2/19/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 7 PART 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Dan Yi menemui Young A dan bilang kalau ia punya ide untuk blog, yaitu dengan menggunakan format salindia. Ia menunjukkan beberapa contohnya.

Di kantor, Direktur Kim sedang membaca brosur pemurni air. Ia lalu menerima telepon dari Ji Hong. Ia langsung meminta maaf soal kejadian tadi. Ia memutuskan bahwa jamuan makan Ji Hong dengan Penyair Choi adalah pengeluaran bisnis.


Ia juga sudah bicara dengan Eun Ho dan mempersilakan Ji Hong mendiskusikan soal penerbitan prosa Penyair Choi.


“Jae Min… Penyair Choi… Dia meninggal,” isak Ji Hong. Direktu Kim terkejut.


Petugas 911 datang untuk menangani jasad Penyair Choi. Sambil menangis, Ji Hong bilang bahwa Panyair Choi sudah tergeletak tidak bernapas saat ia datang. Ia merasa bersalah karena tidak mentraktir Penyair Choi dengan baik saat terakhir bertemu.


Direktur Kim juga sepertinya merasa menyesal. “Andai aku datang lebih cepat,” sesal Ji Hong lagi.


Eun Ho menghampiri Ji Hong dan berusaha menenangkannya.


Di pertemuan terakhir mereka, Penyair Choi bilang tidak ada gunanya menulis puisi bagus karena tidak ada yang membacanya.


Penyair Choi bilang puisinya gratis karena ada orang yang dengan illegal memposting semua puisinya di internet.


Narasi Eun Ho: “Choi Hyeong Su. Terkadang, dia sadar bahwa dia menulis puisi yang tidak menarik, tapi dia terus melakukannya. Puisi terus bergejolak di hatinya tiap hari dan dia harus menuliskannya di kertas. Itulah dirinya dan begitulah caranya menjalani kehidupan. Namun dalam sekejap, dunia kehilangan seseorang yang baik.”


Penyair Choi menafkahi hidupnya dengan menjadi petugas kebersihan.


Sambil menangis, Ji Hong pergi ke tempat penyimpanan abu jenazah. Eun Ho dan Direktur Kim juga hadir di sana.


“Hyeong Su…” Ji Hong tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Young A menatap kursi Ji Hong yang kosong. Dan Yi lalu menghampirinya dan melaporkan tentang penggunaan format salindia pada 5 buku yang baru dirilis. Direktur Kim datang dan melihat kursi Ji Hong juga.


Dir. Kim: “Sudah berapa lama?”
Hae Rin: “4 hari.”


Direktur Kim menghampiri Young A dan memintanya menghubungi Ji Hong. Young A terlihat tidak peduli dan menyebut Direktur Kim bisa melakukannya sendiri.


Park Hoon yang sejak tadi menguping, lalu menyuruh Ji Yul menutup mulutnya. Ji Yul mengangguk mengerti.


Hae Rin melemparkan beberapa dokumen berisi hasil karya penyair ke meja Ji Yul. “Lihat apakah ada yang bagus. Kutunggu laporannya,” ujarnya. Ji Yul bertanya bagaimana cara melakukannya.


Hae Rin bilang ia tidak akan mengajari Ji Yul cara melakukan tugasnya karena JI Yul tampaknya tidak bersemangat melakukannya. Sejak tadi, Ji Yul memang hanya memainkan ponselnya.


Ji Yul bertanya bagaimana Hae Rin bisa tahu dirinya bersemangat atau tidak tentang mempelajari pekerjaan. Hae Rin menatapnya dengan tajam.


“Kurasa bisa diproses,” kata Young A setelah selesai memeriksa pekerjaan Dan Yi. Dan Yi pun pergi dan melihat Hae Rin yang sedang menegur Ji Yul.


Hae Rin bilang jika Ji Yul memang mau belajar, maka Ji Yul akan mencari dan mempelajari laporan staf senior, dan bukan bertanya padanya. “Oh.. di mana laporan-laporan itu…” pertanyaan Ji Yul terhenti karena Hae Rin menatapnya dengan tajam lagi. Ji Yul lalu menyembunyikan wajahnya di balik buku.


Dan Yi menulis sesuatu. Diam-diam, ia memberikan kertasnya kepada Ji Yul.


‘Ada di perpustakaan kantor. Ikuti aku,’ tulis Dan Yi. Ji Yul tersenyum senang.


Di perpustakaan, Dan Yi menunjukkan contoh laporannya pada Ji Yul. “Ini mudah. Masukkan nama penulis, ringkasan, alasan untuk tidak menerbitkan dan alasan menerbitkan. Lalu, aku harus mengabari mereka penolakannya. Ini bukan apa-apa,” kata Ji Yul.


Dan Yi bertanya apakah Ji Yul bisa mengerjakan semuanya karena file-nya ada banyak. Ia bilang ia bisa membantunya. Ji Yul menyebut Dan Yi pegawai kontrak yang sangat gigih untuk mendapatkan pekerjaan lebih.


Dan Yi yakin semua yang ia pelajari pasti berguna suatu hari nanti. “Aku akan baca setengahnya. Aku penasaran dengan karya penulis pemula,” ujarnya. Ji Yul sangat berterima kasih untuk itu.


Di dapur, Hae Rin mengatakan bahwa kemarin adalah tenggat waktu karya Penulis Seo, bahkan setelah diundur tiga kali. “Dia belum mengirim apapun, dan belum menelepon. Apa aku harus meneleponnya?” tanya Hae Rin. Eun Ho melarangnya dan menyuruhnya menunggu saja dulu.


Hae Rin bilang Penulis Seo menuliskan tiga kata di Twitter. “Aku.. sedang… bosan. Kenapa dia bosan? Kenapa tidak menulis saja? Bagaimana dia bisa bosan? Kenapa tidak cepat menulis saat tenggat waktunya 2 hari lalu?” omelnya.


Eun Ho bilang terus berada di studio bisa membuat bosan. Hae Rin merasa Eun Ho membela Penulis Seo karena sama-sama penulis. Eun Ho bilang Penulis Seo sedang mengalami kesulitan dan tidak bisa mengeluh pada siapapun.


“Jadi penulis adalah pilihan kami. Jadi tidak bisa mengeluh pada siapapun. Itulah alasan dia menulis status itu,” lanjut Eun Ho. Hae Rin bilang penulis memang menyebalkan. “Aku tahu karena aku pun penulis. Biarkan saja. Meleset dari tenggat waktu adalah beban bagi penulis.”


Hae Rin mengajaknya makan malam, tapi Eun Ho menolak karena ia punya rencana lain. Ia menjentikkan jarinya di depan wajah Eun Ho dan berkata, “Kau akan makan malam bersamaku. Aku telah menghipnotismu.” Mereka lalu saling berbalas menjentikkan jari.


Eun Ho: “Kubilang aku ada rencana.”
Hae Rin: “Kau akan makan malam bersamaku.”
Eun Ho: “Hahaha…”


Sementara itu, Seo Jun tampak menelepon toko bunga dan memesan bunga yang akan ia ambil sekitar 30 menit lagi.


Rencana Eun Ho ternyata adalah mengisi acara radio. Ia sudah berada di studio dan membuka acaranya yang bernama ‘Buku di Luar Halaman’. Ia memperkenalkan bintang tamunya, yaitu Penulis Yu Myeong Suk, master novel thriller.


Penulis Yu menyapa para pendengar. Eun Ho bilang mereka sudah menunggu-nunggu kedatangan Penulis Yu ke sana. Penulis Yu berkata, “Terima kasih atas sambutan hangatnya. Dunia sudah banyak berubah. Dulu penulis hanya perlu menulis buku di rumah. Kini, kami harus menghadiri acara pembacaan dan tanda tangan buku.”


“Kita bisa mulai dan membahas bukumu,” kata Eun Ho.


“Silakan..” kata pelayan toko bunga.


Seo Jun yang baru masuk ke toko bunga langsung mengambilnya. “Itu pesananku,” kata Hae Rin. Seo Jun bilang bunga campuran lisianthus ungu dan eukaliptus itu adalah pesanannya. “Ya, aku pesan itu juga.” Hae Rin lalu menyadari sesuatu.


Hae Rin berkata dalam hati, “Dia Ji Seo Jun!” Pelayan toko bunga bilang pesanan Seo Jun masih belum dibuat. “Tunggu!” kata Hae Rin.


Hae Rin mempersilakan Seo Jun mengambil bunga miliknya. “Kenapa? Aku bisa menunggu punyaku,” kata Seo Jun.


Hae Rin menyerahkan bunga itu. “Kau berutang padaku sekarang,” ujarnya. Seo Jun bilang ia tidak mau berutang pada orang asing dan menyerahkan bunga itu lagi kepada Hae Rin.


Hae Rin menyerahkan lagi bunga itu. “Kita bisa saja sering bertemu. Kau bisa membalasnya nanti,” ujarnya. Seo Jun akhirnya menerima bunga itu dan membayarnya.


Seo Jun berterima kasih. “Tidak masalah,” kata Hae Rin yang sepertinya punya maksud tersembunyi. Seo Jun kemudian pergi sambil membawa bunganya.


Saat pelayan toko akan merangkai bunganya, Hae Rin membatalkan pesanannya. “Kami akan menemui orang yang sama. Maaf,” kata Hae Rin lalu buru-buru pergi.


Comments


EmoticonEmoticon