2/21/2019

SINOPSIS Romance Is a Bonus Book Episode 8 PART 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

Sambil membawa boneka barunya, Dan Yi keluar rumah dan menemui Seo Jun. Seo Jun tersenyum lebar saat melihat Dan Yi datang. Dan Yi juga membalas senyumannya.


Seo Jun bertanya apakah Dan Yi menunggunya. “Hmm. Tidak juga,” kata Dan Yi berbohong. Seo Jun agak kecewa mendengarnya. Ia lalu bilang bahwa ia membuat boneka itu sendiri. (mauuu dibuatin juga dong bonekanya..)


“Aku suka,” kata Dan Yi. Seo Jun bilang belum ada yang menamainya. Eun Ho keluar dan langsung memakaikan jaket pada Dan Yi. “Terima kasih.”


Eun Ho: “Segera kemabli. Kau janji mau nonton film bersamaku.”
Dan Yi: “Film? Film apa? Di rumah?”


Seo Jun tahu kalau Eun Ho hanya mengada-ada.


Eun Ho bilang Dan Yi selalu lupa dengan janjinya. Ia memintanya segera kembalo karena janji merekalah yang paling penting. “Dan ini,” kata Eun Ho sambil memukul dan mengambil bonekanya. “Akan kuratuh di kamarmu.” Dan Yi mengusap bonekanya.


Dan Yi tidak mengerti film apa yang Eun Ho maksudkan. Seo Jun lalu mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat. Dan Yi setuju.


Eun Ho melihat wanita yang disukainya pergi bersama pria lain. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Seo Jun memberitahu Dan Yi bahwa ia berpikir untuk mendesain sampul buku Penulis Yu yang memintanya secara langsung. “Terdengar menyenangkan. Semua orang di Gyeoro ingin bekerja bersamamu,” kata Dan Yi.


Seo Jun bertanya apakah ia harus melakukan itu karena ia akan melakukan itu demi Dan Yi. Dan Yi malah tersenyum dan Seo Jun menanyakan alasannya. “Kau tahu apa yang ada di kantongku?” tanya Dan Yi. Seo Jun menggelang. Dan Yi mengeluarkan benda yang ada di kantong jaketnya.


Seo Jun: “Penghangat tangan.”
Dan Yi: “Eun Ho yang menaruhnya agar tanganku hangat.”
Seo Jun: “Aku tidak tahu kalau Penulis Cha adalah orang yang ramah.”


Eun Ho meletakkan bonekanya di atas kasur dan menatapnya.


Dan Yi bercerita kalau Eun Ho menarik perhatiannya dan mereka sudah lama saling kenal. 
Dia seperti adikku, tapi pada saat yang sama aku tidak tahu apa yang dia pikirkan,” katanya.


Eun Ho mengambil buku di rak dan tidak sengaja menjatuhkan amplop surat dari Hae Rin. Itu surat ke-13 dari Hae Rin.


Eun Ho menyimpan kembali surat itu di tempatnya tanpa membaca isinya. Ia sepertinya memilih untuk pura-pura tidak tahu perasaan Hae Rin yang sebenarnya.


“Terkadang dia sangat dingin, tapi dia pun bisa sangat hangat,” kata Dan Yi.


Dan Yi juga bilang hal pertama yang ia pikirkan setelah bercerai adalah ‘Eun Ho akan marah jika tahu’. Ia sudah merasa kesulitan bahkan sebelum bercerai, tapi tidak bisa memberitahu Eun Ho. Ia bilang hal itu akan membuat Eun Ho sedih. “Bahkan belakangan ini, ada insiden kecil,” ujarnya.


‘Dan Yi, maafkan aku, tapi bisakah larang Eun Ho agar tidak ke restoranku lagi? Kumohon padamu,’ tulis Dong Min di emailnya.


“Kupikir Eun Ho melakukan sesuatu untukku. Aku ingin berterima kasih padanya, tapi tidak kulakukan. Dia melakukan banyak hal untukku dan aku bersyukur. Bahkan kini dia mengurus sesuatu untukku tanpa memberitahuku, tapi aku tidak mengetahuinya,”  cerita Dan Yi pada Seo Jun.


Seo Jun bertanya bagaimana Dan Yi dan Eun Ho bertemu. “Itu kebetulan. Ada kecelakaan kecil. Kami kebetulan bertemu, tapi seiring waktu kami semakin akrab selama 20 tahun terakhir. Ngomong-ngomong, kita mau ke mana?” kata Dan Yi.


Seo Jun tersenyum lebar dan bilang bahwa mereka hampir sampai. Mereka pun berjalan lagi.


Eun Ho mendapat pesan dari Hae Rin yang merasa strategi bunganya tadi bagus. Ia bertanya apakah Eun Ho mau dibawakan pangsit besok karena sekarang ia sedang berada di restoran ayahnya. Eun Ho tidak membalas pesannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Hae Rin menggerutu karena Eun Ho tidak membalas pesannya. “Kau kesulitan menarik hati Kepala Editor?” goda ibunya. Hae Rin kesal.


Pelanggan bilang makanannya enak dan pergi. Hae Rin dan ibunya lalu membersihkan mejanya. Ibu bilang usaha Hae Rin tidak akan berhasil jika hanya mengirim pesan. “Ibu memberimu wajah cantik dan tubuh bagus ini. Berhenti membuang waktu pada pria yang tidak menyukaimu!” kata ibu.


Hae Rin bilang Eun Ho selalu menjaga jarak. Ia tidak mau Eun Ho melihatnya sebagai wanita yang agresif. “Dia tinggal bersama… Ibu jangan ikut campur. Ibu juga berakhir bersama ayah,” kata Hae Rin.


Ibu: “Memangnya kenapa ayahmu?! Astaga..”
Ayah: “Kalian membicarakanku?”
Ibu: “Tidak. Hahaha.. Pendengaranmu sangat bagus.”


Seo Jun dan Dan Yi sampai di tempat tujuan. “Tempatnya bagus,” kata Dan Yi. Seo Jun bilang tempat itu bisa menyediakan apapun. Ia lalu mengajak Dan Yi masuk.


Dan Yi bilang ia tidak tahu ada restoran semacam itu di lingkungan itu. Seo Jun bilang ia tinggal di lingkungan itu sejak keluar dari rumah orang tuanya, tapi sudah pindah rumah dua kali. “Aku langganan di sini,” ujarnya.


Dan Yi bertanya apa hanya itu menunya setelah pelayan mengantarkan pesanan. “Tidak. Aku sudah menelepon dan memesan lebih dulu. Kau suka sake hangat,” kata Seo Jun. Mereka lalu mulai makan. Dan Yi menyukai rasa masakannya.


Seo Jun bilang ia bisa membuat makanan itu karena tahun lalu ia les memasak di sana. Dan Yi bilang Seo Jun harus mengajarinya. “Banyak yang harus kita lakukan. Kita harus membuat panekuk daun bawang. Kita  harus sering bertemu,” ujarnya.


Dan Yi mengangguk-angguk dan melihat sesuatu di belakang Seo Jun. “Ngomong-ngomong, apa itu?” tanyanya.


Di belakang Seo Jun ada papan reservasi bertuliskan ‘Reservasi hari ini: Ji Seo Jun. Besok: Ji Seo Jun’. “Ah, aku ketahuan,” kata Seo Jun yang tidak mengira akan ada papan itu di sana. “Aku akan coba lagi besok jika hari ini gagal. Jika tidak besok, maka lusa. Orang harus memesan lebih dulu di sini.”


Dan Yi bertanya apakah ia harus bersikap jinak-jinak merpati. Seo Jun tertawa. Ia bilang ia khawatir kalau Dan Yi tidak mau bertemu dengannya lagi karena kesalahannya fatal hari itu. Dan Yi bilang Seo Jun pasti sangat terkejut. “Bohong jika tidak. Itu sangat tak terduga,” kata Seo Jun.


Seo Jun berharap mereka bisa saling mengenal. “Bagaimana jika kita terus bertemu selama 3 bulan?” tanyanya.


Di rumah, Dan Yi menceritakan hal itu kepada Eun Ho yang pastinya tidak suka mendengarnya. Dan Yi sangat terkejut karena baru mendengar ajakan seperti itu lagi setelah Dong Min 15 tahun lalu. “Lalu kau jawab apa?” tanya Eun Ho dingin.


Dan Yi tersipu malu. “Kau mau mengencaninya?” tanya Eun Ho.


Dan Yi meminum sakenya. Seo Jun lalu mengubah ajakannya agar mereka bersikap biasa saja. “Bagaimana jika kita berangkat bersama tiap pagi dan makan malam jika selesai kerja bersamaan?” jaka Seo Jun.


Seo Jun merasa itu rencana yang sempurna karena mereka tinggal bertetangga. “Kita bertemu di halte bus untuk berangkat bersama dan pulang bersama malamnya,” kata Seo Jun. Dan Yi berpikir sambil memutar matanya. “Mau mulai besok pagi?” Dan Yi menatapnya. “Pukul berapa berangkatnya?”


Eun Ho mematikan televisinya dan meletakkan remote-nya dengan kesal. “Kalian berangkat dan pulang bersama?” tanyanya memastikan. Dan Yi tersipu lagi dan mengutip sebuah film.


“’Kau akan lebih mungkin terkena bom nuklir daripada menemukan cinta pada usia 30-an.’ Tapi lihat aku. Dia menyukaiku. Usianya 20-an. Membuat reservasi makan malam dan membuatkan boneka untukku,” kata Dan Yi.


Eun Ho menyuruhnya berhenti bersikap konyol. Ia mengira insiden di restoran itu akan membuat Dan Yi sadar, tapi ternyata tidak. Dan Yi memukulnya dan bilang tu adalah kejadian luar biasa.


Dan Yi: “Bisa jadi ini kali terakhir aku mengencani pria.”
Eun Ho: “Ya, mungkin. Kau sebentar lagi akan menjadi nenek-nenek. Kapan lagi bisa berkencan? Berkencanlah dengan semua pria yang kau mau.”


“Sudah selesai?” tanya Dan Yi. Eun Ho meminta maaf karena sudah bersikap keterlaluan. Ia menghela napas dalam-dalam dan bilang ia kesakitan. “Di mana?” Eun Ho menunduk.


Dan Yi meletakkan tangannya di dahi EUn Ho untuk mengecek suhunya. “Bukan, tapi di sini,” kata Eun Ho sambil meletakkan tangan Dan Yi di dadanya.


Mereka saling bertatapan. Tapi kemudian Dan Yi mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan otot tubuh Eun Ho. “Lihat dirimu. Kau seorang pria. Apa ini? Semuanya otot,” kata Dan Yi. Eun Ho mendorongnya ke lantai.


“Ya, aku seorang pria. Sebenarnya, pria yang hebat,” kata Eun Ho lalu meninggalkan Dan Yi begitu saja.


Dan Yi baru bangun setelah mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.


“Ah. Astaga, dasar… Aku hampir berdebar. Astaga, jantungku. Kenapa… kenapa jantungku berdebar? Ini pasti karena aku sudah lama tidak bercinta. Augh… Astaga, kenapa panas sekali ini di sini,” kata Dan Yi lalu merapikan bantal di sofa. “Hei, Cha Eun Ho! Matikan lampu toiletnya!”


Eun Ho keluar kamar dan langsung mengomel, “Cinta, apanya?! Dan siapa peduli perasaannya? Apa yang begitu menyenangkan? Noona masih menarik. Noona masih cukup cantik untuk membuat pria melirik saat kau lewat! Kenapa kau senang dia menyukaimu? Kau tidak berhenti bicarakan dia.”


Dan Yi bilang Eun Ho tidak perlu kesal begitu. “Yang terpenting adalah perasaanmu. Noona menyukai bedebah itu? Noona sungguh menyukainya?!” tanya Eun Ho. Dan Yi bilang ia belum tahu jika belum mengencani Seo Jun.


“Jika ragu, maka jangan. Mengencaninya tidak akan berpengaruh,” kata Eun Ho lalu memukul boneka daun bawang. “Kenapa suka benda bodoh itu? Kau konyol.” Ia lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.


“Astaga, aku kaget,” kata Dan Yi lalu menatap bonekanya. “Dia tidak mematikan lampunya.

Comments


EmoticonEmoticon