2/19/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 PART 2

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 Part 3

Sebelum makan malam, Seo Jun mengajak dan Yi ke toko buku. Ia bilang suka toko buku independen. “Semua buku dipilih oleh pemiliknya, jadi apapun yang kau pilih pasti bukunya bagus,” ujarnya.


Dan Yi bilang ia juga suka toko buku independen lokal karena toko buku besar lebih mirip pasaraya di mana buku dipamerkan. “Tempat ini seperti ruang yang mengenalkan buku kepada pembaca. Menyenangkan,” lanjutnya.


Dan Yi meletakkan buku yang tadi diambilnya, judulnya ‘Senandika yang Kuingin Kau Dengar’. Seo Jun lalu melihat buku itu juga. Dan Yi menjauh karena ia mendapat pesan dari Eun Ho.


‘Noona, sepertinya penanak nasinya rusak.’
‘Noona, tisu di mana?”
“Noona, sudah bayar tagihan listrik? Ada memo terlambat membayar.’


Dan Yi terkejut karena mendapat tagihan. Tapi kemudian, Eun Ho mengirimkan pesan lagi kalau pemurni airnya rusak. Eun Ho juga mengeluh lapar. Dan Yi tersenyum dan mengabaikan pesan-pesan itu.


“Mari makan malam sekarang,” ajak Seo Jun sambil membawa beberapa buku untuk dibayar di kasir.


Tidak lama kemudian, mereka keluar dari Toko Buku Moonlight itu dan pergi makan malam di sebuah restoran yang terlihat mewah.


Dan Yi menyebut makanannya lezat. Seo Jun bilang ia biasa datang bersama ibunya. Dan Yi bilang ibunya pasti senang punya anak seperti Seo Jun. “Dulu aku tidak begini. Ibuku sakit saat aku SMA. Karena itu, aku menjadi putra yang lebih perhatian dan peduli,” ujarnya.


Seo Jun lalu menghadiahkan buku yang dilihat Dan Yi tadi kepadanya. “Terima kasih,” kata Dan Yi lalu membuka halaman depannya dan melihat tulisan tangan di sana.


‘2019. Toko Buku Moonlight. Aku ke kantor Kang Dan Yi dan meneleponnya. Lalu kami ke toko buku ini, setelah itu makan malam. Kuharap dia suka restorannya,’ tulis Seo Jun. Dan Yi tertawa. Seo Jun meminta Dan Yi menuliskan pendapatnya tentang makanannya.


“Lalu… hadiah sebenarnya…” kata Seo Jun lalu mengeluarkan kanvas lukisannya. Dan Yi lalu membuka pembungkusnya. “Kau menyukainya?”


“Suka sekali,” jawab Dan Yi. Seo Jun lega mendengarnya. “Ini sangat bagus.” Mereka lalu melanjutkan makan malamnya.


Dan Yi merasa harus mengatakan sesuatu. Seo Jun bertanya apa maksudnya. “Kita hanya teman tetangga, kan?” kata Dan Yi memastikan. Seo Jun mengangguk. “Tapi aku terus memikirkan perkataanmu. Katamu ini kencan.”


Seo Jun bilang menurutnya itu memang kencan. Ia bertanya apa Dan Yi tidak menyukainya. Dan Yi bilang bukan begitu maksudnya, tapi jika Seo Jun tahu lebih banyak tentang dirinya, maka mungkin ketertarikannya akan hilang.


Dan Yi bilang yang ia maksud adalah soal usia dan masa lalunya. Seo Jun menebak kalau Dan Yi mungkin hanya 1 atau 2 tahun lebih tua darinya. “Tidak masalah walaupun lebih dari itu. Kenapa masa lalumu? Kau punya catatan kriminal?” tanyanya.


Mereka tertawa. Dan Yi bilang sebagian orang menganggap masa lalunya lebih buruk daripada catatan kriminal. Seo Jun bertanya apa masa lalunya itu. “Aku janda cerai,” kata Dan Yi setelah sempat diam sejenak.


Seo Jun syok sampai tidak sadar menjatuhkan pisau dan garpu yang dipegangnya.


Dan Yi pulang ke rumah. Ia menjatuhkan kaki Eun Ho yang sedang berbaring di sofa lalu duduk di sana. “Dasar kuno,” gerutunya. Eun Ho menyapanya. “Kini, menjadi janda cerai bukanlah suatu kekurangan.” Eun Ho bertanya apakah ada masalah. “Aku sudah memberitahu Seo Jun kalau aku janda cerai.”


Eun Ho: “Lalu kenapa?”
Dan Yi: “Lihat? Kau tidak masalah, kan? Tapi dia…”
Eun Ho: “Bagaimana reaksinya?


Seo Jun juga sudah sampai di rumah. Ia tampak mengacak-ngacak rambutnya. Ia menyesal sudah menjatuhkan pisau dan garpu tadi.


Saat sadar dari syoknya, Seo Jun buru-buru akan mengambil alat makannya yang jatuh, tapi pelayan datang dan bilang akan menggantinya dengan yang baru. Suasana menjadi canggung.


Seo Jun meminta Dan Yi tidak salah paham. Ia bilang tidak masalah jika Dan Yi adalah janda cerai. Ia beralasan kalau belakangan ini pergelangan tangannya sakit. “Keduanya?” tanya Dan Yi. Seo Jun bilang awalnya hanya yang kanan yang sakit.


Seo Jun bilang itu karena ia sering menggunakna mouse saat bekerja dan bilang namanya penyakitnya adalah Sindrom Lorong Karpal.


“Sebenarnya, aku juga punya anak. Usianya 12 tahu,” kata Dan Yi. Seo Jun langsung menyemburkan air yang sedang diminumnya. Ia benar-benar terkejut.


Eun Ho sangat senang mendengarnya. “Noona, dia tidak baik,” ujarnya. Dan Yi setuju dan bilang ada lagi yang lain.


“Kenapa kulakukan itu?” tanya Seo Jun pada gelasnya. Ia tampak kacau. “Pada saat itu…” Ia lalu menyentuh lehernya dan terbatuk.


Setelah menyemburkan air minumnya, Seo Jun meminta maaf dan memberikan tisu kepada Dan Yi yang juga ikut kecipratan. Dan Yi bilang Seo Jun terlihat sangat terkejut. “Tidak. Aku sama sekali tidak terkejut. Apa salahnya punya anak? Itu tidak masalah bagiku. Airnya masuk ke saluran yang salah,” kata Seo Jun.


Karena Dan Yi terlihat tidak percaya, Seo Jun berusaha meyakinkannya bahwa kejadian tadi hanya kebetulan saja. “Dan usiaku 37 tahun. Berapa usiamu? Aku jauh lebih tua darimu, kan?” kata Dan Yi. Seo Jun semakin syok.


“Aku…” Seo Jun mulai cegukan. Ia menepuk dadanya dan minum. “Aku…” Ia cegukan lagi. “Usiaku 29 tahun.” Dan Yi menyuruhnya minum lagi karena Seo Jun terus saja cegukan.


“Geum Bi… aku harus mati saja, kan?” curhat Seo Jun pada anjingnya. Geum Bi menyalak.


Eun Ho semakin senang. Ia menyebut Seo Jun itu pecundang dan konyol. Ia bertanya apa yang mereka lakukan setelahnya. Dan Yi bilang mereka naik bersama, tapi ia tidak mau Seo Jun mengantarnya pulang. “Benar. Jangan pergi bersamanya lagi,” kata Eun Ho.


Dan Yi: “Dia mungkin tidak akan meneleponku lagi, kan?”
Eun Ho: “Kenapa? Kau sedih? Harusnya kau tidak usah bilang agar bisa terus pergi bersamanya.”
Dan Yi: “Aku harus bilang. Sepertinya dia menyukaiku.”


Eun Ho bilang perasaan Dan Yi lebih penting dibanding Seo Jun. Ia mengingatkan kalau Dan Yi hanya menganggap Seo Jun sebagai teman tetangga. “Tidak. Aku agak… Itu…,” kata Dan Yi yang membuat Eun Ho khawatir. “Dia mengajakku ke toko buku dan restoran bagus. Aku senang saat bersamanya.”


Eun Ho terlihat sedih mendengarnya. “Selera priamu payah,” ejeknya. Dan Yi tidak mengelak karena sebelumnya pun ia menyukai Dong Min yang kemudian malah mengkhianatinya.


Dan Yi lalu mengambil tasnya dan masuk ke kamar.


Eun Ho memperhatikan lukisan Seo Jun. Ia juga melihat tulisan tangan Seo Jun di buku yang Dan Yi bawa.


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon