus, punya rumah dan mobil, serta orang tua kaya. “Aku ingin bertemu pria seperti itu. Kalau tida, aku tidak akan ikut kencan buta.”


Park Hoon menyemangati Ji Yul agar terus kencan buta sampai bertemu pria sempurna. Ji Yul mengangguk setuju dan mengajak Park Hoon menonton bioskop. Ibunya menelepon lagi dan Ji Yul menolaknya lagi.


Park Hoon bertanya apa Ji Yul tidak akan pulang. “Aku berontak pada ibuku sekali dalam sebulan. Hari ini waktunya,” kata Ji Yul. Park Hoon menyebut Ji Yul jinak-jinak merpati. “Bagaimana lagi? Ibu membuatku sesak. Ayo menonton.” Ibu mengirimkan pesan.


Ibu Ji Yul mengirimkan beberapa foto pria yang sama sekali tidak masuk kriteria Ji Yul. Ji Yul sampai bergidik ngeri dan tampak sedih.


Ji Yul melihat Park Hoon menggoyangkan jus jeruknya dan meminumnya. Ia merasa Park Hoon bersinar dan membuatnya terpesona. Ia lalu menelepon ibunya.


“Ibu, aku akan berhenti kencan buta. Aku tidak bilang pada ibu, tapi aku berpacaran dengan seseorang. Dia rekan kerjaku. Namanya Park Hoon,” kata Ji Yul.


Park Hoon sampai tersedak mendengarnya dan mengeluarkan lagi jus jeruknya ke dalam gelas. “Kami berpacaran mulai hari ini. Dia keren sekali. Aku sangat mencintainya. Jadi berhenti menyuruhku kencan buta. Jika aku terus menyukainya, maka aku akan melanjutkan dan menikahinya,” lanjut Ji Yul.


Ji Yul lalu menutup teleponnya dan menyedot minumannya dengan santai. Park Hoon bertanya apa Ji Yul sungguh-sungguh dengan ucapannya. “Apa kau gila? Dengan begini, aku punya waktu. MAna bisa aku kencan buta dua kali seminggu,” kata Ji Yul.


Park Hoon: “Benar. Itu membosankan. Baguslah kau bilang begitu. Sudah saatnya kau bebas dari ibumu. Lagipula, hidup ini milik kita.”
Ji Yul: “Benar. Ayo menonton film.”
Park Hoon: “Baiklah, untuk menyelamatimu karena telah bebas. Ayo menonton film.”


Mereka bersulang dan meminum minumannya masing-masing. Park Hoon lalu ingat kalau tadi ia meludahi gelasnya karena terkejut dengan omongan Ji Yul. “Augh.. Jijik,” kata Ji Yul.


Seo Jun bilang ia tidak tahu kalau Eun Ho adalah adik Dan Yi. Dan Yi bertanya bagaimana mereka berdua saling kenal. “Kau belum tahu namanya?” tanya Eun Ho. Dan Yi bilang ia sudah tahu nama temannya, yaitu Ji Seo Jun.


“Desainer buku, Ji Seo Jun. Kau ingat?” tanya Eun Ho. Dan Yi tampak mengingat-ngingat. “Sebentar. Beri kami waktu.” Eun Ho lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Dan Yi.


‘Noona, dia tahu kita tinggal bersama?’ tulis Eun Ho lalu menyenggol lengan Dan Yi agar membaca pesannya. Seo Jun memperhatikan mereka. Dan Yi mengiyakan. “Kenapa beritahu dia?” Dan Yi mengedikkan bahunya. “Kau tidak dengar kita bicarakan dia saat rapat?”


Dan Yi terkejut saat mengingat nama Seo Jun yang menolak bekerja bersama Gyeoroo. ‘Noona, jangan bilang kau kerja di Gyeoroo. Tinggal dengan rekan kerja bisa tampak aneh. Orang kantor tidak ada yang tahu tentang kita. Dia ada di industry ini,’ tulis Eun Ho lagi.


Dan Yi menyenggol Eun Ho dengan tatapan bersalah. “Kau bahkan beritahu dia?” tegur Eun Ho. Dan Yi mengangguk.


Seo Jun mengetuk meja. “Halo? Aku di sini. Kalian saling kirim pesan. Ada apa? Kau mengirim pesan padanya agar tidak bilang kerja di Gyeoroo? Benar?” katanya. Dan Yi meminta maaf pada Eun Ho kalau dia sudah bilang pada Seo Jun. Eun Ho bilang tidak ada alasan untuk menyembunyikannya.


Seo Jun: “Lalu kenapa ingin menyembunyikannya? Memangnya kenapa jika saudara bekerja di satu perusahaan?”
Eun Ho: “Noona bilang kau teman tetangga. Itu benar?”
Seo Jun: “Memangnya apa jika bukan teman?”


Eun Ho: “Kau tidak jawab pertanyaanku dulu?”
Seo Jun: “Omonganmu barusan juga diakhiri tanda tanya, kan?”
Eun Ho: “Jika tidak suka, hentikan lebih dulu. Dengan ini. Tidak ada tanda tanya.”


“Sebentar. Kalian bersaudara? Nama keluarga kalian berbeda. Cha Eun Ho dan Kang Dan Yi. Mungkin itu alasan kau tidak mau bilang kalian bekerja di kantor yang sama. Kolega kalian tidak tahu kalian tinggal bersama. Apa hubungan kalian? Apa aku tidak sopan? Hanya saja, aku tertarik pada Nona Kang,” kata Seo Jun.


Eun Ho syok, tapi Dan Yi bersikap tersenyum biasa saja dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Seo Jun bertanya apa hubungan mereka. “Dia hanya pria yang seperti adik,” kata Dan Yi.


Eun Ho: “Lebih rumit, kan?
Dan Yi: “Kau bicara apa? Pria yang seperti adik. Itu sudah sangat sederhana. Kami teman yang seperti saudara. Teman dekat.”


Eun Ho bertanya apa ‘teman’ tinggal bersama. Dan Yi bilang pada Seo Jun kalau ia punya masalah, jadi ia tinggal di rumah Eun Ho. “Kenapa kau seperti memberi alasan?” gerutu Eun Ho.


Sekarang, Seo Jun tahu alasan Dan Yi mencari tempat tinggal. “Dia tidak ingin pindah,” kata Eun Ho. Dan Yi bilang ia akan pindah setelah uangnya cukup.


Eun Ho ingin menuangkan soju, tapi Seo Jun mendahuluinya dan menuangkannya ke gelas Dan Yi. “Kau tidak rindu Geum Bi?” tanya Seo Jun pada Dan Yi. “Kunjungilah Geum Bi.”


“Siapa Geum Bi? Banyak yang aku tidak tahu,” kata Eun Ho dalam hati. Dan Yi lalu bersulang dengan Seo Jun dan menyenggol tangan Eun Ho memintanya melakukan hal yang sama.


Di rumah, Dan Yi bertanya kenapa Eun Ho kesal. Ia tahu Eun Ho marah padanya karena diam dan cemberut sepanjang jalan. Eun Ho bilang ia tidak cemberut. “Kau juga terus memelototinya,” kata Dan Yi. Eun Ho bilang Seo Jun juga melakukan hal yang sama.


Dan Yi bertanya apa mereka bermusuhan. Eun Ho bilang mereka baru bertemu 2 kali. Dan Yi menanyakan alasannya. “Baiklah, aku seperti adikmu. Pria yang tidak kau kenal bilang dia tertarik, kau hanya mengangguk,” omel Eun Ho.


Dan Yi merasa dirinya masih menarik. Dia bertanya berapa usia Seo Jun. “Mungkin aku lebih tua, tapi dia masih tertarik padaku,” kata Dan Yi.


Eun Ho bertanya kenapa Dan Yi kongkow bersama Seo Jun padahal tidak tahu berapa usianya. “Dan siapa Geum Bi? Dia juga ikut saat kau cari tempat tinggal? Tanpa tahu pekerjaannya?” omelnya.


Dan Yi bilang Seo Jun muncul pertama kali saat ia dalam bahaya dan menyelamatkannya, Seo Jun juga meminjamkan payung satu-satunya saat hujan, dan juga menemukan sepatunya yang hilang. “Dan yang terakhir, dia merawat anjing yang ditemukannya dan menamainya Geum Bi. Tidak mungkin dia orang aneh,” kata Dan Yi.


Eun Ho meminta Dan Yi menceritakan bagaimana ia dan Seo Jun pertama bertemu. “Berhenti bilang kalian ditakdirkan dan berhenti bicara seolah ia pangeran tampan yang menemukan sepatumu!” kata Eun Ho.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 6 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 6 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon