2/19/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 PART 3

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dan Yi, yang sudah mengganti pakaiannya, bertanya apakah penanak nasinya rusak. “Tidak. Ini tidak rusak,” kata Eun Ho. Dan Yi menanyakan tisunya. “Oh, sudah ketemu. Dan tagihan listriknya salah kirim.”


“Kau sudah makan?” tanya Dan Yi. Eun Ho bilang belum dan setuju untuk makan mie. Dan Yi lalu mengambil mie-nya dan akan memasakkannya untuk Eun Ho.


Eun Ho meminta Dan Yi tidak terlalu memikirkan kejadian dengan Seo Jun tadi. “Sudah usai. Aku baik-baik saja. Aku mengerti perasaannya. Saat kau mulai menyukai wanita, kau kemudian tahu kenyataan tentangnya. Dia 8 tahun lebih tua, janda dan punya anak. Bukankah kau akan mundur?” kata Dan Yi yang mengerti perasaan Seo Jun.


Eun Ho bilang hal itu tidak akan membuatnya mundur. Mereka saling bertatapan. Dan Yi menyuruh Eun Ho sadar karena mau berkencan dengan janda cerai. “Bagaimana jika aku tetap suka?” kata Eun Ho. Dan Yi memukulnya dengan keras dan menyuruhnya sadar.


“Berkat kau sekarang aku sadar! Dia terlalu naif untuk tahu perasaanku!” kata Eun Ho lalu pergi. Dan Yi bertanya Eun Ho mau mie pedas atau sedang. “Aku tidak mau makan!” Eun Ho lalu membanting pintu kamarnya.


Dan Yi menggerutu kalau kehidupan pribadi Eun Ho sangat rumit.


Keesokan harinya saat rapat, Song Yi mengatakan bahwa Penulis Kang Yeon Ju sudah menyelesaikan draft prosa yang pertama. Ia bilang hasilnya bagus dan memperkirakan kalau salinan finalnya akan siap pekan depan.


Direktur Kim bertanya apa mereka bisa mempercepat perilisannya. Eun Ho menyarankan agar mereka tetap menjalankan sesuai jadwal untuk memberi waktu pada penulis untuk memeriksa ulang semunya.


Yoo Sun malah setuju untuk mempercepat perilisan karena musim semi segera tiba. Young A setuju karena hal sentimental biasanya laku pada musim semi.


“Musim Semi,” kata Ji Hong dengan nada puisi. Semua orang menengok ke arahnya. “Musim semi mengalir pada darahku seperti aliran air sungai. Bebatuan. Di bukti dekat sungai…”


“Dia kambuh,” kata Staf B. Ji Yul bertanya apa maksudnya. “Ketua Tim Bong sakit parah. Dia kambuh saat orang-orang mulai lupa.” Park Hoon bertanya Ji Hong sakit apa. “Penyakit puisi. Perusahaan rugi karena dia menerbitkan puisi.”


Ji Hong yakin kali ini hal itu tidak akan terjadi. Ia melemparkan beberapa dokumen ke meja dan membagikannya.


Dokumen itu berjudul ‘Air Jernih’.


“Siapa yang butuh pemurni air?!” tanya JI Hong dan ternyata dokumen tadi adalah brosur produk. Beberapa orang mulai meninggalkan mejanya. Ji Yul bilang ia butuh, tapi Park Hoon menariknya pergi. “Nona Go, apa kau butuh pemurni air? Ah, aku yakin kau sudah punya.”


JI Hong lalu bertanya pada Staf B. “Kami meminum air rebusan,” kata Staf B. Ji Hong bilang itu hanya alasan. Ia malah tidak sengaja menawarkan pada Young A.


“Kami sudah punya pemurni air di rumah. Mantan suamiku terlalu menyayangi orang lain. Kami beli pemurni air Penyair Jeong Geum Seon, toilet Penyair Yun Seok Yeong. Kami bahkan membeli kursi pijat Penulis Yu Min Su. Kami sudah punya itu semua. Selamat siang,” kata Young A dengan sangat sopan.


Eun Ho lalu merencakan percepatan perilisan buku yang mereka bicarakan tadi. “Nona Song, lakukan cek ulang. Pak Bae, cek pengaturan pencetak,” perintahnya.


Ji Hong mendekati Eun Ho dan bilang mereka harus menerbitkan koleksi puisi. “Kau kenal Penyair Choi Hyeong Su? Dia menulis puisi tentang musim semi. Dan itu luar biasa. Bernilai sastra, sangat bermakna,” bujuknya. Eun Ho memeluknya dan pergi. Ji Hong bilang mereka harusnya memberi kesempatan pada penulis yang kurang dukungan.


Ji Hong menghalang-halangi Direktur Kim yang akan lewat. Ia bilang penerbit dan penulis berada di bisnis yang sama jadi seharusnya saling membantu. Direktur Kim berhasil lewat, tapi Ji Hong mnegikuti sampai ke ruangannya.


Ji Hong bilang Direktur Kim memiliki banyak uang, jadi setidaknya harus membeli 1 produknya. “Bayangkan betapa sulitnya keadaan Penulis Park sekarang,” ujarnya. Direktur Kim tidak peduli dan langsung sibuk dengan pekerjaannya.


Ji Hong juga bilang kalau buku puisi Penulis Park yang terakhir hanya terjual 240 eksemplar. “Itu berarti dia hanya dibayar 240.000 won,” ujarnya prihatin. Direktu Kim bilang perusahaan juga merugi karena hal itu.


Ji Hong bilang jika mereka tidak bisa menerbitkan puisinya, setidaknya Direktur Kim membeli 1 pemurni airnya.


“Hyung, kau sudah bercerai dan masih melakukan ini? Kau sungguh harus bercermin. Aku paham kau ingin membantu orang yang kesulitan. Tapi setidaknya kau harus masuk akal. Setiap kali kau cuti, kau kunjungi kakakmu di penjara atau mengajak anak kakakmu ke taman hiburan. Jika sudah menikah, kau harus pikirkan keluargamu dulu!” kata Direktur Kim.


Young A ada di luar dan mendengar itu semua. Ia tampak sedih.


Ji Hong juga sedih, tapi ia berusaha tersenyum. Ia mengakui bahwa ia bukan suami terbaik. Direktur Kim heran karena setiap pergantian musim, Ji Hong selalu minta menerbitkan puisi, padahal tahu itu akan membuat perusahaan merugi. Ia bilang Ji Hong harus dewasa. “Baiklah,” kata Ji Hong lalu meletakkan brosur produknya di meja dan pergi.


Di pintu, Ji Hong berpapasan dengan Young A. ia tersenyum pada mantan istrinya itu.


Young A bilang mereka tidak sempat menyelesaikan rapatnya, jadi ia datang untuk memberikan laporan penjualan buku ‘Sudut Terakhir’. “Itu pernah hanya terjual 10 eksemplar,” lapornya. Direktur Kim bilang sudah sebulan dan mungkin tidak akan membaik.


Young A bilang ia tidak mau menyerah dengan mudah dan sudah memikirkan strategi penjualan baru. Ia meminta Direktur Kim memeriksanya. Ia bilang hanya itu yang ingin ia katakana sebagai Manajer Tim Pemasaran. “Kini, ada yang ingin kukatakan sebagai teman,” kata Young A. Direktur Kim mempersilakannya.


“Kau anggap Bong Ji Hong lemah?” tanya Young A. Direktur Kim terkejut. “Apa dia tampak lemah karena dia patah hati setelah kami bercerai? Apa penyitaan tagihan bulanan mantan suamiku merugikanmu? Kau tidak perlu membeli pemurni air atau menerbitkan puisi. Tapi apa hakmu menyuruhnya dewasa?”


Direktur Kim merasa tidak enak.


Young A bilang pada akhirnya ia memang sudah berpisah dengan Ji Hong karena merasa muak dan lelah. “Tapi aku masih tahu bahwa dia pria yang baik. Kami tidak bercerai karena dia pria jahat,” kata Young A dan mulai menangis.


“Aku bercerai karena hidup sebagai istrinya melelahkan. Tapi kau tidak berhak mengajari dia soal perceraian kami!” isak Young A. Direktur Kim diam saja.


Young A menangis tersedu-sedu dan Direktur Kim memberikan tisu padanya dengan hati-hati. “Maafkan aku,” isak Young A. Direktur Kim tidak masalah. Young A pun pergi dengan sempoyongan.


Direktur Kim bahkan membungkukkan badannya saat Young A pergi.


Ia lalu melepaskan kacamatanya dan mengambil tisu. Ia juga menangis tersedu-sedu.


Sementara itu di dapur, Park Hoon dan Ji Yul sedang bersama. Ji Yul bilangnya ibunya terkejut karena tidak pernah bertemu orang seperti Park Hoon. Park Hoon bilang ia berbeda dari semua pria yang pernah Ji Yul temui dan ia tidak akan mundur hanya karena ancaman ibu Ji Yul.


Ji Yul: “Tapi kita tidak berkencan.”
Park Hoon: “Benar. Silakan manfaatkan aku. Aku mengizinkanmu. Gunakan aku untuk mendapatkan kebebasanmu. Ibumu takut jika aku sungguh akan kawin lari denganmu. Jadi aku yakin, dia tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu.”
Ji Yul: “Ya, kau benar.”


Park Hoon bilang jika ibu Ji Yul mengganggu Ji Yul lagi, ia akan menghilang bersamanya. “Astaga, Park Hoon… Kau akan melakukan itu untukku?” kata Ji Yul terharu. “Terima kasih…” Ia lalu memeluk Park Hoon.


“Hei, astaga. Baik, aku mengerti,” kata Park Hoon. Ji Yul melepaskannya, lalu mmeluknya lagi dan berterima kasih. “Hei, kita di kantor.” Ji Yul melepaskan, lalu memeluk dan terus berterima kasih. “Astaga, baiklah.”


Tapi saat Park Hoon akan membalas pelukannya, Ji Yul malah menjauh. Mereka setuju untuk berhenti bersikap seperti itu. “Terima kasih,” kata Ji Yul lagi.


Park Hoon bilang ia terkejut saat Ji Yul memeluknya sampai 3 kali tadi.


Park Hoon lalu kembali ke ruang staf sambil menari. Pak Bae menyebut Park Hoon pandai menari dan bertanya apa yang membuatnya begitu bahagia.


“Karena kacang ini enak sekali,” kata Park Hoon dan mendekati Pak Bae sambil menari. “Kau mau?” Pak Bae mengambil satu dan karena enak, ia mengambil semuanya. Park Hoon tenang saja dan mengeluarkan sebungkus lagi dari kantongnya. Ia lalu duduk di kursinya dan hampir terjatuh karena terlalu senang.


Comments


EmoticonEmoticon