2/19/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 PART 4

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dan Yi menemui Young A dan bilang kalau ia punya ide untuk blog, yaitu dengan menggunakan format salindia. Ia menunjukkan beberapa contohnya.


Dan Yi bilang metode itu sedang sangat populer untuk menyampaikan berita karena banyak tampilan visualnya. Ia yakin metode itu bisa membantu promosi mereka.


Eun Ho memperhatikan Dan Yi.


Hae Rin berpendapat tampilan itu sama dengan pratinjau, jadi pembaca bisa emmbacanya per halaman dan bisa diposting di media social.


Young A bilang itu ide yang bagus karena mereka bisa memilih foto atau gambar ilustrasi sesuai genre bukunya, serta membuat orang penasaran. “Ide-idemu sungguh hebat, termasuk yang kau lakukan pada Penulis Park,” puji Hae Rin. Dan Yi berterima kasih.


Young A bilang mereka akan memposting dengan rutin di laman media social mereka. Eun Ho setuju. “Kepala Tim Seo. Kepala Editor Cha. Bolehkah aku yang bertanggung jawab memposting kontennya dengan rutin?” tanya Dan Yi. Young A bilang tim Dan Yi selalu sibuk.


“Aku bisa melakukannya selama diberi kesempatan,” kata Dan Yi. Young A setuju. “Terima kasih. Aku akan melakukan yang terbaik.”


Sebagai imbalan atas izinnya, Dan Yi harus mau dajaki ke klub, tapi kemudian ia membatalkan ajakannya karena pakaian Dan Yi tidak sesuai. “Lain kali, pakai pakaian yang lebih bagus,” ujarnya. Dan Yi mengiyakan sambil tertawa.


Setelah menangis, Direktur Kim pergi ke dapur untuk minum air. Ia sangat terkejut saat melihat layar jadwal kegiatan.


Tertulis ‘Kepala Tim Bong makan siang dengan Penyair Choi Hyeong su pada pukul 12’. “Ah… sulit dipercaya. Tadinya aku akan lebih padanya demi Young A,” omel Direktur Kim.


Direktur Kim menemui Ji Hong dan bertanya kenapa mengajak Penyair Choi makan siang, padahal mereka tidak akan menerbitkan karyanya. “Mungkin bukan puisinya, tapi kita bisa terbitkan prosanya,” kata Ji Hong. Young A memilih pergi.


Direktur Kim berteriak bahwa mereka juga tidak bisa menerbitkan prosa Penyair Choi. Ia mengingatkan kalau belum setahun ini Penyair Choi dipecat dari majalah. Ji Hong bilang itu karena majalahnya untuk bidang mode.


Direktur Kim meminta JI Hong mengajak Penyair Choi bicara di kafe buku perusahaan mereka saja. “Aku ajak dia datang jauh-jauh hanya untuk segelas kopi?!” protes Ji Hong dengan keras. Sementara itu, JI Yul menghampiri Park Hoon. Direktur Kim bilang mereka bukan badan amal dan harus menghasilkan uang. “Kau hanya peduli tentang uang!”


Yoo Sun yang baru datang ke ruang staf terkejut.


Ji Yul merasa telinganya sakit karena pertengkaran mereka itu. Ji Hong bertanya apakah Direktur Kim selalu membicarakan uang untuk menekankan bahwa dirinya Presdir.


“Ya. Aku memang gelisah tiap mendekati hari gajian karena aku presdirnya! Bagaiimana gaji karyawan? Uang tidak tumbuh! kata Direktur Kim. Ji Hong bilang bukan maksudnya. Ia bilang perusahaan mereka menerbitkan 5 buku terlaris.


“Apa salahnya jika kita gunakan uangnya untuk mentraktir penulis yang melarat?!” kata Ji Hong. Direktur Kim setuju untuk mentraktir Penyair Choi makanan Korea sederhana. Ia lalu pergi, tapi Ji Hong menahan bahunya.


“Jae Min… Aku tidak akan menggunakannya. Aku tidak akan pakai kartu perusahaan,” kata JI Hong lalu melemparkan kartu kreditnya ke lantai. “Aku akan bayar dengan uangku sendiri. Kubelikan di daging Korea!” Ia lalu pergi.


Eun Ho: “Ketua Tim Bong!”
Dir. Kim: “Augh…! Aku tidak percaya dia ketua tim.”
Ji Hong: “Kau yang merekrutku, brengsek! Pikirmu menjadi presdir adalah segalanya?! Itu sebabnya orang memanggilmu wiraniaga!”


Ji Hong bilang mereka harusnya lebih manusiawi. “Kita membuat buku! Seharusnya kita tidak hidup seperti binatang!” katanya. Direktur Kim marah karena disamakan dengan binatang. Eun Ho berusaha menghalaunya dan bilang akan bicara dengan Ji Hong.


Ji Hong meminta maaf karena tidak seharusnya ia membuat keributan di depan para staf. Eun Ho memberikan kartu kreditnya untuk mentraktir Penyair Choi. Ji Hong menerimanya karena ia tidak mau menggunakan kartu perusahaan. Ia berterima kasih dan menekan tombol liftnya.


Eun Ho bilang Ji Hong harus bicara dengan Penyair Choi tentang penerbitan prosanya. Ia bilang mereka bisa melakukannya bersama. “Jae Min baru saja bilang dia tidak akan melakukannya,” kata Ji Hong. Eun Ho akan meyakinkan Direktur Kim dan Tim Editorial juga akan membantu.


Ji Hong bertanya apa mereka sungguh tidak akan menerbitkan puisi. “Buku puisi tidak menguntungkan. Itu mungkin membuat kita rugi. Karya sastra bukan spesialisasi kita,” kata Eun Ho.


Ji Hong bilang jika terus mengalami penolakan, maka puisi akan mati dan menghilang dari dunia. Eun Ho berjanji akan bergabung bersamanya setelah rapat. “Sudah lama aku tidak bicara dengan Penyair Choi. Mari nanti minum bersama,” kata Eun Ho.


“Tentu. Terima kasih kartunya,” kata Ji Hong sambil masuk ke dalam lift.


Ji Hong mencoba menghubungi Penyair Choi tapi ponselnya tidak aktif. Ia meninggalkan pesan dan bertanya apakah Penyair Choi lupa dengan rencana mereka. Ia meminta Penyair Choi datang ke restoran barbeque di sebelah pasar di lingkungan tempat tinggal Penyair Choi. Ia juga memberitahu kalau ia akan mentraktir daging Korea.


Di restoran, Ji Hong memesan 2 porsi daging iga. Ia meminta minumannya diantar lebih dulu karena ia masih menunggu temannya. Ia lalu mengecek ponselnya. “Dasar Jae Min…”


Dan Yi yang sedang mencui gelas mengingat kembali respon negatif Seo Jun saat ia mengatakan semua tentang dirinya. Ia mengecek ponselnya. “Sudah berakhir,” gumamnya saat melihat tidak ada pesan ataupun telepon dari Seo Jun. “Itu momen terakhir kami.”


Seo Jun sedang berada di ruang tunggu Rumah Sakit.


Ia ingin menelepon Dan Yi, tapi bingung harus mengatakan apa. Perawat datang dan menanyakan pihak keluarga Nyonya Ji In Gyeong. “Aku,” kata Seo Jun lalu mengikuti perawat itu.


Tapi ternyata Dan Yi masih berharap Seo Jun menghubunginya. Ia mematikan ponselnya, lalu melemparkannya ke atas meja. “Jika ditelepon pun tidak akan kujawab,” omelnya. Ia lalu mulai mengelap meja dengan kasar. Ia hampir menjatuhkan barang, sehingga akhirnya ia bekerja dengan lebih tenang, tapi tetap menjauhkan ponselnya.


Eun Ho berbelanja cukup banyak di supermarket.


Daging sudah tersedia di meja dan minuman pun sudah habis, tapi Penyair Choi tidak juga muncul. Ponsel Penyair Choi masih tidak aktif saat Ji Hong menghubunginya.


Ji Hong akhirnya pergi meninggalkan restoran dan bertemu dengan Eun Ho yang sedang mengeluarkan barang belanjaan dari bagasi mobilnya. Ia memberitahu kalau Penyair Choi tidak datang. Eun Ho menduga Penyair Choi ada di rumah dan ia datang untuk mengantar belanjaan itu.


“Kau baik sekali,” kata Ji Hong. Mereka lalu membawa belanjaan itu ke rumah atap tempat Penyair Choi tinggal. Seorang wanita yang juga menuju tempat yang sama bilang Penyair Choi selalu menulis seharian di rumahnya, jadi ia senang melihat ada temannya yang mampir.


Wanita itu bilang Penyair Choi sudah menunggak sewa 3 bulan, tapi ia belum bisa menagihnya. Ia juga membawakan kimchi dan nasi, lalu mengajak mereka naik ke atas.


“Penyair Choi!” panggil Ji Hong padahal ia belum sampai di atas.


“Penyair Choi!” panggilnya lagi dan mengetuk pintunya, tapi masih tidak ada jawaban. Ia meletakkan belanjaannya dan mengetuk jendelanya. “Hyeong Su!” Eun Ho menduga Penyair Choi tidak ada di rumah dan menyarankan agar mereka meninggalkan barangnya saja di depan pintu.


Ji Hong khawatir dengan dagingnya. “Tidak apa-apa, karena udaranya dingin,” kata pemilik rumah. “Atau.. mau kubukakan pintunya?”


Merek bertiga masuk ke dalam rumah dan terlihat sangat terkejut, bahkan wanita itu terdengar ketakutan.


Comments


EmoticonEmoticon